Mereka berlari dari warung tenda ke vila dengan satu jaket di atas kepala berdua, dan sampai di teras dalam keadaan basah dari rambut sampai tumit.
"Satu-satunya hal bagus dari hujan," kata Aurel sambil mengibas rambut, "adalah aku nggak perlu mandi malam ini."
"Kamu bau tanah."
"Kamu bau jaket basah."
"Itu jaketku."
"Makanya bau."
Pintu vila berderit terbuka, dan ruang tamu kecil yang gelap menyambut mereka. Aditya meraba dinding mencari saklar. Klik. Klik. Klik-klik.
Tidak ada apa-apa.
"Padam," katanya.
"Longsornya kena tiang listrik?"
"Mungkin." Aditya mengeluarkan ponsel dan menyalakan senter. Cahaya putih kecil menyapu ruangan: dua sofa rotan, meja kayu bundar, perapian batu di sudut dengan tumpukan kayu bakar tersusun rapi, dan dua pintu kamar di dinding seberang. "Dua kamar, kan?"
"Satu punya Mas Dimas, tapi dia pindah ke vila kru."
"Kenapa?"
"Katanya supaya aku nggak merasa diawasi manajer."
"Mas Dimas strategis juga."
"Dia lagi menjalankan misi," kata Aurel, melempar jaket basah ke sandaran kursi. "Kamu, kamar sebelah kiri. Aku kanan. Pintu ditutup, selimut sendiri-sendiri. Pasal Dua."
"Pasal Dua soal bantuan."
"Pasal sementara."
Aditya mengangguk dan menatap perapian, dan pada saat itu Aurel tahu persis apa yang ada di pikirannya, karena ia memikirkan hal yang sama.
---
Perapian menyala dua puluh menit kemudian, setelah dua korek api habis dan Aditya berhasil menyusun kayu dengan cara yang menurut Aurel "terlalu rapi untuk api". Cahaya jingga merambat ke dinding. Dua cangkir teh jahe dari termos tua Pak penjaga vila mengepul di lantai. Dan sebuah selimut tebal, satu-satunya yang cukup hangat di lemari, terbentang di atas karpet.
"Satu selimut," kata Aditya.
"Satu selimut."
"Boleh kita berbagi? Aku tanya. Kamarku dingin sekali, dan selimutnya tipis."
"Boleh." Aurel menepuk sisi karpet. "Tapi jarak satu bantal."
Mereka duduk berdampingan, kaki menjulur ke perapian, selimut menutupi dari pinggang ke bawah. Jarak satu bantal itu ditepati selama delapan menit, lalu bantalnya jatuh ke samping entah bagaimana dan tidak ada yang mengambilnya.
Hujan di luar tidak berkurang. Atap seng bergemuruh seperti ribuan tangan kecil. Dari kejauhan terdengar petir, jauh, malas, bergulung seperti benda besar yang belum memutuskan untuk datang.
"Kartu," kata Aurel tiba-tiba.
"Apa?"
"Di laci ada kartu remi. Aku lihat tadi waktu ngambil korek." Ia bangkit dan kembali dengan setumpuk kartu lusuh. "Yang kalah jawab jujur satu pertanyaan. Taruhan sekarang bukan pizza."
"Kamu curang kayak waktu bulu tangkis."
"Aku nggak pernah curang!"
"Kamu menghitung skor pakai jari kaki."
"Itu... teknik."
Mereka bermain. Tiga ronde pertama dimenangkan Aditya karena Aurel selalu menunjukkan kartu bagusnya lewat ekspresi muka. Ronde keempat Aurel menang karena Aditya, secara tidak biasa, tersenyum di tengah permainan dan salah buang kartu.
"Kalah," kata Aurel. "Pertanyaanku. Boleh?"
"Tentu."
"Kamu pernah takut apa, selain petir?"
Dahi Aditya mengerut. "Dari mana kamu tahu soal petir?"
"Mami. Waktu makan malam itu."
"Ah." Ia menunduk, menatap kartunya. "Mama nggak bisa nutup mulut."
"Jawab."
"Sebenarnya sekarang pun aku agak..." Ia menggerakkan tangan di udara. "Nggak suka. Tapi aku lebih takut hal lain."
"Apa?"
"Duduk di ruangan yang sunyi dan nggak tahu harus ngapain."
Aurel diam. Api berderak.
"Karena itu kamu kerja terus," katanya akhirnya.
"Sebagian."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku duduk di ruangan yang tidak sunyi," kata Aditya, tanpa menatapnya. "Dan nggak takut."
Ronde berikutnya dimenangkan Aurel lagi, tetapi tidak ada yang menghitung.
Ronde keenam Aurel kalah lebih dulu.
"Pertanyaan," kata Aditya, dan matanya tidak berkedip. "Pagi sesudah Mas Dimas datang, bukumu tergeletak terbuka di meja ruang tengah. Aku lewat dan lihat sekilas halaman barunya. Satu kata, huruf besar. Aku nggak membacanya, cuma lihat. Itu apa?"
Aurel menarik napas.
Ia sudah tahu kapan pertanyaan ini akan datang. Ia hanya tidak tahu betapa cepat.
"Nabiqa," katanya.
"Itu nama belakangmu."
"Itu juga..." Ia ragu. "Nama label busana yang kepingin aku bikin. Dari dulu. Dari sebelum model, sebelum skandal. Aku suka menggambar baju. Gambarku jelek, tapi aku tahu potongan mana yang bakal bagus. Aku pernah ngomong ke Mama, Mama bilang itu hobi, bukan usaha."
"Terus?"
"Terus aku jadi model, karena itu lebih gampang." Aurel menarik selimut sampai ke dagu. "Sekarang aku belajar angka, belajar nego, belajar nanya kenapa. Dan aku mulai mikir mungkin bisa. Mungkin bukan hobi."
Aditya tidak langsung bicara.
"Boleh lihat?" tanyanya akhirnya.
"Gambarnya?"
"Gambarnya."
Aurel mengambil buku catatan dari tas di dekat kursi, kembali ke karpet, dan membalik ke halaman belakang. Ada sketsa gaun pensil, potongan A yang sederhana, lengan seperempat, dengan catatan kecil di pinggir: bahan jatuh, jangan terlalu banyak kancing. Garisnya goyah. Proporsinya, bahkan bagi mata Aditya yang awam, entah kenapa benar.
"Jelek, kan?"
"Bukan jelek." Ia memiringkan kepala di bawah cahaya api. "Ini mirip gaun hijau zamrud yang kamu pakai di Jogja. Garis bahunya sama."
"Kamu ingat bajuku?"
"Aku ingat semua yang kamu pakai," kata Aditya, lalu terdiam, seperti orang yang baru sadar membuka laci yang salah. "Maksudku, aku punya memori visual yang bagus."
"Tentu."
"Tentu."
Mereka tidak menatap satu sama lain selama beberapa detik, lalu Aditya berdeham.
"Aku mau jadi investor," katanya.
"Hah?"
"Kalau proposalnya benar. Omzet, biaya, arus kas, risiko, semua yang kamu pelajari." Ia menoleh. "Aku bukan provider, Rel. Aku investor. Provider kasih tanpa tanya. Investor tanya dulu."
Aurel tertawa keras sekali sampai selimut melorot. Ia memukul bahunya pelan.
"Mas Investor."
"Itu lebih bagus."
"Eh, utang es krimku masih kamu catat?"
"Cokelat. Taruhan bulu tangkis. Kamu kalah 21-19."
"Belum kubayar."
"Belum."
Mereka saling memandang, jarak di antara mereka sudah tidak ada sama sekali. Bahu menyentuh bahu. Cahaya api memantul di mata Aditya, jingga, hangat, dan Aurel baru menyadari bahwa ia tidak lagi memikirkan apa pun selain wajah itu.
"Rel."
"Hm?"
"Ada yang mau aku..." Aditya menarik napas. "Aku harus bilang sesuatu. Dari kemarin. Dari dua minggu yang..."
Petir menyambar di atas vila.
Bukan petir jauh. Petir itu jatuh seperti dinding runtuh, putih menembus tirai, diikuti bunyi yang membuat kaca jendela bergetar dan lantai berdesir. Aditya tersentak dengan seluruh tubuhnya, tangannya mencengkeram pinggiran karpet.
Hening dua detik. Dua detik yang panjang.
"Aku nggak apa-apa," kata Aditya, dengan suara yang jelas sedang apa-apa.
"Boleh aku pegang tanganmu?" tanya Aurel.
Aditya menoleh. Wajahnya agak pucat.
"Boleh."
Ia menggenggam tangan itu, dingin, kasar di ujung jari, bergetar sedikit. Aditya membiarkan. Petir kedua datang lebih jauh, lebih kecil. Di bawah selimut, genggaman itu berubah dari menahan menjadi sekadar bergandengan.
"Tadi kamu mau bilang apa?" tanya Aurel pelan.
Aditya menatap perapian cukup lama.
"Kalau aku bilang sekarang," katanya, "kamu bisa nyalahin petirnya."
"Terus?"
"Aku mau bilang kalau kepalaku sudah jernih."
"Kapan?"
"Pagi. Waktu terang."
Aurel mengangguk dan tidak melepaskan tangannya. Di luar, hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.