Aurel membuka halaman baru di buku catatannya, bukan halaman paling belakang, dan menulis tiga huruf besar di bagian atas: PILIHAN.
"Kamu kayak mau rapat dewan," kata Aditya dari seberang meja makan.
"Ini memang rapat dewan. Dewan dua orang." Aurel mengetuk kertas dengan pulpen emasnya. "Mbak Sari, boleh minta tolong jangan bawa telur dulu? Nanti kami lupa makan."
"Siap, Nona." Mbak Sari mundur ke dapur dengan senyum yang tidak mau ia sembunyikan.
Pagi itu Aditya sudah rapi dengan kemeja putih dan jas yang tersampir di sandaran kursi. Kulitnya sudah kembali berwarna, dan batuknya tinggal satu-dua kali. Dokter memberi izin masuk kantor sejak kemarin, dengan syarat tidak lembur. Syarat itu ditulis Aurel dua kali di kalendernya.
"Pilihan satu," kata Aurel. "Kevin dikeluarkan dari proyek."
"Tidak bisa," jawab Aditya cepat, lalu berhenti sendiri. "Maksudku, itu tidak realistis. Dia calon mitra investasi tambahan. Kalau aku menyingkirkannya tanpa alasan, Arvanta akan bertanya, dewan akan bertanya, dan dia akan tahu kita takut."
"Setuju. Pilihan dua. Kevin tetap di proyek, tapi apa yang dia lihat kita atur."
"Maya bisa membatasi akses ke dokumen. Ringkasan, bukan berkas mentah. Rapat desain tetap ia hadiri, tapi kontrak pasok, laporan biaya, dan jadwal pribadi tidak lewat dia."
"Jadwal pribadi?"
"Jadwal kita, Rel. Tempat kita pergi, kapan." Aditya menatap piring. "Aku tidak mau dia tahu kamu di mana."
"Itu bukan melarang."
"Itu bukan melarang," ulang Aditya, mengakui. "Aku cuma tidak memberinya peta."
Aurel mencatatnya. Rapi, satu butir, satu garis bawah. "Pilihan tiga. Kita beri tahu semua orang yang perlu tahu, supaya tidak ada yang kebobolan."
"Siapa yang perlu tahu?"
"Karina sudah tahu sebagian. Maya. Rian." Ia berhenti. "Mami."
"Mama?" Alis Aditya naik. "Kalau Mama tahu kita punya rahasia yang bisa bocor..."
"Mami tidak akan marah. Mami akan bertanya ribuan hal sambil minum teh." Aurel menutup pulpen. "Dan kita belum siap menjawab satu pun."
Hening. Sendok bergerak di gelas teh.
"Pilihan dua," kata Aditya.
"Pilihan dua. Dengan satu tambahan." Aurel menarik napas. "Map hitam di laci ruang kerja. Dokumen kontraknya. Aku mau itu pindah ke brankas kantor."
"Aku sudah pikir begitu dari semalam." Aditya hampir tersenyum. "Aku menunggu kamu yang bilang."
"Kenapa menunggu?"
"Karena itu kontrak kita berdua. Bukan cuma kontrakku."
Aurel menatapnya lama, lalu menulis kata terakhir di bawah daftar. Setuju, berdua.
Map hitam itu masih di laci ruang kerja ketika mereka membukanya sebelum berangkat. Aurel belum melihat isinya sejak hari pertama ia menandatangani. Kertasnya tebal dan dingin, dan ia membaca sekilas pasal yang tadi tidak ingin ia baca: Pada akhir masa satu tahun, para pihak bercerai dan berpisah jalan.
Aditya berdiri di sampingnya. Tidak menyentuh kertas itu.
"Kamu mau membacanya semua?" tanyanya.
"Tidak." Aurel menutup map. "Aku cuma ingin tahu bentuknya. Ternyata cuma kertas."
"Cuma kertas," ulang Aditya. Suaranya sama sekali tidak yakin.
Rian menerima map itu di pintu dengan dua tangan, seperti menerima barang pecah belah.
---
Kantor Mahendra Group pukul sepuluh pagi terasa seperti tempat yang pernah ia tinggali di kehidupan lain. Lift pribadi, karpet abu, resepsionis yang menyapa dengan "Selamat pagi, Bu Aurel" dan senyum yang tulus. Aditya menghilang ke ruangannya setelah menyentuh bahunya sebentar, dan Aurel langsung ke ruang rapat kecil di lantai dua puluh tiga, tempat Maya dan Karina sudah menunggu dengan kopi dan tumpukan kertas.
"Mbak Aurel," kata Maya, berdiri. "Akses folder sudah saya tutup. Kevin hanya bisa lihat folder ringkasan. Rian sedang mengantar map hitam ke brankas bersama Pak Aditya."
"Terima kasih, May."
"Dia juga tidak tahu saya yang menutupnya." Maya tersenyum tipis. "Sistemnya hanya menampilkan 'pembaruan kebijakan'."
"Maya, kamu licik," kata Karina dengan kagum.
"Saya sekretaris."
Mereka bertiga mengerjakan materi kampanye pra-peluncuran resor sampai sore. Karina menggambar gerbang masuk dengan pensil lunak, lengkung gapura dari batu bata merah yang menyatu dengan pepohonan tua di lahan. Maya menyusun jadwal unggahan, tanggal, jam, dan nama kreator. Aurel menulis keterangan foto dan menyempurnakan gagasan lamanya, titik foto di setiap sudut resor, tempat tamu bisa berdiri dan merasa bahwa mereka datang ke tempat yang punya cerita.
"Kenapa tidak kita mulai dari tukang bata?" usul Aurel, mengetuk gambar gapura. "Orang pasti penasaran siapa yang membuat bata merah ini. Kita buat satu seri pendek, enam foto, enam orang, nama mereka dan asal desanya."
Karina menatap Maya. "Kamu dengar itu?"
"Saya mencatat."
"Rel, itu bagus." Karina mulai menggambar tukang bata di pinggir kertas. "Wilhelmina akan suka. Dia selalu bilang hotel yang bagus ingat siapa yang membangunnya."
"Mami bilang begitu?"
"Dia bilang begitu padaku waktu aku masih kuliah." Karina tertawa pendek. "Aku pikir dia cuma pura-pura peduli. Ternyata dia serius."
Pukul tujuh malam mereka belum selesai. Pukul sembilan lampu lorong dimatikan setengah, dan ketiganya masih mengerjakan jadwal unggahan dengan kepala berat.
Pintu ruang rapat diketuk dua kali, pelan.
"Boleh masuk?"
Aditya berdiri di ambang pintu dengan dua kantong kertas besar dari restoran langganan Mbak Sari. Jasnya sudah dilepas. Dasinya miring.
"Ini bukan lembur," katanya cepat, sebelum siapa pun bicara. "Aku pulang jam enam tadi, mandi, makan, lalu kembali. Rian yang menyetir."
"Dua jam?" tanya Aurel.
"Dua jam di rumah. Satu jam di sini." Ia menaruh kantong itu di meja. "Nasi goreng tanpa pedas untuk aku, dua porsi pedas untuk Rel dan Karina, yang biasa untuk Maya. Aku tanya Rian tadi, jangan sampai salah."
Maya, yang sedang mengetik, berhenti dan menatap kantong itu. "Pak, saya tidak pernah bilang suka yang biasa."
"Kamu pernah. Waktu rapat Cikarang."
Maya terdiam. Untuk sesaat, wajahnya yang selalu rapi berubah lembut.
Mereka makan bersama di meja rapat, di antara gambar gapura dan jadwal unggahan, dan Aditya duduk di ujung tanpa berkomentar tentang apa pun, kecuali satu pertanyaan.
"Enam foto tukang bata itu, siapa yang menawarkan ide?"
"Aku," kata Aurel.
"Bagus." Ia mengatakannya singkat, tanpa menambahkan apa pun, dan melanjutkan makannya. Aurel merasakan pipinya menghangat, dan Karina tersenyum ke piringnya sendiri.
Maya membuka ponselnya ketika kotak makan sudah dikumpulkan. Ia membaca layar sebentar, lalu menutupnya dan memandang Aurel dengan raut yang tidak lagi lembut.
"Mbak Aurel. Ada permintaan masuk ke folder desain, lima menit lalu."
"Dari siapa?"
"Pak Kevin." Maya menelan ludah. "Ia menanyakan kenapa aksesnya berubah, dan apakah ia bisa bicara langsung dengan Mbak."
Tidak ada yang bicara. Karina meletakkan pensilnya. Di ujung meja Aditya menggenggam sendok sampai ruas jarinya memutih, lalu membukanya perlahan satu jari demi satu jari.
"Aku tidak akan menjawab," katanya. "Itu pesan untukmu."
"Aku tahu." Aurel berpikir sebentar, dan jawabannya datang dengan tenang, seperti latihan yang akhirnya dipakai. "May, balas lewat email, besok pagi, bukan malam ini. Bilang itu pembaruan kebijakan standar untuk semua mitra, dan siapa pun yang punya pertanyaan bisa mengajukan lewat Maya. Tanpa nama saya."
"Dan kalau dia tetap minta bicara langsung?"
"Maka kita lihat seberapa sabar dia."
Aditya memandangnya dengan sesuatu yang bukan kekhawatiran, dan Karina, yang melihat itu, buru-buru menunduk ke gambarnya.