"Nona, mau saya antar sampai pintu?"
"Cukup sampai gerbang, Pak Budi."
Pak Budi menghentikan mobil di depan pagar rumah orang tua Aurel dan tidak langsung mematikan mesin. Dari spion, matanya mencari mata Aurel. Sepanjang jalan ia tidak menyetel radio, tidak menyanyikan lagu sepak bola, dan tidak bercanda, dan itu sendiri sudah cukup menyedihkan.
"Nona."
"Ya, Pak?"
"Saya nggak tahu urusan Tuan dan Nona. Saya cuma sopir." Ia memegang kemudi dengan dua tangan. "Tapi Mbak Sari nangis dari tadi pagi di dapur. Kalau Nona tidak pulang ke penthouse, saya akan jemput di mana pun Nona minta."
"Aku pulang, Pak. Nanti malam."
"Siap." Suaranya serak. "Saya tunggu di sini sampai Nona selesai."
"Nggak usah. Bapak makan dulu."
"Siap, Nona. Tapi saya tunggu."
Aurel turun dari mobil dengan mata panas dan berjalan ke pagar tanpa menoleh.
---
Mama membukakan pintu sebelum Aurel sempat memencet bel.
Matanya sembap, rambutnya masih digelung seperti kemarin, dan celemek bunga-bunga itu masih terikat di pinggang walau tidak ada masakan yang sedang dimasak. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menarik Aurel masuk dan memeluknya erat-erat, sampai Aurel mencium bau sabun cuci piring dan bawang goreng dari rambutnya.
"Mama..."
"Jangan bilang apa-apa dulu. Mama cuma mau peluk."
Mereka berdiri di ambang pintu. Dari ruang tengah terdengar suara televisi yang dikecilkan sampai nyaris bisu, menayangkan berita siang yang sama.
"Papa di mana?"
"Di ruang tengah. Dari tadi pagi dia duduk di situ. Nggak mau makan." Mama melepaskan pelukan dan mengusap pipinya sendiri dengan punggung tangan. "Rel, Mama nggak marah. Mama cuma mau kamu jujur. Apa pun jawabannya."
"Iya, Ma."
"Janji?"
"Janji."
Papa duduk di kursi rotan tua menghadap televisi yang gelap. Raket baru dari Aditya tergeletak di meja, belum dipindah sejak syukuran. Ia tidak menoleh ketika Aurel masuk. Bahunya tegak, rahangnya mengeras, dan Aurel baru menyadari betapa kecilnya laki-laki itu sekarang dibandingkan dengan yang ia ingat waktu kecil.
"Pa."
"Duduk."
Aurel duduk di sofa seberang. Mama berdiri di pintu dapur, memeluk sikunya sendiri.
"Jadi benar?" tanya Papa.
Tiga kata. Tanpa nada. Aurel menatap telapak tangannya yang terkatup di pangkuan, lalu mengangkat kepala.
"Benar, Pa."
"Semuanya?"
"Semua yang ada di halaman itu."
"Pernikahan kamu."
"Pernikahanku sah, Pa. Akadnya sungguhan. Tapi alasannya..." Suaranya serak, dan ia batuk kecil, memaksa dirinya melanjutkan. "Alasannya kontrak. Aditya menawarkan pernikahan satu tahun. Aku menerima. Lima miliar rupiah, dan skandalku dibersihkan."
Mama menutup mulutnya dengan tangan.
"Kenapa?" tanya Papa.
"Karena waktu itu aku kehilangan dua kontrak iklan dalam satu pekan, dan Mama menyembunyikan tagihan bank dari aku, dan aku tahu Papa sedang..." Aurel menggigit bibir. "Aku nggak mau lihat rumah ini dijual."
"Jadi kamu menjual dirimu."
"Aku menjual waktuku, Pa. Setahun. Dengan syarat-syarat yang kutawar sendiri. Bukan diriku."
Papa menoleh. Sekarang matanya bertemu mata Aurel. Mata itu tidak marah. Itu yang membuat Aurel ingin menangis, karena ia sudah menyiapkan dirinya untuk amarah.
"Uang yang kamu kirim ke Mama bulan lalu. Empat puluh enam juta. Kamu bilang bonus iklan."
"Itu bohong."
"Dari mana?"
"Dari rekeningku. Dari lima miliar itu." Ia tidak mengalihkan pandangan. "Aku tidak mau bilang itu dari kontrak. Aku takut Papa tersinggung."
"Papa tahu," kata Papa pelan. "Papa nggak tahu dari mana, tapi bonus iklan sebesar itu Papa nggak percaya." Ia menarik napas panjang. "Papa memilih nggak bertanya. Itu salah Papa juga."
"Pa..."
"Kontrak pasok itu."
Aurel terdiam sepersekian detik.
"Kontrak pasok dengan anak perusahaan Mahendra. Rezeki dari arah yang tidak disangka." Papa mengulang kata-katanya sendiri dengan suara pahit. "Itu juga bagian dari kontrak kalian?"
Ini dia. Pertanyaan yang ia tunggu-tunggu sejak berminggu-minggu lalu, dan ia merasa tubuhnya mendingin dari ujung kaki.
"Bukan bagian dari kontrak. Tapi bukan murni juga."
"Jelaskan."
"Aditya yang mengusulkan anak perusahaannya jadi pelanggan Papa. Dia tidak bilang padaku. Harganya dua belas persen di atas pasar, dan aku baru tahu setelah menghitungnya sendiri di hari Papa memamerkan kontraknya." Aurel menarik napas. "Aku marah besar. Aku bilang itu belas kasihan. Aku menolak. Dia mengakui salahnya, dan harganya sudah dikoreksi ke harga pasar, ada suratnya. Papa bisa lihat."
"Tapi sebelum dikoreksi, itu belas kasihan."
"Iya, Pa."
"Dan kamu diam."
"Sampai hari ini. Aku seharusnya bilang sejak awal. Waktu itu aku takut Papa malu." Ia mengusap pipi yang entah sejak kapan basah. "Itu utang kejujuran, Pa. Aku punya utang itu sejak bulan lalu. Hari ini aku bayar."
Hening. Televisi bisu memutar iklan sabun. Mama menggeser kakinya di pintu dapur.
"Waktu ulang tahun Papa," kata Papa. "Di teras. Papa tanya dia, 'Kamu bahagia dengan anak saya?' Dia jawab, 'Iya, Om.'" Ia menatap Aurel. "Itu bohong juga?"
Aurel mencengkeram lututnya.
"Itu satu-satunya yang benar, Pa."
Papa menatapnya lama sekali. Lalu ia berdiri. Pelan, bertumpu pada sandaran kursi, seperti orang yang baru berjalan setelah sakit panjang. Ia mengambil raket dari meja, menimangnya sebentar, lalu menaruhnya lagi.
"Papa mau masuk."
"Pa, aku..."
"Nanti." Ia tidak menoleh. "Papa belum bisa bicara sekarang."
Langkahnya terdengar menyeberangi lorong. Pintu kamar ditutup tanpa dibanting. Satu klik logam, dan sunyi sesudahnya terasa seperti seseorang menarik napas lalu tidak mengeluarkannya lagi.
Aurel duduk dengan tangan di pangkuan. Mama menghampiri dan duduk di sampingnya, menarik bahunya sampai kepalanya bersandar di dada.
"Dia nggak benci kamu, Rel."
"Aku tahu."
"Dia benci dirinya sendiri. Dia pikir kamu begini karena Papa gagal."
"Itu bukan..."
"Mama tahu. Tapi dia yang harus mengerti, bukan kamu yang memaksa." Mama mengelus rambutnya. "Kamu nginap di sini."
"Aku harus balik, Ma. Aditya..." Ia menelan ludah. "Ada yang harus aku selesaikan."
"Kamu bahagia, Rel?"
Pertanyaan yang sama, dan Aurel hampir tertawa karena itu.
"Hari ini bukan hari yang bagus buat jawab, Ma."
"Kapan hari yang bagus?"
"Nanti."
Sebelum pergi, ia berdiri di depan pintu kamar orang tuanya. Kayu itu masih sama, dengan gantungan kunci kecil berbentuk raket yang sudah retak ujungnya, hadiah ulang tahun dari Aurel umur sepuluh tahun.
Ia mengetuk satu kali.
"Pa. Aku di luar."
Tidak ada jawaban. Terdengar sprei bergeser, lalu sunyi lagi.
"Aku nggak minta Papa memaafkan sekarang. Aku cuma mau Papa tahu aku di sini."
Sunyi.
"Dan aku tetap bangga jadi anak Papa. Apa pun yang Papa pikir soal hari ini."
Ia menunggu sampai hitungan ketiga puluh. Tidak ada suara. Ia menempelkan dahi di pintu sebentar, lalu pergi.
Ponselnya bergetar di saku. Satu pesan dari Aditya, dikirim pukul empat lewat dua puluh.
Aku pulang jam tujuh. Kita bicara. Aku bisa jelaskan.
Aurel menatap kalimat terakhir itu lama. Lalu ia mengetik satu kalimat pendek, mengirimnya sebelum sempat menyesal.
Aku juga.