Papa menunggu di teras. Bukan di kursi rotan tempat biasanya ia membaca koran, melainkan berdiri di anak tangga paling atas dengan tangan di pinggang, seperti kapten kapal yang baru melihat daratan.
"Rel!"
"Pa."
"Mana Nak Aditya?"
"Ada rapat dengan pemasok sampai malam, Pa. Dia titip salam."
"Sayang sekali." Papa menuruni tangga dan memeluk Aurel sampai kakinya hampir terangkat. "Tapi nggak apa-apa. Papa mau cerita ke kamu dulu."
Aurel menoleh ke arah garasi. Pintunya terbuka separuh, dan di dalamnya hanya ada sepeda anak tetangga yang dititipkan dan segulung selang taman. Tidak ada mobil. Sudah sebulan lebih ia melihat ruangan itu kosong, dan belum juga terbiasa.
Dari ruang tamu, Mama muncul sambil melap tangan di celemek. Wajahnya berbinar dan sekaligus agak pucat, seperti orang yang terlalu bahagia untuk percaya sepenuhnya.
"Masuk dulu, Nak. Jangan cerita di teras, nanti tetangga dengar."
"Dengar apa?"
"Nanti, nanti."
Di ruang makan, di atas meja yang biasanya hanya berisi taplak dan toples kerupuk, terhampar setumpuk kertas bermeterai dengan map biru di atasnya. Papa menepuknya dengan telapak tangan, pelan, hormat, seperti menepuk kepala anak yang baru lulus.
"Kontrak pasok," katanya. "Dengan anak perusahaan Mahendra Group. Bahan kemasan untuk seluruh lini ritel mereka, dua tahun. Diteken hari Kamis."
Aurel merasa darahnya berjalan mundur.
"Kamis lalu?"
"Kamis lalu. Papa nggak bilang ke siapa-siapa, takut batal. Tadi pagi baru yakin semua tanda tangan lengkap." Mata Papa berkaca-kaca. "Dua puluh tahun, Rel. Dua puluh tahun Papa keliling nawarin dus. Baru kali ini dihubungi duluan."
"Dihubungi duluan?"
"Orangnya telepon ke kantor Papa. Kata mereka, ada rekomendasi internal."
"Rekomendasi dari siapa?"
"Papa nggak tanya. Nggak sopan." Papa tertawa kecil, tapi tawa itu bergetar di ujung. "Ya Allah, Rel. Tunggakan bisa dicicil, karyawan bisa digaji lagi, Papa bisa ambil garasi lagi..."
"Pa."
"Maaf. Papa terlalu semangat."
"Boleh Aurel lihat kontraknya?"
"Tentu. Itu salinan buat Papa."
Aurel membuka map biru itu. Halaman pertama, nama para pihak. Halaman kedua, ruang lingkup. Halaman ketiga, jadwal pengiriman. Matanya menyisir paragraf demi paragraf dengan kecepatan yang ia pelajari dari pagi-pagi bersama Aditya dan daftar periksa lima poin.
Halaman lima, tabel harga.
Dus lima lapis ukuran sedang, harga per lembar: Rp4.760.
Ia berhenti.
"Pa, harga dus ini biasa Papa jual berapa?"
"Rp4.250 untuk pembeli lama. Untuk pembeli baru bisa lebih."
"Kenapa bisa lebih?"
"Ya itu urusan negosiasi. Mereka sendiri yang menawar angka segitu." Papa tersenyum bangga. "Padahal Papa udah siap turun."
"Ada syarat mutu khusus nggak, Pa? Lapisan khusus, tahan lembap, cetak khusus?"
"Standar semua. Persis dus yang Papa jual ke toko-toko lama."
"Jadi barangnya sama, harga naik dua belas persen."
"Dua belas? Oh, berarti kamu sudah hitung." Papa tertawa. "Kamu memang anak Papa. Papa bilang ke mereka, 'Pak, kok mahal begini?' Katanya, 'Itu harga untuk kepastian pasokan.' Ya sudah, Papa terima."
Terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal. Itu yang paling mengganggu.
Aurel menghitung dalam kepala. Empat ribu dua ratus lima puluh dikali satu koma satu dua. Empat ribu tujuh ratus enam puluh. Persis. Dua belas persen di atas harga yang Papa pasang untuk pembeli yang sudah lama dikenalnya.
Pembeli besar tidak menawar harga naik. Bukan pembeli besar mana pun yang pernah Aurel kenal.
"Rel? Kamu pucat."
"Nggak apa-apa, Pa. Cuma lapar."
"Ayo makan dulu. Mama masak sup ayam."
Papa berjalan lebih dulu ke dapur sambil bersenandung, nada yang Aurel tidak dengar sejak ia kecil. Mama menahan lengan Aurel di ambang pintu dan merendahkan suara sampai nyaris tidak terdengar.
"Rel. Papa tiga malam nggak tidur. Dia duduk di teras sampai subuh sambil baca kontrak itu berulang-ulang."
"Karena senang, Ma?"
"Karena takut percaya." Mama menggenggam ujung celemeknya. "Tahun lalu ada kabar baik juga, ingat? Pembeli besar, janji manis, pesanan sepuluh ribu lembar. Besoknya batal tanpa kabar. Mama nggak mau Papa dihajar dua kali."
"Ini beda, Ma. Ini tertulis."
"Iya. Tertulis." Mama menatap Aurel lebih lama dari yang diperlukan. "Kamu yakin nggak apa-apa? Dari tadi kamu sedang menghitung sesuatu."
"Cuma kebiasaan baru."
"Dari menantu Mama?"
"Dari kantornya."
Mama tersenyum, separuh lega, separuh tidak yakin, dan melepaskannya.
---
Setengah jam kemudian, Aurel berdiri di pojok taman belakang, di bawah pohon belimbing yang sudah berbuah sejak ia SD, dengan ponsel menempel di telinga.
"Mbak Aurel?" Suara Maya terdengar kaget. "Hari Sabtu, Mbak?"
"Maaf, May. Gue cuma butuh satu jawaban."
"Saya akan berusaha."
"Kontrak pasok kemasan anak perusahaan Mahendra dengan perusahaan Papa gue. Harga per lembar dus lima lapis Rp4.760. Itu dari mana?"
Hening.
"Mbak..."
"May. Tolong jangan bohong."
Lama sekali Maya diam. Di seberang terdengar bunyi kursi bergeser.
"Saya tidak bisa berbohong kepada Mbak Aurel," katanya akhirnya, sangat pelan. "Dan memang tidak diperintahkan untuk berbohong. Hanya disuruh diam."
"Diam soal apa?"
"Arahan itu datang langsung dari Pak Aditya, Mbak. Dua minggu lalu. Beliau meminta anak perusahaan menghubungi perusahaan Bapak Mbak untuk kontrak pasok. Harganya... beliau yang tetapkan."
Aurel menutup mata. Daun belimbing bergoyang di atas kepalanya.
"Dia bilang kenapa?"
"Beliau bilang, Mbak, 'Jangan sampai Aurel tahu dulu.'"
"Dulu."
"Iya, Mbak."
"Terima kasih, May."
"Mbak Aurel... tolong jangan marahi saya."
"Gue nggak marah sama lo." Suara Aurel nyaris tidak keluar. "Gue marah sama orang lain."
Ia menutup telepon.
Burung gereja hinggap dan terbang di dahan di atasnya. Aurel berdiri diam, dengan satu tangan di pinggang dan satu lagi menggenggam ponsel erat sampai buku-buku jarinya memutih. Dalam kepalanya, tawaran Aditya di mobil beberapa pekan lalu berputar, bersama jawabannya sendiri: bayaran bukan belas kasihan.
Ia sudah menolaknya. Terang-terangan. Dan laki-laki itu menahan diri, berkata oke, lalu rupanya menunggu.
Dan kemudian melakukannya dari pintu belakang.
---
Di ruang makan, Mama menuangkan sup ke mangkuk Aurel dan memandangnya penuh harap.
"Gimana, Nak? Bagus kan kabarnya?"
"Bagus, Ma."
"Ini rezeki dari Nak Aditya, ya? Dari dia kan?"
Aurel mengambil sendok. Tangannya stabil. Itu hal yang paling mengerikan.
"Mungkin, Ma."
"Papa nggak mau bilang dulu. Takut kamu merasa nggak enak." Mama menyentuh punggung tangannya. "Tapi Mama berani bilang. Mama bersyukur kamu menikah sama laki-laki seperti dia."
"Iya, Ma."
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Mata kamu."
"Alergi."
"Kalian ini," kata Papa sambil tertawa. "Satu keluarga alergi semua."
Ia mengangkat gelas teh manis. "Rel, tolong titip terima kasih Papa buat Nak Aditya. Kalau Papa yang bilang langsung, dia pasti jawab 'bukan apa-apa, Om'. Padahal Papa tahu dia bantu."
"Papa nggak tahu itu bantuan, kan? Papa bilang rekomendasi internal."
"Papa nggak bodoh, Rel." Senyum Papa melembut. "Papa cuma memilih tidak bertanya. Kadang orang baik itu bantu tanpa mau namanya disebut. Kita jangan merusak caranya."
Kalimat itu menusuk Aurel lebih dalam dari seluruh tabel harga. Karena Papa benar, dan juga salah, dan ia tidak tahu bagian mana yang lebih berat.
Aurel ikut tertawa. Ia harus memaksa diri untuk tertawa di rumah yang dulu membuatnya tertawa tanpa disuruh.
Ponselnya bergetar di pangkuan. Satu pesan dari Aditya.
Sudah sampai? Bagaimana kabar baiknya? Semoga Om senang.
Aurel membaca pesan itu. Kemudian membaca baris terakhirnya sekali lagi.
Semoga Om senang.
Ia membalik ponsel itu tertelungkup di pangkuan, mengambil sendok, dan menyuap sup yang tidak ada rasanya.