Lampu ruang tengah menyala ketika Aurel keluar dari lift pukul sembilan malam, dan Aditya duduk di sofa dengan jas tersampir di sandaran, dasi yang sudah dilonggarkan, dan secangkir kopi yang sudah lama dingin.
"Kamu pulang."
"Iya."
"Bagaimana kabar baiknya? Om pasti senang sekali." Ia berdiri, tersenyum tipis, senyum seseorang yang menunggu pujian tanpa mau mengakuinya. "Mama kamu sempat telepon? Saya tidak sempat..."
Aurel mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas dan meletakkannya di meja kopi. Foto salinan halaman lima kontrak. Di bawahnya, selembar halaman dari buku catatan biru tua, berisi angka-angka yang ditulis dengan huruf tegak dan jelas.
Aditya menunduk. Senyumnya turun pelan-pelan.
"Rp4.760 per lembar," kata Aurel. "Harga Papa ke pembeli lama Rp4.250. Selisihnya dua belas persen. Barangnya sama. Standar mutunya sama. Syarat khusus pun nihil. Ada satu hal yang berbeda: pembelinya."
"Rel."
"Gue nelepon Maya."
"Maya tidak seharusnya..."
"Maya nggak bohong. Itu satu-satunya hal baik dari semua ini." Aurel menyilangkan tangan. "Jadi gue tanya sekali. Harga itu lo yang tetapkan?"
Hening. Jam dinding di ruang makan berdetak tiga kali.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena..." Aditya menarik napas. "Karena Om butuh kepastian arus kas. Tunggakan bank, gaji karyawan, bahan baku. Harga pasar tidak cukup untuk menutup lubang itu dalam dua tahun. Harga di kontrak ini cukup."
"Itu bukan jawaban. Itu pembenaran."
"Itu perhitungan."
"Perhitungan yang gue nggak diminta ikut hitung."
"Saya hanya membuka pintu." Suaranya tegas, tapi matanya tidak. "Om yang menandatangani. Anak perusahaan menyetujui harga premium karena pasokan yang stabil memang bernilai. Semuanya sah menurut hukum."
"Dua belas persen di atas pasar bukan premium, Dit. Itu sedekah yang diberi nama kontrak."
"Itu bukan sedekah."
"Terus apa?"
"Itu..." Ia mengepalkan tangan. "Itu cara membantu tanpa menyinggung."
"Siapa yang disinggung?"
"Kamu."
"Gue udah bilang di mobil. Bayaran, bukan belas kasihan. Gue bilang itu dengan muka lurus. Dan lo bilang, 'Baik.' Lo bahkan bilang, 'Oke, saya tidak akan membayarnya,' kayak lagi baca notulen."
"Saya menghapus emailnya. Saya tidak menjanjikan apa-apa lagi."
"Lo menjanjikan dengan diam."
Aditya mengusap rahang dengan tangan yang kaku. Aurel baru sadar bahwa mereka sudah berdiri berhadapan di dekat meja, hanya terpisah satu meter, dengan kertas-kertas di antara mereka seperti garis demarkasi.
"Dengar," katanya, lebih pelan. "Saya tidak melakukan ini untuk menyakitimu. Saya melakukannya karena saya bisa. Dan karena saya tidak tahan melihat kamu memikul beban sendirian. Kamu pucat sehabis telepon dari rumah dan kamu menunduk tiap kali ponselmu menyala dari ibumu. Itu sudah dua minggu."
"Itu bukan urusan lo."
"Itu urusan saya. Kamu istri saya."
"Istri kontrak."
"Itu bukan..."
"Aturan ketiga, Dit. Lo yang menulisnya. Lo yang bilang tidak ikut campur kehidupan pribadi. Dan syarat gue: jangan mengatur hidup gue di luar kontrak." Suara Aurel mulai bergetar, bukan karena takut. "Lo nggak ngatur, katanya. Lo cuma membuka pintu. Tapi pintu itu pintu rumah orang tua gue."
"Rumah yang hampir hilang karena bank!"
Kalimat itu keluar dengan nada yang lebih keras dari yang Aditya maksudkan, dan keduanya tersentak. Ia memejamkan mata, dua detik, seperti orang yang mencoba menarik kata-kata kembali ke dalam mulut. Tapi seperti semua hal yang sudah diucapkan, kalimat itu tetap ada di ruangan.
"Rel..."
"Lanjutkan."
"Tidak perlu."
"Lanjutkan, Dit. Lo punya sesuatu yang mau lo bilang."
Aditya membuka mata. Dan, dalam sekejap, Aurel melihat laki-laki yang pertama kali ia temui di kantor, tegap, dingin, selesai bernegosiasi, kembali duduk di wajahnya.
"Papa lo nggak akan selamat tanpa ini," katanya. Kata lo dan gue meluncur begitu saja, dingin, seperti pada orang asing. "Gue yang punya uangnya."
Kalimat kedua jatuh ke lantai seperti gelas.
Di kepala Aditya, kata-kata itu sudah salah sejak sebelum selesai diucapkan. Ia tahu. Ia tahu persis bunyinya, dan apa yang tersirat di dalamnya, dan siapa yang akan mendengarnya. Tetapi mulutnya sudah terlalu jauh, dan ia berdiri di sana dengan perasaan seseorang yang baru menandatangani dokumen tanpa membaca isinya.
Aurel tidak menjerit. Tidak membanting. Ia justru mundur selangkah, hanya satu, seolah jarak bisa mengembalikan bentuk udara di ruangan itu.
"Lo ngajarin gue," katanya pelan, "bahwa kesalahan yang disembunyiin lebih mahal daripada kesalahan yang diakui. Lo bilang gitu waktu gue salah angka seratus delapan puluh juta. Lo duduk di sebelah gue dan bilang salah itu harus berhenti di pengakuan."
"Rel."
"Lo sendiri nyembunyiin ini selama dua minggu."
"Saya takut kamu menolak."
"Gue memang menolak. Itu hak gue!"
"Saya tahu."
"Lo nggak tahu. Kalau lo tahu, lo nggak akan ngomong gitu."
Aditya membuka mulut. Tak ada yang keluar.
Aurel mengambil kertas-kertas dari meja, merapikannya, memasukkannya ke tas. Gerakannya teratur, hampir tenang, dan itu yang paling membuat dada Aditya sesak.
"Kamu mau ke mana?"
"Gue bukan tahanan."
"Saya tidak bilang..."
"Gue mau ke rumah Mama."
"Malam-malam begini?"
"Dit." Aurel menatapnya. "Jangan halangi gue."
Jeda panjang. Rahang Aditya mengeras, lalu mengendur. Ia melangkah ke samping, membuka jalan, dengan tangan di sisi tubuh yang mengepal dan tidak diangkat. Itu satu-satunya hal malam itu yang ia lakukan dengan benar.
Aurel masuk kamar. Lima menit kemudian ia keluar membawa tas ransel kecil, jaket, dan buku catatan biru tua di dada. Ia tidak melihat ke arah sofa.
Mbak Sari berdiri di pintu dapur dengan nampan teh, matanya membulat. Ia membuka mulut, lalu menutupnya, lalu menunduk saja.
"Mbak Sari," kata Aurel. "Maaf buat makan malamnya."
"Nona..."
"Bukan salah Mbak."
Pintu lift terbuka. Aurel melangkah masuk. Sebelum pintu menutup, ia akhirnya menoleh, dan menatap Aditya dari seberang ruangan, jauh dan kaku di tengah ruang tengah yang terlalu terang.
"Selamat malam, Dit."
Pintu menutup.
Aditya tidak bergerak selama satu menit penuh. Kemudian ia berjalan ke lorong, melewati pintu kamarnya sendiri, dan berhenti di depan pintu kamar Aurel, yang masih terbuka separuh. Lampu meja rias masih menyala. Di tempat tidur ada satu bantal yang tergeletak miring, dan di atas nakas, secangkir teh yang tidak sempat diminum.
Ia mengangkat tangan untuk mengetuk. Kamar itu kosong. Ia menurunkannya lagi.
"Tuan," kata Mbak Sari dari belakangnya, pelan. "Perlu saya telepon Pak Budi?"
"Pak Budi sudah menunggu di bawah."
"Tuan tahu?"
"Dia selalu tahu." Aditya tidak menoleh. "Mbak Sari. Jangan bereskan kamar ini. Dan jangan matikan lampunya."
"Baik, Tuan."
"Saya salah bicara."
Mbak Sari terdiam di belakangnya.
"Saya tahu," lanjut Aditya. "Saya tahu persis bagian mana. Dan saya tidak bisa menariknya."
"Tuan bisa minta maaf."
"Dia tidak mau mendengar malam ini."
"Kalau begitu, besok."
Aditya menatap ranjang itu lebih lama, lalu mengangguk, satu kali, kecil.
---
Pak Budi menunggu di lobi basement tanpa disuruh, bersandar di kap mobil dengan topi di tangan, seperti orang yang sudah mendengar dari lantai atas melalui cara-cara yang tidak ia akui.
"Ke rumah Mama, Nona?"
"Iya, Pak."
Ia membukakan pintu tanpa bertanya apa-apa. Dan itu, di antara semua hal yang terjadi malam itu, hampir membuat Aurel menangis.
Pukul sebelas kurang, lampu teras rumah orang tuanya masih menyala. Mama yang membuka pintu, dalam daster biru dan rambut dikepang, dengan mata mengantuk yang langsung terbuka lebar begitu melihat tas ransel di bahu Aurel.
"Nak? Kok pulang?"
"Cuma kangen, Ma."
Mama memandang tas itu. Memandang wajah Aurel. Memandang Pak Budi yang berdiri di dekat mobil dengan wajah sangat sopan dan sangat tidak mau ikut campur.
Ia membuka pintu lebih lebar.
"Masuk," katanya. "Kamar kamu belum Mama ganti seprainya, tapi masih bersih."