"Kalau aku mengangkat pulpen," kata Aurel di dalam lift, "kamu jangan bicara."
Aditya menatap angka lantai yang naik. "Pulpen emas?"
"Pulpen apa pun. Pokoknya kalau aku angkat dan ketuk dua kali ke meja, itu artinya aku sendiri yang pegang."
"Dan kalau kamu nggak angkat pulpen?"
"Berarti aku boleh minta bantuan."
"Kapan kamu bakal minta?"
"Mungkin nggak sama sekali." Aurel merapikan lengan blazer krem yang sebenarnya sudah rapi. "Tapi bagus kamu nanya."
"Itu Pasal Satu."
"Aku tahu. Aku yang nulis."
Lift berdenting di lantai dua puluh dua. Aditya meluruskan jasnya, lalu menyadari tangannya sendiri tidak tahu harus berbuat apa dan menaruhnya di saku. Aurel melihat dan menahan senyum. Dalam seminggu terakhir ia belajar bahwa laki-laki ini paling kewalahan bukan di ruang rapat, tetapi saat berusaha tidak membantu.
---
Ruang rapat di lantai itu menghadap barat, dan matahari pukul sembilan baru memberi garis tipis di permukaan meja kaca. Pak Hardi sudah duduk di ujung seberang, berkacamata, dengan map tebal dan raut wajah orang yang menolak hal-hal sebelum membacanya. Di sisinya duduk satu staf Arvanta tanpa nama dan Karina, yang hari ini membawa gulungan gambar dan senyum sopan untuk Aurel.
Maya meletakkan salinan revisi. Aurel berdiri.
"Selamat pagi, Pak Hardi. Saya mulai dari perubahan terbesarnya."
Ia menjelaskan. Biaya pemeliharaan tahun kelima sampai kesepuluh. Alasan ia memisahkan dua pos. Tabel perbandingan dengan tiga resor yang sudah beroperasi sepuluh tahun lebih. Ia berbicara dua menit penuh tanpa tersendat, melirik catatan hanya sekali.
"Berhenti," potong Pak Hardi.
Aurel berhenti.
"Angka kenaikan tiga persen per tahun itu dari mana?"
"Dari lampiran tujuh, Pak. Rata-rata inflasi sektor jasa dan kenaikan upah pekerja pemeliharaan di tiga resor itu."
"Lampiran tujuh." Pak Hardi membalik halaman dengan jari yang menekan terlalu keras. "Mbak Aurel, saya sudah tiga puluh tahun membaca laporan. Saya tahu mana laporan yang dibuat orang yang paham biaya, dan mana yang dibuat orang yang paham cara tampil meyakinkan. Mbak lebih terbiasa dengan kamera. Tabel itu bisa dibuat siapa saja."
Ruangan itu mendadak sangat tenang.
Dari tempat duduknya Aditya melihat rahang Aurel mengencang sepersekian detik. Pulpen emas tergeletak di atas map, tidak tersentuh. Ia sendiri memegang pinggiran meja dengan dua tangan, dan buku jarinya memutih. Satu kalimat sudah sampai di ujung lidahnya, kalimat yang akan membuat ruangan ini bergema dan membuat Pak Hardi menutup mulut. Ia juga tahu persis apa yang akan terjadi sesudahnya: ruangan akan menganggap Aurel perlu dibela.
"Pak Aditya," kata Pak Hardi, menoleh padanya, "mungkin Bapak bisa bantu menjelaskan?"
Aditya mengangkat kepala.
"Silakan tanya langsung kepada istri saya," katanya. "Itu laporannya."
Di seberang meja, ia melihat Aurel menoleh sedikit. Hanya sedetik. Cukup lama baginya untuk membaca ucapan terima kasih di sana, dan cukup singkat untuk tidak diketahui orang lain.
"Pak Hardi," kata Aurel, dan nadanya sangat datar, sangat tenang, seperti orang yang membaca resep. "Saya menerima kritik soal kamera. Memang di sana saya paling lama berada. Tapi tabel di lampiran tujuh tidak butuh saya paham kamera. Ia butuh Bapak membuka halaman terakhir."
Pak Hardi memandangnya.
"Halaman terakhir," ulang Aurel, "berisi nama tiga manajer proyek yang memberikan angka itu, nomor kontak, dan tanggal tiap pengambilan data. Saya tidak berharap Bapak percaya pada saya. Saya berharap Bapak menelepon mereka."
Hening.
Pak Hardi membalik ke halaman terakhir. Ia membaca. Karina menatap gulungan gambarnya dengan serius, jelas sekali menahan senyum. Staf Arvanta mengetik sesuatu di laptop.
"Saya akan telepon mereka," kata Pak Hardi akhirnya.
"Silakan. Saya tunggu di sini."
Ia menelepon tiga orang, dari ruang sebelah, dan kembali sepuluh menit kemudian dengan wajah yang tidak lagi sama.
"Lampiran tujuh benar," katanya. Kalimat itu keluar kasar, seperti orang yang menelan kerikil. "Perbaiki tabel bagian lima. Kirimkan revisi akhirnya. Oleh Mbak Aurel."
"Baik, Pak."
Staf Arvanta mengangkat tangan dengan ragu. "Bu Aurel, untuk bagian lima, kalau tarif lembur dinaikkan, apakah selisihnya masuk pos yang sama?"
"Tidak, Pak. Masuk pos tenaga kerja, bukan pemeliharaan. Itu sebabnya saya pisahkan dari awal." Aurel mengetuk satu baris di salinannya. "Kalau digabung, angka tahun kedelapan terlihat dua belas persen lebih besar dari sebenarnya, dan itu menyesatkan kedua pihak."
Staf itu mencatat. Pak Hardi menatap catatan itu, bukan Aurel.
"Dan, Mbak."
"Ya?"
"Soal kamera tadi. Saya salah memakai kata itu." Pak Hardi merapikan mapnya, tanpa menatap siapa pun. "Rapat selesai."
Aditya mengatur napas pelan-pelan. Sepanjang rapat itu ia tidak mengatakan apa pun, dan ia baru mengerti bahwa diam bisa sesulit memutuskan. Telapak tangannya basah. Biasanya ia keluar dari ruang seperti ini dengan perasaan menang. Hari ini ia keluar dengan perasaan telah menyaksikan sesuatu yang bukan miliknya, dan itu terasa jauh lebih baik.
---
Lift menuju lobi penuh dengan wangi parfum Karina, sesuatu yang segar dan bersih. Aditya masih di ruang rapat bersama Pak Hardi dan Maya; mereka berdua turun lebih dulu.
"Kamu keren," kata Karina begitu pintu menutup.
"Aku gemetar."
"Itu bukan gemetar. Itu adrenalin. Lain kali kamu bisa nikmatin."
"Lain kali?"
"Pak Hardi bukan tipe yang berhenti sekali." Karina bersandar pada dinding lift dan menatap angka yang menurun. "Rel, aku mau ngomong sesuatu. Kalau kamu nggak mau dengar, bilang."
Aurel menoleh. "Soal apa?"
"Soal Adit."
Perut Aurel mendadak terasa tidak nyaman, tetapi ia memaksa wajahnya tetap rata. "Silakan."
"Aku lihat kamu waktu di klub. Waktu aku ngelap keringat dia." Karina mengangkat dua jari. "Dua detik. Aku lihat wajahmu dua detik, dan langsung ngerti."
"Aku nggak..."
"Rel." Karina tertawa kecil, hangat, tanpa mengejek. "Dia saudaraku. Sejak umur delapan. Dia pernah muntah di sepatu baruku, aku pernah ngelempar raket ke kepalanya waktu kami kalah di final. Itu bukan hubungan yang bisa jadi apa-apa."
"Mami..."
"Mama Wilhelmina berharap lain. Aku tahu. Dari dulu. Tapi aku udah bilang ke beliau berkali-kali, dan sekarang aku bilang ke kamu langsung." Karina menunduk, dan senyumnya menjadi lebih lembut dari yang pernah Aurel lihat. "Aku punya seseorang di Surabaya. Orangnya nggak pernah nanya aku soal bulu tangkis."
Aurel tertawa pelan, lebih dari yang ia kira. Rasa tidak nyaman di perutnya mencair satu per satu seperti es krim di bawah matahari.
"Terima kasih, Rin."
"Sama-sama. Jangan bilang Adit aku bilang begini. Dia nanti bikin tabel."
"Tabel?"
"Dia pernah bikin tabel pro-kontra waktu aku mau pindah ke Surabaya. Tiga halaman."
Pintu lift terbuka di lobi. Aurel hendak melangkah keluar ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Maya, masuk dari lantai atas dengan nada yang jelas sedang berusaha biasa saja.
Mbak Aurel, Pak Kevin dari proyek Jogja baru saja mengabari. Beliau minta bertemu hari Senin pukul sepuluh di kantor. Secara khusus meminta Mbak Aurel hadir.