Ruang tunggu eksekutif Stasiun Tugu pukul tujuh lewat empat puluh malam berbau kopi sachet, lantai yang baru dipel, dan kipas angin yang berputar lebih lambat dari semestinya.
Aurel duduk di sofa kulit dekat jendela dengan tas ransel di pangkuan dan buku catatan biru tua terselip di dalamnya. Kakinya sudah tidak sakit, hanya pegal dengan cara yang menyenangkan. Di tangan kanannya masih ada sisa hangat jari Aditya, dan ia belum memutuskan apakah ia ingin mencucinya.
Aditya sedang berdiri di dekat meja petugas, mengurus sesuatu dengan Rian. Koper mereka dibariskan seperti anak sekolah. Dari jauh ia kelihatan tinggi dan lelah dan, entah kenapa, jauh lebih dekat dari yang seharusnya.
"Ruang yang nyaman, ya."
Aurel tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Tetapi ia menoleh juga, pelan, tanpa terburu-buru.
Kevin berdiri di sisi sofa, mengenakan jas yang sama seperti siang tadi, sebuah tas kulit tipis di tangan. Wajahnya segar, ramah, tidak kelihatan seperti orang yang baru menempuh perjalanan.
"Pak Kevin."
"Boleh saya duduk?" Ia sudah menunjuk kursi di seberang meja kecil. "Saya naik kereta yang sama. Kebetulan sekali."
"Silakan."
Ia duduk, menyilangkan kaki, dan menaruh tasnya di sisi. Senyumnya tidak berubah sejak pagi.
"Perjalanan yang indah. Pidato, kopi, candi." Kevin memandang keluar jendela, ke arah rel yang gelap. "Pak Aditya mengajak Anda ke Prambanan, kan? Saya dengar dari orang-orang. Pasangan yang romantis."
"Kami cuma jalan-jalan."
"Dan Lunara, selamat. Syutingnya sempat terjebak longsor, saya baca di akun kru." Kevin tersenyum tipis. "Kontrak yang bagus. Berapa lama, kalau saya boleh tahu?"
Aurel menyimpan kewaspadaannya di sisi kepala yang lain, di halaman yang sama dengan kerah baju dan nama usaha Papa.
"Lunara? Tiga bulan, Pak."
"Bukan yang itu." Kevin mengaitkan jari-jarinya di lutut, ramah dan sabar. "Kontrak yang satunya. Yang tidak ditandatangani di Lunara. Kontrak Anda dengan Pak Aditya, kalau saya boleh bertanya. Berapa lama?"
Ruang tunggu itu mendadak terlalu sunyi. Kipas angin berputar. Seorang ibu di pojok membuka bungkus roti. Dari balik bahunya, Aurel melihat punggung Aditya menjauh ke arah pintu peron bersama Rian.
Satu. Dua.
"Pertanyaan itu bukan untuk dijawab di sini, Pak Kevin."
Suaranya lebih tenang dari yang ia duga. Tidak naik, tidak turun. Ia sendiri nyaris tidak percaya.
Kevin menatapnya sebentar. Lalu ia tertawa, pendek dan ringan, seolah Aurel baru saja menceritakan lelucon yang paling lucu.
"Saya bercanda, Bu Aurel. Maaf, kebiasaan. Saya suka menggoda orang yang terlalu serius." Ia berdiri, merapikan jas, tangannya meraih kerah dan menurunkannya setengah senti. "Selamat jalan. Semoga tidur di kereta nyenyak."
Ia pergi ke arah pintu peron, bahunya santai, langkahnya rapi.
Dua, kata Aurel di kepalanya. Dia menyentuh kerahnya lagi, tepat setelah bilang bercanda.
Beberapa menit kemudian Aditya kembali dengan dua tiket di tangan, dan langkahnya melambat begitu melihat wajahnya.
"Kamu pucat."
"Aku haus." Aurel mengambil botol air dari ransel dan meminumnya terlalu cepat. "Aku cerita di kereta."
"Sekarang aja kalau mau."
"Di kereta. Di sini terlalu banyak telinga." Ia berdiri dan menyampirkan ransel. "Tapi aku tidak mau menunda. Janjinya dua puluh empat jam, kan? Aku mau lebih cepat dari itu."
Aditya menatapnya sepersekian detik lebih lama dari yang perlu, lalu mengambil koper tanpa bertanya apa-apa lagi. Rian, di belakangnya, membawa sisa bagasi dengan raut paling netral yang bisa ia kumpulkan.
---
Kereta berangkat tepat pukul delapan.
Kursi mereka bersebelahan di gerbong eksekutif, Rian di baris belakang dengan tablet dan topi menutupi mata. Lampu gerbong diredupkan, tirai jendela setengah tertutup, dan dari kejauhan terdengar suara roda yang menggilas sambungan rel dengan irama yang membuat kantuk datang tanpa izin.
Aurel menahan diri sampai kereta melewati Lempuyangan.
"Dit."
"Hm?"
"Pasal Tiga. Sekarang."
Aditya menegakkan badan. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia menunggu.
Aurel menceritakannya dengan suara serendah mungkin, kata demi kata, urutannya persis. Kevin duduk di ruang tunggu. Ia menyebut Lunara, lalu bertanya tentang kontrak yang satunya. Berapa lama.
"Dia bilang 'kontrak yang satunya'?" Suara Aditya sangat rendah.
"Persis."
"Dan jawabanmu?"
"Aku bilang itu bukan pertanyaan untuk dijawab di sini."
"Dan dia?"
"Tertawa. Bilang bercanda."
Aditya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya sangat pelan lewat hidung. Tangannya yang terletak di sandaran kursi mengepal dan membuka. Aurel menunggu. Ia bisa membayangkan banyak versi laki-laki ini, yang menggebrak meja, yang menelepon sepuluh orang, yang berdiri dan berjalan ke arah Kevin.
Ternyata ia hanya duduk.
"Terima kasih sudah bilang."
"Kamu tidak marah?"
"Aku marah." Ia menoleh. "Tapi aku sudah bilang barusan, jadi tidak perlu aku lanjutkan dengan tindakan apa pun. Kamu bilang pada orangnya dengan benar. Itu lebih baik daripada apa pun yang bisa kulakukan."
Aurel menatapnya lama, lalu menyandarkan kepala ke jendela, bukan ke bahunya. Ia ingin, tetapi ini bukan waktunya.
"Satu hal," kata Aditya. "Bukumu."
"Buku apa?"
"Yang biru. Dia menyebut itu pada Karina. Dia memandangi itu tadi siang. Kamu pegang terus, tidak pernah kamu lepas."
"Aku tahu."
"Kalau kamu simpan di brankas kantor, di sebelah map hitam, tidak ada orang yang bisa..."
"Tidak."
Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan. Aditya terdiam.
"Maaf," kata Aurel. "Maksudku, aku nggak mau. Bukan karena aku nggak percaya padamu." Ia mengusap permukaan tas di pangkuannya. "Itu buku pelajaran, Dit. Bukan kontrak. Kalau aku menyimpannya di brankas, aku seperti mengaku isinya berbahaya. Dan isinya tidak berbahaya. Hampir semuanya."
"Hampir."
"Satu halaman. Dan kamu tidak akan bertanya."
"Aku tidak akan bertanya." Aditya mengangguk pelan. "Tapi kamu tahu aku ragu."
"Aku tahu."
"Aku ragu, Rel. Tapi itu bukumu. Kamu yang memutuskan."
"Aku akan bawa terus. Tidak kutinggal di sofa, tidak di meja, tidak di mobil. Selalu di tas, selalu dengan aku."
"Janji?"
"Janji."
Aditya memandangi wajahnya beberapa detik, seperti memastikan janji itu dilafalkan dengan benar, lalu mengangguk. Kereta berguncang melewati wesel, dan kepala Aurel nyaris terantuk jendela. Tangan Aditya terulur setengah jalan, berhenti di udara.
"Boleh?"
"Boleh."
Tangan itu menahan bahunya sampai guncangan berakhir, lalu ditarik lagi dengan sopan.
---
Mereka tiba di penthouse menjelang subuh. Pak Budi menjemput di Gambir dengan mata merah dan dua termos teh, dan Mbak Sari, entah bagaimana, masih terjaga di dapur dengan sepiring pisang rebus.
Di depan pintu kamar Aurel di lantai atas, lorong sepi dan lampu dinding menyala redup. Aurel berdiri dengan ransel di satu bahu, kelopak mata berat.
"Terima kasih untuk Prambanan," katanya.
"Terima kasih sudah ikut."
Aditya menyentuh kusen pintu dengan ujung jari, seolah butuh sesuatu untuk dipegang. Kelelahan membuat wajahnya tanpa topeng, dan itu hampir terlalu banyak bagi Aurel pada jam seperti ini.
"Besok malam," katanya. "Maksudku nanti malam. Tetap berlaku?"
"Berlaku."
"Sabtu, jam tujuh." Ia berhenti. "Satu aturan, kalau kamu setuju. Sabtu malam tidak ada yang membahas Kevin. Tanpa rapat, tanpa strategi. Aku nanya, ya."