Yang pertama Aurel sadari adalah wangi melati, samar, mahal, dan tidak termasuk bau kamar orang sakit.
Yang kedua adalah selimut tipis yang bukan miliknya, sudah terpasang sampai bahu.
Yang ketiga adalah seorang perempuan bersanggul rapi berdiri di kaki sofa dengan tas tangan di lengan, memandangnya seperti menonton sesuatu yang sangat disukainya.
Aurel tersentak duduk. Buku catatan biru tua meluncur dari dadanya ke lantai.
"Mami!"
"Sst." Wilhelmina mengangkat satu jari ke bibir dan menunjuk tempat tidur dengan dagu. "Orangnya baru tidur."
Aurel menoleh. Aditya terlelap miring dengan satu lengan di atas bantal. Mulutnya sedikit terbuka, dan wajahnya, tanpa kerutan kerja, membuatnya tampak berumur dua puluh tahun.
"Maaf, Mi. Saya ketiduran. Katanya Mami datang siang, ini..."
"Ini memang siang." Wilhelmina memungut buku catatan itu, membalikkannya, membaca sampul sekilas, dan menyerahkannya kembali dengan wajah yang tidak membocorkan apa pun. "Mbak Sari bilang kamu tidak tidur sejak malam sebelum kemarin."
"Tidur kok, Mi. Di kursi."
"Itu bukan tidur. Itu menunggu." Wilhelmina menjentikkan dagu ke arah pintu. "Ayo ke dapur. Mami bawa sesuatu, dan Mami tidak mau bicara keras di kamar anak Mami."
---
Rantang bersusun tiga itu berisi sup ayam kampung dengan jamur, nasi tim lembut, dan potongan jeruk bali yang sudah dikupas bersih dari kulit putihnya. Aurel menatap isinya sementara Mbak Sari menyiapkan mangkuk dengan gerakan yang terlalu cekatan, seperti orang yang ingin cepat keluar dari ruangan.
"Tenang, Mbak Sari," kata Wilhelmina. "Mami tidak menggigit."
"Iya, Nyonya." Mbak Sari lenyap lewat pintu belakang.
Aurel menyalakan kompor kecil untuk menghangatkan sup. Tangannya agak gemetar, dan ia berharap Wilhelmina mengira itu karena kurang tidur.
"Dia mau makan?" tanya Wilhelmina, duduk di kursi tinggi dapur dengan punggung tegak seperti sedang menghadiri rapat yayasan.
"Kemarin makan bubur sampai habis. Dua mangkuk."
"Bubur apa?"
"Bubur ayam jahe. Resep Mama."
"Mama kamu." Wilhelmina mengulangi dua kata itu pelan, seperti mencicipi. "Mami pernah coba bikin bubur untuk Aditya waktu dia kecil, saat sakit gigi. Dia melempar mangkuknya ke dinding."
"Mi!"
"Betul. Umur tujuh tahun. Katanya buburnya terlalu 'lengket'." Wilhelmina tersenyum sangat kecil. "Dia anak yang tidak mau bilang sakit kalau tidak ditanya tiga kali. Dan baru mau minum obat kalau dihitung. Satu, dua, tiga."
"Saya tahu itu." Aurel membalik sendok di panci. "Semalam saya hitung. Dia pura-pura marah."
"Dia pura-pura marah," ulang Wilhelmina. "Dia tidak pura-pura marah kepada siapa pun, Aurel. Sudah bertahun-tahun."
Aurel diam. Sup mulai berasap tipis.
"Mi, boleh saya tanya?"
"Tanya saja."
"Mami tidak khawatir? Aditya jatuh seperti itu. Mami hanya datang jenguk, tidak panik."
"Mami panik kemarin, ketika Mbak Sari menelepon. Mami menaruh cangkir teh ke pangkuan sendiri." Wilhelmina memandang lurus pada Aurel. "Lalu Mbak Sari bilang siapa yang menelepon dokter, siapa yang mengambil alih jadwal, siapa yang tidur di kursi. Mami duduk lagi dan minum sisa tehnya."
"Saya tidak berbuat banyak."
"Kamu menghitung obat sampai pukul enam pagi, Nak."
Kata terakhir itu jatuh begitu saja di dapur seperti piring yang tidak dibanting. Aurel tidak langsung menyadarinya. Ketika ia menyadari, Wilhelmina sudah meraih mangkuk dan menyodorkannya.
"Tuangkan," katanya. "Jangan terlalu panas."
Aurel menuang. Tangannya masih gemetar, dan kali ini ia tidak peduli.
"Dia sudah menceritakan tentang Papanya?" tanya Wilhelmina tanpa menoleh.
"Sedikit. Pagi kemarin. Soal rapat dan ponselnya di loker."
Sendok teh di tangan Wilhelmina berhenti di tengah gerakan. Tidak lama, tapi cukup lama untuk diperhatikan.
"Berarti lebih banyak dari yang Mami dapat selama enam tahun," katanya, dengan suara yang lebih rendah daripada sebelumnya. "Dia pernah bicara soal itu kepada Mami satu kali. Dua kalimat. Sesudahnya dia menutup pintu ruang kerjanya."
"Mungkin karena Mami ibunya. Anak sering tidak bisa jujur kepada orang yang paling mereka takut buat sedih."
Wilhelmina memandangnya lama.
"Itu kalimat yang bagus," katanya. "Tulis di buku catatanmu."
"Sudah, Mi."
"Ah." Matanya bergerak ke buku biru yang terselip di bawah lengan Aurel. "Tentu saja sudah."
---
Mereka naik berdua dengan nampan. Aditya masih tidur, jadi Wilhelmina berdiri di ambang pintu sementara Aurel meletakkan mangkuk di meja samping dan memeriksa dahi laki-laki itu dengan punggung tangan.
Hangat. Tidak panas.
Ia merasakan tatapan di punggungnya, tetapi tidak menoleh.
"Aurel."
"Ya, Mi?"
"Mami senang kamu ada di sini." Suara Wilhelmina nyaris berupa bisikan. "Apa pun alasannya."
Aurel menegakkan badan. Kata terakhir itu terasa seperti benda kecil yang diletakkan di telapak tangannya dengan sengaja.
"Apa pun alasannya?" ulangnya, berhati-hati.
"Alasan seseorang ada di sebuah rumah banyak sekali, Nak. Ada yang karena kewajiban, ada yang karena kasihan, ada yang karena sudah terlanjur." Wilhelmina memandang anaknya yang tidur. "Mami tidak meminta kamu menyebutkan yang mana. Mami hanya mau kamu tahu, apa pun yang kamu pilih untuk disebut, Mami sudah melihat apa yang Mami lihat."
Napas Aurel menjadi sangat pelan. Ia ingin bertanya apa yang Wilhelmina lihat, tetapi pertanyaan itu terasa seperti membuka pintu yang seharusnya hanya ia ketuk dari luar.
"Terima kasih, Mi," katanya akhirnya.
"Untuk apa?"
"Untuk rantangnya."
"Ah, rantang." Wilhelmina menepuk tas tangannya dan, untuk sejenak, matanya berkilat geli. "Tentu. Rantang."
Ia berbalik menuju lift. Di ambang pintu, tanpa menoleh, ia menambahkan, "Jangan lupa jeruk balinya. Dia suka pura-pura tidak suka, tapi dia menghabiskannya."
Pintu lift menutup. Aurel berdiri sendirian di kamar dengan jantung yang berdetak terlalu kencang untuk percakapan tentang jeruk.
Dari tempat tidur terdengar suara serak, mata terpejam, dan senyum samar yang jelas sudah bangun entah sejak kapan.
"Mama aku bilang apa tadi?"
"Kamu menguping?"
"Cuma bagian jeruk."
Aurel menarik napas, mengambil piring jeruk bali, dan duduk di tepi kursi dekat tempat tidur dengan wajah pura-pura galak.
"Kamu sudah bangun sejak Mami masuk."
"Sejak wangi melatinya." Aditya membuka satu mata. "Tidak ada orang lain yang memakai parfum itu."
"Dan kamu diam saja?"
"Aku mau lihat seperti apa Mama kalau tidak tahu aku mendengar." Ia mengerjap, lalu menerima sepotong jeruk dari tangan Aurel tanpa protes, tepat seperti yang Wilhelmina ramalkan. "Dia memanggilmu Nak."
"Aku dengar."
"Dia tidak pernah memanggil siapa pun begitu. Tidak Karina, tidak pegawai yayasan yang sudah sepuluh tahun bekerja untuknya."
"Itu cuma kata."
"Bukan cuma." Aditya mengunyah pelan. "Itu artinya Mama menerimamu."
Aurel menunduk menatap piring. Jeruk bali itu pahit di ujung lidahnya, meski ia belum mencicipinya.
"Menerima yang mana?" tanyanya pelan.
"Maksudnya?"
"Menerima aku, atau menerima cerita yang kita buat bersama? Kisah lelang lukisan itu. Pernikahan yang katanya terjadi karena kita saling suka." Ia menelan ludah. "Aku tidak suka membohongi orang yang membawa rantang untukku, Dit."
Hening di kamar itu terasa berat, tapi bukan hening yang bermusuhan. Aditya meletakkan potongan jeruknya.
"Aku juga tidak."
"Tapi kita tetap melakukannya."
"Iya." Ia mengatakannya tanpa membela diri. "Dan aku tidak tahu bagaimana menghentikannya tanpa membuat Mama kehilangan sesuatu yang dia percaya."
"Apa yang dia percaya?"
"Bahwa aku tidak akan berakhir seperti Papa. Sendirian di ruang rapat."
Aurel memandangnya. Kali ini ia tidak menyodorkan pelukan atau genggaman atau kalimat penghibur. Ia mengambil sepotong jeruk untuk dirinya sendiri, memakannya, dan membuat wajah meringis.
"Pahit banget."
"Aku bilang apa."
"Kamu tidak bilang apa-apa."
"Aku pura-pura tidak suka. Makanya kuhabiskan."
Mereka berbagi sisa jeruk itu dalam diam, satu potong untuk satu orang, sampai piring kosong. Rian muncul di ambang pintu pukul tiga tepat dengan map hitam, dan Aurel menunjuk jam dinding dengan telunjuk lurus.
"Dua jam. Mulai sekarang."
"Siap, Bu Guru." Aditya menerima map itu dari Rian, tetapi matanya tetap pada Aurel. "Rel. Kalau nanti malam aku bangun dan kepalaku sudah jernih, boleh aku bicara?"
"Soal apa?"
"Kalimat yang belum selesai di Lembang."
Rian, di ambang pintu, membuka mulut, menutupnya lagi, lalu mundur satu langkah tanpa suara.
Aurel mengambil piring kosong dan berdiri. Ia tidak menjawab dulu, karena jawabannya terlalu cepat sampai ke mulut.
"Boleh," katanya. "Kalau jernih."