Enam hari kemudian, Aurel berdiri di tanah merah Yogyakarta dengan sepatu yang salah dan pidato yang sudah ia hafal sampai mual.
Enam hari itu berjalan padat dan tanpa drama. Foto enam tukang bata terbit satu per satu di akun resor dan dibagikan puluhan ribu kali, sampai Maya berhenti menghitung. Kevin membalas email standar "pembaruan kebijakan" dengan tiga kata, Baik. Sampai bertemu. Dua hari kemudian ia menelepon Maya, menanyakan jadwal Aurel, dan Maya menjawab persis seperti naskah yang Aurel tulis: lewat email, ya, Pak. Kevin tidak menelepon lagi. Aurel melatih pidatonya empat kali di depan Aditya, sekali di depan Mbak Sari yang menangis di kalimat kedua, dan sekali di depan Pak Budi yang bertepuk tangan sebelum ia selesai.
Pagi ini lahan itu sudah berubah. Tenda putih berderet di tepi tanah lapang dua puluh hektare, kursi lipat dilapisi kain, mikrofon, dan bendera kecil Mahendra Group yang berkibar bergantian dengan bendera Arvanta. Tanah di tengah sudah digali sepetak, dan di sampingnya tertumpuk bata merah yang masih berbau tanah liat.
"Kamu gemetar," kata Aditya di sampingnya.
"Aku tidak gemetar. Ini sepatu."
"Sepatumu tidak punya tangan."
Aurel menunduk. Jarinya memang bergetar di sisi gaunnya. Ia mengepalkan tangan, melepasnya, mengepalkan lagi.
"Boleh aku beri satu saran?" tanya Aditya.
"Boleh."
"Kalau tersendat, berhenti. Dua detik. Jangan isi dengan 'eh' atau 'ehm'. Orang mengira kamu sedang berpikir, bukan lupa."
"Itu ajaranmu waktu aku latihan presentasi."
"Dan itu masih benar." Ia berhenti sebentar. "Aku di barisan kedua. Kalau kamu butuh wajah yang kamu kenal, aku di sana."
"Wajahmu kaku."
"Aku tahu. Tapi itu wajah yang kamu kenal."
Aurel nyaris tertawa, dan ketegangan di bahunya turun satu tingkat.
Di barisan pertama duduk Pak Hardi dengan kacamata dan map, dan di sebelahnya dua orang dari pihak Arvanta. Seorang bapak dari pemerintah daerah mengenakan batik cokelat. Pemilik lahan duduk di ujung, memandang tanahnya yang digali dengan mata yang sulit dibaca. Karina berdiri di tepi tenda dengan gulungan denah, dan ketika matanya bertemu mata Aurel, ia mengangkat kedua jempol kecil-kecil di dekat pinggang.
Pembawa acara memanggil namanya.
"Ibu Aurel Arasya, istri Bapak Aditya Mahendra, sekaligus penggagas kampanye titik cerita Resor ini."
---
Mikrofon itu lebih berat dari yang tampak.
Aurel meletakkan kertas catatan di podium, lalu menggesernya, karena tahu ia tidak akan membacanya. Ia mengangkat wajah. Seratus orang lebih di hadapannya, kursi lipat berbaris, kamera di sudut-sudut.
"Selamat pagi," katanya. "Saya akan bicara dua menit. Kalau lebih, tolong Pak Hardi angkat tangan."
Beberapa orang tertawa. Pak Hardi tidak tertawa, tetapi sudut bibirnya bergerak.
"Dulu saya mengira hotel itu tempat tidur dan lobi. Lalu saya belajar, tempat yang bagus adalah tempat yang ingat siapa yang membangunnya." Ia mengambil napas. "Bata merah yang akan menjadi gerbang resor ini dibuat oleh enam orang dari enam desa di Bantul dan Kulon Progo. Mereka ada di sini hari ini. Di barisan paling belakang."
Kepala-kepala menoleh. Enam orang berkaus sama berdiri dengan canggung, tangan penuh debu dan senyum yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
"Saya ingin menyebut desa mereka satu per satu, karena bata tidak lahir dari tempat tanpa nama." Aurel menunduk ke catatan, mengangkat lagi. "Yang pertama dari Kasihan, empat puluh tahun membuat bata..."
Ia menyebutkan tiga desa dengan lancar, satu per satu, dan setiap kali ia menyebut sebuah desa, orang yang berasal dari sana menegakkan badan sedikit. Lalu ia sampai pada desa keempat.
Kosong.
Bukan lupa, hanya terhenti, seperti kaki yang menginjak anak tangga yang tidak ada. Ia melihat ratusan wajah, kamera, kertas di podium yang tidak akan ia lihat.
Berhenti, kata suara Aditya di kepalanya. Dua detik.
Satu.
Ia menutup mulut. Menghirup. Mata Aurel menemukan wajah kaku di barisan kedua yang tidak bergerak sama sekali, seperti orang yang menjaga api kecil.
Dua.
"Imogiri," katanya, dan nama itu datang begitu saja, utuh. "Dari sana datang bata yang paling merah di antara kami semua."
Tepuk tangan pertama datang dari barisan belakang, dari tangan yang berdebu dan kikuk. Lalu menjalar. Seorang ibu dari Arvanta menyeka sudut mata. Bapak berbatik cokelat mengangguk dalam-dalam, dan Pak Hardi, yang tadi memotong semua orang selama sebulan penuh, perlahan menutup mapnya dan ikut bertepuk tangan.
Aurel menyebutkan dua desa terakhir, lalu menutup dengan kalimat yang sudah ia siapkan. "Terima kasih telah membangun sesuatu yang akan diingat orang. Kami hanya numpang di atas pekerjaan kalian."
Tepuk tangan yang kali ini menggetarkan kain tenda.
Ia turun dari podium dengan lutut yang baru terasa lemas. Aditya sudah berdiri di ujung tangga, tidak tersenyum, tetapi matanya berair sedikit dan ia berpura-pura itu karena debu.
"Dua menit empat puluh detik," katanya pelan.
"Aku disuruh angkat tangan kalau lewat."
"Pak Hardi tidak angkat tangan."
"Dia ikut tepuk tangan."
"Itu lebih langka daripada angkat tangan."
Pak Hardi menghampiri mereka sebelum acara dilanjutkan. Kacamatanya diturunkan sedikit di hidung, map terjepit di ketiak, dan Aurel bersiap menerima kritik yang akan datang seperti biasa.
"Mbak Aurel."
"Pak."
"Dua menit empat puluh detik. Anda tidak pernah mengatakan 'ehm'." Pak Hardi membetulkan kacamatanya. "Dalam bisnis, orang yang tahu kapan harus diam lebih jarang daripada orang yang pandai bicara."
"Terima kasih, Pak."
"Lampiran tujuh sudah ditandatangani direksi kami tadi malam. Saya kirim salinannya ke Bu Maya." Ia melirik Aditya, yang berdiri tegak di sisi Aurel tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu kembali pada Aurel. "Satu hal lagi. Pak Kevin banyak bertanya soal Anda di rapat kemarin."
Aurel menjaga wajahnya tetap datar. "Bertanya apa, Pak?"
"Latar belakang Anda. Pekerjaan Anda sebelum menikah. Saya jawab bahwa saya menilai orang dari hasil kerjanya." Pak Hardi mengangguk kecil. "Itu jawaban yang tidak ia sukai."
Ia pergi sebelum Aurel sempat membalas. Aditya memandang punggungnya sampai hilang di balik tenda.
"Kamu tidak berkomentar," bisik Aurel.
"Itu bagian dari Pasal Tambahan." Aditya bersuara datar. "Nomor satu. Tanya dulu."
"Kamu mau tanya apa?"
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Berarti selesai."
Peletakan batu pertama dilakukan sepuluh menit kemudian. Aurel mengundang yang tertua di antara keenam tukang itu, naik ke tengah tanah galian dengan sendok semen di tangan, sementara Aditya berdiri di sisi satunya. Tukang bata tua itu menaruh bata pertama dengan tangan yang tidak gemetar sama sekali, menepuknya dua kali, dan menoleh kepada Aurel dengan senyum ompong yang tidak ada hubungannya dengan kamera.
"Sudah, Nduk. Sekarang tinggal dijaga."
Kata terakhir itu mendarat di dada Aurel seperti benda hangat.
Dari sisi lain galian, Aditya melihat bagaimana perempuan itu menyeka matanya dengan lengan gaun lalu tertawa pada Karina yang bersorak. Ia sudah menyiapkan kalimat sejak lima hari lalu, tanpa tabel dan tanpa kolom probabilitas. Malam ini, katanya dalam hati. Di balkon vila. Dengan lampu terang dan kepala jernih.
"Bu Aurel."
Suara itu datang dari belakang, ramah, tenang, dan terlalu rapi.
Bukan "Mbak Aurel" seperti dulu di kantor Aditya. Sejak pintu folder ditutup di depannya, Kevin memilih sebutan yang lebih resmi, dan jaraknya terdengar sopan sekali.
Seorang laki-laki berjas krem berdiri di tepi kerumunan, bertepuk tangan paling lambat di antara semua orang yang ada di sana. Senyumnya sempurna. Matanya mengikuti tas di bahu Aurel, tempat sudut sampul biru tua mengintip dari resleting yang tidak tertutup rapat.
"Pidato yang indah," kata Kevin. "Boleh saya traktir Anda kopi di tenda sebelah?"