"Rel."
Aurel menurunkan pulpen emasnya. Di pangkuannya, buku catatan biru tua terbuka di halaman kosong yang sudah setengah jam ia pandangi tanpa menulis sepatah kata pun.
Lampu tidur masih menyala kuning. Jam di dinding menunjukkan lewat pukul dua belas malam, dan suara itu datang dari tempat tidur, jelas, tidak serak, tidak lagi bergumam.
"Kamu bangun."
"Sejak setengah jam yang lalu." Aditya setengah duduk dengan punggung bersandar pada bantal. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya sudah bening seperti orang yang akhirnya menemukan tempat berpijak. "Kamu belum tidur."
"Aku disuruh jaga."
"Siapa yang menyuruh?"
"Diri sendiri."
"Itu atasan paling kejam yang pernah ada."
"Dan paling murah. Tidak minta gaji."
"Kamu nulis apa dari tadi?" Aditya melirik buku itu. "Setengah jam pulpen terangkat, tidak ada bunyi menulis."
"Bukan untuk dibaca."
"Aku tidak akan baca."
"Aku tahu. Makanya aku bawa ke sini." Aurel memeluk buku itu di dada. "Halaman ini kosong, kalau kamu mau tahu. Aku cuma tidak tahu kata pertamanya."
"Tentang apa?"
"Tentang hal yang belum punya nama."
Aditya memandangnya sebentar dan tidak bertanya lebih jauh. Pasal Tambahan nomor satu, pikir Aurel. Laki-laki ini sungguh sedang belajar.
Aurel menahan senyum, menutup bukunya, dan memeriksa termometer di meja dengan gerakan yang sudah hafal. Tiga puluh tujuh koma satu. Ia menunjukkan angkanya, dan Aditya mengangguk seperti menerima laporan penjualan.
"Aku boleh duduk di tepi tempat tidur?" tanya Aurel.
"Boleh."
Ia menarik kursi, lalu berpikir lagi, dan duduk di tepi kasur sejauh satu lengan dari kaki Aditya. Selimut menyekat mereka. Lampu kuning di meja memberi bayangan lembut di langit-langit.
"Kamu bilang boleh bicara," kata Aurel, "kalau kepalamu jernih."
"Sudah jernih."
"Seratus persen?"
"Sembilan puluh. Sepuluh persen lainnya masih sibuk mikirin laptop yang kamu taruh di rak paling tinggi."
"Bagus. Itu bukan untuk dibahas."
Aditya tertawa tanpa suara. Lalu tawa itu surut perlahan, dan ia memandang tangannya sendiri di atas selimut.
"Aku sudah menyusun kalimat ini sejak di dapur Lembang," katanya. "Tiga kali mau bilang. Tiga kali ada yang menyela. Petir, Dimas, demam."
"Tuhan jelas punya selera humor."
"Ini yang kupikir terakhir: kalau aku bilang sekarang, kamu akan bertanya apakah aku bicara karena demam atau karena jernih."
"Itu pertanyaan yang adil."
"Makanya aku tidak mau bilang semuanya." Ia mengangkat mata. "Aku mau bilang sebagian. Sebagian yang aku yakin."
Aurel tidak bergerak.
"Aku sudah berhenti menghitung hari kontrak, Rel."
Hening. Jam di dinding berdetak sekali, dua kali.
"Sejak kapan?" tanya Aurel, hampir tanpa suara.
"Aku tidak tahu. Mungkin sejak Jogja. Mungkin sejak kamu bilang 'boleh' di warung tenda. Aku baru sadar di mobil, waktu lenganku mati rasa dan aku tidak mau memindahkannya." Ia menelan ludah. "Sisanya... aku mau bilang dengan benar. Bukan di tempat tidur sakit, bukan sambil minum obat."
"Kapan?"
"Belum kutetapkan."
"Aditya."
"Tapi satu hal sudah pasti." Ia menarik napas dalam-dalam. "Jangan pergi dulu. Sebelum aku sembuh."
Kalimat itu keluar lebih kecil dari yang ia maksudkan, dan Aurel mendengar bagian yang tidak diucapkan di baliknya: jangan pergi, titik. Jangan pergi ke mana pun.
Dadanya terasa seperti ruangan yang tiba-tiba kedatangan banyak tamu sekaligus. Ia teringat ruang kerja Aditya di hari kontrak itu, aturan pertama yang dibacakan Aditya dengan wajah tanpa ekspresi: tidak boleh jatuh cinta. Ia dulu menjawab "mana mungkin" dan menganggapnya lelucon terbaik hari itu.
Ia bisa menjawab banyak hal. Ia bisa mengatakan bahwa kontrak mereka masih punya tanggal berakhir. Ia bisa membuat lelucon. Ia bisa menarik tangan Aditya dan memegangnya, dan mungkin itu yang paling benar, tetapi ia tidak melakukan itu karena ada satu hal yang ingin ia lakukan dengan benar lebih dulu.
"Boleh aku jawab satu kalimat?"
"Boleh."
"Aku nggak ke mana-mana."
Aditya memejamkan mata sebentar. Bahunya turun, sedikit, seperti orang yang baru meletakkan koper berat.
"Terima kasih," katanya.
"Tidur sekarang."
"Kamu juga."
"Aku tidur di kursi."
"Kamu punya kamar."
"Kamarku jauh. Jauh itu tetap jalan kaki."
Aditya tersenyum samar. "Itu kalimatmu. Dari malam kemarin."
"Aku daur ulang."
---
Aditya tidak tidur.
Dua puluh menit setelah napas Aurel di kursi menjadi teratur, ia masih menatap bayangan di langit-langit. Cahaya lampu tidur jatuh di rambut Aurel yang tergerai, di buku catatan yang miring di pangkuannya, dan di pulpen emas yang hampir menggelinding dari tangannya yang terkulai.
Aku harus menamainya, pikirnya.
Ia terbiasa menamai sesuatu sebelum memutuskan. Kerugian. Peluang. Risiko. Waktu Karina pindah ke Surabaya dulu, ia membuat tabel pro-kontra tiga halaman, lengkap dengan kolom probabilitas. Ia ingat betul kertasnya dan ingat bahwa ia merasa tenang setelah menyusunnya.
Kali ini ia tidak butuh tabel.
Itu yang membuatnya yakin.
Jatuh cinta, kata itu pelan di kepalanya, dan anehnya tidak terasa seperti kecelakaan. Terasa seperti kalimat yang sudah ia baca berkali-kali di margin dokumen lain, di rapat, di mobil, di pagi hari dengan kopi hitam, dan baru sekarang ia berani membaca keras-keras. Lucu. Aturan nomor satu, jangan jatuh cinta, adalah aturan yang ia tuliskan sendiri dengan tinta hitam dan percaya diri penuh.
Ia hampir tertawa. Tertahan, supaya Aurel tidak terbangun.
Ia mengingat warung tenda di Lembang, mi rebus yang mulai dingin, dan Aurel yang bertanya "Kamu cemburu?" dengan wajah menantang. Ia mengingat jawabannya sendiri, "Iya", dan betapa mudahnya kata itu keluar, seolah selama ini ia hanya menunggu ada yang bertanya.
Lalu ia memikirkan waktu. Besok? Tidak. Ia masih demam dan ia tahu bagaimana kata-kata terdengar di telinga orang yang baru dirawat semalaman: seperti pembayaran utang. Aurel akan menimbang apakah ia mengatakannya karena cinta atau karena berterima kasih, dan Aditya tidak mau Aurel menimbang apa pun.
Kalau begitu, nanti. Peletakan batu pertama Resor Jogja, di Jogja, lahan yang sama tempat ia pertama kali melihat Aurel bicara di depan investor dan memutuskan bahwa ia tidak punya hak memutuskan apa pun untuk perempuan itu. Sesudah semua pekerjaan itu selesai. Sesudah ia kembali berdiri tegak, dengan suhu normal, tanpa obat, dan tanpa hutang budi yang menggantung di antara mereka berdua.
Dan sebelum itu, ia akan bertanya dulu. Setiap hari. Seperti yang mereka tuliskan di halaman buku catatan biru tua.
Di kursi, Aurel bergerak dalam tidurnya dan bergumam sesuatu yang tidak jelas. Aditya menarik selimut yang merosot dari bahunya, pelan, tanpa menyentuh kulitnya.
"Selamat tidur, Rel," bisiknya.
Dari kursi, tanpa membuka mata, terdengar jawaban yang sama pelannya.
"Selamat tidur, Dit."
Aditya membeku.
"Kamu tertawa tadi," tambah Aurel. Suaranya mengantuk dan sama sekali tidak bersalah. "Aku nggak dengar apa-apa. Cuma bunyi orang tertawa sendirian jam satu malam."
"Aku batuk."
"Itu tawa. Aku mau tahu kamu menertawakan apa."
"Besok."
"Besok jangan pakai alasan petir."
Pulpen emas itu akhirnya menggelinding dari tangan Aurel dan jatuh ke karpet tanpa suara. Tak satu pun dari mereka memungutnya.