Pulpen emas itu ditemukan Aurel pagi hari di bawah kursi, di sebelah kulit jeruk bali yang entah bagaimana ikut menggelinding ke sana.
Ia memungutnya, membersihkan ujungnya dengan lengan baju, dan memandang buku catatan biru tua di pangkuannya. Halaman kosong yang tadi malam ia tatap setengah jam sudah dibalik ke halaman terakhir, paling belakang, tempat tulisannya paling kecil dan paling rapat. Di sana ada daftar belanja yang ia coret, hitungan penghematan biaya set Lunara, dan satu kalimat yang ia tulis di Lembang: Rahasia pertama.
Di bawahnya, kosong.
Aditya sudah mandi dan duduk di ruang tengah dengan tablet, dalam batas dua jam yang diawasi Maya lewat pesan. Dari halaman belakang terdengar Pak Darto menyirami anggrek putih pemberian Wilhelmina. Mbak Sari lewat dengan setumpuk handuk, berhenti, dan melihat Aurel duduk di tangga dengan pulpen menggantung.
"Nona mau teh?"
"Boleh, Mbak. Tapi nanti. Aku mau menulis sebentar."
"Penting, Nona?"
"Sepertinya iya."
Mbak Sari mengangguk dengan hormat yang berlebihan dan pergi tanpa suara.
Aurel menarik napas, dan pulpennya turun.
Kontrak berakhir: tepat satu tahun sejak hari pertama. Sisa 265 hari.
Ia menatap angka itu. Dua ratus enam puluh lima. Dulu angka itu terdengar seperti kebebasan.
Nilai kontrak: 5 M.
Ia berhenti, lalu menambahkan di bawahnya, lebih pelan: sudah masuk, belum kusentuh.
Aturan 1: jangan jatuh cinta.
Pulpennya melayang di atas kertas. Ia mendengar suara jam, jauh di ruang makan, dan suara Aditya mengetik dengan dua jari, dan suara lemari es dibuka dan ditutup oleh seseorang yang tidak tahu bahwa seluruh hidup Aurel sedang menumpuk di satu halaman.
SUDAH KULANGGAR.
Huruf besar. Ia menebalkannya dua kali, sampai kertas tipis itu hampir tembus.
Lalu satu baris lagi, di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil dan lebih jujur: Aku harus cerita ke Mama dan Papa. Setelah peletakan batu pertama Resor Jogja. Sebelum itu aku belum berani.
Ia membaca seluruh halaman dari atas ke bawah. Itu bukan pelajaran, bukan kutipan bijak, bukan daftar periksa. Itu satu-satunya halaman dalam buku ini yang tidak akan ia tunjukkan kepada Maya, Wilhelmina, atau siapa pun. Ia menutup buku itu. Tangannya sedikit dingin.
"Rel?"
Aurel tersentak. Aditya berdiri di bawah tangga dengan tablet di tangan.
"Dua jam sudah lewat?" tanyanya cepat.
"Satu jam empat puluh." Aditya memiringkan kepala. "Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa. Nulis."
"Nulis apa?"
"Rahasia."
"Oh." Aditya mengangguk dan tidak mendekat. "Rahasia yang mana? Yang pertama atau yang kedua?"
"Yang pertama."
"Ya sudah."
"Kamu nggak mau tanya lebih?"
"Aku sudah janji nggak akan baca." Ia mengangkat tablet itu seperti piagam. "Aku cuma datang bilang Karina di bawah. Dia bawa gambar dan buah."
---
Karina masuk dengan setumpuk map di satu lengan dan keranjang buah di lengan lainnya, rambutnya diikat asal, dan wajahnya segera berubah galak begitu melihat Aditya.
"Dit. Kenapa kamu pegang tablet?"
"Dua jam. Belum habis."
"Itu tablet, bukan kopi. Kamu sakit." Karina menaruh keranjang di meja, menarik tablet itu dari tangan Aditya, dan menyerahkannya kepada Aurel tanpa melihat. "Simpan, Rel. Kunci kalau perlu."
"Siap," kata Aurel, patuh.
"Aku bukan anak kecil," protes Aditya.
"Terakhir kamu sakit, kamu menandatangani kontrak di tempat tidur dan mengirim email ke seluruh direksi. Pukul tiga pagi. Kamu sakit gigi."
"Itu urusan penting."
"Kamu menulis 'salam hangat' di akhir email ke bank."
Aurel menutup mulut dengan buku catatannya, dan kali ini ia tidak berusaha menyembunyikan tawa.
Mereka berbincang sebentar di ruang tengah, lalu Aditya naik karena Mbak Sari mengancam akan menelepon dokter. Karina menunggu sampai langkahnya hilang di lorong atas, kemudian mengajak Aurel ke halaman belakang, ke bangku di bawah pohon.
Ia berhenti tertawa. Aurel baru sadar betapa jarang ia melihat Karina tanpa senyum.
"Rel, aku mau bilang sesuatu. Aku bingung apakah ini penting atau cuma aku yang terlalu sensitif."
"Bilang saja."
"Dua hari lalu Kevin menelepon aku soal desain resor. Biasa, urusan kerja." Karina memutar-mutar gelang di pergelangannya. "Menjelang akhir, dia bertanya, 'Rin, pernikahan Aditya itu sungguhan, kan?'"
Aurel tidak bergerak. Seekor kupu-kupu hinggap di rumpun melati, lalu terbang lagi.
"Kamu jawab apa?"
"Aku jawab 'tentu saja'. Aku bilang 'kenapa tanya begitu?' dan dia tertawa. Katanya cuma penasaran, cepat sekali, tidak ada kabar apa-apa sebelumnya." Karina menarik napas. "Tapi Rel, aku kenal Kevin lama. Dia tidak pernah bertanya karena mau jawabannya. Dia bertanya karena mau lihat wajah orang yang menjawab."
"Kamu tidak di depan wajahnya. Itu telepon."
"Justru itu. Suaraku, Rel. Dia mendengar suaraku."
Aurel diam beberapa saat. Dadanya bergerak naik turun pelan. Di balik jantung yang mulai berdegup lebih cepat, bagian dirinya yang sudah dilatih bernegosiasi bekerja dengan tenang: tanya dulu, jangan bereaksi, kumpulkan data.
"Ada lagi?"
Karina menggigit bibir. "Satu. Dia menyebut buku catatan. Katanya, 'Aurel itu selalu bawa buku biru tua ke mana-mana, ya. Catatan yang rajin.'"
Aurel menunduk. Buku itu, yang sedang ia peluk di dadanya sejak tadi, terasa mendadak jauh lebih berat daripada sebelumnya.
"Itu cuma basa-basi," katanya.
"Mungkin." Karina tidak tersenyum. "Aku harap begitu."
"Rin." Aurel mengangkat kepala. "Jangan bilang apa-apa ke Mami dulu. Biar aku yang bicara dengan Aditya, malam ini. Kami punya aturan, bilang dalam sehari, jangan diam."
"Pasal Tambahan itu?"
"Dia cerita?"
"Dia menyebutnya empat kali selama makan siang minggu lalu. Aku sampai ingin mencatat." Karina mencoba tersenyum dan gagal. "Dan bukunya?"
"Bukunya tidak keluar dari tasku." Aurel memasukkan buku itu ke dalam tas dan menutup resletingnya, bunyi kecil yang terdengar terlalu keras di halaman yang sunyi. "Tidak ke mana pun. Tidak sampai selesai."
---
Malam itu Aurel mengetuk pintu kamar Aditya dua kali, pelan.
"Boleh masuk?"
"Boleh."
Aditya duduk bersandar di tempat tidur dengan kaus tipis dan buku di pangkuan, buku sungguhan dengan halaman kertas, bukan tablet. Judulnya tentang strategi bulu tangkis. Aurel menaruh teh jahe di meja dan memilih kursi, bukan tepi kasur, supaya jaraknya jelas.
"Pasal Tiga," katanya.
Aditya menutup bukunya. "Aku dengar."
Ia menceritakan semuanya dengan urutan yang rapi, seperti laporan: telepon Kevin pada Karina, pertanyaan "sungguhan, kan", suara Karina yang didengar tanpa wajahnya, dan kalimat tentang buku biru tua. Ia tidak menyebut halaman paling belakang. Tidak ada yang menyebut itu, dan tidak ada yang bertanya.
Rahang Aditya mengeras sedikit di bagian akhir. Aurel melihatnya, dan melihat juga bagaimana laki-laki itu mengatupkan tangan di atas buku untuk menahan sesuatu.
"Aku mau marah," katanya akhirnya, dengan suara rendah.
"Silakan."
"Bukan padamu. Pada dia." Ia menarik napas. "Aku bilang sekarang, jadi masuk hitungan dua puluh empat jam. Dan aku tidak akan menelepon siapa pun malam ini. Aku tidak akan memutuskan apa-apa sendiri."
Aurel menggigit bibir bawahnya supaya tidak tersenyum. "Itu kalimat paling lucu yang pernah kudengar dari orang yang sedang marah."
"Aku sedang berlatih."
"Hasilnya bagus."
"Besok pagi," kata Aditya. "Kita susun bersama. Apa yang Kevin boleh tahu, apa yang tidak, dan siapa yang mengurus apa. Bukan aku sendiri."
"Bukan kamu sendiri."
Aurel berdiri. Di ambang pintu ia berhenti.
"Dit."
"Hm?"
"Kamu tidak tanya apa isi bukuku yang bisa dipakai dia."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena kamu belum bilang boleh." Aditya menatapnya lurus. "Dan kalau suatu hari kamu bilang boleh, aku mau kamu yang menyerahkannya, bukan aku yang meminta."
Aurel mengangguk, tidak bisa bicara, dan menutup pintu pelan-pelan dari luar.