Foto lukisan itu masuk ke ponsel Aurel sebelum sarapan di vila selesai.
Sebuah pemandangan sawah dengan gunung biru di kejauhan, pematang yang melengkung ke arah kiri, dan satu pohon kelapa yang miring tanpa alasan jelas. Di bawahnya Wilhelmina mengetik: Jelek, bukan? Mami beli lima belas tahun lalu dari pelukis jalanan di Magelang. Kalau ada yang bertanya, bilang saja kalian menawarnya berkali-kali. Mami akan bilang hal yang sama.
Aurel menunjukkan layar itu kepada Aditya, yang sedang menuang kopi hitam dengan wajah orang yang belum tidur nyenyak.
"Kalau ada yang bertanya," ulang Aditya, membaca. "Dia tidak tanya kenapa kita bertanya."
"Mungkin dia memang selalu seperti itu."
"Selalu." Ia menaruh cerek. "Aku sudah berhenti heran dengan Mama."
Mereka duduk di teras vila dengan sepiring pisang goreng dan gunung di kejauhan. Aditya tidak banyak bicara pagi itu. Semalam ia tidak jadi mengucapkan kalimat yang sudah ia siapkan. Ketika malam tiba dan kamarnya sunyi, Rian mengabarkan bahwa Kevin menginap di hotel yang sama, dua lantai di bawah, dan Aditya tidak mau mengucapkan kalimat sepenting itu di gedung yang sama dengan seseorang yang menghitung kerah baju untuk berbohong.
Jadi ia menunggu. Lagi.
"Rel."
"Hm?"
"Kereta kita berangkat pukul delapan malam." Ia meletakkan cangkir. "Sebelum itu, ada satu janji yang belum kita bayar."
Aurel mengunyah pisang goreng. "Utang es krimku sudah dalam catatan."
"Bukan itu. Prambanan."
Aurel berhenti mengunyah.
"Waktu pertama ke Jogja, kamu bilang ingin ke Malioboro dan Prambanan. Malioboro sudah. Prambanan belum." Aditya menatap gunung, bukan menatap Aurel. "Boleh aku ajak kamu sore ini? Sebelum pulang."
"Tanpa rapat?"
"Tanpa rapat. Tanpa investor. Rian tunggu di gerbang."
"Tanpa Kevin?"
"Tanpa siapa pun yang tidak kamu mau." Ia menghela napas. "Aku bertanya, Rel. Kamu bilang boleh atau tidak."
Aurel memandangnya agak lama. Ia menaruh pisang goreng, membersihkan jari di serbet, dan senyum kecil muncul di sudut bibirnya tanpa izin.
"Boleh."
---
Gerbang candi sudah hampir tutup ketika mereka tiba. Matahari merunduk ke barat, jingga di atas batu hitam, dan rombongan wisatawan terakhir berjalan keluar sambil memegang topi mereka. Rian berdiri di dekat gerbang dengan wajah paling profesional yang pernah ada, dan Aurel yakin ia berpura-pura tertarik pada selembar brosur.
Mereka masuk berdua.
Prambanan senja berbeda dari yang terbayang di buku sekolah. Menaranya tinggi, runcing, dan sebagian masih diselimuti perancah dari restorasi, tetapi cahaya jingga yang menimpa permukaan batunya membuat setiap ukiran terlihat hidup. Burung kecil beterbangan di sela-sela pahatan. Aurel berjalan pelan, menengadah, dan lupa pada kakinya yang pegal.
"Dingin," katanya, dan menggosok lengan.
Aditya melepas jasnya tanpa bicara, lalu berhenti. "Boleh?"
"Boleh."
Ia menyampirkan jas itu di bahu Aurel, tidak lebih, jari-jarinya menyentuh kain saja. Aroma kayu dan sedikit obat yang tersisa dari demam beberapa hari lalu.
Mereka berjalan mengelilingi candi utama pelan-pelan.
"Itu Rama?" Aurel menunjuk relief panjang di dinding, seorang laki-laki berbusana indah yang membidik sesuatu dengan busur.
"Menurut papan penjelasan, iya."
"Dan itu Sinta?"
"Yang diculik." Aditya membaca tulisan kecil di bawahnya. "Mereka berpisah lama sekali."
"Karena kesalahpahaman?"
"Karena raksasa."
"Itu kesalahpahaman dengan ukuran besar." Aurel menyipitkan mata. "Setelah itu mereka kembali bersama?"
"Setelah perang besar. Dan banyak sekali pembuktian."
"Pembuktian apa?"
"Entah." Aditya menggaruk tengkuk. "Ceritanya panjang. Aku cuma baca sampai bagian Sinta diculik."
"Kamu CEO yang membaca setengah laporan?"
"Ini bukan laporan. Ini relief."
Aurel tertawa dan terus berjalan, dan mereka mengitari candi itu dalam diam yang hangat. Di relief-relief lain yang berbaris di dinding, orang-orang dari ribuan tahun lalu menari, berpesta, dan menanam padi dengan wajah yang sama sekali tidak peduli kepada dua orang yang lewat di bawahnya.
Di tikungan ketiga, jari kelingking Aditya menyentuh punggung tangan Aurel.
Sengaja atau tidak, Aurel tidak tahu. Tetapi ia tidak menariknya. Ia justru membuka telapak, perlahan, dan jemari Aditya masuk ke sana dengan hati-hati, seperti air yang menemukan cekungan.
Mereka berhenti.
"Siapa yang kita bohongin di sini?" tanya Aurel, pelan.
Aditya memandang sekeliling. Wartawan, Wilhelmina, Kevin, Pak Hardi, tamu resepsi: semuanya jauh di luar pagar. Di sini hanya batu, burung, dan Rian yang terlalu jauh untuk dilihat.
"Nggak ada."
"Terus kenapa pegangan?"
"Nggak tau."
Mereka saling memandang, dan jawaban itu, yang paling jujur dari semua jawaban yang pernah mereka ucapkan di bawah langit mana pun, menggantung di udara jingga tanpa ada yang menyentuhnya.
Aurel menunduk ke tangan mereka. Jari Aditya hangat dan sedikit kapalan. Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengencang: sudah dua jam ia tidak memikirkan sisa hari kontrak. Hitungan itu biasanya muncul di kepalanya setiap kali ia melihat jam, seperti penghitung mundur yang menempel di balik kelopak mata.
Sekarang hitungan itu tidak ada. Yang ada cuma jingga dan tangan ini.
"Kamu kenapa?" tanya Aditya.
"Aku lupa menghitung."
"Menghitung apa?"
"Hal yang biasanya kuhitung." Aurel menggeleng. "Nanti kuceritakan."
"Kapan 'nanti'?"
"Kalau aku sudah tahu bentuknya." Ia mengangkat pandang. "Dan kamu? Semalam kamu diam sepanjang makan malam. Kamu mau bilang sesuatu, ya?"
Aditya terdiam. Kepalan tangannya yang bebas membuka dan menutup di lutut.
"Iya," katanya. "Dan aku tidak jadi."
"Kenapa?"
"Karena di gedung yang sama ada orang yang aku tidak suka mendengar napasku sendiri." Ia tersenyum miring. "Konyol, ya?"
"Tidak." Aurel menggenggam tangannya lebih erat. "Itu masuk akal."
Mereka duduk di tangga batu sampai langit berubah ungu. Burung berhenti beterbangan. Lampu-lampu sorot di dasar candi menyala satu per satu, menyoroti menara dengan cahaya kuning yang kaku, dan orang-orang di gerbang mulai berkemas.
"Rel."
"Hm?"
"Besok malam. Kamu ada acara?"
"Pulang ke Jakarta. Besok malam aku..." Aurel mengerutkan dahi. "Belum ada acara. Kenapa?"
Aditya mengambil napas yang dalam.
"Aku mau mengajakmu kencan." Kata itu keluar pelan, dan ia menambahkan sebelum Aurel bereaksi, "Bukan kencan kontrak. Bukan untuk Mama, bukan untuk wartawan. Tanpa alasan apa pun yang ada hubungannya dengan halaman mana pun di map hitam." Ia berhenti. "Sabtu malam. Besok. Aku bertanya, bukan memutuskan."
Aurel menahan senyum, dan ia gagal. Senyum itu lebar, bocor dari ujung ke ujung wajahnya.
"Aku boleh tahu rencananya?"
"Rahasia."
"Kamu pasti membuat agenda rapat."
"Aku tidak membuat agenda rapat."
"Jam berapa kamu menjemput?"
"Tujuh." Aditya menunduk, dan telinganya memerah. "Dan ya. Ada agenda. Satu halaman."
Aurel tertawa keras sampai burung terakhir di menara terbang, dan jawabannya keluar di sela tawa itu, jelas, mantap, dan tanpa satu pun hitungan.
"Mau."