Aurel tidak langsung membuka pagar.
Ia berdiri di sisi dalam besi yang basah itu, dengan satu tangan memegang kunci gembok, dan memandang laki-laki di seberangnya. Kemeja putih yang menempel di bahu. Rambut yang meneteskan air ke dahi. Sepatu kulit yang jelas tidak dibuat untuk jalan kaki dari mulut gang.
"Lo jalan kaki?" tanyanya.
"Dari jalan raya."
"Pak Budi?"
"Gue suruh pulang. Rian yang nurunin gue di depan minimarket, terus gue suruh dia pulang juga." Aditya menelan ludah. "Gue nggak mau datang sebagai CEO. Orang yang cuma bisa datang pakai mobil hitam dan dua pengawal itu bukan orang yang pantas minta maaf."
"Berapa lama lo berdiri di sini?"
"Dua puluh menit. Gue lagi nyusun kalimat."
"Udah ketemu?"
"Belum. Tapi gue datang juga."
Aurel menahan sudut bibirnya supaya tidak naik. Hampir berhasil.
"Boleh gue masuk?" ulang Aditya, lebih pelan. "Kalau lo bilang nggak, gue pulang. Gue nggak akan nunggu di sini sampai lo kasihan."
Itu kalimat yang paling tidak ia duga. Aurel memutar kunci, menarik pagar, dan menggesernya sedikit.
"Teras. Bukan ruang tamu. Mama sama Papa lagi nonton sinetron, dan kalau mereka lihat lo basah begini, kita nggak akan selesai sebelum subuh."
---
Di teras ada dua kursi rotan dan satu meja kecil. Aurel membawa buku catatan biru tua dari kamar, bersama handuk dari jemuran dalam yang ia lempar ke dada Aditya tanpa pemberitahuan. Aditya menangkapnya. Bantal sofa, handuk, apa pun yang dilempar, ia selalu menangkapnya.
Ia tidak duduk. Ia mengeringkan wajah, meletakkan handuk di sandaran, lalu berdiri tegak di hadapan Aurel dengan tangan di sisi tubuh.
"Gue minta maaf."
"Mulai."
"Bukan maaf tapi." Ia menarik napas. "Gue menetapkan harga itu tanpa nanya lo. Gue nyuruh Maya diam. Gue bilang 'Jangan sampai Aurel tahu dulu', dan itu bukan cara nolong, Rel. Itu cara ngatur."
Aurel diam.
"Terus gue bilang kalimat itu. 'Gue yang punya uangnya.'" Rahangnya bergerak. "Itu kalimat orang yang merasa bisa beli semua hal. Dan lo tahu kenapa gue bisa ngomong begitu dengan enteng? Karena sejak umur dua puluh dua, setiap kali ada yang goyah, gue nutup lubangnya sendiri. Nggak nanya. Nggak nunggu. Kalau gue nanya, ada kemungkinan jawabannya tidak, dan gue nggak bisa..." Ia berhenti. "Gue takut jawabannya tidak."
"Jadi lo nggak nanya."
"Jadi gue nggak nanya."
Hujan mengetuk atap teras. Dari dalam rumah terdengar suara tokoh sinetron menangis.
"Sudah?" kata Aurel.
"Itu aja."
"Lo nggak bilang soal harga dirinya Papa."
Aditya terdiam. Lama.
"Papa lo bakal ngerasa hasil kerjanya dihargai," katanya pelan. "Padahal angkanya dibantu. Itu bohong yang gue bikinin untuk dia. Gue minta maaf juga untuk itu."
Aurel mengambil pulpen emasnya. Ia membuka halaman baru, menulis di bagian atas dengan huruf tegak: PASAL TAMBAHAN.
"Duduk," katanya.
Aditya duduk di kursi rotan yang berderit. Aurel menyodorkan buku itu, dan ia membaca halaman sebelumnya yang lupa ditutup: CARA MEMPERBAIKI KONTRAK PASOK, lima poin, dan tanda tanya kecil di sebelah poin lima.
"Poin lima ini kenapa ada tanda tanya?"
"Karena gue nulis 'Papa tidak perlu tahu sekarang'."
"Rel..."
"Gue tahu." Aurel mengangkat tangan. "Gue baru marah-marah sama lo karena nyembunyiin, terus gue sendiri nyusun cara nyembunyiin. Jadi kita impas." Ia mencoret sedikit ujung pulpennya ke kertas. "Itu utang kejujuran. Gue yang bayar, bukan lo. Tapi bukan sekarang, dan bukan solusi yang bersih. Gue ngaku sebelum lo nemuin sendiri."
"Gue nggak akan ngomong ke Om."
"Itu keputusan gue, bukan lo."
"Siap."
Mereka saling memandang. Aditya mengatupkan bibir. Hampir tersenyum, dan Aurel melihatnya.
"Jangan senyum. Gue masih marah."
"Gue nggak senyum."
"Sudut bibir lo naik."
"Itu otot."
Aurel menunduk ke buku. Pulpen emasnya bergerak.
"Pasal satu. Tanya dulu sebelum memutuskan hal yang menyangkut hidup atau keluarga orang lain. Bukan kasih tahu. Bukan minta maaf sesudahnya. Tanya."
"Setuju."
"Pasal dua. Bantuan cuma lewat jalur yang bisa dipertanggungjawabkan dan diketahui orang yang dibantu. Kalau ada yang lo lakukan diam-diam, lo harus siap menjelaskannya di depan orangnya."
Aditya mengangguk lambat. "Setuju."
"Pasal tiga. Kalau marah, bilang dalam dua puluh empat jam. Jangan diam, jangan ngilang ke kantor, jangan nunggu sampai jadi badai."
"Itu berlaku buat lo juga?"
Aurel mengangkat kepala.
"Itu pertanyaan yang bagus."
"Gue nanya, ya."
"Berlaku buat dua-duanya." Ia menulis kalimat itu persis. Setelah itu ia merobek sehelai halaman kosong dari bagian belakang, menulis ulang ketiga pasal di sana dengan rapi, dan menyerahkannya ke seberang meja. "Tanda tangan."
"Di sini?"
"Di sini. Kalau ada yang bilang itu nggak resmi, lo bilang gue punya pulpen emas."
Aditya menandatangani dengan tanda tangan yang biasa ia pakai untuk kontrak ratusan miliar, dan tangannya tidak gemetar. Aurel menandatangani di bawahnya. Tanda tangannya miring ke kanan.
"Soal harga," kata Aditya sambil meletakkan pulpen. "Besok pagi gue minta Maya revisi kontraknya. Harga ke pasar, Rp4.250, dengan standar mutu tertulis dan tinjauan harga tiap enam bulan. Itu poin satu sampai tiga di daftar lo, kan?"
"Lo baca?"
"Terbalik, tapi kebaca."
"Papa bakal nanya kenapa harganya berubah."
"Kita sebut penyesuaian. Anak perusahaan menyelaraskan dengan pemasok lain. Itu benar." Ia berhenti. "Walau bukan seluruh kebenarannya."
"Iya," kata Aurel. "Bukan seluruhnya."
Pintu depan berderit. Mama muncul dengan daster biru dan sandal rumah, membawa nampan berisi semangkuk bubur dan secangkir teh jahe yang uapnya melayang ke langit-langit teras. Wajahnya sangat datar, wajah yang disiapkan untuk berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
"Nak Aditya," katanya. "Basah begitu."
"Selamat malam, Tante."
"Bubur sisa tadi pagi. Masih hangat." Ia menyodorkan nampan. "Makan."
"Terima kasih, Tante. Saya..."
"Makan."
Aditya mengambil sendok. Mama menunggu satu suapan, dan baru setelah wajah Aditya melembut, ia membuka mulut lagi.
"Enak?"
"Enak sekali, Tante."
"Resepnya gampang. Orang yang bisa jaga api kecil, bisa bikin." Mama menatap Aurel sekilas, lalu kembali pada Aditya. "Besok Aurel pulang ke tempat kamu?"
"Itu... terserah Aurel, Tante."
"Pintar." Mama menepuk bahunya. "Belajar bikin bubur ini dulu. Kalau sampai nggak bisa, Aurel Mama tahan satu malam lagi."
"Ma!" seru Aurel.
"Mama nggak bilang apa-apa," kata Mama, dan masuk lagi ke rumah sambil menahan senyum dengan sangat tidak berhasil.
Aditya memandang mangkuk bubur itu seperti memandang proposal investasi yang tidak ia pahami.
Tirai jendela ruang tamu bergeser sedikit. Di celahnya terlihat sebelah mata Papa dan ujung raket tua.
"Pa," kata Aurel tanpa menoleh. "Kelihatan."
Tirai menutup. Dari balik kaca terdengar batuk yang dibuat-buat, lalu langkah menjauh dan suara televisi diperkeras.
"Papa lo nonton sinetron atau nonton kita?" bisik Aditya.
"Dua-duanya. Dia multitasking, kayak lo."
"Dia lihat gue jalan kaki dari tadi?"
"Dia lihat lo berdiri di pagar dua puluh menit sambil nyiapin pidato." Aurel duduk lagi dan menarik kakinya ke kursi. "Dari jendela kamar gue, jelas banget. Orang berdiri di bawah lampu jalan itu kayak tiang listrik yang lagi nyesel."
"Gue kedengeran kayak tiang listrik?"
"Kelihatan. Bukan kedengeran."
Aditya mengeringkan rambutnya sekali lagi dengan handuk, menyembunyikan wajah di baliknya dua detik lebih lama dari yang perlu. Ketika handuk itu turun, matanya sudah tenang. Ia menyuap bubur sekali lagi, pelan, seperti orang yang takut menghabiskan sesuatu terlalu cepat.
"Rel."
"Hm?"
"Gue harus bisa masak bubur?"
"Kalau lo mau pulangin gue besok," kata Aurel, mengambil buku catatannya dan berdiri, "iya."