Rumah kaca itu berbau tanah basah dan melati.
Aurel datang sendirian, sesuai permintaan. Pak Budi menurunkannya di gerbang dan, tanpa ditanya, berkata bahwa ia akan menunggu di mobil dengan sepiring risoles Mbak Sari. Di dalam, di antara rak-rak anggrek yang bergelantungan seperti hujan bunga, Wilhelmina duduk di kursi rotan dengan teko porselen putih di meja kecil. Ia memakai kemeja linen krem dan sarung tangan kebun yang sudah belepotan tanah.
"Duduk, Nak."
Aurel duduk. Wilhelmina menuang teh melati ke dua cangkir, kemudian mengangkat cangkirnya sendiri tanpa tergesa-gesa.
"Anggreknya?"
"Dua daun baru, Mi."
"Bagus. Berarti dia betah di rumah kamu." Wilhelmina menyesap. "Minumlah. Kamu pucat sejak hari Sabtu."
"Saya baik-baik saja."
"Kamu mendengar percakapan Aditya dengan ayahmu dari balik pintu, membawa nampan berisi gelas yang tidak ada gunanya, lalu mencuci piring yang sudah bersih. Mami melihatnya." Ia menurunkan cangkir. "Itu bukan baik-baik saja."
Aurel menggenggam cangkirnya erat. Hangatnya menjalar sampai pergelangan, tetapi tidak mengurangi dingin di dadanya.
"Mi, saya..."
"Mami sudah tahu."
Kalimat itu pendek. Hening.
"Tahu apa?"
"Kontrak." Wilhelmina menatap lurus. "Satu tahun. Lima miliar. Kamar terpisah. Aturan pertama: tidak boleh jatuh cinta."
Aurel berhenti bernapas.
Rak anggrek bergoyang pelan oleh kipas di atas. Di luar, seseorang menyiram rumput dan suara airnya terdengar jauh sekali.
"Sejak kapan?"
"Sejak hari pertama. Kontrak itu disusun Pak Handoko semalam suntuk, dan pukul lima pagi dia menelepon Mami dari mobil, dengan suara orang yang sangat sungkan." Ada senyum yang tidak sampai ke mata. "Dia teman Mami empat puluh tahun. Dia tidak pernah bisa menyimpan rahasia dari Mami lebih dari satu malam."
"Jadi lukisan sawah itu..."
"Mami tahu persis kenapa kalian butuh kisah yang cocok. Menurutmu Mami mengirim foto lukisan jelek itu karena iseng?"
Aurel menunduk. Pipinya panas, bukan karena marah, atau tidak hanya karena marah, tetapi karena rasa malu yang menyengat pelan dari dalam.
"Waktu itu Mami menguji saya. Soal selisih seratus delapan puluh juta."
"Mami ingin tahu apakah kamu akan menyembunyikan kesalahan. Kamu mengakuinya sendiri, sebelum Mami bertanya." Wilhelmina mengusap permukaan meja. "Mami lega waktu itu. Lebih lega dari yang Mami tunjukkan."
"Mami tahu, tapi tetap membiarkan kami bersandiwara di rumah ini? Dengan kamar tamu yang katanya sedang dicat?"
"Kamar tamu tidak dicat."
"Saya tahu."
"Kamu tahu?" Alis Wilhelmina naik sedikit. "Tidak ada yang melapor pada Mami."
"Tidak ada bau cat, Mi."
Baru kali ini sejak Aurel masuk, Wilhelmina tertawa. Pendek, kering, seperti batuk yang ia tahan lama.
"Kamu memang anak yang perhatian."
Tawa itu cepat padam. Wilhelmina memutar cangkirnya setengah putaran.
"Mami akan jujur, karena kamu pantas mendapatkannya. Alasan Mami sederhana. Almarhum suami Mami meninggal ketika sedang bekerja, dan Aditya sejak hari itu belajar bahwa satu-satunya cara aman mencintai sesuatu adalah mengerjakannya sampai habis. Dia bekerja sampai kehabisan tenaga, sampai lupa makan, sampai lupa tidur. Mami tidak mau dia berakhir seperti ayahnya: sendirian, di ruang rapat, dengan telepon yang tidak sempat dijawab."
Aurel diam. Ia teringat sebuah pagi, bubur jahe, dan suara Aditya yang berat.
"Jadi Mami mendorongnya menikah."
"Mami mendorong. Mami tidak merencanakan kamu." Wilhelmina menatapnya. "Kamu datang karena nasib, dan Mami tidak tahu kamu akan sehebat ini. Karena itu Mami tidak hadir di akad. Mami ingin kalian punya ruang."
"Ruang untuk apa?"
"Untuk menjadi sesuatu yang bukan kontrak." Wilhelmina mengambil sepotong biskuit, mematahkannya, dan tidak memakannya. "Tapi kamu sudah jadi sesuatu, bukan? Mami tidak buta."
Aurel tidak menjawab. Tangannya berkeringat di sekeliling cangkir.
"Aditya belum tahu kalau Mami tahu," lanjut Wilhelmina. "Mami sendiri yang akan mengatakannya. Pada waktunya, sesudah gala amal Sabtu ini."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Karena Mami ingin dia menyelesaikan sesuatu lebih dulu. Dan karena kamu, Nak, juga belum menyelesaikan urusanmu sendiri."
Kalimat itu mengenai tepat. Aurel menarik napas dalam.
"Mami benar. Saya berjanji akan bercerita pada Mama dan Papa setelah peletakan batu pertama Resor Jogja. Saya sudah menunda. Saya mengulur sekali." Ia mengangkat dagu. "Dan saya tidak mau menunda lagi, Mi. Saya mau Mami juga tidak menunda."
"Maksudmu?"
"Tolong beri tahu Aditya sebelum Sabtu. Atau saya yang akan mengaku bahwa saya sudah tahu. Saya benci menyimpan rahasia dari dia."
Wilhelmina memandang lama, menimbang. Sesuatu yang lembut tumbuh di ujung bibirnya.
"Kamu keras kepala."
"Saya belajar dari anak Mami."
"Baik." Ia mengangguk sekali. "Mami akan memikirkannya. Tapi kamu juga punya utang. Sesudah gala, Mami mau kamu bercerita kepada orang tuamu, dengan caramu sendiri, bukan dengan cara Mami."
"Saya janji."
"Dan satu lagi." Wilhelmina mengambil gunting kebun dan memotong setangkai anggrek putih yang tadi menggantung di atas kepala Aurel. "Sabtu malam kamu akan jadi pembawa acara lelang bersama Mami. Jangan menolak. Mami sudah mengumumkannya ke panitia."
"Mi, saya..."
"Bawa bukumu. Mami tahu kamu tidak pernah melepasnya." Ia menyerahkan tangkai itu. "Dan jangan terlalu lama menyelesaikan urusanmu, Aurel. Kebohongan yang terlalu lama dipelihara selalu tumbuh lebih besar daripada yang kita kira."
---
Penthouse malam itu terlalu rapi, seperti rumah yang sengaja dibersihkan untuk menyembunyikan sesuatu.
Aurel duduk di sofa ruang tengah dengan tangkai anggrek putih di gelas air di depannya dan buku biru tua di pangkuan. Ia sudah membuka halaman kosong tiga kali, menulis satu kalimat, mencoretnya, dan menutup buku lagi. Pulpen emasnya terguling di karpet.
"Rel."
Aditya berdiri di tangga dengan kaus abu-abu dan secangkir cokelat panas di tiap tangan. Ia mengangkat salah satunya.
"Boleh duduk?"
"Duduk."
Ia duduk, menyerahkan cangkir, dan tidak langsung bicara. Itu cara baru yang pelan-pelan ia pelajari: menunggu.
"Kamu diam sejak pulang dari rumah kaca Mama."
"Aku capek."
"Itu bukan capek." Ia menatap bunga di gelas. "Mama memberimu itu?"
"Iya."
"Anggrek putih. Itu bunga kesayangannya." Ia berhenti. "Dia hanya memberikannya pada orang yang dia percaya."
Aurel menyesap cokelatnya agar tidak menjawab. Rasanya manis dan, entah kenapa, terasa seperti hukuman.
"Dit, aku mau bilang sesuatu. Setengah-setengah."
"Setengah?"
"Ada hal yang aku tahu sejak tadi sore, dan itu bukan rahasiaku. Itu rahasia orang lain." Ia memilih kata satu per satu. "Aku sudah minta orang itu mengatakannya padamu sendiri. Aku tidak mau menceritakannya lebih dulu, karena itu bukan hakku."
Aditya menaruh cangkirnya di meja.
"Itu tentang kamu?"
"Bukan."
"Berbahaya buat kamu?"
"Tidak. Buat siapa pun."
"Berbahaya buat kita?"
Aurel berpikir sebentar, jujur. "Aku nggak tahu. Kupikir tidak."
"Pasal Tiga," kata Aditya pelan. "Kamu tidak harus memberitahuku semuanya, tapi kamu bilang ada sesuatu. Itu sudah cukup."
"Cukup?"
"Cukup untuk malam ini." Ia menghela napas. "Aku tidak suka tidak tahu. Kamu tahu aku tidak suka. Tapi aku lebih tidak suka kamu menceritakan rahasia orang lain karena aku mendesak."
Aurel menatapnya, dan ada sesuatu yang bergerak di dadanya, sesuatu yang bukan lagi kekaguman seperti di Jogja, melainkan sesuatu yang lebih berat dan lebih hangat sekaligus.
"Kamu berubah."
"Kamu yang mengajariku."
"Aku mengajar kamu membaca laporan keuangan."
"Dan kamu mengajariku menunggu. Itu pelajaran yang jauh lebih mahal." Ia berdiri, mengambil pulpen emas dari karpet, dan menaruhnya di atas buku. "Sabtu, setelah gala, aku akan bertanya lagi. Itu boleh?"
"Boleh."
Ponselnya bergetar di meja. Aditya melirik, dan wajahnya mengeras setengah detik.
"Maya. Panitia gala baru mengirim daftar tamu." Ia membaca. "Kevin hadir. Tempat duduk di meja lima, dekat panggung."
Aurel meraba sampul buku di pangkuannya.
"Aku bawa terus bukuku," katanya.