Pukul enam sore, Aditya menulis di kertas putih dengan pulpen hitam, dan tulisannya makin lama makin kecil.
Satu, kronologi pagi. Dua, alasan rilis. Tiga, risiko jika ditarik. Empat, permintaan maaf. Ia berhenti di nomor empat, mencoret kata permintaan, menulis ulang, mencoret lagi.
Ruang kerjanya sunyi. Maya sudah pulang atas perintahnya. Di layar kiri, grafik saham tertahan di angka yang tidak sepenuhnya merah, dan itu satu-satunya hal baik hari ini. Di layar kanan, balasan Aurel sore tadi masih terbuka: Aku juga.
Dua kata itu bisa berarti apa saja.
Ponselnya berdering. MAMA. Ia menatap layar sampai dering ketujuh, lalu mengangkatnya.
"Aditya."
"Ma. Aku lagi sibuk."
"Mama tahu. Mama lihat rilis kamu." Suara Wilhelmina tenang, terlalu tenang. "Mama mau bicara. Datang ke rumah malam ini."
"Nggak bisa malam ini. Aku harus bicara dulu dengan Aurel."
"Kamu sudah bicara dengan Aurel sebelum rilis itu keluar?"
Aditya terdiam.
"Aditya."
"Nanti, Ma. Besok."
"Kamu..."
"Nanti, Ma." Ia menutup telepon. Tangannya gemetar, dan ia heran kenapa. Ia mengetuk kertasnya dengan ujung pulpen: nomor tiga, risiko jika ditarik. Tulisan di sana rapi, logis, dan tidak menjawab satu pun hal yang akan Aurel tanyakan.
Ia melipat kertas itu menjadi dua dan turun ke ruang tengah.
---
Aditya sudah menunggu di ruang tengah ketika lift terbuka.
Lampu utama dimatikan, hanya lampu baca di sudut sofa yang menyala. Ia duduk tegak dengan jas tersampir di sandaran dan kertas yang tadi ia lipat di pangkuan. Mbak Sari tidak kelihatan. Eva dan Lira sudah pulang sore tadi, meninggalkan dua bantal berbentuk lipatan sembarangan dan sebuah catatan tempel di meja: Telepon kalau butuh. Apa aja. Kami sayang lo.
Aurel menaruh tasnya di lantai dan tidak duduk.
"Aku sudah siapkan penjelasan," kata Aditya. Suaranya datar dan terlatih. Ia mengangkat kertas itu. "Satu halaman."
"Kamu membuat agenda."
"Untuk memastikan aku tidak ada yang lupa."
"Untuk pertengkaran."
"Untuk percakapan." Ia meletakkan kertasnya di meja dan menatap Aurel. Mata merah, rahang tegang. "Aku mulai?"
"Mulai."
"Saham turun, Arvanta meninjau kerja sama, dewan minta klarifikasi sebelum jam sembilan. Aku punya waktu satu jam. Kamu tidur. Aku memutuskan untuk melindungimu."
"Melindungiku."
"Dari wartawan, dari dewan, dari semua yang tidak perlu kamu hadapi pagi ini."
"Dengan menyebut tulisanku rekayasa."
"Itu pernyataan hukum, Rel. Itu cara paling cepat menurunkan berita."
"Itu tulisanku, Dit." Suara Aurel pelan dan sangat jelas. "Kamu tahu itu tulisanku. Kamu bertanya kapan aku menulisnya, kemarin, dan aku bilang. Kamu tahu persis itu bukan palsu."
"Aku tahu."
"Dan kamu tanda tangani rilis yang bilang itu palsu, dengan kop Mahendra Group."
"Aku mengambil keputusan untuk kita."
"Kamu mengambil keputusan untukku." Ia melangkah satu langkah ke depan. "Kemarin malam kita sepakat: pagi ini kita putuskan bersama. Janji, kataku. Kamu bilang 'Hm.' Dan jam lima kamu berdiri di depan pintu kamarku, aku dengar dari Eva, dan kamu pergi."
"Kamu baru tidur jam empat."
"Itu bukan hakmu untuk memutuskan."
"Aku tidak mau membangunkanmu."
"Kamu tidak mau bertanya padaku." Napas Aurel terdengar jelas. "Itu beda."
Aditya berdiri. Gerakan itu terlalu cepat, dan ia sendiri berhenti setengah langkah, mengangkat tangan, lalu menurunkannya lagi. Ia berjalan ke jendela dan membalikkan badan.
"Aku nggak tahu cara lain."
"Ada. Namanya bertanya. Kita tulis di teras rumah orang tuaku, beberapa minggu lalu. Pasal nomor satu."
"Bukan situasi yang bisa..."
"Lo melanggar Pasal Tambahan nomor satu, dan lo ngajarin gue kesalahan yang disembunyiin lebih mahal." Gue-lo kembali begitu saja, di antara mereka, seperti pintu yang terbuka karena angin. "Gue belajar dari lo bahwa mengaku salah lebih murah daripada menutupi. Dan hari ini, hari yang paling penting, lo nutupin gue. Sekarang lo nyembunyiin kita."
"Gue lagi nyelametin lo!" Suara Aditya pecah, dan ia sendiri tampak kaget dengan volumenya. "Lo masih baru di dunia ini, Rel! Lo belum pernah lihat gimana dewan bisa menelan orang hidup-hidup! Lo belum pernah lihat gimana satu berita bisa menghancurkan keluarga lo, keluarga gue, dan perusahaan yang..."
"Lo ngerendahin gue."
"Gue nggak..."
"Lo ngerendahin gue." Aurel mengatakannya tanpa menaikkan nada. "Gue baru. Gue murid. Itu yang lo bilang barusan."
Aditya menutup mulutnya. Rahangnya bergerak, tapi tidak ada suara.
"Gue ngajarin lo menunggu," lanjut Aurel, "dan lo ngajarin gue baca laporan keuangan. Kita seimbang, gue kira. Ternyata nggak. Di mata lo gue masih anak kecil yang harus dijaga, dan lo ngambil keputusan yang menghancurkan harga diri gue demi nyelametin perusahaan lo."
"Demi nyelametin kita."
"Kita nggak ditanya."
Hening. Dari jauh terdengar klakson, dan lampu baca di pojok bergetar sedikit karena lift berjalan di dalam dinding.
"Papa gue baca rilis lo," kata Aurel. "Dan baca halaman gue. Dia harus nimbang mana yang bohong, anaknya atau menantunya. Gue pulang tadi dan harus bilang ke Papa bahwa semua yang ada di halaman itu benar. Papa masuk kamar dan nggak mau ngomong sama gue."
"Aku tidak tahu Papa membaca..."
"Lo nggak nanya."
Kalimat itu jatuh seperti batu. Aditya menutup mata.
"Maaf," katanya, nyaris tidak terdengar. "Maaf."
"Lo bilang maaf buat apa?"
"Buat..."
"Buat rilis atau buat nggak nanya?"
"Dua-duanya."
"Tapi lo tarik rilis itu?"
Aditya terdiam.
"Aku bisa menyatakan klarifikasi lain besok," katanya akhirnya, lebih pelan. "Tapi menarik rilis berarti mengakui kita berbohong ke publik, dan itu langsung memicu gugatan syarat. Aku tidak bisa menariknya malam ini."
"Jadi selama ini cuma guru dan murid."
"Bukan itu maksudku."
"Lo yang bilang. Gue baru. Lo yang tahu." Aurel mengambil napas, dan di sela napas itu ada sesuatu yang patah. "Gue pikir kita tim."
"Kita memang tim."
"Tim nggak memutuskan sendiri."
Ia berbalik dan melangkah ke tangga. Aditya mengikuti dua langkah, tanpa menyentuh, tangan tergantung kaku di sisi tubuhnya.
"Rel..."
Pintu kamarnya terbuka, tertutup, dan terbuka lagi. Ia keluar dengan koper kecil yang dulu ia bawa ke Jogja dan mulai memasukkan baju dari lemari, satu per satu, tanpa dilipat.
"Satu pertanyaan, Dit." Ia tidak menoleh. "Kalau gue minta lo tarik rilis itu malam ini, sekarang, di depan gue, lo tarik?"
Lama sekali tidak ada jawaban.
"Aku nggak bisa," bisik Aditya.
"Itu jawabannya."
Zipper koper berbunyi, panjang dan dingin, dari ujung ke ujung.