Koper itu sudah tertutup sejak pukul sembilan, dan Aurel masih duduk di tepi tempat tidurnya, menatap pintu.
Ia tidak sedang menunggu apa-apa. Itu yang terus ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya sedang memberi diri sendiri waktu untuk menenangkan napas sebelum berdiri. Tetapi tiap kali ada bunyi di lorong, lantai berderit, lift naik, kulkas dibuka, bahunya menegak sendiri, dan ia membenci tubuhnya karena itu.
Pukul sepuluh, ketukan pelan.
"Nona?"
Mbak Sari membuka pintu setengah dengan nampan di tangan: segelas teh hangat dan sepiring pisang rebus yang masih mengepul. Matanya bengkak.
"Mbak, saya nggak lapar."
"Saya tahu, Nona. Tapi pisangnya sudah saya rebus, sayang kalau tidak dimakan." Ia meletakkan nampan di meja kecil, dan tangannya gemetar. "Tuan... di ruang kerja. Dari tadi tidak keluar. Saya ketuk, tidak dijawab. Tidak minum, tidak makan."
"Dia sudah dewasa, Mbak."
"Iya, Nona. Tapi dia juga pernah kecil di rumah ini." Mbak Sari mengusap hidungnya dengan ujung lengan bajunya. "Maaf, saya lancang."
"Nggak." Aurel menatap pisang itu. "Mbak nggak lancang."
Mbak Sari mundur ke pintu, ragu, lalu berbalik. "Nona jadi pergi?"
"Aku belum tahu."
"Kalau Nona pergi, Nona boleh pulang kapan saja. Pintu ini tidak akan saya kunci."
Pintu ditutup pelan. Aurel mengambil sepotong pisang, menggigitnya, dan tidak bisa menelannya.
Sebelas lewat empat puluh, ia berdiri.
---
Lorong lantai atas diterangi lampu dinding yang redup. Aurel menyeret koper kecilnya, rodanya bergumam di lantai kayu, dan ia berusaha tidak mengeluarkan bunyi apa pun yang tidak perlu.
Pintu ruang kerja terbuka.
Aditya berdiri di sana, tanpa jas, lengan kemeja digulung, rambut berantakan. Kertas satu halaman itu masih di tangannya, kusut seperti habis diremas. Ia tidak berkata apa-apa. Ia menatap koper, lalu menatap Aurel.
Mereka berdiri sepuluh langkah dari satu sama lain.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya.
"Rumah Mama."
"Malam-malam begini."
"Ya."
"Boleh aku antar?"
"Pak Budi nunggu di bawah."
Aditya menarik napas yang terdengar seperti seseorang menahan sesuatu yang besar di dada. Ia mengangkat kertas itu setengah, lalu menurunkannya lagi.
"Rel, aku..."
"Jangan baca kertas itu."
"Ini cuma..."
"Aku tahu isinya. Alasan. Dan semua alasannya masuk akal." Suara Aurel pecah di akhir, ia mengatupkan bibir, lalu melanjutkan lebih rendah. "Tapi aku nggak butuh alasan masuk akal malam ini, Dit. Aku butuh kamu tanya aku."
Hening.
"Kalau aku tanya sekarang, sudah terlambat?"
"Iya."
"Kalau aku minta kamu nggak pergi?"
Aurel memejamkan mata. Pertanyaan itu terdengar tulus, dan itu yang membuatnya semakin sulit.
"Itu bukan permintaan, Dit. Itu cara lain untuk menahan."
Aditya terdiam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, buku jarinya putih, dan Aurel melihat dengan jelas bagaimana ia memaksa dirinya sendiri untuk tidak melangkah maju. Ia berdiri di sana seperti orang menahan beban satu ton hanya dengan dua kaki.
"Gue nggak akan nahan lo," katanya akhirnya.
Gue, lagi. Kata itu keluar dengan nada yang patah, dan dalam patahannya Aurel mendengar bukan marah, bukan arogan, tetapi sesuatu yang jauh lebih jujur dan jauh lebih menyakitkan.
"Gue nggak punya hak," lanjutnya. "Dan kalau gue nahan lo, itu pelanggaran yang sama lagi. Gue sudah salah hari ini. Gue nggak mau nambah."
"Dit..."
"Tapi kabarin kalau lo sampai." Suaranya turun, nyaris tidak terdengar. "Satu pesan aja. Bukan minta izin. Cuma biar gue tahu lo selamat."
Aurel membuka mulut. Menutupnya lagi. Ada sepuluh kalimat yang bisa ia ucapkan, dan sembilan di antaranya akan membuatnya tinggal.
"Aku kabarin," katanya.
Ia berbalik. Rodanya menggulir di lantai kayu, satu, dua, tiga, empat. Di belakangnya tidak ada langkah yang mengikuti. Ia menekan tombol lift, dan pintu terbuka dengan bunyi yang terlalu ramah.
Di cermin lift ia melihat Aditya masih berdiri di mulut lorong, tegak dan diam, dengan kertas kusut di tangan dan wajah yang tidak lagi berusaha menyembunyikan apa-apa.
Pintu lift menutup.
---
Di lorong, Aditya tidak bergerak sampai angka di atas lift berhenti di B2.
Lalu kakinya menyerah. Ia duduk di lantai kayu, punggung bersandar pada dinding, kertas satu halaman itu jatuh dari tangannya dan membuka sendiri seperti kelopak. Ia menatap barisan tulisan kecilnya: kronologi, alasan, risiko. Tidak ada satu pun baris yang berbunyi Apa yang kamu butuhkan dariku.
Langkah pelan mendekat dari tangga.
"Tuan."
"Mbak Sari. Tolong pergi tidur."
"Tuan sudah makan?"
"Nanti."
Mbak Sari berdiri di sampingnya, memegang selimut yang entah dari mana ia ambil. Ia tidak menyodorkannya. Ia hanya memegangnya.
"Aku nggak nahan dia," kata Aditya, pada lantai. "Aku bilang aku nggak akan nahan dia. Itu benar, kan, Mbak?"
"Benar, Tuan."
"Aku belajar itu. Jangan menahan. Jangan memutuskan."
"Iya, Tuan." Mbak Sari menunduk. "Tapi kadang yang benar itu juga sepi."
Aditya tertawa tanpa suara, dan tawa itu berubah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan. Mbak Sari menyampirkan selimut ke bahunya dan duduk di lantai di sebelahnya, dengan kaki ditekuk, tidak bertanya lagi.
---
Pak Budi menunggu di basement dengan mesin menyala dan pintu belakang terbuka. Ia tidak berkata apa-apa. Ia mengangkat koper ke bagasi, menutupnya pelan, dan membuka pintu depan untuk Aurel, seolah itulah hal paling sopan yang bisa ia lakukan.
"Nona."
"Hm, Pak?"
"Saya tidak mau ikut campur."
"Bapak tidak ikut campur."
"Tapi Tuan itu..." Pak Budi mencari kata, memegang kemudi lebih erat. "Tuan itu seperti motor tua yang mesinnya bagus tapi remnya belum dipasang. Dia bukan jahat, Nona. Dia nggak tahu cara berhenti sebelum menabrak."
"Pak."
"Maaf, Nona."
"Nggak apa-apa." Aurel menutup mata. "Aku tahu."
Perjalanan malam melewati jalanan yang lengang. Lampu-lampu kota bergerak di kaca jendela. Aurel duduk dengan dahi bersandar di kaca dan tidak mengatakan apa pun. Pak Budi tidak menyalakan radio. Satu kali, di lampu merah, ia berdeham seakan hendak bicara, lalu tidak jadi.
Menjelang pukul satu, gang rumah orang tua Aurel muncul di antara pohon-pohon.
Lampu teras menyala.
Aurel menegakkan badan. Dari kejauhan ia melihat siluet seorang laki-laki duduk di kursi rotan tua, jaket tebal di bahu, secangkir kopi di meja kecil yang sudah lama berhenti mengepul. Raket baru terletak di pangkuannya.
Papa.
Ia belum tidur. Ia menunggu, dan ia tahu persis kapan putrinya akan datang, seperti ia selalu tahu waktu Aurel kecil pulang terlambat dari sekolah.
Pak Budi mematikan mesin di depan pagar. Aurel membuka pintu mobil. Kakinya menyentuh aspal, dan ia berdiri di sana, memegang pegangan koper yang belum diturunkan.
Papa mengangkat kepala.
"Kamu pulang," katanya. Suaranya serak, dan tak ada yang bisa menebak apakah itu pertanyaan atau pernyataan. "Duduk, Rel. Papa mau bicara."