Kamar lamanya masih berbau sabun cuci dan lemari kayu. Aurel membuka mata dan memandang langit-langit yang penuh stiker bintang berpendar yang ia tempel sendiri waktu umur dua belas, sebagian sudah copot, sebagian masih menyala samar di pagi yang berawan.
Sesaat ia lupa di mana ia berada. Lalu ingatan semalam kembali dengan sempurna: kertas, kalimat, lift yang menutup.
Pintu terbuka sedikit.
"Sudah bangun?" kata Mama.
"Belum."
"Berarti bicara dengan siapa?"
"Dengan langit-langit."
Mama masuk membawa nampan. Di atasnya semangkuk bubur ayam yang masih mengepul, dua potong cakwe, dan segelas teh hangat. Ia meletakkannya di nakas, duduk di tepi tempat tidur, dan memandang putrinya seperti memandang soal ujian.
"Makan."
"Aurel belum lapar, Ma."
"Bukan soal lapar. Makan."
Aurel duduk, bersandar di kepala ranjang, mengambil sendok. Buburnya manis dengan sedikit bawang goreng, persis seperti yang selalu Mama buat ketika ia demam, ketika ia patah hati pertama kali, ketika ia pulang dari lomba yang kalah. Satu suap, dan matanya langsung panas.
"Pelan-pelan," kata Mama.
"Panas, Ma."
"Iya, panas."
Mama diam menunggu. Itu yang paling Aurel kenal dari ibunya: kemampuan untuk menunggu tanpa terlihat menunggu.
"Kalian bertengkar," kata Mama akhirnya.
"Cuma beda pendapat."
"Soal?"
"Kerjaan."
"Kerjaan apa sampai kamu pulang jam sebelas malam bawa ransel?"
"Rumit, Ma."
"Mama bukan bodoh, Nak. Mama cuma tidak mau memaksa." Mama menarik napas. "Boleh Mama tanya satu saja?"
"Silakan."
"Kamu bahagia?"
Sendok Aurel berhenti di udara.
Mama bertanya lagi hal yang sama seperti di dapur dulu, dan kali ini jawaban "lagi belajar" tidak cukup. Ia sudah menyiapkan jawaban untuk "Kapan punya anak?" dan "Mertua baik tidak?" dan "Kenapa kurus?" Tapi tidak untuk yang ini. Karena jawaban yang jujur adalah ya dan tidak dan entahlah dan aku nggak tahu, semuanya sekaligus, dan tidak ada satu pun yang bisa diucapkan kepada ibunya tanpa merusak seluruh bangunan di sekelilingnya.
"Kadang, Ma."
"Kadang."
"Iya. Kadang bahagia sekali. Kadang kayak..." Aurel menggerakkan tangan, mencari kata. "Kayak lari di treadmill. Capek. Tapi nggak bisa berhenti."
Mama tersenyum kecil, dan itu bukan senyum yang ia duga.
"Papa kamu dulu pernah bohong sama Mama," katanya. "Harga rumah ini. Dia bilang lima puluh juta lebih murah dari yang sebenarnya. Mama sampai nangis tiga hari waktu tahu. Bukan karena uangnya." Ia menatap jendela. "Karena dia menyembunyikannya demi melindungi Mama."
"Terus?"
"Terus Mama bilang: jangan lindungi aku dengan menyembunyikan. Lindungi aku dengan memberi tahu, biar aku yang menentukan sanggup atau tidak." Mama mengusap rambut Aurel. "Dua puluh tahun, dia belajar. Sampai sekarang kadang masih lupa."
Aurel menunduk ke bubur, berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Menantu Mama itu bukan orang jahat," lanjut Mama pelan. "Itu Mama tahu dari caranya menatap kamu waktu di meja makan. Tapi laki-laki yang baik pun bisa salah cara. Tinggal kamu putuskan: salah cara itu bisa dibicarakan, atau tidak."
"Mama bela dia?"
"Mama bela kamu. Kamu kebetulan lagi mencintai dia."
"Ma!"
"Mama nggak bilang apa-apa."
Aurel menutup mulut dengan punggung tangan, setengah tertawa setengah terisak.
---
Siang itu, Aurel mengunci diri di kamar dengan buku catatan terbuka di meja belajar lamanya.
Di halaman bersih ia menulis judul: CARA MEMPERBAIKI KONTRAK PASOK.
Ia menggaris bawahinya. Lalu menulis, satu per satu, seperti daftar periksa lima poin yang diajarkan Aditya:
1. Harga ke pasar. Rp4.250, atau angka yang bisa dipertanggungjawabkan dengan tiga pembanding.
2. Standar mutu tertulis. Supaya Papa tidak dianggap diberi harga tinggi tanpa alasan.
3. Klausul tinjauan harga tiap enam bulan.
4. Jangan sampai Papa kehilangan kontraknya. Itu paling penting.
5. Papa tidak perlu tahu sekarang.
Pulpen emasnya berhenti di poin lima.
Ia membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Itu bertentangan dengan semua yang ia pelajari bulan ini: kesalahan yang disembunyikan lebih mahal. Ia baru saja memarahi Aditya karena melakukan hal yang sama. Dan di sini, dengan tulisan tangan sendiri, ia sedang menyusun cara melakukannya lagi.
Tetapi Papa rapuh. Tenggat bank, tunggakan, tidur tiga malam. Kalau kontrak ini bergeser, Papa bisa jatuh dengan cara yang tidak bisa diperbaiki oleh angka mana pun.
Ia tidak mencoret poin lima. Ia hanya memberi tanda tanya kecil di sampingnya, supaya malam nanti ia bisa memutuskan apakah kebohongan yang baik itu ada atau tidak.
Dari halaman belakang rumah terdengar bunyi tok, tok, tok. Aurel mengintip lewat tirai. Papa berdiri di halaman dengan raket tua, memukul shuttlecock ke dinding belakang garasi, dan menangkapnya dengan tangan kiri. Wajahnya santai. Ia bersenandung lagi.
Aurel menutup tirai. Lima menit kemudian ia turun juga, memakai sandal jepit, dan berdiri di teras belakang dengan tangan terlipat.
"Raketnya masih satu, Pa?"
"Dua. Satunya Papa kasih ke Nak Aditya."
"Aku tahu."
"Kamu mau main?" Papa mengangkat raket cadangan dari kursi plastik. "Tapi pelan-pelan. Papa tuh sudah tua."
"Papa baru lima puluh sembilan."
"Itu tua untuk lutut."
Mereka berdiri di dua sisi halaman, berbatas jemuran yang sudah kosong. Aurel memukul pelan. Shuttlecock melambung, jatuh di tengah, dan Papa terkekeh sambil mengejarnya.
"Dulu kamu jago, ya."
"Papa yang ngajarin."
"Dan sekarang Nak Aditya yang ngajarin kamu hal-hal lain." Papa memukul balik dengan lembut. "Papa lihat, Rel. Waktu di teras kemarin, kamu ngelihatin hp berulang-ulang. Kamu tunggu pesan dari dia, ya?"
"Papa kok tahu?"
"Papa pernah muda." Ia tersenyum, tapi kemudian senyumnya mengecil. "Rel. Papa mau minta maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk beban yang kamu angkat. Papa tahu, Mama sudah cerita sedikit. Tunggakan itu." Papa menatap shuttlecock di tangannya. "Papa seharusnya jadi yang menjaga kamu. Bukan sebaliknya."
Dada Aurel mengencang. Ia mengira Papa tidak tahu soal transfer empat puluh enam juta. Rupanya Papa hanya memilih tidak menyebutnya, sama seperti ia memilih tidak bertanya soal rekomendasi internal.
"Itu bukan beban, Pa."
"Kamu juga nggak cerita semuanya ke Papa." Papa tertawa kecil, tidak marah. "Bonus iklan itu ceritanya bagus. Papa belum selesai menghitungnya."
Aurel nyaris menjatuhkan raketnya.
"Pa..."
"Papa nggak akan tanya. Papa cuma mau kamu tahu: kalau suatu hari kamu merasa semua ini terlalu berat, pintu ini selalu terbuka. Nggak peduli kamu sudah punya rumah sendiri atau belum."
"Aku tahu, Pa."
"Dan soal Nak Aditya..." Papa menimbang. "Papa lihat dia waktu bicara soal kamu. Papa nggak pernah melihat laki-laki yang begitu hati-hati menyebut nama seseorang. Seperti takut menyentuhnya terlalu keras."
Aurel menunduk, memukul shuttlecock lebih keras dari yang perlu. Papa menangkapnya dengan tangan kiri, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.
---
Matahari tenggelam sekitar pukul enam. Menjelang pukul tujuh, hujan rintik turun, dan Aurel duduk di tepi jendela kamar lamanya dengan jaket dan dua gelas teh yang sudah dingin.
Dari jendela itu ia bisa melihat pagar rumah, lampu jalan, dan ujung gang.
Sebuah sosok berjalan dari ujung gang.
Bukan mobil. Bukan sopir. Tidak ada pengawal bermobil hitam yang biasanya mengikuti dua puluh meter di belakang. Hanya seorang laki-laki berjalan kaki di bawah rintik hujan, memakai kemeja putih tanpa jas dan tanpa dasi, lengan digulung, dengan tangan di saku.
Aurel berdiri.
Laki-laki itu berhenti di depan pagar. Ia mengangkat kepala, melihat rumah, lalu melihat jendela lantai atas tempat Aurel berdiri. Rambutnya basah. Bajunya basah di bahu. Ia tidak melambai. Tidak memanggil. Tidak mengetuk.
Ia hanya berdiri di sana, dengan kedua tangan terlepas dari saku, seperti orang yang menunggu persidangan. Menit berlalu, dan ia masih di bawah lampu jalan itu, lama, jauh lebih lama dari orang yang sekadar ragu, sampai Aurel kehilangan hitungan.
Aurel turun ke bawah tanpa sadar. Menuruni tangga. Membuka pintu depan. Hujan menyentuh wajahnya, dingin dan halus.
Lima belas langkah dari teras ke pagar. Ia menghitung semuanya.
Di sisi lain besi pagar, Aditya mengangkat kepala. Wajahnya letih, matanya merah, dan suaranya, ketika keluar, begitu rendah hingga hampir hilang di antara gerimis.
"Boleh gue masuk?"