Kursi rotan di sebelah Papa sudah ditarik keluar sebelum Aurel sempat melangkah masuk pagar.
Ia duduk. Koper ditinggalkan Pak Budi di dekat pintu, lalu mobil hitam itu mundur pelan dan lampunya menghilang di tikungan gang. Teras jadi sunyi, hanya jangkrik dan bunyi sendok kecil yang Papa putar-putar di cangkir kopinya yang sudah dingin.
"Mama sudah tidur?" tanya Aurel.
"Mama kamu nunggu sampai jam sebelas. Papa suruh masuk." Papa tidak menoleh. Raket baru di pangkuannya, yang hadiah dari Aditya, ia usap-usap pelan di bagian senarnya. "Matanya bengkak. Dia nangis dari sore."
"Maaf, Pa."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya. Bohong soal bonus iklan. Bohong soal pernikahan. Bohong soal kenapa Aurel nggak pernah mau cerita."
Papa diam lama. Ia meletakkan sendoknya di tatakan, dan bunyinya terdengar sangat keras.
"Soal bonus iklan itu, Papa sudah tahu," katanya.
Aurel menoleh cepat.
"Empat puluh enam juta masuk ke rekening Papa pagi itu, dan nggak ada satu pun kontrak iklan yang pernah Mas Dimas sebut di rumah ini. Papa bukan orang pintar, Rel, tapi Papa bisa berhitung." Ia akhirnya menatap putrinya. Matanya merah di pinggir, tapi suaranya datar. "Papa pura-pura percaya. Karena kalau Papa tanya, kamu harus bohong lagi, dan Papa nggak sanggup lihat anak Papa bohong dua kali demi menutupi kesalahan Papa."
"Itu bukan kesalahan Papa."
"Tunggakan itu kesalahan Papa." Nadanya naik sedikit lalu turun lagi. "Surat bank yang datang tiap bulan, Papa taruh di laci gudang supaya Mama nggak lihat. Papa pikir kalau nggak dibuka, angkanya nggak naik. Kamu tahu apa yang Papa pikirkan waktu baca halaman buku kamu di berita tadi pagi?"
Aurel menggeleng.
"Papa pikir: anak Papa menikah dengan orang asing karena Papa. Menjual dirinya sendiri karena Papa."
"Aurel nggak menjual diri, Pa."
"Papa tahu." Papa mengangkat satu tangan, menghentikannya. "Papa baca halaman itu tiga kali. Kamu menawar. Kamu mengajukan syarat. Kamu mencatat semuanya seperti orang yang mengerti apa yang ia tanda tangani. Papa tahu kamu nggak dijual. Yang merasa seperti menjual kamu itu Papa."
Aurel tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tertutup sesuatu yang panas.
Papa mengambil cangkirnya, meminum kopi dingin itu, dan meringis.
"Pa, itu sudah dingin."
"Papa tahu." Ia meletakkan cangkir. "Biar pahit, supaya Papa nggak ketiduran."
---
"Papa belum bisa bilang nggak apa-apa," lanjut Papa setelah beberapa saat. "Kamu harus dengar itu, supaya nanti nggak kaget. Papa marah, dan sebagian marahnya sama kamu, karena kamu memutuskan sendiri soal hidup kamu sebesar itu tanpa bilang ke orang tuamu. Tapi sebagian besarnya Papa simpan buat orang yang duduk di kursi ini."
"Dia yang mulai, Pa. Maksud Aurel, Aditya yang menawarkan kontraknya, tapi Aurel yang bilang iya."
"Setahun, kata halaman itu," ujar Papa. "Dan sesudah setahun?"
"Cerai. Itu bunyi pasalnya."
"Lima miliar?"
"Sudah masuk rekening Aurel sejak minggu pertama. Belum Aurel pakai sepeser pun, kecuali empat puluh enam juta itu."
"Dan kamu mau pakai apa uang itu?"
"Belum tahu, Pa." Itu jawaban jujur, dan baru kali ini ia mengucapkannya keras-keras. "Dulu Aurel kira buat Papa. Sekarang Aurel kira buat Aurel sendiri."
Papa mengangguk kecil, seperti sedang menyimpan jawaban itu di tempat yang aman.
"Dan kontrak pasok itu?"
Aurel menarik napas. Ia sudah mempersiapkan jawaban ini selama dua jam di kamar, selama satu jam di mobil, dan ia tetap merasa tidak siap.
"Waktu Papa menang kontrak itu, harganya dua belas persen di atas pasar. Aditya yang minta arahkan, lewat anak perusahaan. Aurel baca salinannya di sini, Sabtu itu, dan Aurel marah. Beberapa hari sesudah Papa teken, harganya dikoreksi diam-diam ke harga pasar, sebagai 'penyesuaian'. Papa nggak pernah diberi tahu angka awalnya. Itu salah, dan Aurel yang tahu lebih dulu dan tetap diam beberapa hari."
"Kenapa diam?"
"Karena Aurel takut Papa malu."
Papa tertawa. Pendek, tanpa suara, seperti orang yang baru dipukul perutnya.
"Anak Papa takut Papa malu," katanya. "Padahal Papa malu karena Papa sendiri yang selama ini nggak berani buka laci."
"Pa..."
"Dengar dulu." Ia memutar raketnya di pangkuan. "Papa mau baca sendiri kontrak itu. Bukan lewat cerita kamu, bukan lewat cerita Aditya. Pakai kacamata Papa, pelan-pelan, dengan pulpen. Kamu punya hitungan yang kamu bikin Sabtu itu? Dan suratnya, surat koreksi harga yang kamu bilang ada?"
"Surat koreksi ada di email, Aurel cetak besok. Hitungannya di buku catatan yang..." Ia berhenti. Buku itu ada di tangan orang lain. "Aurel tulis ulang. Aurel masih ingat angkanya. Empat ribu tujuh ratus enam puluh lawan empat ribu dua ratus lima puluh, per lembar."
"Tulis ulang. Bawa besok pagi."
"Iya, Pa."
"Dan satu lagi." Papa memandang pagar, bukan putrinya. "Dia tahu kamu di sini?"
"Belum."
"Kabari."
"Pa, Aurel baru..."
"Papa nggak minta kamu pulang ke dia. Papa minta kamu kabari." Suaranya mengeras. "Papa nggak mau jadi orang yang menyembunyikan istri dari suaminya, seburuk apa pun suaminya malam ini. Pas resepsi dulu, dia janji sama Papa: kalau kamu menangis, dia yang kasih tahu Papa lebih dulu. Papa mau lihat kebalikannya juga bisa terjadi. Kamu yang kasih tahu dia."
Aurel mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Layarnya penuh notifikasi, dan ia menggulirnya melewati semuanya sampai kontak yang ia cari.
Aditya.
Satu jari. Dua kata.
Sampai. Aku di rumah Mama.
Terkirim. Bahkan sebelum ia sempat mengunci layar, dua centang itu sudah berubah biru.
Balasannya datang dalam waktu kurang dari semenit, seakan seseorang duduk di lantai lorong dengan ponsel di tangan sejak tadi.
Terima kasih sudah ngabarin. Tidur, Rel. Nggak usah dibalas.
Aurel menatap layar sampai redup sendiri.
---
Mama ternyata belum tidur. Ia menunggu di depan kamar dengan sarung dan rambut digelung asal, memeluk Aurel lama sekali tanpa bertanya apa-apa, lalu menepuk punggungnya dua kali seperti dulu waktu Aurel demam. "Bubur besok pagi," bisiknya. "Kamu kurus. Jangan bantah."
Kamar lamanya masih berbau kapur barus dan seprai yang dijemur. Poster artis yang dulu ia tempel di dinding sudah Mama ganti dengan bingkai foto kecil: Aurel umur tujuh tahun dengan gigi ompong, Aurel wisuda, Aurel di catwalk pertamanya. Tidak ada yang bersama Aditya.
Ia duduk di tepi kasur dan tidak membuka koper.
Ketukan pelan terdengar di pintu menjelang pukul tiga.
"Rel? Belum tidur?"
"Belum, Pa."
Papa masuk dengan piyama bergaris dan sebuah map plastik biru yang tebal, ujung-ujungnya sudah lengket karena lembap. Ia meletakkannya di pangkuan Aurel tanpa suara, lalu duduk di kursi belajar yang sudah terlalu kecil untuk badannya.
"Apa ini?"
"Surat bank Papa. Yang di laci gudang." Ia menggosok wajahnya dengan telapak tangan. "Bukan yang tunggakan saja. Semuanya, dari dua tahun lalu. Yang sudah Papa buka, yang belum, yang Papa remas lalu Papa lempar ke pojok."
Aurel membuka map itu. Kertas-kertasnya sudah bergelombang. Di sudut atas salah satunya ada bekas lingkaran cangkir kopi.
"Papa nggak mau kamu baca hitungan Papa kemarin-kemarin saja," kata Papa. "Papa mau kita sama-sama lihat angka yang sebenarnya. Besok pukul tujuh, di meja makan, sebelum Mama bangun. Kamu jelaskan hitunganmu sampai Papa mengerti, dan Papa jelaskan semua yang selama ini Papa sembunyikan sampai kamu mengerti."
Ia berdiri di ambang pintu, tubuhnya setengah menghilang dalam gelap lorong.
"Dan Rel, kalau angkanya ternyata lebih jelek dari yang kamu kira, jangan kaget. Papa sudah pernah kaget sendirian dua tahun. Giliran kamu sekarang."