Mas Dimas datang Kamis malam pukul tujuh lewat lima, membawa dua map, satu laptop, dan wajah orang yang tidak yakin apakah ia akan disambut dengan teh atau lemparan bantal.
"Sudah makan, Mas?" tanya Mbak Sari.
"Belum, Mbak. Tapi saya tidak mau merepotkan..."
"Duduk saja, Mas. Nasi goreng yang kemarin sudah ada versi baru."
"Versi baru?"
"Tuan Aditya yang bikin."
Mas Dimas menoleh kepada Aditya, yang kebetulan lewat di ruang tengah dengan secangkir kopi, dan Aditya menatap kopinya dengan konsentrasi seseorang yang memeriksa laporan keuangan tiga tahun. Mas Dimas memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.
Mereka duduk di ruang tengah. Aurel di sofa panjang dengan kaki bersila dan buku catatan di pangkuan, Aditya di kursi single di seberang, jauh dari meja, memberi jarak yang jelas bahwa ini rapat Aurel dan bukan rapatnya. Mas Dimas membuka map pertama.
"Aku langsung saja ya, Rel. Lunara." Ia berdeham. "Seperti yang aku bilang kemarin. Mereka naikkan tawaran."
"Lunara yang dulu batalin kontrak aku?"
"Lunara yang sama." Mas Dimas menyodorkan halaman pertama. "Direktur kreatif mereka, yang baru, mengaku salah menilai. Kebetulan sekali, setelah berita berganti, mereka tiba-tiba sadar kalau mereka kehilangan wajah yang paling cocok. Bahasa mereka, bukan bahasaku."
"Berapa?"
"Enam ratus juta, tiga hari syuting. Kampanye koleksi musim depan, foto dan video, di Lembang. Dua minggu lagi."
Aurel membaca. Ia membaca dua kali, lalu menaruh ujung jarinya di angka itu, hanya menyentuh, seperti menyentuh benda yang belum ia putuskan akan dipegang atau tidak.
"Syaratnya?"
"Boleh menolak materi yang bikin nggak nyaman. Ada klausul moral standar. Dan..." Mas Dimas ragu. "Mereka minta eksklusif kategori perhiasan, enam bulan."
"Enam bulan itu panjang."
"Aku sudah nego dari dua belas."
Aurel mengangkat kepala. "Aku nggak pernah ngajarin Mas nego."
"Aku belajar dari status media sosial kamu. Di mana tiap hari kamu pasang kutipan soal alternatif." Mas Dimas tersenyum tipis. "Dan kamu kelihatan lebih rapi sekarang. Lebih seperti orang yang tahu mau ke mana."
Itu pujian, tetapi entah kenapa menyesakkan.
---
Setelah Mas Dimas dipersilakan makan di ruang makan, ruang tengah menjadi sepi. Aurel memandang map itu, tidak membaca, hanya menatap. Aditya masih di kursinya.
"Kamu maunya apa?" tanyanya.
Aurel menoleh.
"Aku tanya, bukan nyuruh." Aditya meletakkan cangkirnya. "Dari tadi kamu seperti mau bicara tapi nggak keluar."
"Aku nggak tahu."
"Itu jawaban jujur?"
"Itu jawaban yang paling jujur." Aurel menghela napas dan membalik buku catatannya ke halaman bersih. Ia menarik garis tengah, lalu menulis dua kolom. KEBUTUHAN di kiri, KEINGINAN di kanan. Pelajaran lama dari halaman-halaman depan buku ini, yang masih ia ingat persis. "Di kiri aku tulis: uang, supaya aku nggak tergantung siapa pun. Di kanan..."
Pulpennya berhenti.
"Aku kangen," katanya akhirnya. "Kangen lampu studio, kangen bau bedak, kangen dipanggil 'Aurel, mata ke kiri sedikit.' Aku kangen jadi orang yang tahu persis bagaimana caranya berdiri di depan kamera."
Aditya tidak menyela.
"Tapi di sisi lain," lanjut Aurel, "aku suka waktu Pak Hardi nelepon tiga orang dan bilang lampiran tujuh benar. Aku suka tau kenapa angka bergerak. Aku suka waktu kamu ngajarin aku sesuatu dan aku bisa balas dengan sesuatu yang kamu nggak tahu."
"Aku nggak tahu banyak hal."
"Aku bahkan nggak tahu bagaimana milih."
"Boleh aku bilang apa yang kulihat?" tanya Aditya. "Bukan keputusan. Cuma pengamatan."
"Boleh."
"Waktu kamu pegang kamera, kamu hidup. Waktu kamu pegang laporan, kamu juga hidup." Ia mencondongkan badan, kedua siku di lutut. "Aku nggak lihat alasan kamu harus milih salah satu. Tapi mungkin aku salah. Kamu yang tahu rasanya."
Aurel memandangnya lama.
"Kamu nggak bilang 'ambil' atau 'jangan'."
"Aku bisa kasih alasan buat dua-duanya. Tapi itu bukan hidupku."
Itu kalimat sederhana. Aurel merasa seperti baru menerima hadiah yang tidak dibungkus.
"Aku mau negosiasi," katanya.
"Silakan."
"Dengan Lunara, bukan sama kamu."
"Aku tahu."
Mas Dimas kembali ke ruang tengah dengan piring kosong dan senyum puas seorang tamu yang tidak berani meminta tambah. Aurel menyilangkan jari di atas map dan menyebutkan syaratnya satu per satu, dengan suara yang dulu hanya muncul di kepalanya.
"Satu. Aku bekerja di kantor Senin sampai Rabu, tetap. Syuting aku ambil hari Kamis sampai Sabtu, dan aku nggak mau mereka atur jadwal di luar itu. Dua. Eksklusif tiga bulan, bukan enam. Tiga. Hak menolak materi tertulis, termasuk pose dan sentuhan. Tolong ditulis, bukan 'dijaga'. Empat. Kalau jadwal syuting molor, sisa hari dihitung ulang dengan tarif harian, bukan paket."
Mas Dimas mengetik cepat. "Yang keempat belum pernah ada yang minta."
"Karena belum pernah ada yang baca kontraknya sampai bawah."
"Mereka mungkin menolak yang pertama."
"Kalau mereka menolak, aku pergi." Aurel menutup map. "Dan aku nggak akan menyesal, Mas."
Mas Dimas memandangnya sebentar. Dari balik kacamatanya, matanya agak basah. "Baik," katanya. "Aku kabari besok pagi. Tapi Rel, kalau boleh jujur, aku belum pernah melihat kamu begini."
"Begini gimana?"
"Seperti punya meja sendiri."
---
Setelah Mas Dimas pulang, penthouse menjadi sunyi lagi. Mbak Sari mengunci pintu belakang dan menghilang. Aditya mematikan satu per satu lampu ruang tengah, lalu berhenti di depan sofa ketika Aurel masih duduk di sana dengan buku catatan terbuka.
"Rian sudah lapor soal Sinar Kemas," kata Aditya. "Belum ketemu sumbernya. Tapi nama itu ada di daftar calon pemasok yang dikirim ke semua mitra proyek resor bulan lalu. Jadi Kevin bisa saja cuma membaca daftar itu."
"Bisa saja."
"Kamu percaya?"
"Aku catat dulu." Aurel mengetuk pulpennya ke halaman. "Belum percaya, belum curiga. Kategori ketiga: perlu data."
"Kategori ketiga," ulang Aditya, setengah tersenyum. "Aku tidur duluan?"
"Iya. Aku mau nulis sebentar."
Aditya naik. Aurel mendengar langkahnya di tangga, lalu pintu kamar yang menutup pelan.
Ia membuka halaman baru, benar-benar baru, bukan halaman pelajaran dan bukan halaman rahasia. Pulpen emasnya menggantung. Ia menulis satu kata dengan huruf kapital, sedikit miring ke kanan, seperti tanda tangannya.
NABIQA.
Lalu ia memandang kata itu sampai matanya panas. Ia tidak tahu kenapa nama belakang yang dulu hanya tulisan di KTP tiba-tiba terasa seperti nama sebuah rumah yang belum dibangun.
Di lantai atas, Aditya duduk di tepi tempat tidurnya, membuka tablet, dan menekan ikon kalender. Dua minggu lagi. Kamis. Jumat. Sabtu. Ia menekan hari Sabtu dan tidak menulis apa pun. Ia hanya memberi satu titik kecil berwarna merah di pojok kotak itu.
Lalu ia mematikan layar, dan tidak mengatakannya kepada siapa pun.