Senin pagi, dapur penthouse mendadak terlalu kecil untuk dua orang.
Aurel sudah berdiri di depan kompor sejak pukul enam, mengaduk telur yang sebenarnya tidak perlu diaduk selama itu. Ia mendengar langkah Aditya di tangga. Ia tidak menoleh. Ia sudah memutuskan tidak akan menoleh.
"Pagi," kata Aditya.
"Pagi."
"Pagi, Bu Aurel," ulang Aditya, dan kali ini nadanya terlalu resmi untuk dapur.
"Jangan mulai."
"Aku cuma bilang pagi."
"Kamu bilang pagi dua kali. Yang kedua pakai pidato."
"Aku cuma ingin memastikan sapaanku tepat."
"Sapaanmu tepat. Wajahmu yang tidak."
Aditya menyentuh pipinya sendiri. "Kenapa wajahku?"
"Merah."
"Itu pantulan lampu."
"Lampu dapur tidak merah, Dit."
Mbak Sari, yang datang membawa keranjang cucian, berhenti di tengah ruangan, menatap mereka bergantian, lalu mundur tiga langkah tanpa suara dan menghilang ke ruang cuci. Pintunya ditutup terlalu pelan untuk disebut kebetulan.
Aditya berdeham. Ia mengambil gelas, mengisinya, lalu menuangkan garam dari wadah gula ke dalam kopinya tanpa menyadarinya. Aurel melihat semuanya dan menyimpan tawa di dalam pipi.
"Dit."
"Hm?"
"Itu garam."
Aditya menyesap kopinya, menelan, dan wajahnya tidak berubah sama sekali.
"Enak," katanya.
Aurel tertawa sampai harus bertumpu pada meja dapur.
---
Ruang rapat kecil di lantai Aditya tidak punya jendela, hanya meja oval dan layar putih besar. Maya sudah menyiapkan dua botol air, satu notulen kosong, dan ekspresi yang sangat netral.
"Saya di luar, Bu," katanya. "Kalau ada yang perlu."
"Terima kasih, Kak Maya."
Ketika pintu menutup, Aditya duduk di kursi tamu, bukan di kepala meja. Ia melipat tangan di atas map yang belum dibuka, dan wajah pagi yang merah tadi sudah hilang, digantikan wajah yang Aurel kenal dari rapat Arvanta: tenang, menilai, hampir tidak terbaca.
"Silakan, Bu Aurel."
"Terima kasih, Pak Aditya."
Ia menekan tombol di remote. Layar menyala. Slide pertama hanya berisi satu kata dalam huruf tipis berwarna gading: NABIQA.
"Nabiqa adalah label busana perempuan siap pakai untuk perempuan yang bekerja dan berjalan banyak. Potongan sederhana, bahan lokal, harga di bawah dua juta rupiah. Bukan haute couture, bukan seragam. Sesuatu yang dipakai Senin dan tetap enak dilihat Jumat."
"Pasarnya?"
"Perempuan dua puluh lima sampai empat puluh lima di kota besar. Penghasilan dua digit juta. Mereka menghabiskan rata-rata Rp900 ribu sebulan untuk baju kerja dan mengeluh sepatunya tidak pas."
"Dari mana angka itu?"
"Survei kecil, seratus dua puluh responden, lewat Eva, Lira, dan teman-teman mereka. Bukan sempurna. Tapi saya tulis sumbernya di slide delapan."
Aditya mengangkat alis setengah milimeter. Itu pujian terbesar yang bisa ia berikan dalam rapat.
Aurel melanjutkan: biaya produksi per potong, margin kotor empat puluh lima persen, proyeksi omzet bulan pertama seratus delapan puluh juta, titik impas di bulan kesembilan. Ia berbicara tanpa melihat catatan. Setiap kali Aditya memotong, ia berhenti, menjawab, dan melanjutkan dari kalimat yang sama.
"Kebutuhan modal total Rp2 miliar," katanya di slide sebelas. "Rp1,2 miliar dari saya."
"Dari mana?"
"Dari lima miliar yang Bapak transfer ke rekening saya minggu pertama kontrak." Suaranya tidak bergetar. "Itu bayaran yang saya sepakati. Itu hak saya. Saya sebut terang, supaya tidak ada yang belakangan merasa saya menyembunyikan asal uangnya."
Hening beberapa detik.
"Lanjut," kata Aditya.
"Sisanya Rp800 juta dicari dari investor. Hari ini saya menawarkan kepada Bapak lebih dulu."
"Kenapa saya?"
"Karena Bapak orang pertama yang tahu saya mulai dari nol." Ia berhenti. "Dan karena kalau Bapak bilang tidak, saya akan tahu persis kenapa."
"Bagus." Aditya membuka mapnya. "Sekarang giliran saya."
Dan ia bertanya seperti kepada orang asing. Berapa persen pesanan yang sudah pasti? Nol, jawab Aurel, tetapi ada tiga butik yang minta sampel. Siapa penjahitnya? Dua konveksi di Bandung, sudah dikunjungi dua kali. Bagaimana kalau kain terlambat tiga minggu? Ada penyangga stok satu bulan. Bagaimana kalau semua itu terjadi bersamaan?
Aurel mengambil sesuatu dari bawah meja: sehelai kain linen abu-abu muda, dilipat rapi, dan selembar sketsa gaun pensil potongan A dengan saku yang dalam.
"Ini sampel pertama. Dikirim penjahit Bandung Jumat lalu."
Aditya menerima kain itu, meraba kelimnya, membaliknya, mencari jahitan yang miring. Ia tidak menemukan satu pun, dan ia kelihatan kecewa tentang itu.
"Sakunya?"
"Muat ponsel, kunci, dan lipstik. Perempuan bekerja butuh saku, Pak. Itu keluhan nomor satu di survei."
"Kamu menambah saku di gaun."
"Saya menambah saku di hidup perempuan."
Aditya menaruh kain itu di meja dengan sangat hati-hati, seperti benda rapuh.
"Kalau semuanya terjadi bersamaan, kita rugi dua ratus juta, lalu saya cari jalan lain," kata Aurel, menjawab pertanyaan yang tadi menggantung.
"Dan kalau namamu sendiri dihantam lagi?" Ia tidak mengubah nada. "Skandal. Seperti dulu. Wajah labelnya adalah kamu."
Aurel menahan napas sepersekian detik. Pertanyaan itu terlalu tepat sasaran, dan Aditya tahu itu.
"Itu risiko terbesar," katanya. "Saya tulis di slide empat belas. Mitigasinya ada dua: wajah kedua dari model lain, dan nama Nabiqa dipisah dari nama saya di logo. Kalau saya jatuh, labelnya tidak ikut jatuh."
"Dan kalau saya yang membuatmu jatuh?"
Pertanyaan itu terdengar lain. Aurel menatapnya, dan di wajah laki-laki itu ada sesuatu yang bukan nada rapat.
"Itu pertanyaan investor atau pertanyaan Aditya?"
"Dua-duanya."
"Kalau begitu jawabannya dua." Ia menegakkan badan. "Investor: ada klausul keluar. Anda boleh keluar kapan saja, saham dibeli kembali dengan harga wajar, tanpa penalti. Aditya: aku tidak mau modal mengunci hati dan hati mengunci modal."
Aditya menutup mapnya pelan.
"Dua puluh lima persen untuk delapan ratus juta."
"Lima belas."
"Dua puluh."
"Lima belas, dan saya tambah hak lihat laporan bulanan tanpa harus minta."
"Itu hakku dari awal."
"Karena itu saya tidak minta lebih."
Mereka saling menatap, dan Aurel yakin, pada detik itu, bahwa laki-laki di seberang meja sedang berjuang keras untuk tidak tersenyum.
"Lima belas," kata Aditya. "Dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kamu boleh bilang tidak pada saranku, kapan saja. Itu juga klausul keluar."
Aurel hampir menjatuhkan remote.
---
Maya masuk membawa ponsel Aditya yang bergetar, dan menemukan bosnya menatap layar kosong dengan wajah yang tidak ia kenali.
"Pak?"
"Hm."
"Bapak tersenyum."
"Tidak."
"Saya melihat dari kaca pintu. Selama empat puluh menit."
"Itu ekspresi berpikir. Sebagian dari rapat tadi memang butuh banyak berpikir."
"Baik, Pak." Maya meletakkan ponsel di meja. "Ekspresi berpikir ini sudah dilihat tiga staf, Pak."
Di lorong, Aurel menunggu dengan map di dada. Ketika Aditya keluar, mereka berdiri berhadapan dalam jarak yang tidak lagi ditentukan kontrak mana pun, dan tiba-tiba keduanya kehilangan bahasa. Tadi di dalam mereka investor dan pendiri. Sekarang mereka dua orang yang mencium satu sama lain dua malam lalu di atas atap.
"Rapat yang bagus," kata Aditya.
"Terima kasih."
"Aku... bangga."
"Itu kata yang sama dengan di Jogja."
"Dan sekarang artinya lebih banyak."
Aurel memeluk map lebih erat. Ponselnya bergetar di saku: pesan dari Mama. Ia membacanya, lalu mengangkat layar kepada Aditya.
Sabtu depan ulang tahun Papa. Mama masak rendang. Bawa Aditya. Bawa Mami juga, Mama sudah telepon beliau dan Mami bilang akan bawa resepnya sendiri.
"Dua ibu," kata Aditya, "satu dapur, satu rendang."
"Dua ibu, satu rendang, dan Papa yang tidak tahu apa-apa soal kita." Aurel menurunkan ponsel. "Sabtu depan, Dit. Kamu siap?"
"Aku tidak pernah siap untuk rendang," jawab Aditya, "apalagi untuk Papamu."