Backhoe dari dinas pekerjaan umum datang pukul sebelas, dan kru bersorak seolah yang tiba adalah bala bantuan perang.
Aurel berdiri di pinggir jalan dengan koper di tangan dan melihat tanah liat bercampur batang pohon dipindahkan ke tepi jurang oleh mesin kuning berkarat. Mas Dimas menghitung anggota kru dua kali, lalu tiga kali, dengan klipboard yang basah di sudutnya. Direktur kreatif Lunara melewati Aurel dan berhenti sebentar.
"Hasil hari ketiga, kalau cahayanya bisa sebagus kemarin, akan kami tampilkan di halaman depan koleksi," katanya. "Terima kasih untuk usul rumah kacanya."
"Terima kasih sudah mau mencoba, Bu."
"Dan untuk telurnya." Perempuan itu hampir tersenyum. "Itu yang paling lezat dari seluruh perjalanan ini."
Mas Dimas menghampiri dengan pulpen terselip di telinga.
"Rel, kamu pulang pakai mobil Pak Aditya aja. Kami naik minibus kru."
"Tadi pagi Mas bilang minibus penuh."
"Sekarang sudah ada ruang."
"Mas Dimas."
"Hm?"
"Mas tahu aku tahu."
"Aku tidak tahu apa-apa," kata Mas Dimas, dengan wajah polos orang yang tidak pernah berbohong seumur hidupnya. "Aku cuma manajer yang ingin kliennya pulang dengan nyaman."
"Dengan siapa?"
"Dengan siapa pun yang jaketnya bisa dipinjam."
Aurel menahan tawa, memukul bahunya pelan, dan berjalan ke mobil.
Mobil sewaan yang dibawa Aditya kemarin diparkir di bawah pohon, berlumpur sampai kaca. Rian sudah di balik setir, dengan raut seseorang yang berusaha sangat keras tidak melihat apa pun. Aditya berdiri di sisi pintu belakang, kemejanya diganti kaus kru yang kebesaran, rambutnya masih lembap.
Aditya membukakan pintu, dan Aurel masuk lebih dulu, bergeser ke ujung jok. Aditya duduk di sampingnya, menutup pintu, dan mobil pun merayap pelan melewati bekas longsor yang baru dipadatkan.
---
Tiga puluh menit pertama, tidak ada yang bicara.
Hujan sudah berhenti, tapi langit masih kelabu dan jendela berembun. Aditya memandang lembah di luar, teras-teras teh yang basah, dan genangan di pinggir jalan yang memantulkan awan. Ia sedang memikirkan satu kalimat. Kalimat yang kemarin ia mulai di dapur dan tak sempat ia selesaikan.
"Dit."
"Hm?"
"Boleh aku sandaran sebentar?"
Aditya menoleh. Aurel menatap lurus ke depan dengan kantong mata yang jelas, dan bibirnya ditekan rapat untuk menyembunyikan sesuatu yang bukan rasa malu.
"Boleh."
Kepala Aurel mendarat di bahu kanannya dengan berat yang terlalu nyaman. Rambutnya berbau asap kayu, sabun hotel, dan sedikit telur dadar. Aditya tidak bergerak. Dalam beberapa menit napas Aurel menjadi teratur, lalu dalam, dan ia tahu perempuan itu sudah tertidur.
Aku harus memindahkan tangan, pikirnya. Kalau tidak, nanti kesemutan.
Lengannya kesemutan sepuluh menit kemudian.
Lima belas menit setelah itu ia tidak lagi merasakan jari-jarinya.
"Pak," kata Rian pelan dari depan, matanya di kaca spion tengah. "Mau saya berhenti sebentar?"
"Tidak."
"Lengan Bapak..."
"Tidak apa-apa."
"Baik, Pak." Rian mengalihkan pandang ke jalan. "Saya akan menyetir sangat halus."
"Terima kasih."
Mobil meluncur di jalan tol. Rian menyetir seperti membawa telur mentah. Dari jendela, matahari akhirnya menembus awan dan menimpa wajah Aurel yang tertidur. Aditya mengangkat tangan kiri, dengan sangat hati-hati, dan menggeser tirai kecil di jendela. Cahaya jatuh ke bahunya sendiri.
Ia memandang Aurel sebentar, hanya sebentar, dan segera mengalihkan pandangan ke depan karena sadar bahwa itu bukan hal yang ia punya hak lakukan tanpa izin. Tapi ia mengingat wajah itu. Alis yang berkerut sedikit dalam tidur. Bibir yang terbuka tipis. Jari yang masih memegang ujung jaketnya, tanpa sadar.
Sesuatu dalam dadanya bergerak. Bukan sakit. Bukan juga lega. Sesuatu yang ia tidak punya laporan untuk itu.
Kepalanya terasa berat. Ia menyalahkan kurang tidur.
Tenggorokannya terasa kering. Ia menyalahkan udara dingin.
Dingin yang menembus kausnya dari ujung leher sampai tulang belakang. Ia menyalahkan hujan.
Dua jam. Mobil memasuki pintu masuk basement penthouse ketika jam menunjukkan pukul satu lewat dua puluh, dan Aurel menggeliat, mengangkat kepala, mengerjap, lalu menyadari di mana kepalanya sebelumnya berada.
"Ya ampun. Aku ngiler nggak?"
"Tidak."
"Beneran?"
"Bahuku kering."
"Dua jam?" Aurel melihat jam di dasbor. "Kamu nggak bangunin?"
"Kamu lagi tidur."
"Lenganmu..."
"Aman." Aditya mencoba menggerakkan tangan kanannya dan gagal. "Oke, lima menit lagi aman."
Rian di depan menahan sesuatu yang mungkin tawa, mungkin batuk.
Aurel baru hendak turun ketika ia berhenti dan memandang Aditya lebih lama. Pipinya merah di bawah tulang pipi, bukan merah yang biasa.
"Boleh aku pegang dahimu?"
"Kenapa?"
"Boleh atau nggak?"
"Boleh."
Telapak tangannya menempel di kening Aditya. Panas. Bukan hangat. Panas.
"Dit, kamu demam."
"Itu bahu yang hangat."
"Aku serius."
"Aku juga. Kamu sandaran dua jam di bahuku, wajar kalau aku jadi hangat." Aditya membuka pintu mobil dengan tangan kirinya. "Aku cuma kurang tidur."
"Kamu kemarin angkat koper di lumpur. Basah kuyup sampai siang."
"Aku mandi."
"Pakai air dingin."
"Itu nggak berhubungan."
"Rian," kata Aurel, tanpa menoleh, "dia demam, kan?"
Rian terdiam di balik setir. "Saya bukan dokter, Nona."
"Tapi?"
"Tapi kalau Nona tanya saya sebagai orang yang duduk di depan dua jam, wajah beliau pucat sejak Purwakarta."
"Rian!"
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa bohong kepada Nona."
Aditya menghela napas, panjang dan agak berat. "Kita naik dulu. Nanti kuperiksa."
---
Lift pribadi membawa mereka naik. Aurel memegang tas ranselnya di bahu, dan Aditya berdiri di sampingnya dengan lengan kanan menggantung seperti milik orang lain. Mereka tidak bicara. Hanya pantulan dua orang di dinding baja yang tampak lebih lelah dari yang seharusnya.
"Dit."
"Hm?"
"Yang kemarin di dapur. Kamu bilang..."
"Aku belum selesai." Aditya menatap angka lantai. "Aku mau selesaikan. Tapi bukan di lift."
"Kapan?"
"Sesudah tidur."
"Aku tidur dua jam di bahumu."
"Aku belum."
Lift berdenting. Pintu penthouse berdiri di depan, besar, gelap, dan di balik pintu itu mungkin Mbak Sari sudah menyiapkan teh. Aurel menekan kode, dan pintu terbuka. Aroma serai dan kayu manis dari dapur langsung menyambut.
Aditya melangkah masuk. Satu langkah. Dua.
"Dit?"
"Aku baik-baik aja," kata Aditya.
Kalimat itu keluar datar, nyaris bergumam. Aurel menoleh, dan di sepersekian detik itu ia melihat wajahnya: pucat di bawah tulang pipi, bibir kering, mata yang tidak lagi fokus pada apa pun di depannya.
"Aditya."
Laki-laki itu mencoba mengangguk. Lututnya yang menyerah lebih dulu.
Aurel melempar ranselnya dan menangkapnya dengan dua tangan, di bawah ketiak, tepat sebelum kepalanya menyentuh lantai marmer. Berat badannya jatuh ke dadanya. Kulitnya, di leher yang menempel pada pipinya sendiri, panas sekali, seperti baru diangkat dari api.
"Mbak Sari!" teriaknya. "MBAK SARI! TOLONG!"