Terang datang lewat celah tirai, putih keabuan, dan membangunkan Aurel dengan cara yang tidak berperasaan.
Ia membuka mata. Perapian tinggal bara. Selimut tebal masih membungkus kakinya, dan di sampingnya, di karpet yang sama, ada seorang laki-laki yang tertidur dalam posisi duduk dengan punggung bersandar pada sofa dan kepala miring ke satu sisi. Tangan kirinya masih menggenggam tangan Aurel.
Genggaman itu longgar sekarang, bukan lagi menahan. Hanya dua tangan yang lupa dilepas.
Aurel menatap langit-langit kayu. Satu detik. Dua detik. Lalu ia menarik tangannya perlahan, sangat perlahan, dan tepat saat jari terakhir terlepas, mata Aditya terbuka.
"Selamat pagi," kata Aditya, suaranya serak.
"Sudah terang."
"Iya."
"Jadi?"
Aditya duduk lurus. Ia merapikan rambut, menarik napas panjang, dan wajahnya mengatakan bahwa ia sudah menyusun kalimat ini sejak lama, mungkin sejak tengah malam. "Rel, tentang yang semalam..."
Pintu vila digedor tiga kali.
"PAK ADITYA! MBAK AUREL!" Suara Mas Dimas, panik, melengking. "GUDANG PERALATAN DI BAWAH KEBANJIRAN! KOPER LAMPU, KOPER KAMERA, SEMUANYA! KRU MINTA TOLONG!"
Aditya memejamkan mata sebentar. Aurel menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa.
"Nanti," kata Aditya.
"Nanti," ulang Aurel. "Pergi sana."
---
Tanah becek di jalan setapak menuju gudang sudah berubah menjadi bubur cokelat sebatas mata kaki. Aurel menyaksikannya dari teras vila, dengan sweter tebal dan secangkir teh panas, ketika Aditya meluncur menuruni lereng dengan sepatu kulit yang jelas bukan buatan untuk medan seperti ini.
"Pak, nggak usah!" seru salah satu kru. "Bapak tamu!"
"Boleh saya bantu?" tanya Aditya.
"Hah?"
"Saya tanya. Boleh saya bantu?"
Kru itu memandang rekannya, memandang Aditya, dan memutuskan bahwa jawaban yang aman adalah mengangguk. Dalam lima belas menit Aditya sudah berada di barisan ranting dan koper, mengangkat peti logam berat dari lantai gudang yang tergenang, melewati lumpur, dan menaruhnya di teras vila kru yang lebih tinggi. Kemejanya yang kemarin sore masih putih kini cokelat sampai dada. Celananya tidak bisa lagi disebut celana. Sepatunya tidak terlihat.
Aurel menonton sambil mengunyah roti.
Di sebelahnya Mas Dimas berdiri sambil memegang tiga ponsel dan satu klipboard. "Aku nggak percaya," bisiknya. "Orang itu menandatangani kontrak miliaran. Dan sekarang dia ngangkat koper kayak kuli."
"Dia bilang 'permisi' ke lumpur tadi."
"Dia bilang apa?"
"Aku nggak yakin. Aku dengar 'permisi'."
Pukul sembilan pagi, jalan turun masih tertutup, dan perut dua puluh orang kru yang kedinginan mulai berbunyi bergantian. Aurel masuk ke dapur vila tanpa disuruh. Ada kompor gas dua tungku, satu panci besar, dua wajan, dan tiga papan telur yang entah bagaimana selamat dari banjir.
"Mbak," kata asisten produksi, mengintip. "Mbak nggak perlu..."
"Perlu." Aurel mengikat rambut, menggulung lengan sweternya, dan mengambil wajan. "Api kecil dulu."
Pak penjaga vila membawakan bawang, garam, dan satu ember beras. Aurel menumis bawang sampai harum. Ia memecahkan telur satu per satu di mangkuk besar. Bukan di wajan. Dua puluh orang berdiri di pintu dapur dengan mata lapar, lalu menahan diri, lalu mengantre. Ia membuat nasi telur sederhana, dengan sedikit kecap, dan membagikannya ke piring plastik.
"Mbak," kata fotografer, mulutnya penuh, "ini enak banget."
"Garamnya?"
"Pas."
"Berarti belajarku nggak sia-sia."
Aditya tiba di pintu dapur ketika piring terakhir dibagikan. Ia berdiri di sana, penuh lumpur, rambutnya menempel di dahi, dan menatap deretan kru yang makan dengan wajah puas.
"Kamu masak sebanyak ini?" tanyanya.
"Dua puluh satu porsi." Aurel menyodorkan piring. "Yang terakhir buat kamu. Telurnya dipecahin di mangkuk."
"Aku lihat."
"Syukur. Kamu duduk di lantai aja, jangan di kursi, kursinya bersih."
Aditya duduk di lantai dapur dengan piring di pangkuan, makan pelan, dan semua orang pura-pura tidak memperhatikan.
Direktur kreatif Lunara berdiri di sudut dengan piringnya sendiri. Ia memandang Aditya yang belepotan lumpur, memandang Aurel yang rambutnya diikat asal-asalan dengan karet gelang, lalu mengetik sesuatu di tablet dengan ekspresi yang tidak ingin ditanyai.
"Bu," bisik Mas Dimas, "itu catatan produksi?"
"Itu ide untuk kampanye berikutnya." Ia tidak mengangkat kepala. "Judulnya masih rahasia."
---
Ponsel Aurel berdering pukul sepuluh lewat sepuluh, ketika ia sedang menumpuk piring di wastafel. Nama di layar: Mami.
"Selamat pagi, Mami."
"Selamat pagi, Aurel." Suara Wilhelmina tenang, jernih, dengan nada yang terlalu manis untuk dipercaya. "Mami dengar kalian terjebak di Lembang. Berdua."
Aurel menjatuhkan piring ke dalam bak. Untung plastik.
"Tidak berdua, Mi. Krunya banyak. Dua puluh orang."
"Dua puluh orang, di vila yang berbeda, kecuali satu."
"Siapa yang..."
"Pak Budi bilang Rian bilang, dan Rian tidak bisa bohong kepada Mami." Terdengar bunyi sendok teh yang diletakkan di tatakan. "Hujan lebat, listrik padam, perapian, satu selimut. Mami tidak bilang apa-apa. Mami cuma bilang bahwa itu resep yang sangat baik."
"Mami!"
"Mami tidak menagih apa-apa, Aurel. Mami hanya senang kalian pulang bersama dalam keadaan hangat." Jeda tipis. "Cucu itu bisa menunggu. Tapi Mami tidak keberatan kalau selimut itu dipakai lagi."
"Mi, kami belum..." Aurel menutup mulut dengan tangan. Ia merasakan wajahnya memanas sampai ke telinga. "Maksudku, kami tidak..."
"Salam untuk Aditya. Tolong pastikan dia makan. Dia suka lupa."
"Dia sedang makan, Mi."
"Bagus." Lalu pelan: "Mami senang mendengar suaramu sehangat itu."
Sambungan terputus. Aurel menatap ponselnya seperti benda asing.
"Siapa?" tanya Aditya dari lantai.
"Mami."
"Dia tahu, ya?"
"Dia tahu semuanya. Dia tahu tentang selimut."
Aditya mendongak, memandangnya sebentar, lalu menunduk menatap piring, dan keduanya tertawa pelan, tawa yang canggung, geli, dan tidak berhenti sampai napas habis.
Setelah itu sunyi mengisi dapur. Para kru sudah keluar. Hanya ada bunyi tetesan air dari atap, uap panci, dan dua orang yang berusaha tidak menatap satu sama lain.
"Dit."
"Hm?"
"Aku mau bilang sesuatu. Kecil saja." Aurel mengeringkan tangan di celana. "Aku suka diriku yang sekarang. Waktu sama kamu."
Aditya meletakkan piringnya.
"Kamu yang sekarang," ulang Aurel, "yang bilang 'boleh saya bantu' ke lumpur. Dan aku yang sekarang, yang ngitung biaya set. Kalau ada kamu, aku nggak harus milih salah satu."
Sunyi sebentar. Di luar, burung mulai berkicau.
"Aku juga," kata Aditya.
"Juga apa?"
"Aku juga suka diriku yang sekarang. Waktu sama kamu." Ia berhenti, seperti orang yang menyadari bahwa kalimatnya masih punya ujung. Ia tidak menyambungnya.
Mereka berdiri dalam jarak yang tidak terlalu jauh, dengan kata-kata yang baru saja diucapkan masih melayang di antara mereka. Tidak ada yang menyebutnya pengakuan. Tidak ada yang berani memberinya nama.
"Dit."
"Hm?"
"Jangan bilang siapa-siapa soal tadi."
"Soal kamu suka dirimu yang sekarang?"
"Itu rahasia kedua."
"Rahasia pertama?"
"Ada di halaman belakang buku catatanku." Aurel mengambil piring kosong dari tangannya, membuka keran, dan membelakangi dia supaya wajahnya tidak terbaca. "Dan kamu belum boleh baca."