Foto itu diambil dari atas, dengan cahaya lampu meja yang membuat tulisan tangan Aurel kelihatan seperti bukti perkara.
Aurel berdiri di lobi hotel dan membaca berita itu dengan jempol yang belum berhenti gemetar. Judul besar di atas, di bawahnya foto selembar halaman buku, dan di halaman itu empat baris tulisan tangannya sendiri, ditulis di tangga penthouse dengan pulpen emas pada pagi ketika ia merasa dunia agak lebih ringan.
Baris pertama menyebut tanggal berakhirnya kontrak, tepat setahun sejak hari pertama, dengan sisa 265 hari di ujungnya. Baris kedua menyebut nilainya, 5 M, sudah masuk, belum disentuh. Baris ketiga memuat aturan nomor satu, jangan jatuh cinta, dan dua kata kapital yang ditebalkan dua kali: SUDAH KULANGGAR. Baris keempat berisi janji kepada diri sendiri untuk bercerita pada Mama dan Papa, setelah peletakan batu pertama Resor Jogja, karena sebelum itu ia belum berani.
Di bawahnya, redaksi menambahkan keterangan tebal: Diduga milik Aurel Arasya Nabiqa, istri CEO Mahendra Group. Buku catatan ini diterima redaksi dari sumber anonim.
Sumber anonim.
Aurel menutup layar. Ia membukanya lagi. Katanya sudah tersebar di tujuh akun. Ada tangkapan layar berikutnya, lalu berikutnya. Seorang akun gosip menulis: SUDAH KULANGGAR!!! Aturan 1 tuh jangan jatuh cinta ya gaes. Dibalas empat ribu orang.
Aurel menutup mata satu detik. Dua kata kapital itu, yang ia tulis dengan jantung berdebar, sekarang dipakai orang asing sebagai bahan lelucon.
Ia berlari ke mobil.
---
Perjalanan pulang tidak terasa, hanya lampu merah yang diterobos dan klakson yang menyahut di belakangnya.
Aditya berdiri di ruang tengah penthouse dengan kaus lari yang basah di punggung dan ponsel di tangan. Ia tidak mengangkat kepala ketika pintu lift terbuka. Rian berdiri dua meter di belakangnya, memegang tablet, dengan wajah yang tidak berani menatap siapa pun.
"Dit."
"Hm."
"Bukuku hilang."
"Aku tahu." Ia masih menatap layar. "Rian mengirim ini dua puluh menit yang lalu."
"Bukan itu. Maksudku..." Aurel menarik napas yang terasa seperti menelan duri. "Bukuku hilang semalam. Dari ruang rehat di hotel gala. Aku tinggalkan tas di sofa lima menit untuk foto, dan aku tidak memeriksa isinya waktu kembali. Aku baru sadar pagi ini, jam enam. Aku ke hotel sendirian, mencari, tanya petugas, dan tidak ketemu."
Aditya mengangkat kepala.
"Jam enam."
"Iya."
"Sekarang hampir jam delapan."
"Aku tahu. Aku mencari dulu satu jam, lalu Eva mengirim ini, jadi..." Ia berhenti, menelan, dan memutuskan tidak mencari kata yang lebih lunak. "Aku salah. Aku berjanji di kereta akan membawa bukuku terus. Aku melanggarnya. Dan setelah sadar, aku menunda memberitahumu karena aku mau mencari lebih dulu. Itu keputusan yang salah juga."
Aditya meletakkan ponsel di meja, perlahan, tanpa suara.
"Ada kalimat yang kamu mau aku baca, atau kamu cuma mau aku dengar kamu mengaku?"
Pertanyaan itu bukan sindiran. Aurel hampir mengira ia mendengar nada marah, tetapi yang ada di sana hanya kehati-hatian, seperti orang membawa gelas yang terlalu penuh.
"Aku mau kamu tahu bahwa aku tidak menyembunyikan ini darimu. Aku menundanya. Dua hal itu beda, tapi aku tahu bedanya mungkin tidak berarti banyak sekarang."
"Berarti."
"Benarkah?"
"Berarti." Aditya mengambil ponselnya lagi dan membuka foto itu, memperbesar halaman yang sama. Matanya bergerak dari baris pertama ke baris keempat. Aurel memperhatikan rahangnya. Rahang itu tidak bergerak sama sekali, dan itu lebih menakutkan daripada marah.
Ia berhenti lama di baris ketiga.
Aturan 1: jangan jatuh cinta. SUDAH KULANGGAR.
"Aku berjanji tidak akan membaca halaman itu," katanya pelan. "Sampai kamu sendiri yang menyerahkannya."
"Dit..."
"Dan sekarang separuh negeri membacanya sebelum aku." Ia tertawa, sangat pendek, tanpa suara di ujungnya. "Lucu."
"Bukan begini yang aku mau."
"Aku tahu bukan." Ia menaruh ponsel, menatap telapak tangannya sendiri. "Satu pertanyaan saja. Kamu menulis itu kapan?"
"Waktu kamu sakit. Pagi hari, di tangga, waktu kamu duduk di ruang tengah dengan tablet."
"Sebelum Prambanan, sebelum peletakan batu pertama."
"Iya."
"Sebelum semua yang kita lalui sesudahnya." Ia mengangguk sekali, seperti mencatat. "Oke."
"Oke?"
"Aku perlu waktu berpikir." Ia melihat Rian, yang berdiri kaku seperti patung. "Rian, tolong siapkan sambungan ke Pak Handoko dan tim komunikasi. Ruang kerja. Sepuluh menit."
"Siap, Pak."
"Dit," kata Aurel. "Tadi malam aku janji padamu soal buku itu, dan aku..."
"Rel." Aditya menatapnya. Matanya merah, tetapi suaranya tetap lembut. "Aku tidak marah karena bukunya hilang. Aku marah karena seseorang mengambilnya. Itu dua hal yang berbeda."
"Kamu pikir ada yang mengambil?"
"Aku tahu ada yang mengambil. Buku tidak tumbuh kaki." Ia mengusap wajahnya. "Besok pagi kita putuskan bersama."
"Janji?"
"Hm."
Aurel menatapnya lama. Itu jawaban yang selama ini ia terima dari Aditya dengan geli. Sekarang ia tidak tahu harus menerimanya dengan apa.
---
Bel pintu berbunyi dua kali, lalu tiga kali, lalu seperti dipukul dengan sepatu.
"Mbak Sari, jangan dibuka dulu, biar saya..." Terlambat. Pintu sudah terbuka, dan Eva masuk seperti angin puyuh dengan rambut belum disisir dan sandal rumah, disusul Lira yang membawa sekantong penuh roti dan satu botol besar air putih.
"REL!"
"Va..."
"ANJIR, gue baru bangun, buka ponsel, lihat ini, dan gue lari ke taksi sambil pakai piyama!" Eva memeluknya erat-erat sampai tulang rusuk Aurel berbunyi. "Lo oke? Lo pasti nggak oke. Siapa sih yang tega?"
"Eva," Lira mengingatkan, sambil membuka bungkus roti, "lo bukan polisi."
"Gue calon polisi!"
"Lo takut nonton film horor."
"Itu beda!"
Aurel tertawa, dan tawa itu pecah di tengah jalan menjadi sesuatu yang basah. Eva langsung terdiam. Lira menaruh rotinya. Mereka berdua memeluknya dari dua sisi, dan dari balik bahu Eva, Aurel melihat Aditya di tangga menuju ruang kerja, memandang pemandangan itu dengan wajah yang tidak bisa dibaca.
"Boleh kami menginap?" tanya Lira, ke arah tangga.
"Boleh," jawab Aditya. "Kamar tamu lantai bawah kosong."
"Ada makanan?"
"Mbak Sari akan menyiapkan apa pun yang kalian minta."
Ia menghilang di balik pintu ruang kerja. Pintunya tertutup, tidak dibanting, tetapi terdengar jelas.
"Oke," bisik Eva begitu pintu itu tertutup. "Dia nggak marah. Dia lagi nahan. Itu lebih bahaya."
"Va."
"Gue serius. Cowok yang marah itu gampang. Yang diam itu yang bikin Rel ngetik surat perpisahan."
"Gue nggak ngetik surat perpisahan."
"Belum." Lira menyodorkan roti. "Makan. Terus kita baca halaman itu bareng-bareng, karena gue punya pertanyaan."
"Apa?"
"Kenapa SUDAH KULANGGAR ditulis kapital?"
Aurel menatap Lira, dan untuk sekali itu pagi ini, sudut bibirnya naik meskipun matanya basah.
"Karena gue marah sama diri gue sendiri waktu nulisnya."
"Itu bagian terbaik," kata Lira, lembut. "Sumpah. Kalau suatu hari ini jadi film, itu adegan yang bikin penonton nangis."
"Ini bukan film, Lira."
"Belum."
---
Di ruang kerja, Aditya berdiri di depan jendela dengan tangan di belakang punggung. Ponselnya terbuka di meja, foto halaman itu masih menyala.
"Rekaman ruang rehat hotel, Pak," lapor Rian, pelan dari ambang pintu. "Saya sudah minta sejak berita pertama muncul. Mereka perlu surat resmi."
"Jangan beri tahu Nona Aurel dulu."
"Pak?"
"Biar aku yang bilang kalau sudah ada hasilnya." Aditya tidak menoleh. "Dia sudah cukup menanggung pagi ini."
Rian ragu setengah detik, lalu mengangguk dan keluar.
Aditya mengambil ponselnya lagi dan membaca baris ketiga sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi. Ia tidak tahu apa yang lebih menyakitkan: bahwa dunia membacanya lebih dulu, atau bahwa kata yang ia tunggu-tunggu dari mulut Aurel baru ia dapat lewat layar telepon, di antara komentar orang asing.
Ponsel Aurel bergetar di saku, dan getarannya tidak berhenti. Mas Dimas. Nomor tak dikenal. Wartawan. Mama. Ia melihat nama itu muncul, MAMA, sebelas panggilan tak terjawab dalam dua puluh menit, dan jemarinya membeku di atas layar.
Di bawah panggilan itu masuk satu pesan baru, dari Mama.
Rel, ini beneran?