Wilhelmina datang membawa toples.
Bukan satu, tetapi tiga, ditata dalam keranjang rotan dan dibawa sendiri oleh supirnya sampai ke dapur rumah orang tua Aurel. Aurel yang membukakan pintu hampir tidak sempat mengucap salam sebelum Mami menyerahkan keranjang itu kepadanya dan melewatinya begitu saja.
"Bumbu Mami sendiri," katanya. "Kerisik, cabai giling, dan rempah yang tidak boleh dikenalkan ke dapur lain."
"Mami, ini dapur Mama."
"Karena itu Mami bawa bumbu sendiri. Supaya adil."
Di belakang Aurel, Aditya berdiri dengan kotak panjang terbungkus kertas cokelat dan wajah orang yang menyaksikan kecelakaan lalu lintas dari jarak yang aman. Mama Aurel muncul dari dapur dengan celemek bunga-bunga, rambut digelung sembarangan, sendok kayu masih di tangan.
"Bu Wilhelmina."
"Bu."
Dua perempuan itu saling menatap seperti dua jenderal di perbatasan.
"Rendangnya sudah empat jam," kata Mama.
"Berarti sekarang waktu yang tepat untuk menambah kerisik."
"Kerisik saya sudah ada."
"Kerisik Ibu pasti baik. Kerisik saya hanya lebih berani."
Aurel menutup mata. Aditya, tanpa menoleh, berbisik, "Pilih salah satu: lari atau mendengar."
"Mendengar," bisik Aurel. "Aku tidak bisa lari memakai flat shoes."
Mereka bergeser ke ruang makan dan memberi jalan. Dalam sepuluh menit, dapur kecil itu berubah menjadi arena. Mama menuang santan, Wilhelmina mencicipi kuahnya dengan ujung sendok, mengerutkan dahi, dan berkata, "Kurang asam kandis." Mama membalas, "Asam kandis bikin pahit kalau terlalu banyak." Wilhelmina menimpali, "Bukan kalau dimasukkan di menit terakhir." Mama terdiam. Sendoknya berhenti.
"Menit terakhir," ulangnya.
"Menit terakhir."
"Kenapa nggak pernah ada yang bilang begitu ke saya?"
"Karena Ibu tidak pernah bertanya kepada orang yang tepat."
Aurel menahan napas. Tapi Mama justru tertawa. Tawa pendek, kaget, yang membuat bahunya turun, dan dalam beberapa menit berikutnya mereka berdua sudah menumbuk bawang dalam ritme yang sama, menyerahkan sendok tanpa diminta, mengomentari rempah satu sama lain dengan kalimat yang makin lama makin pendek, seperti dua orang yang sudah lama bekerja bersama.
"Selesai," bisik Aditya. "Mereka akur."
"Mereka bersekutu. Itu lebih menakutkan."
---
Papa pulang dari gudang jam setengah lima, dan ruang tamu sudah penuh: tetangga sebelah, dua teman lama klub bulu tangkis, dua pasangan tetangga seumuran Papa, dan baki-baki berisi kue tart kecil yang ditata Mama sejak pagi. Kado raket dari Aditya, terbungkus kertas cokelat, tergeletak di meja. Papa membukanya dengan jari gemetar, mengeluarkan raket itu, dan menimbangnya dengan satu tangan seperti menimbang bayi.
"Ini..."
"Produksi terbatas, Om," kata Aditya. "Saya kebetulan tahu penjualnya."
"Kebetulan." Papa menatapnya lama, lalu tersenyum, dan Aurel melihat laki-laki yang biasanya lelah itu tampak sepuluh tahun lebih muda. "Terima kasih, Nak."
Aurel menghampiri Papa lebih dulu, mengambil gelas dari tangannya, dan merapikan kerah kemejanya yang miring.
"Papa capek?"
"Capek yang enak." Papa menepuk punggung tangannya. "Rumah ini sudah lama tidak seramai ini. Kamu tahu, waktu kamu kecil Papa suka pura-pura kalah kalau main bulu tangkis."
"Aku tahu. Aku bukan anak bodoh."
"Kamu anak yang bikin Papa takut. Terlalu pintar."
Mama lewat membawa baki dan berbisik di telinga Aurel, "Mami-mu galak, tapi enak diajak masak. Mama suka."
"Mama!"
"Apa? Mama jujur."
Jujur. Kata itu menempel di Aurel seperti pita perekat.
Selesai tiup lilin, Papa berdiri di tengah ruangan dengan gelas teh, dan seluruh ruangan hening.
"Saya bukan orang yang pandai pidato," katanya. "Tapi tahun ini, saya mau bilang sesuatu." Ia menelan ludah. "Tahun ini susah. Kalian semua tahu. Kita hampir kehilangan banyak hal. Lalu, dari arah yang tidak pernah saya sangka, datang kabar baik. Kontrak yang bagus, kontrak yang adil. Rezeki." Ia mengangkat gelas. "Saya tidak tahu siapa yang pantas diucapi terima kasih, jadi saya ucapkan ke semuanya. Terutama untuk keluarga saya."
Ia menatap Aurel. Hanya sedetik, tetapi Aurel merasakan tatapan itu menembus kulitnya.
Papa tidak bertanya. Papa memilih tidak bertanya, seperti yang Mama katakan bulan lalu.
Tepuk tangan terdengar. Aurel ikut bertepuk, tangannya hangat, senyumnya terpasang. Di sebelahnya Aditya juga bertepuk, dengan tangan yang terlalu kaku. Rezeki, kata Papa. Rezeki yang sebagian dibersihkan oleh seorang laki-laki dengan angka dan sebagian dibeli dengan bayaran kontrak yang bahkan tidak Papa ketahui.
Aurel meneguk tehnya. Rasanya pahit.
---
Menjelang magrib, tamu-tamu mulai pulang. Dari dapur terdengar suara piring dan dua perempuan yang masih berdebat soal dendeng. Aurel keluar membawa nampan gelas kosong, dan di ujung lorong menuju teras ia berhenti.
Pintu teras setengah terbuka. Papa duduk di kursi rotan tua, raket baru di pangkuan. Aditya berdiri di dekat pagar, menyandar pada tiang, tangan di saku.
"Duduk," kata Papa.
Aditya duduk.
"Raket itu bagus."
"Syukurlah, Om."
"Saya mau tanya sesuatu." Papa menatap lapangan kecil di seberang jalan, tempat anak-anak masih bermain sepak bola dengan sandal sebagai gawang. "Kamu bahagia dengan anak saya?"
Aurel menahan napas di balik pintu. Nampan di tangannya mendadak berat.
Hening. Hening panjang yang membuat jantungnya terdengar di telinganya sendiri.
"Iya, Om."
Dua kata. Tanpa jeda tambahan, tanpa penghalusan. Aditya mengatakannya seperti ia mengatakan angka di laporan, datar dan tidak perlu diragukan, dan itu justru yang membuat Aurel ingin menutup telinga.
Sebab itu bukan kebohongan.
Itulah masalahnya. Jawaban itu benar. Yang bohong adalah segala yang menempel di sekelilingnya: pertemuan di acara amal yang tidak pernah ada, kontrak di brankas kantor, dan lima miliar yang mengantar Papa ke ulang tahun ini dalam keadaan senyum.
"Dia anak yang baik," kata Papa. "Dari kecil keras kepala, tapi baik."
"Saya tahu, Om. Saya... belajar banyak darinya."
"Kamu jaga dia."
"Saya akan menjaganya."
Papa mengangguk, mengusap senar raket dengan ibu jari. "Saya tidak pernah sempat bilang pada putri saya bahwa saya bangga padanya. Kamu tolong bilangkan. Kalau saya yang bilang, nanti dia curiga saya sakit."
Aditya tertawa kecil. Terdengar tulus. "Akan saya sampaikan."
"Jangan. Biar saya sendiri." Papa mengangkat tangan. "Kamu bilang saja, jaga dia."
Aurel mundur selangkah, dua langkah, lalu berbalik ke dapur dengan nampan di dada. Ia menaruhnya di wastafel, membuka keran, dan membiarkan air mengalir sampai napasnya teratur.
Pintu teras berderit. Langkah Aditya mendekat, berhenti di ambang dapur.
"Kamu dengar," katanya. Itu bukan pertanyaan.
"Sedikit." Aurel mematikan keran. "Jawabanmu bagus."
"Aku tidak berbohong, Rel."
"Aku tahu. Itu yang bikin berat." Ia mengeringkan tangan ke celemek Mama. "Kalau kamu berbohong, aku bisa marah padamu. Sekarang aku cuma bisa marah pada diriku sendiri."
Aditya terdiam. Ia mengulurkan tangan, berhenti dua jengkal dari bahunya. "Boleh?"
"Nanti," jawab Aurel. "Kalau Mama keluar dan lihat, dia akan mengira kita berantem."
"Aku bantu Papa membereskan kursi." Aditya mundur selangkah. "Panggil kalau butuh."
Ia pergi, dan Aurel mendengar langkahnya menjauh di lorong.
Sebuah tangan menyentuh sikunya.
Wilhelmina berdiri di sampingnya. Matanya tidak menghakimi, hanya menilai, dengan cara yang membuat Aurel merasa sedang dibaca seperti halaman buku.
"Aurel."
"Iya, Mami?"
"Selasa. Datang ke rumah kaca, sendirian. Ada yang Mami ingin bicarakan." Ia merapikan syal di lehernya. "Jangan bawa Aditya. Dan jangan khawatir. Mami tidak akan menggigit."
Ia pergi ke ruang tamu, menanyakan sesuatu kepada Mama tentang dendeng, seolah tidak ada yang baru saja terjadi.