Sore itu, langit Jakarta perlahan berubah menjadi warna jingga lembut. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Aditya pulang sebelum matahari benar-benar terbenam. Begitu turun dari mobil, langkahnya terhenti sejenak.
Biasanya suasana rumah terasa hening dan tenang, tapi sore ini justru terdengar suara tawa yang riuh dari arah halaman belakang.
“Pak Budi! Jangan curang dong!” seru suara Aurel yang terdengar ceria.
Pak Budi menjawab sambil tertawa lepas, “Curang dari mana, Nona? Saya memang jago mainnya!”
“Halah, jago katamu! Tadi bolanya saja sampai keluar lapangan!”
“Itu garisnya yang bergeser sendiri, bukan salah saya!”
“Pak Budi ini ya…”
Semua orang yang ada di sana pun tertawa bersama.
Aditya berdiri diam sejenak di teras, rasa penasaran membuatnya berjalan menuju halaman belakang. Begitu sampai, senyum tipis hampir terukir tanpa sadar.
Di sana terlihat Aurel mengenakan kaus putih longgar dan celana olahraga hitam, rambutnya dikuncir tinggi agar rapi. Wajahnya sedikit berkeringat, tapi senyumnya terlihat sangat lebar dan tulus. Di tangannya tergenggam raket bulu tangkis, sedangkan Pak Budi berdiri di hadapannya sambil bersiap memukul bola.
Mbak Sari, Pak Darto, dan dua pegawai lain duduk santai di bangku taman sambil sesekali bertepuk tangan memberi semangat.
“Kalau aku menang,” seru Aurel sambil mengangkat satu jari dengan semangat, “semuanya wajib traktir aku es krim rasa cokelat yang banyak!”
Pak Budi tertawa terbahak-bahak. “Lho, kok kami yang harus traktir? Tidak adil dong!”
“Ya kan kalian tim lawan! Begitulah aturannya.”
“Kalau saya yang menang, bagaimana?”
Aurel berpikir sebentar, lalu menyeringai nakal. “Kalau Pak Budi menang… aku tetap minta es krim juga!”
Semua orang langsung pecah tertawa mendengar jawabannya.
“Aduh, Nona ini memang tidak ada adil-adilnya,” kata Pak Budi sambil memegang dadanya.
“Ini namanya strategi cerdas, Pak!”
“Strategi apa itu? Namanya cari keuntungan terus saja!”
Mbak Sari sampai menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. “Kasihan sekali Pak Budi, sudah tua-tua tetap kalah akal.”
“Tenang saja, Mbak. Gaji saya masih cukup aman kok,” jawab Pak Budi sambil mengangkat raket. “Siap lanjut lagi?”
Aurel mengangguk mantap. “Siap! Ayo kita mulai!”
Suasana halaman pun kembali meriah.
“Ayo pukul keras, Pak Budi!”
“Semangat, Nona! Jangan kalah!”
Aditya hanya berdiri diam dari kejauhan, memandangi mereka semua. Baru kali ini rumahnya terasa sehidup ini. Biasanya hanya terdengar suara air mancur dan langkah kaki yang pelan, tapi sekarang justru suara tawa yang mengisi setiap sudut. Dan anehnya, ia sama sekali tidak merasa terganggu.
Tiba-tiba kok melambung terlalu tinggi dan jauh ke belakang. Aurel berlari mengejar sambil tetap tertawa. “Awas, Pak Budi!”
Belum sempat Pak Budi menghindar, bola itu justru mengenai dahinya dengan lembut.
“Aduh!”
Semua orang tertawa makin keras melihat kejadian itu.
“Maaf ya, Pak! Hahaha,” kata Aurel sambil berusaha menahan tawanya. “Ini bukan pukulan biasa, ini serangan rahasia!”
Pak Budi pura-pura mengelus dahinya sambil mengerutkan hidung. “Nah, sekarang saya bilang Nona yang curang!”
“Lho, tadi kan Pak yang menuduh saya duluan! Sekarang gantian saya yang menang ya?”
Tawa kembali meledak di halaman itu.
Saat itulah Pak Budi tanpa sengaja menoleh ke arah teras. Wajahnya langsung berubah tegang dan pucat.
“T-Tuan Aditya…”
Suara itu membuat semua orang langsung berhenti bergerak. Mbak Sari segera berdiri tegak, begitu juga Pak Darto dan yang lain. Suasana yang tadinya riuh mendadak menjadi hening seketika.
Aurel menoleh dan melihat Aditya berdiri di sana dengan kedua tangan di saku celana, tatapannya terlihat datar seperti biasanya.
“Kamu sudah pulang?” tanya Aurel dengan nada santai dan tenang.
Aditya hanya mengangguk singkat. “Iya.”
Pak Budi segera menunduk hormat. “Mohon maaf, Tuan. Kami hanya mengisi waktu luang sebentar saja, tidak bermaksud berisik.”
Semua orang menahan napas, mengira Aditya akan marah dan menyuruh mereka berhenti. Tapi ternyata dugaan mereka salah.
Aurel malah mengangkat raketnya ke arah Aditya sambil tersenyum ceria. “Mau ikut main juga, Adit? Lebih seru kalau ada yang baru lawan.”
Semua pegawai tertegun dan saling pandang. Mata mereka terbelalak tak percaya. Adit? Belum pernah ada orang yang berani memanggil majikan mereka dengan seakrab itu.
Aditya menatap raket yang diulurkan itu sebentar, lalu menjawab dengan nada tenang. “Saya tidak punya banyak waktu untuk bermain.”
“Baiklah kalau begitu,” jawab Aurel santai sambil mengangkat bahu. “Kalau begitu kita lanjut saja lagi, Pak Budi!”
Permainan pun kembali berjalan. Aditya tetap berdiri di tempat, tapi entah mengapa pandangannya terus mengikuti setiap gerakan Aurel. Perempuan itu tertawa tanpa beban, sesekali menggoda lawannya, sesekali menyemangati penontonnya. Semua orang terasa sangat nyaman berada di dekatnya.
Lima menit berlalu, Pak Budi mulai terengah-engah sambil mengangkat tangannya. “Istirahat sebentar dulu ya, saya sudah mulai lelah nih.”
Aurel menyeringai menang. “Nah, akhirnya mengaku juga kelelahan!”
“Bukan lelah, tapi perut sudah mulai berbunyi minta makan!”
“Lho, baru main sebentar saja sudah lapar?”
Belum sempat Aurel menjawab, terdengar suara langkah kaki mendekat. Semua orang menoleh bersamaan.
Aditya berjalan perlahan menuju tengah lapangan. Tanpa banyak bicara, ia mengambil salah satu raket yang tergeletak santai di atas bangku.
Mata Pak Darto sampai terbelalak. Ia mengucek matanya sendiri seolah tak percaya. “Mbak Sari… apakah saya melihat dengan benar?”
Mbak Sari mengangguk perlahan sambil tersenyum kecil. “Iya… benar sekali. Itu Tuan sedang memegang raket.”
Pak Budi hampir saja tertawa menahan rasa kagetnya.
Aurel menatap Aditya selama beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum nakal. Dasar gengsian. Tadi bilang tidak punya waktu, sekarang malah ikut bergabung.
Aditya memutar raketnya dengan santai. “Ingin lawan siapa?”
Aurel segera melangkah maju dengan semangat. “Lawan saya saja! Ayo kita buktikan siapa yang lebih jago!”
Pak Budi langsung bersorak gembira. “Wah, pertandingan seru ini pastinya!”
Mbak Sari ikut bertepuk tangan. “Semangat, Nona! Jangan sampai kalah ya!”
Aditya menatap Aurel dengan tatapan datar tapi sedikit tersenyum samar. “Kalau kalah nanti jangan sampai merajuk atau menangis ya.”
Aurel mendengus sambil memutar raketnya. “Siapa juga yang akan kalah duluan? Siap kalah saja kamu!”
“Baiklah, mari kita mulai.”
“Mulai sekarang ya!” seru Pak Budi sambil mengangkat bola. “Pertandingan persahabatan antara Tuan Aditya Mahendra melawan Nona Aurel Arasya Nabiqa!”
“Ayo semangat!” teriak Mbak Sari.
“Semangat, Tuan!” tambah Pak Darto dengan antusias.
Aurel menyeringai penuh percaya diri. “Ingat ya, kalau kalah jangan sampai ngambek nanti.”
Aditya hanya mengangkat sebelah alisnya. “Kamu yakin yang akan kalah itu saya?”
“Pasti! Saya sudah lama main lho!”
“Bukan merasa diri paling hebat, tapi ini hanya kenyataan saja,” jawab Aditya santai.
“Ya ampun, pede sekali orangnya,” gumam Aurel sambil tersenyum geli.
Pak Budi melempar bola ke udara. “Pertandingan dimulai!”
Servis pertama datang dari Aurel dengan pukulan yang cepat dan ringan. Aditya mengembalikannya dengan satu ayunan tangan yang terlihat santai saja. Bola pun melesat kembali ke arah Aurel.
Beberapa kali mereka saling memukul bolanya bolak-balik. Lama-lama mata Aurel mulai membesar karena terkejut.
“Lho… kok kamu bisa main sebaik ini?” tanyanya sambil terus berlari mengikuti arah bola.
“Sedikit saja,” jawab Aditya singkat.
“Sedikit apanya! Ini sudah jago sekali!”
Plak! Bola meluncur cepat dan jatuh tepat di garis belakang lapangan.
“Masuk! Poin untuk Tuan!” seru Pak Darto dengan semangat.
Aurel tertegun sejenak sambil menunjuk ke arah Aditya. “Ini curang! Kamu bilang cuma sedikit saja!”
“Memang benar sedikit saja,” jawab Aditya sambil tetap tenang.
“Sedikit yang mana? Ini mah tingkat ahli!”
Pak Budi tertawa terbahak-bahak. “Nah, Nona kena tipu nih!”
Aurel menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. “Dasar orang yang suka menyembunyikan kelebihan sendiri!”
Aditya hanya tersenyum tipis. “Silakan saja kalau merasa tertipu.”
“Tampangmu itu memang bikin ingin dijitak rasanya,” kata Aurel sambil tertawa.
“Silakan coba saja kalau berani,” tantang Aditya dengan nada lembut.
Mbak Sari ikut tersenyum menahan tawa. “Semangat terus ya, Nona! Jangan sampai semangatnya hilang!”
“Siap! Saya belum kalah kok!” jawab Aurel semangat.
Pertandingan berlanjut dengan lebih seru. Aurel mencoba mengubah strategi, kadang memukul rendah, kadang melambungkan bola tinggi. Tapi Aditya selalu bisa mengantisipasinya dengan tenang dan terampil.
Hingga akhirnya ia melakukan pukulan keras yang membuat bola jatuh tepat di depan kaki Aurel.
“Skor delapan berbanding dua untuk Tuan!” seru Pak Budi.
Aurel menaruh tangannya di pinggang sambil menghela napas panjang. “Baru sadar sekarang… ternyata CEO itu hobi menyembunyikan keahlian ya.”
“Saya tidak berbohong. Memang sudah lama tidak main lagi,” jawab Aditya. “Dulu sempat menjadi atlet bulu tangkis saat masih kuliah.”
Semua orang langsung tertegun tak percaya.
“Atlet? Benarkah itu, Tuan?” tanya Pak Darto dengan mata terbelalak.
Aditya hanya mengangguk pelan. “Benar saja.”
Aurel langsung menepuk dahinya sendiri sambil tertawa. “Ya ampun… pantas saja sulit dikalahkan! Kenapa tidak bilang dari tadi?”
“Kamu juga tidak bertanya,” jawab Aditya santai.
“Ya elah… dasar orang misterius!”
Semua orang kembali tertawa mendengar percakapan mereka yang terasa begitu akrab dan manis.
“Waktu istirahat sebentar ya!” seru Aurel sambil mengangkat tangan.
Pak Budi mendekat. “Ada apa, Nona? Sudah lelahkah?”
“Ini tidak adil! Lawan saya ternyata mantan atlet,” kata Aurel sambil tersenyum nakal. “Kalau begini hukumannya berubah ya!”
“Berubah menjadi apa?” tanya Pak Budi penasaran.
“Kalau saya kalah, saya tetap traktir es krim. Tapi kalau Aditya yang kalah… dia harus traktir kami semua satu loyang pizza ukuran besar!”
Semua orang langsung bersorak gembira. “Setuju! Pizza satu loyang yang besar!”
Aurel menoleh ke arah Aditya dengan tatapan menantang. “Bagaimana? Setuju atau tidak?”
Aditya melipat kedua tangannya di d**a sambil tersenyum tipis. “Boleh saja. Saya setuju.”
“Yakin bisa menang?”
“Kita lihat saja nanti.”
Pertandingan pun dilanjutkan dengan suasana yang semakin seru dan menyenangkan. Aurel berusaha sekuat tenaga, kadang berhasil mencetak poin yang membuatnya melompat kecil kegirangan.
“Masuk! Poin untuk saya!” serunya sambil tersenyum lebar.
“Keberuntungan saja itu,” kata Aditya sambil tersenyum geli.
“Bukan keberuntungan, ini hasil latihan keras!” jawab Aurel dengan bangga.
Semua orang terus memberi semangat, membuat suasana terasa seperti di arena pertandingan sungguhan yang penuh kehangatan.
Hingga akhirnya pertandingan berakhir dengan skor akhir dua puluh satu berbanding sembilan belas. Pemenangnya adalah Aditya.
Aurel langsung menjatuhkan diri duduk di atas rumput yang lembut sambil terengah-engah. “Wah… benar-benar melelahkan sekali.”
Pak Budi menyerahkan sebotol air minum sambil tersenyum. “Hampir saja menang, Nona! Sudah hebat sekali permainannya.”
“Hampir saja tetap berarti kalah,” jawab Aurel sambil tertawa.
Aditya berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. “Permainanmu lumayan bagus, lho.”
Aurel mendongak menatapnya. “Lumayan saja?”
“Iya, lumayan bagus. Kamu bilang sudah sering berlatih sejak kecil?”
“Benar, tapi sudah lama sekali tidak main lagi,” jawab Aurel.
“Terlihat sekali semangatnya. Bagus sekali,” tambah Aditya dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
“Kalau memuji orang kenapa nadanya tetap terasa seperti sedang mengejek ya?” tanya Aurel sambil tersenyum.
Pak Budi tiba-tiba berdeham pelan. “Ehm… ingat ya janji kita tadi? Kalau menang tetap harus menepati janji kan?”
Aurel langsung bangkit berdiri dengan semangat. “Betul sekali! Meskipun menang, Aditya tetap harus traktir pizza!”
Pak Darto ikut menimpali sambil tersenyum. “Sudah berjanji kan tadi, Tuan?”
Mbak Sari menambahkan dengan nada sopan. “Tidak apa-apa kalau merasa keberatan, Tuan. Hanya bercanda saja kok.”
Belum sempat Mbak Sari melanjutkan kalimatnya, Aditya sudah mengeluarkan ponselnya. “Ada yang alergi makanan laut atau keju?”
Semua orang saling pandang dengan tatapan terkejut. “Hah? Maksud Tuan?”
Aurel menatapnya dengan mata berbinar. “Kamu serius mau membelikannya?”
Aditya hanya mengangguk sambil memesan makanan. “Sebentar lagi akan sampai sekitar lima belas menit.”
Pak Budi masih tertegun tak percaya. “Tuan… sungguh mau membelikan untuk kami semua?”
“Kalau sudah berjanji, tentu harus ditepati,” jawabnya singkat tapi tegas.
Aurel menatap wajah pria itu lekat-lekat. Di balik sikap dingin dan kaku yang biasa ia tunjukkan, ternyata ia adalah orang yang jujur dan selalu menepati janji.
Dua puluh menit kemudian, kurir pengantar makanan datang membawa kotak besar berisi pizza yang terlihat sangat lezat dan besar ukurannya.
“Ya ampun… sebesar ini ukurannya?” seru Pak Budi dengan mata terbelalak.
Aurel segera membuka tutup kotaknya. “Wahh… harum sekali baunya! Ini benar-benar terlihat sangat enak!”
Mereka segera menggelar tikar di atas rumput, lalu duduk bersama dengan suasana yang sangat akrab dan hangat. Aroma keju yang meleleh dan saus tomat langsung memenuhi udara sore itu.
“Terima kasih banyak, Tuan,” ucap Pak Darto dengan senyum bahagia.
“Terima kasih, Tuan,” sambut yang lain secara bersamaan.
Aditya hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
Aurel segera mengambil dua potong sekaligus. “Lapar sekali rasanya setelah main tadi!”
Aditya meliriknya sambil tersenyum geli. “Kamu habis berolahraga atau baru saja selesai berpuasa?”
“Keduanya sekaligus! Hahaha,” jawab Aurel sambil tersenyum lebar.
Pak Budi tertawa melihatnya. “Enak sekali melihat orang makan dengan lahap seperti itu, rasanya ikut terasa nikmat.”
“Benar sekali! Kalau makan dengan ragu-ragu rasanya tidak akan terasa enak,” jawab Aurel sambil terus menikmati makannya.
Ia kemudian menoleh ke arah Aditya yang hanya memegang segelas air putih saja. “Kenapa tidak dimakan juga? Apakah tidak suka?”
“Tidak terlalu suka makanan seperti ini,” jawab Aditya santai.
“Sudahlah, coba saja satu potong kecil saja. Jangan hanya minum kopi dan makan salad terus setiap hari,” kata Aurel sambil mengambilkan satu potong pizza dan memberikannya ke tangan Aditya. “Sekali-sekali boleh juga menikmati makanan yang rasanya manis dan gurih seperti ini.”
Semua orang menahan napas, menunggu reaksi Aditya. Biasanya ia sangat tegas dan sulit dibujuk.
Beberapa detik berlalu, akhirnya Aditya menerima potongan pizza itu sambil tersenyum tipis. “Baiklah, saya coba sedikit saja.”
Aurel tersenyum puas. “Nah, begitu dong! Baru terasa seperti manusia yang bahagia!”
Pak Budi berbisik pelan ke telinga Mbak Sari. “Kalau orang lain yang menyuruhnya makan, biasanya pasti langsung dimarahi. Tapi kalau Nona Aurel yang menyuruhnya, langsung mau saja.”
Mbak Sari mengangguk setuju sambil tersenyum. “Benar sekali… sungguh luar biasa pengaruhnya pada Tuan kita.”
Aditya memang mendengar percakapan itu, tapi ia hanya diam dan terus memandangi Aurel yang sedang tertawa lepas bersama semua orang.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tulus dan hangat. Senyum itu hanya bertahan sesaat saja, tapi cukup membuat Pak Budi hampir tersedak minum karena baru pertama kali melihat wajah dingin majikannya itu terlihat begitu lembut dan bahagia.
Dan sore itu, halaman belakang rumah yang dulu terasa sunyi dan sepi, kini selalu dipenuhi dengan kehangatan, aroma makanan yang lezat, dan suara tawa yang terdengar sangat bahagia.