Sinar matahari pagi menembus kaca jendela besar di ruangan penthouse. Jam dinding baru menunjukkan pukul tujuh tepat.
Aurel mengucek matanya sambil menguap lebar.
"Hah... ternyata bangun pagi juga terasa menyenangkan."
Ia duduk di tepi ranjang, lalu melirik jam sekali lagi.
"Syukurlah, belum dimarahi si 'manusia kulkas' itu."
Ia terkekeh sendiri mengingat sifat Aditya yang sangat disiplin dan tegas. Hari ini jadwal syutingnya baru dimulai siang, berarti ia punya banyak waktu luang untuk beraktivitas sesuka hati.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Aurel mengenakan kaus putih longgar dipadukan celana training berwarna abu-abu. Rambutnya dikuncir tinggi rapi, lalu ia mengambil celemek bermotif bunga yang dibawanya dari rumah orang tuanya.
"Yuk, masak pagi ini..."
Begitu turun ke lantai bawah, aroma bawang goreng yang harum langsung menyambut hidungnya. Di ruang dapur, terlihat seorang asisten rumah tangga berusia sekitar empat puluh tahun sedang sibuk mengiris wortel dengan teliti.
"Selamat pagi," sapa Aurel ramah.
Wanita itu buru-buru menoleh dan berdiri sedikit tegak.
"Eh, selamat pagi, Nona."
Aurel tersenyum lebar.
"Panggil saja Aurel, nggak usah pakai sebutan Nona."
Wanita itu tampak panik mendengarnya.
"Aduh, nggak boleh begitu, Nona. Nanti Tuan Aditya marah kalau tahu."
Aurel tertawa kecil.
"Lho, dia kan bukan kamera pengintai, masa bisa tahu segala hal."
Wanita itu pun ikut tertawa gugup.
"Ngomong-ngomong, nama saya Sari."
"Mbak Sari..." Aurel mendekat ke meja dapur. "Hari ini saya ikut bantu masak ya."
Pisau yang sedang dipegang Mbak Sari nyaris terlepas dari genggamannya.
"Hah? Nona mau ikut masak?"
"Iya, ikut masak."
"Lho... Nona bisa masak?"
Aurel pura-pura memasang wajah cemberut.
"Emang mukaku kelihatan cuma bisa berpose dan berfoto saja?"
"Bukan begitu maksud saya..."
"Mama sudah mengajari saya masak sejak masih kecil kok," jawab Aurel yakin.
"Benarkah?"
"Iya dong."
Aurel langsung mengambil talenan dan pisau, lalu mulai mengiris bawang dengan gerakan yang lincah dan terampil.
"Kita mau masak apa hari ini?"
"Nasi goreng kampung dan ayam lada hitam."
"Wah, kebetulan sekali! Saya jago membuat nasi goreng lho."
Beberapa menit kemudian, suasana dapur yang biasanya sunyi mulai terasa lebih ramai.
"Mbak, tolong ambilkan garamnya ya?"
"Di sebelah kanan atas, Nona."
"Yang ini bukan?"
"Itu gula pasir, Nona."
"Ya ampun, hampir salah pakai..."
Keduanya pun tertawa bersama.
Tak lama kemudian, seorang pegawai laki-laki masuk membawa keranjang berisi sayuran segar. Ia tertegun dan melongo melihat pemandangan di depannya.
"Lho... Nona sedang masak?"
Aurel melambaikan spatula dengan santai.
"Pagi, Pak."
Mbak Sari ikut tersenyum.
"Beliau ternyata jago masak lho."
Pegawai itu mengangguk kagum.
"Saya kira artis dan model terkenal nggak pernah mau masuk ke dapur."
Aurel langsung menunjuk ke arahnya sambil tertawa.
"Itu cuma mitos! Bahkan mie instan saja saya masak pakai telur biar lebih enak."
Semua orang yang ada di situ pun tertawa lepas.
Suasana semakin meriah saat Pak Budi, sopir keluarga Mahendra, ikut mampir ke dapur.
"Ada apa ini? Kok suasananya riuh dan tertawa semua?" tanyanya penasaran.
Mbak Sari menjawab sambil terus mengaduk kuah sup.
"Nona sedang membantu memasak, Pak."
Pak Budi melongo tak percaya.
"Wah, benar juga?"
Aurel langsung menyodorkan sendok berisi sedikit nasi goreng yang baru matang.
"Coba rasakan dulu, Pak."
Pak Budi mencicipinya perlahan, lalu matanya langsung membesar takjub.
"Enak sekali!"
"Benarkah? Tidak bohong kan?"
"Asli, rasanya sangat lezat."
Aurel langsung mengangkat kedua tangannya penuh semangat.
"YES! Berhasil juga!"
Mbak Sari tertawa melihat tingkahnya.
"Nona ini memang lucu sekali."
"Lah memang sudah dari sananya begini," jawab Aurel santai.
Tak lama kemudian, Aurel membuka lemari pendingin dan mengamati isinya.
"Mbak..."
"Iya, Nona?"
"Stok makanan di rumah ini banyak sekali ya."
"Semua itu pesanan rutin dari Tuan Aditya."
"Lalu dia biasanya makan apa saja?"
Mbak Sari berpikir sejenak.
"Paling sering hanya salad sayur, d**a ayam rebus, kopi hitam, dan bubur gandum."
Aurel langsung memasang wajah sedih dan prihatin.
"Wah, hidupnya kok terasa seperti menyiksa diri sendiri ya."
Pak Budi sampai tertawa terbahak-bahak mendengar komentarnya.
"Nona, hati-hati berbicara begitu. Nanti didengar Tuan."
"Kenapa takut?"
"Bisa saja dia lewat dan mendengar."
Aurel mengangkat bahu santai.
"Ya biarkan saja. Kalau saya jadi dia, setiap hari makan enak saja. Hari Senin sampai Kamis makan masakan rumah, Jumat wajib makan sate, Sabtu bakso, Minggu rendang."
Mbak Sari tertawa sampai memegang perutnya.
"Ya ampun, Nona ini memang suka bercanda."
"Saya bicara serius lho."
"Saya setuju saja kalau begitu," timpal Pak Budi.
"Nah, kan ada yang sependapat."
Sejak pagi itu, suasana dapur di penthouse berubah total. Biasanya hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring, kini dipenuhi suara obrolan dan tawa. Mereka memasak sambil mengobrol, sesekali saling mengejek, dan saling membantu menyelesaikan pekerjaan.
Setelah semua masakan selesai disajikan, Aurel mengeluarkan beberapa bungkus keripik dari tasnya.
"Mari, ini ada cemilan untuk teman-teman."
Mbak Sari tampak bingung.
"Lho, buat kami semua?"
"Iya dong. Kerja sambil ngemil biar semangat."
Pak Budi langsung duduk dengan senang hati.
"Wah, boleh juga ini."
Tak lama kemudian, dua orang pegawai lain juga ikut bergabung. Mereka duduk melingkar di meja dapur dengan santai.
"Ngomong-ngomong, saya sedang menonton drama Korea yang bagus banget," buka Aurel memulai obrolan.
"Judulnya apa, Nona?"
"Love Beyond Time."
Mbak Sari langsung bersemangat.
"Wah, saya juga sedang menonton itu! Seru sekali ceritanya, dan pemeran utamanya sangat tampan."
Pak Budi pura-pura terbatuk keras.
"Kalau saya mah lebih suka menonton pertandingan sepak bola."
Aurel tertawa melihat reaksinya.
"Wah, beda selera sekali ya, Pak."
Semua orang kembali tertawa riang. Obrolan pun berlanjut membahas berbagai hal, mulai dari makanan, tempat wisata, hingga kebiasaan sehari-hari.
Hingga akhirnya, Pak Budi bertanya dengan nada penasaran.
"Nona..."
"Iya, Pak?"
"Kalau boleh tahu, apakah tidak terasa lelah menjadi seorang artis dan model terkenal?"
Aurel tersenyum tipis, lalu menjawab jujur.
"Tentu saja capek. Sangat capek. Kadang dalam sehari hanya bisa tidur sekitar tiga jam saja."
"Wah, sesibuk itu?"
"Iya. Belum lagi kalau sedikit saja ada kesalahan, nama saya langsung menjadi bahan berita dan omongan banyak orang."
Mbak Sari mengangguk pelan mengerti.
"Pasti terasa sangat berat ya."
Aurel mengangguk setuju.
"Tapi pekerjaan apa pun pasti ada lelahnya. Makanya, saat sedang di rumah dan merasa aman, saya ingin bisa mengobrol dan bersikap seperti orang biasa saja."
Suasana mendadak menjadi hening sejenak. Para pegawai itu baru sadar bahwa model terkenal yang sering muncul di layar kaca itu ternyata sangat sederhana, tidak berpura-pura, tidak sombong, bahkan rela membantu pekerjaan rumah tangga.
Saat Aurel hendak membawa piring kotor ke tempat cuci, Mbak Sari langsung mencegahnya.
"Eh, jangan, Nona. Biar saya saja yang mengerjakannya."
Aurel menggeleng tegas.
"Sudah makan, ya harus mencuci piringnya sendiri dong."
Pak Budi tertawa melihatnya.
"Kalau begitu, Tuan Aditya harus belajar banyak dari Nona ya."
Baru saja kalimat itu selesai terucap, terdengar suara pintu lift terbuka.
Ting...
Semua orang langsung menoleh secara serentak. Aditya keluar dari lift dengan mengenakan jas hitam rapi dan membawa tas kerja di tangannya.
Suasana yang tadinya ramai dan riuh mendadak berubah menjadi hening seketika. Pak Budi langsung berdiri tegak, sedangkan Mbak Sari buru-buru membereskan meja dengan cepat.
Aurel melihat reaksi mereka, lalu berbisik pelan.
"Kenapa jadi tegang begitu?"
Mbak Sari menjawab dengan suara lirih.
"Tuan Aditya baru pulang..."
Aurel pun menoleh ke arah pria itu. Aditya berdiri beberapa meter dari dapur, lalu memandang sekeliling ruangan. Matanya melihat mangkuk-mangkuk bekas makan, bungkus keripik yang terbuka, cangkir teh, serta para pegawainya yang sedang berkumpul.
Aurel melambaikan tangan dengan santai.
"Eh, sudah pulang kerja?"
Aditya mengernyitkan dahi sedikit.
"Ada acara khusus pagi ini?"
"Nggak ada apa-apa," jawab Aurel dengan nada polos. "Cuma ngobrol santai saja."
Pak Budi langsung menunduk hormat.
"Maaf, Tuan, kami sedang beristirahat sebentar..."
Namun Aditya hanya diam. Tatapannya beralih melihat wajah para pegawainya, dan ia menyadari satu hal yang terasa aneh. Mereka semua terlihat sedang tersenyum — hal yang hampir tidak pernah ia lihat selama tinggal di penthouse itu.
Saat semua hendak kembali ke pekerjaan masing-masing, Mbak Sari tanpa sadar berbisik lirih kepada Pak Budi, tapi suaranya cukup terdengar jelas.
"Pak..."
"Iya?"
"Rumah ini baru terasa seperti rumah yang sesungguhnya sejak Nona Aurel datang ke sini."
Kalimat itu sampai terdengar jelas oleh Aditya yang masih berdiri di ambang pintu dapur. Langkahnya terhenti seketika. Matanya tanpa sadar beralih menatap Aurel yang sedang tertawa sambil memarahi Pak Budi karena diam-diam menghabiskan keripik yang tersisa.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aditya menyadari satu hal penting. Sejak kehadiran wanita itu, penthouse yang selama ini hanya dipenuhi keheningan dan kesunyian kini dipenuhi suara tawa. Dan entah mengapa, suasana itu tidak lagi terasa mengganggu. Malah... ada rasa hangat yang perlahan mulai mengisi ruangan yang selama bertahun-tahun terasa begitu dingin dan kosong.