Senin subuh, pukul lima lewat empat puluh, Aditya berdiri di depan pintu kamar Aurel dengan kunci mobil di tangan dan tidak mengetuk.
Lampu lorong redup. Dari balik pintu tidak terdengar apa-apa. Ia tahu Aurel baru tidur menjelang subuh, karena ia mendengar langkahnya mondar-mandir sampai jam empat. Sepanjang hari Minggu kemarin Aurel hanya sempat menjawab satu pesan: Nanti Aurel telepon, Ma. Selebihnya habis untuk Eva, Lira, wartawan yang menelepon tanpa henti, dan layar ponsel yang tidak berhenti menyala. Eva sendiri tidur di sofa ruang tengah dengan selimut sampai dagu, dan tadi sempat berbisik waktu Aditya lewat, "Kasih dia tidur, ya, Pak."
Kemarin malam, di meja makan yang tidak disentuh siapa pun, mereka sepakat: tidak ada pernyataan sebelum mereka bicara dengan Papa dan Mama Aurel, dan besok pagi memutuskan bersama.
Ia memegang gagang pintu, lalu melepasnya.
Ponselnya sudah bergetar sejak lima belas menit lalu. Maya, empat kali. Rian, dua kali. Pak Handoko, satu kali. Di layar teratas ada angka yang membuat perutnya mengencang: saham Mahendra Group turun enam persen sebelum bursa buka, menurut simulasi pra-pembukaan.
Satu jam, katanya pada diri sendiri. Aku urus satu jam, lalu kubangunkan dia.
Ia menyelipkan kunci mobil ke saku dan turun lewat tangga, bukan lift, supaya tidak ada bunyi yang membangunkan siapa pun.
---
Aurel terbangun pukul delapan lewat seperempat dengan ponsel masih di dada.
Layarnya menyala: pesan dari Aditya, dikirim pukul enam kurang sepuluh.
Aku ke kantor dulu. Ada yang harus diurus sebelum bursa buka. Jangan khawatir, tidur lagi.
Ia membacanya dua kali. Lalu ia mengetik cepat: Kita kan sepakat putuskan bareng pagi ini? Bangunin aku kalau ada keputusan. Terkirim, centang satu, tidak berubah jadi dua.
"Dia berangkat jam lima lebih, Rel."
Eva muncul di ambang pintu dengan rambut seperti sarang burung dan segelas teh dari Mbak Sari. "Gue lihat dia lewat. Dia berdiri di depan pintu lo lama banget. Terus pergi."
"Berdiri?"
"Lama. Kayak lagi ngitung sesuatu." Eva duduk di tepi tempat tidur. "Gue pura-pura tidur. Maaf."
"Nggak apa-apa." Aurel menarik napas. "Dia nggak bangunin gue."
"Mungkin dia nggak tega."
"Mungkin." Ia turun dari tempat tidur dan mengambil blus dari kursi. "Va, tolong jaga Lira. Gue ke kantor."
"Sekarang? Lo belum makan!"
"Gue makan di jalan." Ia menoleh. "Kalau tiga puluh menit lagi dia belum balas, gue tahu dia sudah memutuskan sesuatu."
---
"Pak Aditya, mohon maaf mengganggu pagi-pagi."
Suara Pak Hardi di ujung telepon rendah dan tertib. Aditya duduk di kursi kantornya dengan jas yang belum sempat dikancingkan, tiga layar menyala, dan segelas kopi hitam yang sudah dingin.
"Silakan, Pak."
"Direksi Arvanta pagi ini memutuskan meninjau kerja sama kita. Bukan memutuskan menghentikan. Meninjau." Ada jeda yang hati-hati. "Kami tidak terbiasa berurusan dengan dokumen pribadi yang bocor. Saya tidak berani berkomentar soal isinya. Tapi saya perlu satu hal dari Bapak: apakah dokumen itu asli?"
Aditya menatap foto halaman itu di ponselnya, di sisi meja, yang sudah ia lihat lebih dari seratus kali.
Ia tahu jawaban jujurnya.
Ia juga tahu jawaban yang ia butuhkan.
"Dokumen itu bukan sesuatu yang bisa saya konfirmasi pagi ini, Pak Hardi. Saya akan menyampaikan pernyataan resmi hari ini."
"Baik." Pak Hardi terdengar kecewa, atau mungkin hanya lelah. "Saya menunggu."
Sambungan terputus. Dua menit kemudian pintu ruang rapat dewan komisaris dibuka dan tujuh orang masuk, berjas gelap, dengan map-map tipis yang mereka bawa seperti perisai.
Rapat itu singkat.
"Klarifikasi harus keluar sebelum bursa buka," kata komisaris paling senior, laki-laki enam puluhan yang bicara tanpa melirik siapa pun. "Dan ada hal lain yang perlu Bapak pertimbangkan." Ia mengetuk meja satu kali. "Bu Wilhelmina memegang syarat atas hak Bapak di perusahaan ini, yaitu pernikahan Bapak tahun ini. Jika pernikahan itu terbukti bukan pernikahan yang sungguh-sungguh, pihak yang berkepentingan dapat menggugat keabsahan syarat itu."
"Maksud Bapak, hak saya bisa digugat."
"Maksud saya, Bapak harus berhati-hati sekali dengan kata-kata Bapak pagi ini."
Aditya mengangguk pelan. Di bawah meja, tangannya mengepal.
Sepuluh menit kemudian ia sendirian di ruangannya, dengan Pak Handoko di layar dan Maya berdiri di sudut. Ia mengucapkan keputusan itu dengan suara yang terdengar tenang dari luar.
"Tiga langkah. Pertama, minta semua portal menurunkan berita itu, dengan somasi resmi untuk yang menolak. Kedua, nyatakan kopian halaman yang beredar sebagai dokumen palsu dan hasil rekayasa. Ketiga, siapkan laporan ke polisi atas pencurian dan penyebaran."
Pak Handoko diam sejenak di layar. "Dokumen palsu."
"Ya."
"Pak Aditya, kalau kita menyatakan palsu dan nanti terbukti asli..."
"Maka kita lihat nanti."
"Apakah Nona Aurel sudah dihubungi?"
"Dia istirahat. Dia sudah cukup lelah." Aditya menatap lurus ke kamera, dan kalimat berikutnya keluar tanpa gentar, dan itu yang kelak paling ia sesali. "Saya yang bertanggung jawab. Kirim rilisnya."
Sudut matanya menangkap kertas kecil di meja, daftar tiga Pasal Tambahan yang ia dan Aurel tulis di teras rumah orang tuanya. Pasal pertama: tanya dulu. Ia mengetuk kertas itu sekali dengan ujung telunjuk, seolah ingin menenangkan sesuatu yang berbisik.
Ini bukan soal bertanya, katanya dalam hati. Ini soal melindunginya.
Rilis keluar pukul sepuluh lewat empat puluh.
---
Aurel tiba di lobi Mahendra Group pukul sebelas kurang sepuluh dengan rambut belum disisir dan sepatu yang tidak serasi.
Ia hanya sempat membuka ponsel di lift. Rilis itu sudah ada di layar. Judulnya tegas: Mahendra Group Membantah Dokumen yang Beredar sebagai Rekayasa. Paragraf kedua: foto halaman yang beredar "bukan tulisan Ibu Aurel Arasya Nabiqa dan merupakan hasil penyuntingan pihak tidak bertanggung jawab". Paragraf ketiga memuat nama Pak Handoko, kata "somasi", dan satu kalimat tentang laporan polisi.
Aurel membaca kata rekayasa tiga kali.
Lalu ia menyadari sesuatu yang membuat lututnya hampir menyerah: itu tulisannya. Itu tulisannya, Aditya tahu itu tulisannya, dan di rilis itu dengan kop surat Mahendra Group tercantum bahwa ia berbohong tentang tulisannya sendiri.
"Mbak Aurel."
Maya menunggu di depan lift lantai dua puluh dua dengan map di dada dan wajah yang tidak bisa menatap langsung.
"Kak Maya. Pak Aditya di mana?"
"Rapat dengan dewan. Sampai jam satu."
"Rilisnya..."
"Sudah keluar, Mbak. Sepuluh empat puluh."
"Siapa yang menyetujui?"
Maya menelan ludah. "Pak Aditya."
"Sendiri?"
"Dengan Pak Handoko."
"Bukan dengan aku."
Maya tidak menjawab. Matanya turun ke lantai, lalu naik lagi, dan ia mencoba tersenyum yang gagal. "Beliau bilang saya tidak boleh mengganggu Mbak. Beliau bilang Mbak sudah cukup menanggung. Maaf, Mbak. Saya baru dikabari setelah rilis keluar."
"Kamu tidak salah, Kak."
"Saya merasa salah."
"Itu bukan salahmu." Aurel menegakkan badan dan melangkah ke ruang kerja Aditya. Pintunya terkunci. Ia menempelkan telapak tangan di kayu itu beberapa detik, tidak mengetuk, tidak berteriak, hanya menempelkan.
Pasal pertama. Tanya dulu.
Ponselnya bergetar. MAMA. Ia mengangkatnya dengan tangan yang tidak lagi gemetar, hanya dingin.
"Rel."
Suara Mama di ujung telepon pecah di tengah. Bukan marah. Lebih buruk daripada marah.
"Rel, pulang. Papa baca semuanya."