"Aturannya aku terima," kata Aurel.
Aditya masih menyentuh kusen pintu dengan ujung jari. Bahunya turun setengah senti, dan Aurel baru sadar laki-laki itu tadi menahan napas.
"Tapi aku punya pasal tambahan."
"Pasal tambahan." Aditya hampir tersenyum. "Aku sudah menduganya."
"Siapa pun yang menyebut nama itu duluan, dia yang traktir."
"Traktir apa?"
"Aku pikir dulu. Yang jelas bukan rapat."
"Setuju." Ia menurunkan tangan dari kusen. "Tidur, Rel. Kamu kelihatan seperti orang yang mau tumbang sambil berdiri."
"Kamu juga."
"Aku tidak pernah tumbang."
"Waktu demam di Jakarta itu, kamu tidur dengan mulut terbuka. Mbak Sari sampai mengambil foto."
"Itu demam."
"Itu mulut terbuka."
Aditya tertawa pendek, pelan, supaya tidak membangunkan Mbak Sari di bawah. Aurel menutup pintu kamarnya sebelum senyumnya sempat menjadi sesuatu yang lebih sulit disembunyikan, lalu bersandar di baliknya dan menatap langit-langit sampai mataharinya naik.
---
Pukul tujuh kurang lima, Aurel sudah tiga kali ganti baju.
Pilihan terakhirnya terusan hijau tua sederhana, flat shoes, rambut dikuncir longgar. Ia menatap bayangannya di cermin dan berkata kepada diri sendiri, "Ini bukan acara resmi. Santai."
Ketukan di pintu datang tepat pukul tujuh.
Aditya berdiri di lorong memakai kemeja biru muda yang lengannya digulung dan celana panjang gelap. Rambutnya masih agak basah. Di tangannya ada selembar kertas, dilipat dua dengan rapi.
"Kamu membawa kertas."
"Agenda."
"Kamu bilang tidak ada agenda rapat."
"Ini bukan rapat. Ini rencana kencan." Ia menyodorkan kertas itu. "Satu halaman. Aku sudah bilang kemarin."
Aurel membukanya dan membaca keras-keras.
"Pukul 19.00, penjemputan. Pukul 19.05, perjalanan, buffer sepuluh menit. Pukul 19.30, makan malam, durasi satu jam, buffer lima belas menit untuk antrean." Ia berhenti. "Antrean."
"Kemungkinan ada antrean."
"Pukul 20.45, kegiatan bebas, penanggung jawab Aurel." Ia membaca butir berikutnya dan bibirnya bergetar. "Kevin, tidak dibahas."
"Itu butir paling penting."
"Kamu menulis 'Kevin, tidak dibahas' sebagai butir agenda."
"Supaya jelas."
"Dit, kamu menyebut namanya di kertas."
Aditya membeku. Matanya turun ke kertas, lalu naik, lalu turun lagi.
"Itu tidak dihitung."
"Dihitung."
"Itu tulisan, bukan ucapan."
"Aku akan memutuskan sendiri, dan aku bilang dihitung." Aurel melipat kertas itu menjadi persegi kecil dan memasukkannya ke tas. "Kamu traktir. Aku sudah punya pilihan."
"Apa?"
"Rahasia. Sekarang kita pergi, tapi rencananya aku ganti."
"Rencana kita sudah..."
"Rapat dibatalkan. Aku yang pimpin."
Aditya menatapnya lama, seperti orang yang baru dilucuti dokumen terpenting dalam hidupnya dan, anehnya, tidak keberatan.
"Siap, Bu Direktur," katanya.
Di bawah, Pak Budi sudah menunggu di samping mobil dengan pintu terbuka dan ekspresi orang yang sedang menahan seluruh komentar di dalam mulutnya. Mbak Sari berdiri di ambang lift lantai bawah, memegang serbet, dan jelas-jelas tidak sedang membersihkan apa pun.
"Hati-hati, Nona," kata Mbak Sari. "Tuan, jangan lupa makan. Maksud saya, jangan lupa bicara."
"Mbak Sari."
"Saya diam, Tuan."
---
Pasar malam di ujung jalan besar itu sudah ramai ketika Pak Budi menurunkan mereka. Lampu bohlam kuning berderet di atas tenda-tenda, bau jagung bakar bercampur gula kapas, dan dari pengeras suara tua terdengar dangdut yang dinyanyikan dengan sepenuh hati dan sedikit fals.
"Ini rencana kamu?" Aditya memandang kerumunan itu seperti memandang laporan keuangan yang kolomnya tidak sejajar.
"Ini rencanaku."
"Tidak ada buffer."
"Ada. Namanya kerumunan."
Mereka menyusuri deretan lapak. Aurel membeli dua tusuk sate usus dan menyodorkan satu kepada Aditya, yang menerimanya dengan hati-hati seperti barang bukti. Ia mencoba menembak balon dan meleset lima kali. Aditya mengambil senapan angin itu, membidik, dan kena tiga balon berturut-turut.
"Mantan atlet," gumam Aurel.
"Bidikan bulu tangkis beda."
"Alasan."
Hadiahnya boneka bebek kuning gemuk. Aditya menyerahkannya dengan wajah datar.
"Namanya siapa?"
"Dia bebek."
"Dia butuh nama."
"Kalau begitu Provider."
Aurel terbahak sampai penjual jagung menoleh. Ia memeluk bebek itu erat-erat di dada.
Di ujung deretan, di bawah tenda biru dengan gambar es krim yang catnya mengelupas, ada gerobak tua dengan tulisan tangan: ES KRIM TUNG-TUNG, COKELAT, VANILA, DURIAN.
Aurel berhenti.
"Dit."
"Hm?"
"Utangku."
Aditya mengikuti arah matanya, lalu menatap Aurel. Ia ingat. Tentu saja ia ingat.
"Bulu tangkis di halaman. Dua puluh satu, sembilan belas. Kamu bilang kalau kamu kalah, kamu tetap traktir es krim."
"Dan sudah berminggu-minggu aku menghindar dari janji itu."
"Dengan sangat terampil."
Aurel maju ke gerobak. "Pak, es krim cokelat. Satu. Yang paling besar."
Penjualnya, laki-laki setengah baya berpeci, mengambil cone dan menumpuk tiga sendok. Aurel menerimanya dengan dua tangan, berbalik, lalu berdiri tegak di depan Aditya seperti hendak menyerahkan piala.
"Aditya Mahendra."
"Ya."
"Atas nama janji yang tertunda dan kekalahan yang sangat terhormat, dengan ini saya serahkan es krim cokelat satu cone, lunas, tanpa bunga."
"Kamu serius."
"Terima, Pak CEO."
Ia menerimanya. Wajahnya sangat serius ketika menjilat sendok pertama, dan sedikit demi sedikit, tanpa bisa ditahan, sudut bibirnya naik.
"Enak."
"Aku tahu."
"Lunas?"
"Lunas." Aurel mengangkat telunjuk. "Kecuali kamu mau tambah bunga."
"Bunga apa?"
"Entah. Nanti kuhitung."
Mereka duduk di bangku kayu di pinggir lapangan sampai es krim itu habis. Di seberang, sekelompok anak muda main gitar dan menyanyikan lagu yang liriknya sama sekali tidak mereka hafal.
"Senin aku mau minta waktumu," kata Aurel, tiba-tiba.
"Untuk apa?"
"Rapat. Sungguhan. Aku bawa bahan, kamu bawa pertanyaan." Ia menggigit ujung cone. "Kamu jangan tanya dulu soal apa. Aku ingin kamu datang tanpa jawaban yang sudah disiapkan."
"Aku datang sebagai siapa?"
"Sebagai orang yang boleh bilang tidak."
Aditya menimbang kalimat itu sebentar. "Jam berapa?"
"Kamu atur. Kamu yang punya kalender."
"Kalender itu sudah balik ke aku. Jadi aku yang atur?"
"Oh, iya." Aurel nyengir. "Tiga harinya sudah lewat. Aku lupa."
Sisa cokelat menempel di sudut bibir Aditya, dan Aurel mengangkat tangan untuk menunjuknya, lalu berhenti.
"Boleh?"
Aditya tertegun. "Boleh."
Ibu jarinya menyapu sudut bibir itu sekali, sangat cepat. Mereka berdua menatap bebek kuning di pangkuan Aurel seolah bebek itulah yang paling menarik di dunia.
---
Pukul sepuluh kurang, penthouse sunyi.
Mbak Sari sudah tidur. Aditya menekan tombol lift tanpa bertanya mau ke mana, lalu ia berkata, "Aku mau tunjukkan satu tempat. Tidak ada di agenda."
Atap penthouse terbuka ke langit. Lampu kota menyebar seperti serbuk di bawah mereka. Angin malam naik membawa bau hujan yang jauh. Ada dua kursi rotan di pojok, tidak pernah dipakai selama Aurel tinggal di sini, dan Aditya menyeret keduanya ke tepi pagar.
"Kamu sering di sini?"
"Dulu, kalau kepalaku penuh." Ia duduk. "Sudah lama aku tidak naik."
Aurel duduk di kursi sebelah, bebek di pangkuan. Mereka diam. Diam yang berbeda dari diam-diam sebelumnya, tanpa jarak yang harus dijaga.
"Rel."
"Hm?"
"Aku mau cium kamu." Ia menelan ludah. "Itu bukan untuk Mama, bukan untuk kamera, bukan untuk lantai dansa. Boleh?"
Jantung Aurel melompat sekali, keras, lalu berhenti di tempat yang tidak biasa. Ia menaruh bebek di lantai.
"Boleh."
Aditya berdiri setengah, menunduk, lalu berhenti hanya beberapa jari dari wajahnya. Ia memberinya waktu satu detik untuk berubah pikiran. Aurel tidak berubah pikiran.
Ciuman itu pelan. Hangat. Ada sisa cokelat di sana, dan Aurel nyaris tertawa, tetapi tidak jadi, karena tangan Aditya naik ke sisi wajahnya dan berhenti di sana, menunggu, bukan menahan.
Ketika mereka berpisah, tidak ada yang bicara. Angin berembus. Di bawah, klakson jauh membunyikan sesuatu.
"Kita," kata Aurel akhirnya, serak, "nggak bilang cinta."
"Belum," jawab Aditya.
Ia mengatakannya tanpa gentar, sambil tetap memandang matanya. Itu bukan penolakan. Itu janji yang belum punya tanggal.