Tenda sebelah ternyata tenda kopi, lengkap dengan mesin espresso, baristanya berseragam hitam, dan kursi-kursi rendah dari rotan yang diletakkan menghadap lahan galian.
Aurel memilih kursi yang punggungnya menghadap tiang tenda, supaya ia bisa melihat siapa pun yang mendekat. Itu bukan kebetulan. Itu pelajaran bahasa tubuh yang pernah ia catat di buku biru tua, halaman dua puluh tiga: duduk di tempat yang memberimu pandangan, bukan di tempat yang memberimu pemandangan.
Sebelum duduk, ia mengambil pulpen emas dari saku gaunnya, mengetukkannya dua kali ke buku catatan di pangkuan, lalu menaruhnya kembali. Di seberang tenda, di bawah pohon asam, Aditya melihat gerakan itu dan berhenti melangkah.
Dua ketukan. Aku sendiri yang pegang.
Ia mengangguk sekali, nyaris tidak kelihatan, lalu menarik kursi lipat di dekat Rian dan duduk dengan kedua tangan di lutut.
"Kopi apa, Bu Aurel?"
"Teh saja, Pak Kevin."
"Teh." Kevin tersenyum kepada barista seolah itu pilihan paling bijak sedunia. "Dua teh. Dan sepiring kue kering, yang tidak terlalu manis."
Mereka duduk berhadapan. Kevin mengenakan jas krem yang jatuhnya sempurna, rambut disisir rapi, dan jam tangan tipis. Ia bergerak seperti orang yang sudah menghitung setiap gerakannya.
"Saya benar-benar kagum," katanya. "Pidato tanpa catatan, dengan satu jeda yang justru membuatnya terasa jujur. Saya jarang melihat orang yang berani berhenti di depan seratus orang."
"Terima kasih. Itu ajaran suami saya."
"Ah, tentu." Kevin mengambil cangkirnya. "Suami Anda. Pernikahan yang cepat sekali, kalau saya boleh bilang. Rasanya baru kemarin tidak ada kabar apa pun, dan tiba-tiba ada resepsi besar di ballroom."
"Kami tidak suka berlama-lama."
"Pasti romantis." Ia memiringkan kepala. "Bagaimana kalian bertemu? Saya selalu penasaran dengan cerita awal pasangan."
Aurel menyesap tehnya. Isi, bukan nada, katanya pada diri sendiri. Jawab isinya, buang nadanya.
"Di lelang amal," katanya. "Ada lukisan pemandangan sawah, kami sama-sama menawar. Dia menawar lebih tinggi."
"Lelang yang mana?"
"Yang kecil, Pak. Di aula yayasan, bukan yang besar."
"Oh." Kevin mengangguk. "Saya tidak ingat ada lelang kecil seperti itu."
Tangannya terangkat. Dua jari menyentuh kerah kemejanya, merapikannya setengah senti ke kiri, lalu turun lagi.
Aurel mencatatnya di kepala, bukan di buku. Satu.
"Tidak semua orang diundang, Pak."
"Tentu tidak." Kevin tertawa kecil. "Dan lukisan itu, apakah bagus?"
"Menurut suami saya jelek."
"Tapi tetap ditawar."
"Karena saya yang suka."
"Jadi Anda yang menang?"
"Dia yang menang. Saya yang menyesal." Aurel meletakkan cangkir. "Setidaknya sampai kami menikah."
Kevin tersenyum, dan senyum itu rapi, lebar, tanpa cela. Tetapi pandangan matanya bergeser sedikit ke bawah, ke buku catatan di pangkuan Aurel, dan kembali lagi.
"Buku itu, kalau tidak keberatan..." katanya. "Saya benar-benar penasaran. Orang yang menuliskan hidupnya seperti itu pasti punya banyak pelajaran."
"Isinya belum rapi, Pak. Cuma catatan belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar jadi perempuan berguna." Aurel tersenyum. "Itu judul di sampulnya. Saya juga heran kenapa saya menulis itu."
"Dan modeling?" Kevin menyelipkan pertanyaan itu seperti kartu kecil di antara dua kartu besar. "Saya dengar jadwal Anda sempat sepi, sebelum menikah. Sekarang malah ada Lunara. Cepat sekali nasib berbalik."
"Nasib bukan yang berbalik, Pak. Saya yang mulai menghitung lagi."
"Menghitung apa?"
"Apa yang saya mau, apa yang bisa saya tawarkan, dan apa yang tidak akan saya jual."
Senyum Kevin tidak bergeser, tetapi sendok di tangannya berhenti berputar sesaat.
"Anda sudah sangat berguna." Kevin menyendok gula. "Saya sebenarnya ingin tahu satu hal. Dua tahun lalu, saya mengajukan nama Anda untuk merek hotel saya. Lewat agensi. Mereka bilang Anda tidak tertarik."
"Saya tidak ingat, Pak."
"Tidak apa-apa. Saya tidak tersinggung." Sendok itu mengaduk teh pelan-pelan. "Hanya saja dalam pengalaman saya, orang yang menolak saya biasanya menyesal belakangan."
Hening. Kue kering di piring tidak disentuh siapa pun.
Aurel tidak langsung menjawab. Ia menghitung dalam hati sampai dua, seperti dalam pidato tadi, dan ketika mulutnya bergerak, suaranya tenang, datar, dan hampir ramah.
"Saya menolak banyak hal, Pak Kevin. Tawaran, undangan, saran." Ia tersenyum. "Hampir semuanya tidak saya sesali. Yang saya sesali biasanya hal yang tidak saya tanyakan."
---
Langkah kaki berhenti di sampingnya, jarak satu lengan, tidak lebih.
"Boleh gabung?"
Aurel menoleh. Aditya berdiri dengan tangan di saku dan wajah yang sama sekali tidak bisa dibaca, tetapi ia bertanya kepada Aurel, bukan kepada Kevin. Matanya tidak bergeser dari wajah istrinya sampai jawaban datang.
"Boleh."
Aditya menarik kursi ketiga dan duduk. Kevin mengangkat cangkirnya setengah dalam sapaan.
"Pak Aditya. Kami baru membicarakan lelang amal Anda."
"Yang lukisan sawah." Aditya meraih teh yang baru dituangkan barista. "Jelek sekali lukisan itu."
"Pak Aditya tidak punya selera," kata Aurel.
"Ternyata punya. Aku memilih kamu." Ia mengatakannya tanpa jeda, dengan wajah datar, dan Aurel hampir tersedak teh. "Dia menawar sembilan kali sebelum aku menyerah."
"Sembilan?"
"Tujuh. Aku bulatkan."
"Dia suka membulatkan angka yang menguntungkannya," kata Aurel kepada Kevin. "Kalau tidak diawasi."
"Tentu saja diawasi." Aditya menoleh padanya, dan ada sesuatu yang lembut di sudut matanya. "Tiap hari."
Kevin memandang mereka bergantian, dua orang yang bicara seperti dua bagian dari satu kalimat. Senyumnya tetap di tempat. Tapi ketika ia menunduk untuk mengambil sepotong kue kering, tangannya berhenti setengah jalan di udara, seperti orang yang menghitung dan mendapat angka yang tidak sesuai.
"Saya senang melihat kalian sekompak itu," katanya akhirnya. "Saya permisi. Masih ada undangan makan siang."
Ia berdiri, mengangguk pada Aditya, tersenyum pada Aurel. Senyumnya tidak sampai ke mata.
"Oh ya, Bu Aurel. Satu hal kecil." Kevin berbalik setengah. "Lukisan sawah itu. Saya ingin sekali melihatnya kapan-kapan. Pasti tergantung di penthouse, ya?"
Aurel merasakan Aditya tidak bergerak di sebelahnya.
"Di rumah keluarga Mahendra, Pak," katanya, lancar. "Mami yang meminta."
"Wah. Mami Anda tentu orang yang berselera." Kevin tersenyum lagi. "Sampai bertemu, kalau begitu."
Ia pergi, jasnya berkibar rapi di belakang.
Tiga detik kemudian Aditya berbisik tanpa menoleh. "Kita punya lukisan di rumah Mama?"
"Sekarang punya."
"Rel."
"Kita sudah berbohong soal lelangnya. Sekarang lukisannya harus ada."
Aditya mengeluarkan ponselnya, mengetik cepat. "Pasal satu. Aku harus bertanya dulu pada Mama."
"Kamu tanya apa?"
"Apakah dia punya lukisan sawah."
Balasan masuk sebelum Aurel sempat menghela napas. Aditya membaca layarnya, lalu menyodorkan ponselnya. Mama: Ada satu di ruang baca, dinding kiri. Kenapa? Jangan bilang kamu mau mencurinya.
Mereka berdua menatap layar itu sampai Aurel menutup mulut dengan punggung tangan, dan tawa mereka yang tertahan membuat barista menoleh dari balik mesin kopi.
"Dia menyentuh kerahnya," bisik Aurel setelah tawa itu reda.
"Siapa?"
"Kevin. Waktu aku bilang lelangnya kecil. Dia bilang tidak ingat, lalu menyentuh kerahnya."
Aditya diam sebentar. "Aku lihat dari jauh. Aku kira kebetulan."
"Aku juga. Tapi sekarang aku mau mencatat." Aurel membuka buku catatannya, bukan di halaman paling belakang, melainkan di halaman kosong lain. "Kalau dia menyentuh lagi, aku punya dua."