Lunara menerima keempat syarat itu keesokan paginya, hanya menawar satu kata sifat. Dua minggu berlalu seperti daftar periksa: Senin sampai Rabu di kantor, Jumat belajar, Sabtu Papa dan raket tua, dan Pasal Tambahan dipakai lima kali, tiga di antaranya urusan garam. Lalu Kamis pagi tiba, dan Aurel berdiri di tengah kebun teh Lembang pukul lima lewat sepuluh, dalam jaket tebal, dengan secangkir kopi yang sudah dingin sebelum sempat diminum.
"Rel, jaketnya lepas. Tiga menit lagi kamu naik," kata Mas Dimas.
"Dingin banget, Mas."
"Memang dingin. Itu sebabnya mereka butuh kamu kelihatan nggak dingin."
Penata rias menghapus embun di bahu Aurel dengan kapas. Fotografer, laki-laki setengah baya berambut keriting tanpa nama yang kelihatan selalu terlalu bersemangat, berjalan mondar-mandir sambil menunjuk langit yang mulai pucat. Di dekat tenda ada rak gaun krem, sepasang anting-anting emas dalam kotak kaca, dan seorang model pria muda yang menghangatkan tangan di depan pemanas portabel dan mengangguk sopan kepada Aurel.
Direktur kreatif Lunara berdiri tidak jauh, mencatat sesuatu di tablet dengan wajah orang yang sudah memutuskan semuanya sebelum kamera menyala. Perempuan, awal empat puluhan, rambut dipotong tegas. Ia belum bicara kepada Aurel sejak tiba, hanya mengangguk sekali dari jauh, seakan-akan kata "maaf" yang pernah ia kirim lewat Mas Dimas cukup untuk dua orang.
"Dua menit!" teriak seseorang.
Aurel melepas jaket. Udara pagi menyergap kulitnya dan ia nyaris melompat. Tapi lalu kameranya berkedip, dan sesuatu di dalam dirinya yang sudah lama tidur mengangkat kepala. Dagu turun sedikit. Bahu rileks. Pandangan ke kiri, seakan ada seseorang di sana yang ia kenal.
"Itu!" seru si fotografer. "Pertahankan! Kamu lupa caranya ya, Aurel? Kamu nggak lupa!"
"Nggak lupa," gumam Aurel, tanpa menggerakkan bibir.
Ketika matahari sudah setinggi pucuk teh, ia tahu persis bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang ia kuasai, dan tidak ada yang perlu membuktikannya.
---
Istirahat siang dilakukan di sebuah rumah kaca tua di pinggir kebun, bekas pembibitan bunga yang tidak terpakai bertahun-tahun. Kaca-kacanya keruh dan sebagian pecah. Para kru menumpuk koper peralatan di sana, makan nasi kotak dengan tangan, dan berbicara dengan nada capek.
Aurel duduk di bangku kayu dengan buku catatan di pangkuan dan nasi kotak yang baru separuh. Di seberang, Mas Dimas sedang berdebat pelan dengan asisten produksi soal anggaran, dan ia mendengar kata "set" dan "tambahan" dan "empat ratus lima puluh juta".
"Maaf," katanya. "Itu biaya apa?"
Asisten produksi menoleh. "Set untuk hari ketiga, Mbak. Taman kaca buatan. Tim set bangun dari nol di lapangan sebelah, pakai rangka baja dan kaca akrilik, supaya foto close-up perhiasannya dapat pantulan cahaya bagus. Estimasinya empat ratus lima puluh juta."
Aurel mengangkat kepala dan menatap sekeliling. Rumah kaca tua itu, dengan rangka besi berkarat dan kaca keruh tempat cahaya masuk setengah-setengah, setengah dibelokkan, setengah dipantulkan.
"Berapa orang yang pernah masuk ke sini sebelum hari ini?"
"Tidak banyak, Mbak. Pemilik kebun bilang sudah lama kosong."
"Dan dia mau menyewakannya?"
"Kata Mas Dimas, tadi pagi dia bilang boleh dipakai gratis kalau namanya dicantumkan."
Aurel membuka buku catatannya di halaman bersih dan menulis cepat. Pulpen emasnya tidak berhenti selama empat menit. Mas Dimas berhenti berdebat dan menonton dari jauh, alisnya naik makin tinggi.
"Permisi," kata Aurel akhirnya, berdiri dan menghampiri direktur kreatif, yang sedang berbicara dengan fotografer. "Bu, boleh saya sampaikan satu usul? Tidak lama."
Direktur kreatif memandangnya, dan dari wajahnya jelas bahwa selama ini ia lebih terbiasa mendengar usul dari model tentang pencahayaan atau pose daripada tentang angka.
"Silakan."
"Rumah kaca ini." Aurel menunjuk. "Biaya bangun set di lapangan sebelah empat ratus lima puluh juta. Untuk sewa lokasi di sini, nol, kecuali kredit nama. Biaya merapikan: membersihkan kaca, menyiapkan listrik, memasang peredam di sisi yang pecah. Saya hitung sekitar seratus dua puluh juta, termasuk lembur tim. Selisihnya tiga ratus tiga puluh juta."
"Cahayanya beda," kata fotografer cepat.
"Betul. Tapi ini yang saya lihat tadi pagi." Aurel membuka ponselnya dan memperlihatkan foto yang ia ambil diam-diam saat jam sepuluh: cahaya yang masuk lewat kaca keruh, bentuknya seperti serbuk emas yang jatuh. "Kaca keruh membuat cahaya lebih lembut. Untuk perhiasan, itu justru mahal. Dan citra merek yang menjual keaslian, dengan kaca dan karat, mungkin lebih jujur daripada akrilik yang dibuat meniru kaca."
Hening. Fotografer menatap ponsel itu dan tiba-tiba menjadi pendiam.
"Kamu hitung sendiri?" tanya direktur kreatif.
"Dengan bantuan kalkulator ponsel, Bu. Dan semalam saya belajar membaca anggaran produksi."
Perempuan itu memandang Aurel selama beberapa detik, lalu menoleh pada fotografer. "Kalau cahayanya sebagus ini di jam yang sama dengan hari ketiga, kita pakai. Coba tes dulu sore ini."
"Siap, Bu," kata fotografer, dan nada suaranya berubah dari bersemangat menjadi tertarik sungguh-sungguh.
Direktur kreatif kembali menatap Aurel. "Kamu model pertama yang mengusulkan penghematan di set."
"Biasanya model cuma mengusulkan makanan, ya."
Bibirnya melengkung, hampir tersenyum. "Terima kasih, Aurel."
Baru sekarang perempuan itu memanggil namanya.
Dua puluh meter dari sana, Mas Dimas menjatuhkan nasi kotaknya. Tidak ada yang berani mengatakan apa-apa.
---
Malam itu, di vila kecil yang disewa untuk Aurel dan Mas Dimas, Aurel duduk bersila di atas kasur dengan sweter tebal dan ponsel di tangan. Badannya pegal dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kakinya, entah kenapa, terasa sangat ringan.
Ada tiga pesan dari Aditya, masuk sepanjang hari.
Pukul 07.20: Sudah sarapan?
Pukul 12.15: Sudah makan siang? Aku tanya, bukan nyuruh.
Pukul 17.40: Boleh aku telepon?
Aurel tersenyum dan menekan nomor itu sendiri.
"Halo?"
"Hm?"
"Itu bukan cara orang menjawab telepon," kata Aurel.
"Itu cara aku. Kamu sudah makan?"
"Sudah. Kamu?"
"Sudah. Mbak Sari bikin sop. Aku nggak ikut mengaduk, kata dia lebih aman." Aditya diam sebentar. "Syutingnya gimana?"
"Capek. Dingin. Tapi..." Ia menatap langit-langit vila yang catnya mengelupas. "Aku ngusulin rumah kaca tua buat set hari ketiga, dan direktur kreatifnya setuju."
Hening di seberang. Panjang.
"Kamu apa?"
"Aku hitung dan ngusulin. Selisihnya tiga ratus tiga puluh juta."
"Rel." Suara Aditya berubah, rendah, hangat, hampir kikuk. "Aku... bangga. Aku bilang begitu karena aku bangga, bukan karena itu bagian dari pelajaran."
Aurel menutup mata. Rasanya seperti menerima sesuatu yang sudah lama ia tunggu tapi tidak tahu namanya.
"Aku mau bilang sesuatu," lanjut Aditya. "Tentang kalender."
"Kalender apa?"
"Aku tandai hari ketiga syutingmu. Sabtu. Aku nggak bilang karena kupikir kamu bakal mikir aku mengawasi." Ia menarik napas. "Hari ketiga aku usahakan mampir. Kamu yang bilang boleh atau enggak."