Mbak Sari berlari dari dapur dengan lap masih tersampir di bahu, dan wajahnya berubah pucat dalam dua langkah.
"Ya Tuhan, Tuan!"
"Jangan teriak," gumam Aditya dengan wajah di bahu Aurel. "Aku cuma duduk dulu."
"Tuan jatuh, bukan duduk."
Pak Budi dan Pak Darto menyusul dari halaman belakang, sepatu mereka masih berpasir. Pak Budi sempat membuka mulut untuk bercanda, melihat wajah Aditya, lalu menutupnya lagi. Mereka berdua mengangkat Aditya dari kiri dan kanan.
"Aku bisa jalan," kata Aditya.
"Tuan baru pingsan," kata Pak Darto.
"Setengah."
"Setengah pingsan itu tetap pingsan, Tuan."
Aurel berjalan di belakang mereka menaiki tangga, membawa ransel yang tadi ia lempar. Di kamar Aditya, Pak Budi menurunkan tuannya ke tempat tidur dengan hati-hati. Matanya sempat tertuju pada meja rias di sudut. Di sana, di antara jam tangan dan kotak manset, berdiri deretan botol skincare Aurel yang dulu dipindahkan demi mengelabui Wilhelmina.
"Saya tidak lihat apa-apa, Nona," kata Pak Budi, lalu keluar.
Mbak Sari sudah menelepon dokter keluarga. Rian naik dari basement membawa dua koper dan wajah orang yang menunggu vonis.
Dokter datang empat puluh menit kemudian, seorang laki-laki berkacamata dengan tas hitam tua. Ia memasang termometer, mendengarkan dada, memeriksa tenggorokan, dan tidak bicara sampai selesai.
"Tiga puluh sembilan koma enam," katanya akhirnya. "Kelelahan, ditambah infeksi saluran napas ringan. Basah kuyup berjam-jam tidak membantu. Istirahat penuh tiga hari. Banyak minum, makan yang lunak, obatnya jangan dilewatkan."
"Tiga hari?" Aditya membuka mata separuh. "Aku ada rapat pemasok."
"Saya tidak bilang cuti. Saya bilang istirahat."
"Sama saja."
"Beda. Cuti itu pilihan." Dokter menutup tasnya dan memandang Aurel. "Pasien seperti ini tidak mendengarkan dokternya, Bu. Biasanya mereka mendengarkan istrinya."
Aurel menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Nona," kata Mbak Sari dari pintu, sangat pelan, seolah itu jawaban yang jelas.
Dari bantal terdengar gumaman. "Aku dengar semua itu."
"Bagus," kata dokter. "Berarti telinganya masih bekerja."
Dokter menulis resep dengan tulisan yang mustahil dibaca siapa pun kecuali apoteker, menyerahkannya kepada Rian, lalu berpamitan. Mbak Sari mengantarnya ke lift. Pak Darto berangkat membeli obat, dan di kamar yang mendadak sunyi hanya tersisa dua orang serta bunyi napas yang agak berat.
Aurel menarik kursi ke sisi tempat tidur. Ia tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana, jadi ia menaruhnya di pangkuan.
"Kamu marah?" tanya Aditya dengan mata terpejam.
"Kenapa aku marah?"
"Aku bilang baik-baik aja. Dua kali. Di mobil dan di pintu."
"Iya, kamu bilang."
"Maaf."
"Itu bukan hal yang perlu minta maaf." Aurel mengambil kain basah dari mangkuk di meja dan memerasnya. "Tapi lain kali, kalau aku tanya apakah kamu demam, jawab pakai jawaban yang benar. Aku tidak keberatan dengan jawaban yang jelek. Aku keberatan dengan jawaban yang bohong."
"Itu aturan baru?"
"Itu catatan dariku."
"Boleh kutaruh di Pasal Tambahan?"
"Nanti. Sekarang diam dan jangan banyak bicara."
Ia menaruh kain itu di dahi Aditya. Laki-laki itu menghela napas panjang, tipis, seperti orang yang akhirnya diizinkan meletakkan beban. Dalam semenit ia sudah tertidur.
---
Pagi berikutnya Aurel mengetuk pintu kamar Aditya dengan nampan di tangan: bubur kemarin yang dihangatkan Mbak Sari, segelas air, dan tiga butir obat.
Ia mengetuk dua kali dan masuk. Aditya sudah duduk bersandar, rambutnya berantakan, dan laptop terbuka di pangkuannya.
Aurel berhenti di ambang pintu. "Itu apa?"
"Email."
"Dit."
"Cuma baca."
"Dit." Aurel meletakkan nampan, menutup laptop itu dengan satu jari, dan duduk di kursi di sisi tempat tidur. "Kita bicara dulu. Pakai cara kamu."
"Cara aku?"
"Nilai dulu. Apa yang kamu dapat kalau hari ini masuk kantor?"
Aditya menimbang. "Rapat pemasok jalan. Hardi tidak punya alasan menunda lampiran tujuh."
"Dan kalau kamu tumbang di ruang rapat, di depan Pak Hardi dan tiga direktur?"
Hening.
"Itu juga nilai," kata Aurel. "Ruginya lebih besar. Sekarang alternatif. Maya pegang rapat pemasok. Rian bawa dokumen yang perlu kamu putuskan ke sini. Kamu baca di tempat tidur, kamu putuskan di tempat tidur."
"Tiga jam sehari."
"Satu."
"Dua."
"Satu setengah."
"Rel, ini negosiasi harga, bukan tawar sayur."
"Kamu yang ngajarin aku bernegosiasi." Aurel menyilangkan tangan. "Dan pelajaran ketiganya, berani bilang tidak. Jadi: tidak untuk tiga jam. Dua jam, itu batas terakhirku."
Aditya menatapnya agak lama, dan sudut bibirnya naik meski ia berusaha menahan. "Dua jam."
"Deal."
"Siap, Bu Guru."
"Satu lagi." Aurel menarik napas. Ini bagian yang membuat telapak tangannya agak dingin. "Boleh aku yang pegang kalendermu selama tiga hari? Aku tanya, bukan putuskan. Kalau kamu bilang tidak, aku mundur."
Aditya memandangnya lama sekali. Lalu ia tertawa pendek, yang langsung berubah menjadi batuk.
"Itu Pasal Tambahan nomor satu."
"Aku murid yang baik."
"Boleh," kata Aditya, suaranya serak. "Kalender, ponsel, dan laptop. Tapi ponselku jangan kamu buka kalau bukan perlu."
"Aku tidak akan membaca pesanmu."
"Aku tahu. Makanya kuberi."
"Satu lagi," kata Aurel dari rak, masih berjinjit. "Kamu tidak boleh menelepon Rian untuk minta laptop itu diturunkan."
"Kenapa kamu tahu aku akan melakukannya?"
"Karena aku juga akan melakukannya."
"Kamu curang."
"Aku belajar dari yang terbaik."
Aurel mengambil laptop itu dan menaruhnya di rak paling tinggi di kamar, di luar jangkauan tangan orang sakit. Aditya mengikuti gerakannya dengan mata, seperti anak yang mainannya disita guru.
"Makan buburnya."
"Aku bisa makan sendiri."
"Aku tahu. Aku cuma mau lihat."
---
Maya tiba pukul sepuluh, membawa tablet dan wajah serius yang selalu ia pakai ketika jadwal berantakan. Rian mengikutinya dengan map. Mereka duduk di ruang tengah, dan Aurel membuka buku catatan biru tua di pangkuannya.
"Rapat pemasok saya geser ke pekan depan," kata Maya. "Pak Hardi menanyakan revisi lampiran tujuh. Ia bilang tidak mendesak, tapi nadanya mendesak."
"Aku kirim hari ini," kata Aurel. "Sudah hampir selesai."
"Satu hal lagi, Mbak." Maya berdehem, tampak tidak nyaman. "Pak Aditya mengirim pesan pukul lima pagi. Beliau minta, selama tiga hari, laporan harian ke Mbak Aurel juga, bukan hanya ke beliau."
"Pukul lima? Dia demam tiga puluh sembilan."
"Beliau menulis begini." Maya membaca layar tabletnya. "'Tanyakan dulu ke Aurel apakah dia mau. Kalau tidak, laporkan ke aku saja.'"
Aurel menutup mulutnya dengan buku catatan. Rian mendadak sangat sibuk dengan mapnya.
"Mau, Mbak?" tanya Maya.
"Mau," jawab Aurel, setelah beberapa saat. "Tapi laporannya jangan pakai istilah yang aku belum belajar."
"Saya akan menulis seperti buku pelajaran."
"Bagus. Dan Maya?"
"Ya, Mbak?"
"Kalau dia telepon dan minta dikirim berkas di luar jam yang dua jam itu, jangan kasih."
"Itu perintah?"
"Itu permintaan." Aurel tersenyum kecil. "Tapi tolong anggap perintah."
Maya mulai membuka tablet untuk membahas daftar rapat, dan Rian baru saja menjelaskan urutan dokumen yang harus Aditya baca, ketika tangga berderak.
Mbak Sari berdiri di ujung tangga dengan nampan kompres di tangan dan bibir yang gemetar.
"Nona. Suhu Tuan naik lagi." Ia menelan ludah. "Tiga puluh sembilan koma delapan. Dan Tuan menggigil, sampai giginya bunyi."
Aurel sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai. Buku catatannya jatuh ke sofa, terbuka di halaman yang belum selesai.
"Aku ke sana," katanya.