Pukul tujuh kurang lima, Papa sudah duduk di meja makan dengan kacamata baca di ujung hidung dan dua pulpen berbeda warna.
Aurel menyusul dengan kertas folio bergaris dari laci kamarnya, tulisan tangannya masih basah di beberapa baris. Mereka duduk berhadapan. Di antara mereka tergeletak map biru yang semalam, dan semangkuk bubur yang Mama taruh tanpa suara.
"Mulai dari yang paling mahal," kata Papa.
"Satu lembar dus lima lapis, harga pasar empat ribu dua ratus lima puluh. Harga yang tertulis di kontrak pertama empat ribu tujuh ratus enam puluh."
"Selisihnya lima ratus sepuluh."
"Per lembar, Pa. Kali volume dua tahun..."
Papa menuliskan angka itu dengan pulpen merah, lalu berhenti, menatapnya lama. Bibirnya bergerak tanpa suara. Lalu ia meletakkan pulpen dan melepas kacamata.
"Papa kira lebih kecil," katanya.
Ia membalik halaman, dan Aurel melihat jumlah di bagian bawah yang Papa lingkari dua kali: total tagihan, bunga, dan denda sejak dua tahun lalu. Angka itu lebih besar dari yang ia kira dan jauh lebih kecil dari lima miliar. Cukup untuk membuatnya mengerti kenapa Papa menutup laci itu rapat-rapat.
"Papa sudah lama nggak tidur nyenyak," kata Papa pelan, seakan membaca pikirannya. "Tapi baru sekarang Papa tahu kenapa."
Dari ruang depan terdengar bunyi motor. Satu, lalu dua, lalu entah berapa. Mama muncul dari dapur dengan spatula masih di tangan dan wajah pucat.
"Pa. Di depan pagar..."
"Wartawan," kata Papa tanpa menoleh. "Biarkan. Pagarnya Papa kunci tadi malam."
"Tapi mereka teriak-teriak nama Aurel."
"Mama," kata Aurel, "bubur ini enak."
Mama menatapnya, lalu menatap spatula di tangannya sendiri, lalu tertawa pendek dan pecah, dan segera menutup mulut dengan punggung tangan. "Mama bahkan nggak bisa marah dengan benar hari ini."
---
Mas Dimas datang lewat pintu dapur pukul sembilan, diselundupkan Pak RT dengan sarung dan helm tukang. Di belakangnya masuk Eva dan Lira yang menyamar pakai topi petani dan masker, dan Eva membuka maskernya dengan gaya penyelundup narkoba yang berhasil lolos.
"Rel. ANJIR. Di depan pagar ada sebelas motor. Gue hitung."
"Dua belas," koreksi Lira. "Yang satu parkir di belakang pohon mangga."
"Duduk," kata Mama, dan duduk pun mereka, seperti anak SD dipanggil guru. Dalam dua menit bubur pindah ke empat mangkuk lagi.
Mas Dimas membuka laptopnya di ujung meja dan wajahnya sudah muram sebelum layar menyala. "Tiga sponsor menunda. Dua menyebut 'mengkaji ulang'. Satu langsung menulis 'dengan berat hati'. Lunara belum bersuara."
"Berarti belum membatalkan."
"Berarti belum memutuskan, Rel."
"Itu beda." Aurel memutar sendoknya. "Yang belum memutuskan masih bisa diajak bicara."
Lira membaca layar ponselnya keras-keras. "Komentar paling atas: 'Kontrak lima miliar, bayarannya cuma segitu? Aku mau dong.' Ini orang gila."
"Lira."
"Yang kedua: 'Suaminya kayak es, istrinya kayak api, cocok.' Nah ini... lumayan."
"LIRA."
Mama tertawa lagi, lebih lepas, dan Papa dari ujung meja berdeham dengan bibir bergetar menahan tawa yang ia sendiri tidak mengizinkan. Eva menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca dan berbisik, "Tante, Om, kalian lucu banget kalau lagi susah."
Aurel mengambil serbet kertas dari tempatnya. Pulpen Papa, yang merah, ia pinjam tanpa izin.
"Mas Dimas. Satu pertanyaan, dan Mas jawab jujur." Ia tidak mengangkat pandangan. "Dua tahun lalu, Kevin pernah mengajukan aku untuk jadi wajah hotel butiknya. Lewat agensi."
Sendok Mas Dimas berhenti di udara.
"Dari mana kamu tahu?"
"Dia sendiri yang bilang di kantor Aditya. Katanya ditolak dan nggak tersinggung."
Mas Dimas menutup laptopnya pelan. "Itu betul. Agensi menolak, dan saya yang tanda tangan. Alasannya jadwal bentrok dan tarifnya terlalu rendah. Kamu waktu itu sedang kontrak skincare dan syuting parfum dan, jujur, tawarannya biasa saja. Saya nggak cerita karena nggak ada yang perlu diceritakan." Ia menelan ludah. "Dia telepon dua kali sesudahnya. Nadanya sopan. Saya pikir selesai."
"Sopan," ulang Eva. "Orang sopan yang nelepon dua kali."
"Bukan bukti," kata Aurel. "Itu pola. Dan pola belum cukup."
Ia menulis di serbet, tiga baris dengan nomor, dengan tulisan tangan Papa yang tebal: 1. DIAM sampai bukti ada. 2. BICARA sekarang. 3. BICARA dengan bukti, di tempat yang kutentukan.
"Pelajaran negosiasi," katanya, lebih kepada dirinya. "Tahu nilai yang mau dijaga. Tahu alternatif kalau gagal. Berani bilang tidak. Nilaiku: aku nggak mau berbohong, dan aku nggak mau lari. Alternatif nomor satu bikin aku kelihatan bersalah. Nomor dua bikin aku kelihatan panik." Ia mengetuk angka tiga dengan ujung pulpen dua kali. "Tiga. Aku butuh bukti dulu. Mas Dimas, bilang ke semua sponsor: jawabanku tiga hari. Bukan 'mengkaji ulang'. Jawabanku."
"Rel, itu risiko."
"Semua pilihan risiko. Yang ini risikonya aku yang pegang."
"Terus kita ngapain?" tanya Lira, mengangkat tangan seperti di kelas.
"Kalian pegang ponselku. Semua yang masuk dari wartawan, kalian saring. Jangan balas satu pun."
"Gue bisa balas pakai emoji monyet," usul Eva.
"Jangan emoji monyet." Aurel menarik napas. "Dan dalam satu-dua hari aku butuh kalian berdua di rumah Karina."
Eva dan Lira saling pandang.
"Karina? Arsitek yang dulu dijodoh-jodohin nyokapnya Aditya?" Eva menyipitkan mata. "Yang lo cemburuin?"
"Aku nggak pernah bilang aku cemburu."
"Lo nulis di buku catatan, Rel. Gue lihat."
"Buku itu sekarang di tangan siapa pun yang mengambilnya." Aurel menyobek serbetnya menjadi dua bagian rapi dan menyerahkan setengahnya pada Mas Dimas. "Jadi anggap saja itu nggak pernah ada."
Mas Dimas menatap serbet itu seperti dokumen penting, lalu melipatnya dan menyelipkannya ke saku kemeja. Mama tertawa untuk ketiga kalinya, dan kali ini Papa ikut.
---
Ia menelepon dari beranda belakang, di sebelah jemuran Mama dengan baju kerja Papa yang masih basah.
"Nona Aurel."
Rian mengangkat sebelum dering pertama selesai. Suaranya formal seperti biasa, tapi ada napas yang sedikit lebih cepat.
"Rian. Rekaman CCTV ruang rehat hotel. Kamu sudah minta?"
Jeda satu tarikan napas. "Sudah, Nona. Hari Minggu sore, lewat surat resmi dari legal. Hotelnya baru menyerahkan salinan pukul sembilan tadi."
"Sejak Minggu."
"Ya, Nona. Pak Aditya meminta saya tidak memberi tahu Nona dulu." Rian tidak membela diri, dan Aurel menghargainya. "Saya menjalankannya sampai pukul dua pagi tadi. Beliau memanggil saya ke ruang kerja dan berkata: kalau Nona bertanya, jawab semuanya. Jangan putuskan apa pun untuk Nona."
Aurel memandang baju kerja Papa yang meneteskan air ke lantai, satu, dua, tiga.
"Kenapa rekamannya belum sampai ke aku?"
"Beliau minta waktu sampai besok pagi. Katanya, beliau tidak mau mengirim bukti tanpa alasan yang jujur di sebaliknya. Beliau sedang menulis sesuatu, Nona."
"Menulis apa?"
"Saya tidak membacanya. Tapi pulpen beliau sudah dua kali habis."
Aurel nyaris tertawa, dan menahannya. "Rian. Kamu sudah nonton rekamannya?"
"Hanya untuk memastikan berkasnya utuh. Dua menit." Rian berhenti sebentar. "Nona, saya perlu bilang satu hal supaya Nona siap. Orang yang mengambil tas Nona dari sofa itu tidak terburu-buru. Ia tidak celingukan, tidak membuka resleting dulu. Ia berjalan langsung ke sofa itu seperti orang yang sudah tahu persis tas mana yang harus ia ambil."