Kompres yang kelima menguap sebelum Aurel sempat memerasnya, dan itu artinya angka di termometer akhirnya mau turun.
"Tiga puluh delapan koma dua," bisik Mbak Sari, membaca layar kecil itu dengan wajah seperti sedang mendengar kabar kemenangan. "Nona, turun!"
"Turun satu koma enam."
"Alhamdulillah." Mbak Sari menyeka matanya dengan ujung lap. "Nona mau saya yang masak buburnya?"
"Aku saja, Mbak."
"Tapi Nona seharian belum makan..."
"Aku tahu." Aurel sudah menggulung lengan bajunya. "Tapi dia sudah tiga kali menolak bubur gandum yang Mbak buat. Aku mau coba cara Mama."
Dapur penthouse malam itu hangat dan berbau jahe. Aurel merebus ayam dengan sedikit bawang putih, menyuwirnya halus, mengaduk nasi sampai lembut, dan menaburkan bawang goreng yang ia taruh dengan hati-hati supaya tidak terlalu banyak. Mama selalu bilang bubur untuk orang sakit tidak boleh ramai. Cukup hangat, cukup lunak, dan cukup membuat orang merasa ada yang peduli.
Ia membawanya naik dengan nampan.
"Boleh masuk?"
"Boleh."
Aditya setengah duduk di tempat tidur dengan rambut lembap dan mata yang masih agak merah. Ia melihat mangkuk di nampan, lalu melihat Aurel.
"Itu bukan bubur gandum."
"Bukan."
"Aku tidak..."
"Satu sendok saja. Kalau kamu bilang tidak enak, aku bawa turun dan tidak akan membahasnya lagi."
Aditya mengambil sendok. Mencicipi. Berhenti.
Sendok kedua datang lebih cepat dari yang pertama. Sendok ketiga, keempat, kelima. Aurel duduk di kursi dan memandang tanpa berkomentar, karena ia tahu laki-laki ini akan berhenti kalau diperhatikan.
Mangkuk itu kosong sebelum Aurel sempat menghitung.
"Enak?" tanyanya akhirnya.
"Hm."
"Hm yang mana?"
"Hm yang minta tambah."
Aurel tertawa pelan, mengambil mangkuk itu, dan menyembunyikan wajahnya di balik pintu supaya tawanya tidak terlalu jelas.
Di dapur, Mbak Sari dan Pak Budi berdiri terlalu rapat di dekat pintu, dengan pura-pura sibuk yang buruk. Mbak Sari menyambar mangkuk itu, melihat isinya, lalu menatap Aurel dengan mata berkaca-kaca.
"Habis, Nona?"
"Habis. Bersih."
"Sejak saya di sini, Tuan tidak pernah menghabiskan bubur tanpa dibujuk."
"Aku tidak membujuk. Aku cuma bilang satu sendok."
"Resepnya, Nona?" tanya Pak Budi, mencondongkan badan seperti sedang meminta bocoran skor.
"Resep Mama."
"Mama Nona harus dapat penghargaan."
"Nanti kusampaikan." Aurel menyandarkan punggung ke meja dapur. Kakinya baru terasa pegal. "Tapi tolong, jangan ada yang bilang ke Mama-ku bahwa menantunya sakit. Beliau pasti menyerbu."
"Saya tidak akan bilang," janji Pak Budi, dengan raut orang yang sudah menyusun kalimatnya.
---
Tengah malam, Aurel memindahkan kursi berlengan dari sudut kamar ke sisi tempat tidur dan menarik selimut tipis ke pangkuannya.
"Boleh aku tidur di kursi malam ini?" katanya tadi sebelum lampu dimatikan. "Supaya bisa ganti kompres."
"Kamarmu sendiri dekat."
"Dekat itu tetap jalan kaki."
"Boleh," kata Aditya akhirnya, nyaris tidak terdengar.
Sekarang sudah lewat pukul dua. Lampu tidur memancarkan cahaya kuning kecil di meja. Aurel mengantuk, tapi matanya terbuka ketika suara dari tempat tidur berubah.
"Jangan."
Aurel menegakkan badan.
"Jangan pergi dulu. Rapatnya..."
Aditya tidak bangun. Keningnya berkerut, dan tangannya bergerak di atas selimut, mencari sesuatu yang tidak ada di sana.
"Papa. Rapatnya kan tinggal satu jam. Tunggu."
Aurel berdiri. Ia ingin menyentuh tangan itu dan menahan diri, karena tangan itu tidak sedang mengizinkan apa pun. Ia hanya mengganti kompres di dahi Aditya, pelan, dan menaruh telapaknya sendiri di atas selimut di sisi tangan yang gelisah, tidak menyentuhnya.
"Aku di sini, Dit," katanya, sangat rendah.
Napas Aditya melambat. Kerutan di keningnya mengendur satu per satu.
Aurel duduk lagi di kursinya dan memandang langit-langit yang gelap. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia takut kehilangan seseorang, dan tidak menemukan jawaban yang tidak menyangkut keluarganya sendiri. Seminggu lalu laki-laki ini hanya orang yang menandatangani kontrak dengannya. Sekarang ia menghitung napasnya di kegelapan.
Itu bukan bagian kontrak. Ia tahu itu, dan sampai pagi ia tidak benar-benar tertidur.
---
Aditya terbangun dengan kepala yang akhirnya jernih, dan bau jahe masih tersisa di udara kamar.
Tirai sudah dibuka separuh. Cahaya putih menimpa kursi berlengan di sisi tempat tidur, tempat Aurel meringkuk dengan selimut sampai dagu dan leher terkulai miring. Di lantai ada mangkuk kosong, dua gelas, termometer, dan buku catatan biru tua yang terbuka di halaman daftar obat yang ia tulis sendiri dengan tulisan tangan rapi.
Pukul dua. Pukul empat. Pukul enam. Tiga butir, dua butir, satu sendok.
Ia memandang daftar itu lama sekali.
"Kamu sudah bangun," kata Aurel tanpa membuka mata.
"Kamu pura-pura tidur?"
"Aku setengah tidur." Ia menegakkan badan dan meregangkan leher dengan wajah meringis. "Suhumu?"
"Entah."
"Sini." Aurel menyodorkan termometer. "Tiga puluh tujuh koma delapan. Hampir normal."
"Kamu duduk semalaman?"
"Kursinya nyaman."
"Itu kursi untuk dilihat, bukan untuk ditiduri."
"Kamu cerewet pagi-pagi, berarti sembuh."
Aditya tersenyum tipis. Lalu senyumnya hilang, dan ia memandang selimut di pangkuannya.
"Semalam aku bicara dalam tidur, ya?"
Aurel diam sebentar. "Sedikit."
"Apa yang kubilang?"
"Papa. Rapat. Jangan pergi."
Aditya menarik napas panjang dan menghembuskannya ke langit-langit. "Aku kira sudah lama berhenti."
"Berhenti apa?"
"Mengigau soal itu."
Aurel tidak bertanya. Ia mengambil gelas air, memberikannya, dan menunggu.
"Waktu itu pagi hari final," kata Aditya, suaranya datar, seperti orang membaca laporan. "Papa janji datang. Dia bilang ada rapat sejam, sesudah itu langsung ke gedung olahraga. Aku mau menang buat dia."
"Dit..."
"Rapatnya sudah berjalan empat jam waktu dia pingsan di ruang rapat. Orang-orang bilang pulpennya masih di tangannya, masih menandatangani sesuatu, waktu dia jatuh." Ia tertawa sekali, getir, hampir lucu. "Dia bahkan menandatangani halaman terakhirnya dulu. Disiplin sekali."
Aurel menutup mulut dengan tangan.
"Ponselku di dalam tas, di loker. Sebelas panggilan tak terjawab dari Mama. Aku baru melihatnya setelah menerima medali perak." Ia memandang tangannya sendiri. "Dia meninggal di rumah sakit sore itu. Kata dokter jantungnya lelah. Bertahun-tahun tidak pernah berhenti."
"Kamu tidak salah."
"Aku tahu." Ia berhenti. "Tapi sejak itu aku tidak bisa berhenti kerja, Rel. Kalau aku berhenti, rasanya seperti sedang tidak mengangkat telepon."
Aurel merasakan sesuatu di dadanya runtuh pelan. Ia tidak mengatakan bahwa itu bukan salahnya lagi. Ia berdiri, duduk di tepi tempat tidur, dan bertanya, "Boleh aku pegang tanganmu?"
"Boleh."
Tangan itu hangat, jauh lebih hangat daripada tangan sehat, tetapi genggamannya lebih ringan dari yang Aurel bayangkan.
"Aku nggak akan menyuruhmu berhenti," katanya. "Tapi aku akan jadi telepon yang kamu angkat."
Aditya tidak menjawab. Hanya jarinya yang mengeratkan genggaman satu kali.
"Jangan kasihan," katanya akhirnya.
"Aku tidak kasihan. Aku lapar."
"Kamu baru bilang soal telepon yang menyentuh hati, dan sekarang lapar?"
"Perut nggak bisa diajak negosiasi, Dit. Itu pelajaran pertamaku sebagai manusia." Aurel mengangkat dagu. "Kamu mau bubur lagi? Kali ini aku tambahkan telur."
"Telur..." Aditya menahan senyum. "Aku mau dengan syarat."
"Syarat apa?"
"Kamu makan bersamaku. Di sini. Dengan piring."
Aurel menimbang sebentar. "Itu syarat yang bisa kuterima."
Ponsel Aurel bergetar di saku. Ia membukanya dengan satu tangan, dan nama di layar membuat alisnya naik.
Mami: Besok siang Mami mampir jenguk. Jangan bilang Aditya dulu. Mami mau lihat sendiri siapa yang menjaga siapa.