Pukul enam lewat sepuluh, bel pagar rumah orang tua Aurel berbunyi dua kali, pendek dan sopan, seperti orang yang sudah berlatih menekan bel di depan cermin.
Semalam Aditya pamit sebelum pukul sebelas, menolak tawaran Papa untuk menginap, dan pulang naik taksi daring dengan wajah seperti orang yang baru diberi pekerjaan rumah. Aurel tidak menyangka pekerjaan rumah itu dikerjakan secepat ini.
Aurel mengintip dari jendela kamar. Aditya berdiri di luar dengan kemeja yang sudah kering, rambut yang masih tampak diurus buru-buru, dan sebuah termos stainless di tangan kiri. Tangan kanannya dibalut dua plester di jari telunjuk dan satu di punggung tangan.
Ia turun sambil menggigit bibir supaya tidak tertawa.
Mama sudah lebih dulu sampai di teras. Daster birunya diganti blus rumah, dan wajahnya adalah wajah penguji yang sama sekali tidak tertarik pada penderitaan peserta.
"Selamat pagi, Tante."
"Pagi. Itu apa?"
"Bubur, Tante." Aditya mengangkat termos dengan dua tangan, seolah membawa sesuatu yang bisa meledak. "Saya masak dari jam empat."
"Dibantu siapa?"
"Mbak Sari, Tante. Lewat video."
"Berarti bukan kamu yang masak."
"Mbak Sari cuma ngomong 'api kecil, Tuan. Api kecil.' Saya yang mengaduk." Ia berhenti, lalu menambahkan lebih lirih, "Saya sempat bikin yang pertama gosong."
"Yang pertama?"
"Ada tiga."
Papa muncul di belakang Mama dengan secangkir kopi dan wajah yang sedang berusaha tidak menikmati ini. Mama membuka tutup termos. Uap naik. Ia mencium, mengambil sendok kecil dari saku blusnya, dan mencicipi, sementara tiga orang lain menahan napas.
Hening panjang.
"Hambar," kata Mama.
Bahu Aditya turun.
"Tapi tidak gosong. Dan tidak lembek di tengah." Mama menyerahkan sendok itu ke Papa. "Lulus bersyarat. Besok garamnya ditambah."
"Besok?" tanya Aditya.
"Kamu pikir cukup sekali?"
Papa mencicipi dan mengangguk-angguk dengan wajah seorang juri yang ikut menilai. "Hambar sekali," katanya, "tapi Papa makan juga."
"Pa," kata Aurel.
"Itu pujian."
Aurel mengambil tasnya dari ruang tamu. Waktu ia keluar lagi, Aditya berdiri di tangga paling bawah dengan wajah orang yang tidak berani menawarkan apa-apa.
"Boleh aku bawa tasmu?" tanyanya.
Aurel hampir menjawab dengan gue-lo, tapi kata yang keluar lebih dulu adalah yang lain.
"Boleh. Tapi bukan karena kamu bos."
"Bukan. Karena aku yang bertanya."
Mama, yang berdiri di pintu, mengangguk sekali, sangat kecil, seperti petugas yang menandai satu kotak di daftar.
---
Penthouse menyambut mereka dengan sepi yang dibuat-buat.
Lift terbuka, dan Mbak Sari sudah berdiri di depan pintu dengan celemek yang masih terikat. Matanya merah. Pak Budi di belakangnya sibuk mengelap pegangan tangga yang kemarin sudah dilap. Pak Darto bahkan tidak kelihatan. Rupanya ia memilih menyiram taman tiga kali berturut-turut. Di ambang jendela ruang tengah, anggrek pemberian Wilhelmina masih hidup, disiram Mbak Sari tiap Minggu dengan ketelitian orang yang takut dituntut.
"Nona," kata Mbak Sari, dan suaranya pecah di suku kata kedua.
"Mbak..."
"Maaf, Nona. Saya cuma..." Ia mengusap pipi dengan ujung celemek. "Kamar Nona saya biarkan seperti kemarin. Lampunya saya nyalakan terus, karena Tuan bilang jangan dimatikan."
Aurel menoleh pelan ke Aditya. Aditya memandang lantai marmer dengan minat yang tiba-tiba besar.
"Aku bilang begitu," katanya pada marmer.
"Sepanjang malam?"
"Sampai jam empat. Setelah itu aku di dapur."
Aurel memeluk Mbak Sari. Pelukan itu pendek, tetapi Mbak Sari menangis sedikit lebih keras, dan Pak Budi berhenti mengelap tangga dan berbicara pada pegangan kayu dengan nada sangat tegas, "Kok bisa berdebu terus ya."
"Pak Budi, nggak ada debunya," kata Aurel.
"Debu itu sulit dilihat, Nona."
Tawa Aurel lepas begitu saja. Mbak Sari ikut tertawa sambil mengusap hidung, dan di belakang mereka Aditya akhirnya mengangkat kepala.
---
Siang itu Aditya tidak ke kantor. Rian dan Maya mengambil alih jadwal, dan Aurel baru tahu setelah ia masuk ruang kerja dan menemukan Aditya duduk di sana tanpa laptop. Hanya sebuah buku catatan kosong dan pulpen hitam.
"Kamu bolos?" tanyanya.
"Aku tunda. Hari ini ada yang lebih penting."
"Apa?"
"Pasal tiga. Kalau kamu masih marah, bilang. Aku siap dengar. Tanpa membela diri."
Aurel menarik kursi dan duduk. Ia sudah menyiapkan kalimat ini sepanjang jalan, tetapi kini terasa jauh lebih berat daripada di mobil.
"Masih ada satu hal."
"Silakan."
"Kalimat itu. 'Gue yang punya uangnya.'" Aurel menatap meja, bukan wajahnya. "Aku bisa maafin harga, aku bisa maafin Maya diam-diam. Tapi kalimat itu bikin aku merasa..." Ia mencari kata. "Seolah semua yang aku kerjain sendiri, transfer empat puluh enam juta, bohong ke Mama, belajar tiap malam, bisa kamu beli ulang kapan saja. Dan aku bakal bilang makasih."
Aditya tidak menjawab.
Aurel menunggu pembelaan. Alasan, nada tinggi, atau paling tidak kalimat mulai dengan "Tapi". Yang datang malah keheningan, dan jari Aditya yang berhenti menekan pulpen.
"Itu salah," katanya akhirnya. "Aku nggak mau cari alasan."
"Itu saja?"
"Iya. Kalau aku jelasin kenapa aku mengucapkannya, itu bakal terdengar seperti membela diri, dan aku nggak mau kamu harus menilai itu juga." Ia mengangkat mata. "Terima kasih sudah bilang. Aku tahu itu nggak enak diucapkan."
Aurel menatapnya sebentar. Dadanya terasa lebih ringan satu ons, entah dari mana.
"Aku udah selesai," katanya.
"Betul?"
"Betul. Pasal tiga, selesai."
---
Malam harinya, sesuatu terbakar.
Bukan hebat. Hanya bau mentega gosong yang merayap dari dapur ke ruang tengah, disusul bunyi alarm asap yang berbunyi tiga kali lalu dimatikan seseorang dengan sapu. Aurel menuruni tangga dengan piyama dan rambut digelung.
Di dapur, Aditya berdiri di depan kompor dengan celemek Mbak Sari yang terlalu pendek untuknya. Wajan di depannya mengepul. Di sebelahnya, telur pecah di lantai, nasi putih bertebaran di konter, dan Mbak Sari berdiri di pojok dengan ekspresi seorang saksi yang tidak mau dipanggil ke pengadilan.
"Aku nanya dulu!" seru Aditya begitu melihat Aurel. "Boleh aku masak untukmu? Aku sudah mulai sebelum kamu jawab, tapi tadinya mau nanya!"
"Kamu mulai duluan?"
"Aku mulai nanya di kepala."
"Dit, itu nasi goreng?"
"Itu niatnya nasi goreng kampung. Kayak yang kamu masak waktu itu."
Aurel mendekat. Di dalam wajan, benda hitam-cokelat itu lebih mirip sisa hasil pembakaran tambang. Ia mengambil sendok, menyentuhnya, lalu mencicipi seujung.
"Pahit."
"Aku tahu."
"Sedikit asin."
"Itu aku pikir bagus."
"Dan ada kulit telur."
Aditya menutup mata. "Beri aku satu menit untuk menghormati kegagalanku."
Aurel tertawa dulu, terpingkal sampai harus berpegangan pada konter. Dan Aditya, laki-laki yang pernah memimpin rapat dengan wajah tidak berubah selama tiga jam, tertawa juga, tawa yang keluar dari dada, tanpa menahan.
"Terima kasih," kata Aurel setelah napasnya kembali, "sudah bertanya."
"Walau mulai duluan?"
"Walau mulai duluan." Ia mengambil spatula dan menggeser Aditya dengan bahunya. "Minggir, Pak Chef. Aku ajarin. Mulai dari menyalakan api kecil."
"Api kecil," ulang Aditya, patuh.
Selama dua puluh menit berikutnya dapur itu berubah menjadi kelas darurat. Aurel memecahkan telur di mangkuk dulu, bukan di wajan. Aditya mencatat. Aurel menumis bawang sampai harum, bukan sampai hitam. Aditya mencatat lagi, di buku kosong yang tadi siang ia pakai menunggu, dengan tulisan tegak yang rapi seperti notulen rapat direksi.
"Kenapa dicatat?"
"Besok jam enam aku harus ke rumah Mama."
"Garamnya ditambah."
"Itu juga dicatat."
Nasi goreng kedua keluar dari wajan dengan warna cokelat keemasan. Mereka makan berdua di konter, berdiri, dari satu piring, karena meja makan terasa terlalu resmi untuk malam seperti ini. Ponsel Aurel bergetar di dekat piring. Pesan dari Maya, dengan nada formal yang sengaja dibuat datar: Pak Hardi dari Arvanta mengonfirmasi rapat lanjutan Jumat pukul sembilan. Beliau meminta revisi dipresentasikan langsung oleh Mbak Aurel.
Aurel membacanya dua kali. Lalu ia menyodorkan ponsel itu ke Aditya.
Aditya membaca, meletakkan sendok, dan memandang Aurel lama.
"Kamu mau?" tanyanya. "Aku tanya. Bukan ngajak, bukan nyuruh."
"Dia nyebut namaku, Dit."
"Iya."
"Dan kamu nggak komentar."
"Aku mau dengar dulu jawabanmu."
Aurel mengambil sendok, menyuap, mengunyah pelan, dan baru menelan setelah wajahnya berubah dari gugup menjadi sesuatu yang lebih keras kepala.
"Bilang ke Maya," katanya, "aku datang."