Kevin datang sepuluh menit lebih awal dan membawa kue.
Kotak karton cokelat dengan pita emas, diletakkannya sendiri di tengah meja rapat lantai atas, seolah ia tamu di rumah teman lama. Maya menerimanya dengan senyum yang sangat profesional. Aurel menerimanya dengan alis yang naik setengah senti.
"Pak Kevin."
"Mbak Aurel. Pak Aditya." Kevin menjabat tangan mereka bergantian, sebentar, tepat seperti yang pantas. Jasnya abu muda, rambutnya rapi, senyumnya lebar tanpa cela. "Jogja dingin akhir-akhir ini, jadi saya pikir kalian perlu sesuatu yang manis."
"Terima kasih," kata Aditya, nadanya jenis nada yang dipakai pada surat tagihan.
Sebelum rapat, Aurel sempat bertanya apakah Aditya mau hadir. Jawaban Aditya adalah: "Boleh aku duduk? Aku nggak akan bicara kalau bukan soal Resor." Dan Aurel menjawab: "Boleh. Tapi kursi paling ujung." Sekarang Aditya duduk di kursi paling ujung, dengan kedua tangan terlipat, tampak persis seperti tiang bendera yang kebetulan berjas.
Rapat dibuka dengan hal-hal yang wajar. Kevin hendak menambah porsi investasi di Resor Jogja, dua belas persen, lewat perusahaan kecilnya yang bergerak di bidang hotel butik. Maya mencatat. Aditya mengangguk dua kali. Aurel hanya diam dan mengamati, seperti diajarkan: dengarkan dulu sebelum bicara.
"Dan satu hal lagi, di luar urusan resor," kata Kevin, memutar pulpennya setengah putaran. "Mbak Aurel, saya langsung saja."
"Silakan."
"Saya sedang meluncurkan merek hotel butik saya sendiri tahun depan. Namanya masih rahasia. Saya mencari wajah untuk kampanyenya, dan saya ingin Mbak Aurel." Ia membuka map tipis dan menggesernya ke seberang meja. "Bayarannya tiga kali lipat tarif iklan Mbak yang terakhir. Saya tahu angkanya."
Aurel membaca halaman pertama. Angka di sana memang besar. Lebih besar daripada apa pun yang ditawarkan kepadanya sejak ia pindah ke penthouse ini.
"Pak Kevin tahu tarif terakhir saya dari mana?"
"Dari agensi." Kevin tersenyum. "Saya sudah pernah mengajukan nama Mbak dua tahun lalu, lewat agensi yang sama. Ditolak." Ia mengangkat bahu kecil dengan sangat santai. "Saya tidak tersinggung. Jadwal Mbak waktu itu penuh."
Senyumnya kaku. Hanya sedikit, di sudut kiri, seperti pintu yang tidak pernah benar-benar menutup rapat. Aurel melihatnya karena sudah belajar membaca hal-hal kecil, dan ia mencatatnya di kepala tanpa mengubah ekspresi.
Dua tahun lalu. Ia tidak pernah mendengar soal ini.
"Saya mau menanyakan beberapa hal sebelum memutuskan," katanya.
"Tentu."
"Berapa lama kontraknya, apakah eksklusif untuk kategori hotel saja atau semua properti, siapa yang memutuskan konsep visual, dan apakah saya boleh menolak materi tertentu."
Kevin berkedip, hanya sekali. "Wah, pertanyaan yang sangat... lengkap."
"Saya sedang belajar."
"Dari Pak Aditya, saya duga."
"Dari banyak orang." Aurel menutup map itu dan meletakkan telapak tangannya di atasnya. "Pak Kevin, tawarannya besar dan saya hargai. Tetapi ada tiga hal. Pertama, saya belum melihat konsepnya. Kedua, jadwal saya sedang diisi pekerjaan lain yang saya pilih sendiri. Ketiga, saya tidak mau menandatangani apa pun yang tidak sempat saya pikirkan semalam. Jadi jawaban saya hari ini adalah: terima kasih, tidak."
"Tidak?"
"Tidak. Dengan hormat."
Ruangan itu diam. Aditya memandang meja kaca di depannya dengan keras, seolah bisa meretakkannya dengan tatapan. Ia ingin sekali berkata sesuatu. Kata-kata itu bahkan sudah tersusun lengkap di kepalanya, dengan kalimat pembuka dan penutup. Tetapi pulpen Aurel tidak terangkat, dan karena itu ia memilih menghitung retakan halus di bawah gelasnya. Dua. Tiga. Maya berhenti menulis.
"Alternatifnya?" kata Kevin, masih tersenyum. "Kalau saya naikkan angka?"
"Saya tidak menolak karena angkanya."
Itu kalimat yang paling tenang yang pernah ia ucapkan. Dan itu juga kalimat yang paling jujur.
Kevin tertawa, pendek, seperti batuk. "Baik. Saya suka orang yang tahu apa yang mereka mau." Ia berdiri dan merapikan jas. "Tolong simpan tawaran itu. Mungkin Mbak berubah pikiran. Orang kadang berubah pikiran setelah sesuatu terjadi."
"Sesuatu apa?"
"Hal-hal kecil. Misalnya..." Matanya turun ke meja, ke buku catatan biru tua bersampul tebal yang tergeletak di samping tangan Aurel. "Buku yang bagus. Catatan yang rajin sekali. Mbak pasti sering menulis."
Aurel menutup buku itu tanpa terburu-buru dan menariknya ke pangkuan.
"Kebiasaan lama."
"Kebiasaan yang baik. Orang yang menulis biasanya orang yang teliti." Kevin mengangguk pada Aditya. "Pak Aditya, tolong titip salam untuk Bapaknya Mbak Aurel di Sinar Kemas. Beliau pasti bangga punya putri sehebat ini."
Pintu menutup di belakangnya.
Tidak ada yang bicara.
"Sinar Kemas," kata Aurel pelan.
"Nama usaha Papamu," kata Aditya dari ujung meja.
"Aku nggak pernah nyebut itu ke dia." Aurel membuka buku catatannya dan menulis cepat. "Papa nggak pernah muncul di berita. Kontrak pasok itu pun belum diumumkan. Aku nggak pernah nyebut."
"Mungkin Rian atau..."
"Mungkin." Ia menulis garis bawah dua kali. "Aku cuma mau tahu dari mana dia dengar."
---
Malam itu hujan tidak turun, tetapi balkon penthouse tetap terasa lembap. Aurel duduk di lantai dengan punggung bersandar di pagar kaca, dua gelas es cokelat di sebelahnya. Aditya muncul membawa sepiring kue dari Kevin yang sudah dipotong rapi.
"Kamu mau?" tanyanya.
"Kamu bawa kuenya Kevin?"
"Mbak Sari yang potong. Aku cuma bawa." Aditya duduk di sisinya, menjaga jarak satu bantal. "Aku mau jujur."
"Hm?"
"Waktu dia bilang tiga kali lipat, aku mau berdiri." Aditya menatap lampu kota. "Waktu dia bilang 'buku yang bagus', aku mau menarik bukumu dan memasukkannya ke brankas. Waktu dia pergi, aku mau menelepon seseorang untuk melarang dia masuk gedung ini."
"Tapi kamu nggak."
"Rasanya kayak nahan bersin tiga puluh menit."
Aurel tertawa.
"Aku cemburu," kata Aditya. "Itu perasaanku, bukan hakku. Jadi aku nggak mau melakukan sesuatu karenanya, kecuali kamu bilang boleh."
"Boleh apa?"
"Apa pun yang menyangkut kamu."
"Kalau gitu, boleh satu hal," kata Aurel. "Nanti Rian nyari tahu dari mana Kevin dengar nama Sinar Kemas. Cek aja, jangan konfrontasi."
"Boleh aku suruh Rian malam ini?"
"Boleh."
Aditya mengetik dua kalimat di ponsel, lalu menaruhnya telungkup di lantai, seperti menaruh senjata di meja perundingan.
"Ke Kevin?"
"Ke semua orang yang melihatmu terlalu lama."
Aurel menarik lututnya ke dada. Selama beberapa detik ia hanya memandang es cokelatnya, lalu mengaku dengan suara yang hampir tidak keluar.
"Aku juga."
"Kamu juga apa?"
"Cemburu. Ke Karina." Ia menutup wajah dengan satu tangan, tetapi masih mengintip dari celah jari. "Waktu dia ngelap keringatmu. Aku mau lempar handuknya ke kolam."
"Kolam renang kita nggak ada."
"Aku nggak peduli. Aku mau nyari."
Aditya tertawa, benar-benar tertawa, bahunya bergetar. Aurel ikut, dan mereka terdiam bersama sambil mengatur napas.
"Kita ini..." kata Aditya.
"Tim?"
"Aku mau bilang idiot."
"Tim idiot."
"Tim," ulang Aditya. Ia mengambil sepotong kue dan menyodorkannya. Aurel mengambil sepotong yang lain, dan tidak ada yang berkomentar bahwa kue itu hambar.
"Oh ya," kata Aditya, mulutnya masih penuh kue. "Mas Dimas tadi sore nelepon aku."
"Nelepon kamu?"
"Minta izin datang ke penthouse Kamis malam. Katanya ada tawaran dari Lunara, dan kamu pasti bilang tidak sebelum dengar angkanya." Aditya menelan. "Aku bilang itu keputusanmu, bukan aku. Tapi dia minta aku sampaikan satu hal."
"Apa?"
"Kamu harus duduk dulu waktu dengar angkanya."