Pesan itu masuk pukul tujuh pagi, ketika Aurel sedang dirias dengan dua kapas basah menempel di bawah matanya.
Aku mampir sehabis rapat pemasok di Bandung, jadi boleh?
Ia membacanya dari layar ponsel yang dipegang penata rias. Perempuan itu pura-pura sibuk dengan kuas, tapi pipinya bergerak seperti orang menahan tawa.
"Boleh," ketik Aurel dengan satu jari, dari balik kapas. Lalu menambahkan: "Bawa jaket. Dingin."
Balasan datang sebelum penata rias selesai memoles pipi kirinya.
Siap, Bu Aurel.
Ia tidak tahu kenapa dua kata itu membuat pagi terasa lebih hangat daripada pemanas portabel.
Rumah kaca tua yang Kamis siang ia usulkan sudah berubah. Kaca-kacanya digosok bergantian oleh tim sejak Kamis sore, rangka besinya dilapisi kain putih, dan sinar pagi menembus kaca keruh yang disisakan, jatuh ke lantai dengan bentuk seperti keping emas. Fotografer tidak berhenti mengagumi hasil tes cahaya hari Kamis. Direktur kreatif sekarang menyapa Aurel dengan "Aurel" tanpa tambahan "Mbak", dan Mas Dimas berjalan di antara kru dengan wajah orang yang sedang menahan diri untuk tidak membanggakan kliennya kepada setiap orang.
Aditya tiba pukul empat sore.
---
Ia datang dengan mobil sewaan yang tidak ia kenal, tanpa pengawal, hanya Rian yang menyetir dan menunggu di parkiran. Kemejanya digulung sampai siku, jaketnya tersampir di lengan, dan ia berhenti di tepi lapangan seperti orang yang tidak yakin boleh melangkah masuk.
Mas Dimas yang pertama melihatnya. "Pak Aditya!"
"Selamat sore, Mas Dimas." Aditya mengangguk padanya, lalu pada kru yang menoleh satu per satu, dengan nada yang sama pada semua orang. "Selamat sore. Saya tamu. Silakan lanjut."
Fotografer, yang rupanya baru menyadari siapa yang datang, menurunkan kameranya dan membeku sepersekian detik. Direktur kreatif mendekat dan mengulurkan tangan.
"Pak Aditya. Istri Bapak penghemat yang sangat berbahaya."
"Saya tahu," kata Aditya, dan sudut bibirnya terangkat sedikit. "Dia sudah menghemat biaya makan saya selama sebulan."
"Berapa tepatnya?"
"Tidak sebanyak tiga ratus tiga puluh juta."
Beberapa kru tertawa. Aurel, yang sedang berdiri di depan layar monitor dengan gaun krem dan anting emas, mengangkat tangan kecil dari jauh. Aditya mengangkat tangannya dan mengambil kursi lipat di samping set, di luar garis pandang kamera.
"Kita lanjut!" seru fotografer. "Pose dua. Aurel, ingat yang kita bicarakan semalam."
Aurel mengangguk. Model pria muda itu mendekat, berdiri tepat di belakangnya, dan tangannya terangkat setinggi pinggang Aurel.
Aditya melihatnya dari kursi lipat.
Itu pose yang sudah ia dengar lewat telepon. Pose yang sudah dibaca Aurel di kontrak, dituliskan dengan huruf tebal di klausul ketiga: persetujuan atas sentuhan, hanya di pinggang, hanya selama pengambilan gambar, dan Aurel berhak menghentikan kapan saja dengan satu kata. Ia tahu semua itu. Ia bahkan sudah membaca ulang catatan itu pukul dua dini hari sambil minum teh.
Tapi mengetahui sesuatu dan melihatnya dengan mata sendiri adalah dua pekerjaan yang berbeda.
Tangan itu menyentuh pinggang Aurel. Aurel tidak bergerak. Kamera berbunyi klik-klik-klik.
Rahang Aditya mengeras. Tangannya mencengkeram sandaran kursi lipat, sampai bunyi plastik berderit pelan. Ada kalimat yang mendesak naik, panjang dan bernada tinggi. Ia memejamkan mata, menghitung dalam hati, dan sampai di angka tujuh ketika sesuatu dalam dirinya berhasil menolak.
Ia tidak berdiri. Ia tetap di tempat.
Dua puluh detik kemudian Aurel menoleh ke arahnya di sela jeda, hanya sepersekian detik, dan matanya bertanya tanpa suara.
Aditya mengangguk. Kecil, kaku, tapi jujur. Kamu boleh.
Ketika fotografer berteriak "Selesai, bagus!", model pria melepas tangannya dengan gerak yang sangat hormat dan mundur dua langkah. Aurel keluar dari set sambil mengangkat gaun sedikit, menghampiri kursi lipat dengan wajah yang menahan geli.
"Kamu diam banget."
"Aku lagi bikin tabel di kepala."
"Isinya?"
"Kontra: delapan belas. Pro: satu." Aditya mengembuskan napas panjang. "Dia profesional."
"Itu pro-nya?"
"Itu satu-satunya."
Aurel tertawa pendek dan menutup mulut dengan punggung tangan karena kru masih berkeliaran.
---
Warung tenda di tepi jalan menuju kebun teh adalah satu-satunya tempat makan dalam radius tiga kilometer. Kru sudah pulang ke vila untuk mandi, dan Mas Dimas dengan sangat tidak halus menyeret kedua temannya lebih dulu, sambil berkata ia perlu "memeriksa hal penting" yang ternyata tidak ada.
Jadi di sinilah mereka. Dua piring mi rebus dengan telur, dua gelas teh manis panas, dan lampu bohlam kuning yang digantung di tiang bambu dan berayun tertiup angin. Udara dingin menusuk. Aurel memakai jaket Aditya, yang terlalu besar dan berbau sabun yang sama dengan sabun yang ia pakai.
"Enak," kata Aditya, setelah suapan ketiga.
"Kamu nggak tahan pedas, kan?"
"Aku minta tanpa cabai."
"Penjualnya nanya dua kali kamu yakin."
"Aku yakin dua kali." Aditya meletakkan sendok. "Rel, aku boleh nanya sesuatu?"
"Pasal Satu. Silakan."
"Tadi... waktu pose dua... kamu nggak apa-apa?"
"Aku baik-baik aja." Aurel menatapnya. "Aku yang baca kontrak, aku yang setuju, dan aku bisa berhenti kapan saja. Kalau nggak nyaman, aku bilang 'stop' dan semua orang berhenti."
"Aku tahu."
"Tapi kamu tetap khawatir."
"Aku nggak khawatir. Aku..." Aditya menggaruk tengkuk. "Susah juga, ya, jadi orang yang nggak bisa ngapa-ngapain."
Aurel meletakkan sendoknya. Ia menyandarkan siku di meja plastik, dagu bertumpu di telapak tangan, dan menatap Aditya dengan senyum tipis, senyum yang biasanya muncul sebelum ia mengatakan hal yang tidak bisa dihindari.
"Kamu cemburu?"
Pertanyaan itu sudah pernah ia lemparkan di Jogja, di ruang makan, di dapur yang berasap, selalu dengan nada menggoda. Kali ini ia bertanya karena benar-benar ingin tahu jawabannya, tanpa kemenangan di baliknya.
Aditya tidak berpaling.
"Iya," katanya. "Dan aku nggak akan ngelarang."
Aurel tidak langsung menjawab.
Suara jangkrik terdengar di kejauhan. Lampu bohlam berayun. Ia menyadari bahwa ia sedang menahan napas, dan ketika ia menyadarinya, ia justru tidak ingin melepaskannya.
"Itu pekerjaanmu," lanjut Aditya, pelan. "Dan itu hidupmu. Aku cuma bagian yang duduk di pinggir set dan menghitung sampai tujuh."
"Tujuh?"
"Delapan hampir. Aku nggak sanggup delapan."
Aurel tertawa, tetapi tawa itu retak di tengah, dan ia harus menunduk menatap mi yang mulai dingin. Dadanya penuh sekali, tak ada ruang untuk kata-kata, dan untuk sesaat ia tidak peduli bahwa kontrak mereka punya tanggal, aturan pertama, dan satu tahun.
Sesuatu menetes di punggung tangannya.
"Hujan," kata Aditya.
Satu tetes lagi. Lalu dua. Lalu langit di atas warung tenda berubah menjadi suara, deras, cepat, dingin, dan bohlam kuning padam sebentar sebelum menyala lagi. Dari arah jalan, seorang laki-laki berlari kencang dengan jas hujan plastik robek dan berteriak sampai suaranya hampir hilang di antara air.
"Mbak Aurel! Pak Aditya! Jalan turun ke Bandung ketutup longsor! Semua kru nggak bisa keluar!"