"Dua puluh lima juta. Ada yang berani dua puluh lima juta lima ratus ribu?"
Suara Aurel memenuhi ballroom hotel sampai ke dinding terjauh. Ia berdiri di panggung kecil dengan gaun biru laut dan mikrofon di tangan kiri, palu lelang kayu di tangan kanan, dan Wilhelmina berdiri dua langkah di sampingnya, anggun dalam kebaya hitam, menyaksikan seluruh ruangan seperti pemilik teater menyaksikan pemain barunya. Dari panggung Aurel sempat melirik meja lima: Kevin bertepuk tangan dengan senyum sempurna, sementara buku catatan biru tua itu, kata Aurel pada dirinya sendiri, aman di dalam tas yang ia taruh di sofa ruang rehat.
"Dua puluh lima juta lima ratus!" Seorang bapak di meja tiga mengangkat papan angka.
"Terima kasih, Pak. Saudara-saudara, ini maket gapura bata merah rancangan Karina Wulandari, arsitek Resor Jogja. Setiap bata di dalamnya dibuat oleh tukang bata di Bantul. Uangnya untuk beasiswa anak-anak mereka." Aurel mengangkat palu. "Dua puluh enam juta?"
"Dua puluh enam," sambut Wilhelmina, dengan senyum yang membuat ruangan tertawa. "Mami sendiri yang menawar. Jangan ada yang membiarkan Mami menang."
Tawa pecah. Papan angka terangkat berturut-turut: dua puluh tujuh, dua puluh delapan, tiga puluh. Di barisan depan Aditya duduk bersama Mama dan Papa Aurel, dan Mama menutup mulut dengan telapak tangan karena tidak percaya putrinya memegang mikrofon itu.
"Tiga puluh lima juta," kata suara dari meja lima.
Aurel menoleh.
Kevin duduk dengan jas abu-abu dan senyum rapi, papan angka terangkat setengah. Ia menatap Aurel, bukan menatap maketnya.
"Tiga puluh lima juta dari Pak Kevin. Terima kasih, Pak." Suaranya tidak berubah satu nada pun. "Ada yang lebih tinggi?"
Hening sejenak. Palu jatuh tiga kali.
"Terjual!"
Tepuk tangan bergemuruh. Di sela tepuk tangan itu Kevin berdiri dan membungkuk kecil, seperti orang yang baru memenangkan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah maket.
---
Lelang selesai pukul sembilan lewat sedikit. Panitia memanggil Aurel keluar untuk berfoto bersama para penyumbang, dan dalam kekacauan itu ia berlari ke ruang rehat di belakang panggung untuk mengganti flat shoes yang ia pakai sembunyi-sembunyi di balik gaun.
Ruang rehat itu kecil: dua sofa kulit, meja rias, jendela besar menghadap lorong. Ia melepas sepatu hak yang membuat tumitnya melepuh, memakai flat shoes, dan meletakkan tas jinjingnya di sofa. Di dalam tas itu ada buku biru tua. Janji yang ia ucapkan di kereta masih terngiang jelas: tidak di sofa, tidak di meja, tidak di mobil.
Pintu ruang rehat diketuk keras.
"Mbak Aurel! Fotografer sudah siap! Bu Wilhelmina minta Mbak sekarang!"
"Sebentar!"
"Mbak, sekarang! Kamera Bu Wilhelmina sudah mau pindah ke aula!"
Aurel menyambar pulpen emas dan kartu catatan lelang dari atas meja. Tas itu tertinggal di sofa, dengan resletingnya terbuka setengah.
Ia akan kembali dalam lima menit. Hanya lima menit.
Foto-foto berlangsung lebih dari lima menit. Seorang ibu dari yayasan ingin foto berdua, lalu seorang bapak ingin foto bersama istrinya, lalu Wilhelmina menggandeng Aurel ke tengah dan berkata kepada fotografer, "Ini menantu saya. Ambil yang banyak." Aurel tersenyum sampai pipinya kaku, dan di sela-sela cahaya lampu kilat ia melihat Aditya berdiri di tepi aula, tangan di saku, menatapnya dengan sorot yang tidak bisa dibohongi oleh kamera mana pun.
Ketika akhirnya ia kembali ke ruang rehat, tas itu masih di sofa, resletingnya masih terbuka setengah.
Ia menutup resleting tanpa melihat isinya.
Ia terlalu lelah untuk menghitung satu per satu.
"Wah, pembawa acara kita sudah ganti sepatu."
Kevin berdiri di lorong, di ambang pintu ruang rehat, jasnya disampirkan rapi di lengan. Aurel menutup resleting tasnya sekaligus.
"Pak Kevin."
"Saya tidak masuk, jangan khawatir. Saya hanya lewat." Ia tersenyum. "Selamat. Anda membawa acara tanpa catatan sama sekali, saya perhatikan. Jarang ada yang bisa."
"Saya punya catatan, Pak."
"Oh?"
"Kartu kecil. Di kepala saya."
"Cara terbaik menyimpan catatan." Kevin mengangguk sopan. "Tiga puluh lima juta untuk anak-anak tukang bata itu. Anggap saja permintaan maaf saya atas pertanyaan-pertanyaan kemarin."
"Terima kasih, Pak. Itu untuk anak-anak mereka, bukan untuk saya."
"Tentu saja." Ia mundur selangkah. "Selamat malam, Bu Aurel."
Ia pergi sambil bersiul pelan. Aurel menunggu sampai langkahnya hilang, lalu memanggul tas jinjing itu ke bahu, memeluknya sebentar, dan keluar dengan dagu terangkat.
Aditya menunggu di lorong dengan jas di lengan.
"Boleh jalan?"
"Boleh."
"Tante menangis tiga kali," lapor Aditya sambil menyamakan langkah. "Om menghitungnya. Aku bilang jangan dibahas."
"Papa bilang apa?"
"Om bilang, 'Dia anak saya.' Dua kali."
Aurel tertawa, dan tawanya hampir pecah menjadi sesuatu yang lain. Mereka berjalan ke lift beriringan. Di dalam lift tertutup, hanya berdua, Aditya menunduk dan bertanya, "Boleh?" Aurel mengangguk, dan ia mencium keningnya. Hanya itu. Di lantai lobi pintu lift terbuka dan seorang petugas hotel menahan senyumnya sambil memandang langit-langit.
Di mobil, Aurel bersandar ke bahu Aditya dengan kepala berat, dan ia berpikir bahwa ini mungkin malam paling bahagia dalam hidupnya sejak kontrak itu ditandatangani. Sesudah gala ini Mami akan bicara pada Aditya, begitu janjinya. Lalu giliran Aurel bicara pada Mama dan Papa. Lalu semuanya selesai, dan yang tersisa tinggal mereka.
Ia tertidur sebelum mobil tiba di penthouse.
---
Minggu pagi, pukul enam, Aurel terbangun dengan firasat yang salah.
Ia duduk di tempat tidur dengan jantung berdebar tanpa alasan. Ia meraih tas jinjing yang semalam dibawa Pak Budi ke kamar, membuka resletingnya, dan mengeluarkan isinya satu per satu di atas selimut.
Dompet. Ponsel cadangan. Lipstik. Kartu nama.
Dompet. Ponsel cadangan. Lipstik. Kartu nama.
Buku biru tua itu tidak ada.
"Ayo," bisiknya pada tas yang kosong itu. "Jangan begini."
Ia mengulangi hitungan itu tiga kali, lalu menumpahkan seluruh isi tas, memeriksa lipatan kain di dasar, mengintip ke bawah tempat tidur dan ke dalam koper kecil di lemari. Ia turun ke ruang tengah, ke mobil di basement, ke kursi belakang Pak Budi yang masih berbau pewangi lemon.
Tidak ada.
Ruang rehat. Sofa. Ia tahu persis di mana ia terakhir kali ingat memegangnya: saat ia meraih tas itu untuk dipakai, resletingnya belum terbuka.
Resletingnya terbuka setengah, waktu ia kembali.
Ia berdiri di dapur dengan tangan menutup mulut. Mungkin ia salah ingat. Mungkin bukunya terselip.
Catatan dari Aditya menempel di kulkas: Lari pagi, dua puluh menit. Jangan tunggu sarapan. Dia selalu menulis catatan seperti itu sekarang, dengan huruf tegak yang membuat Aurel selalu ingin tersenyum. Pagi ini ia tidak bisa.
Satu pesan ia tulis, lalu ia hapus. Janjinya di kereta berbunyi: tidak kutinggal di sofa. Dan malam ini ia melanggarnya sendiri, hanya karena lima menit.
Aurel meraih kunci mobil. Pak Budi tidak ia bangunkan.
Hotel itu masih sepi pukul tujuh. Petugas resepsionis, seorang laki-laki muda dengan mata merah, mengantarnya ke ruang rehat di belakang ballroom. Sofa kulit itu kosong. Meja rias bersih. Lantai baru dipel.
"Maaf, Pak. Ada barang tertinggal di ruang rehat semalam?"
"Kami tanya ke petugas kebersihan, Bu. Tidak ada yang melapor." Ia membuka laci dan menunjukkan kotak plastik berisi payung lipat, satu anting, dan sebatang lipstik. "Ini semua barang temuan malam ini."
Buku biru itu tak ada di antaranya.
"Mohon dicatat nomor saya, Pak. Kalau ada yang menemukan buku catatan biru tua bertulisan BELAJAR JADI PEREMPUAN BERGUNA..."
Ia menulis nomornya di kertas, tangannya gemetar sampai angka tujuh terlihat seperti sembilan.
Di lobi ia berdiri sebentar, memandang pintu putar, dan memutuskan sesuatu yang tidak ia banggakan. Ia akan mencari satu hari lagi. Ia akan menelepon pihak hotel siang nanti, menghubungi panitia, bertanya pada petugas bersih-bersih shift malam. Hanya satu hari. Kalau tidak ketemu, ia akan bercerita pada Aditya besok pagi, dengan semua bukti bahwa ia sudah berusaha.
Ponselnya bergetar di saku.
Eva. Satu pesan. Tiga baris.
Rel, lihat berita sekarang.
Rel, serius.
SEKARANG.
Aurel membuka tautan yang menyusul di bawahnya. Halaman itu memuat foto yang dibesarkan, huruf kuning di atas latar hitam, dan potongan halaman dari buku biru tua yang tulisannya ia kenali lebih baik daripada wajahnya sendiri.
Judul beritanya hanya empat kata, ditulis kapital.
ISTRI KONTRAK UNTUK CEO.