"Empat belas halaman," kata Karina, menyodorkan setumpuk gambar berstiker kuning ke meja ruang tim desain. "Adit mengomentari empat belas halaman dalam semalam. Jam satu pagi dia kirim catatan, dan catatannya, Rel, benar semua. Menyebalkan."
Aurel tersenyum dengan sepuluh gigi.
"Bagus ya."
"Bagus sekali. Dia ingatkan aku soal sudut matahari di kolam utama. Aku sendiri sudah lupa."
"Berarti dia tidur larut."
"Dia nggak berubah. Dari dulu kalau aku bilang butuh bantuan, dia ada." Karina menarik napas panjang, tidak menyadari apa pun. "Rasanya seperti punya kakak yang nggak bisa disuruh pulang."
Maya, yang duduk di ujung meja sambil membuka laptop, mendadak sangat tertarik pada tombol Enter.
"Usulan anggaran konten," kata Aurel, mengeluarkan map dari tas. "Ini draf saya."
"Wah, cepat."
"Saya kerjakan semalam. Dari jam sepuluh sampai jam dua."
Itu bohong sebagian. Ia mengerjakannya dari jam sembilan sampai jam sebelas. Sisanya ia menatap langit-langit sambil mencari kata untuk sesuatu yang sedang ia hitung bukan dengan angka.
---
Pukul lima sore, dapur penthouse sudah tidak terlihat seperti dapur. Wajan di tiga kompor mengepul, panci sayur asem mendidih di sudut, dan meja pulau tertutup mangkuk-mangkuk kecil berisi bumbu yang entah kapan sempat diiris.
"Nona," kata Mbak Sari dari ambang pintu, hati-hati. "Ini untuk berapa orang?"
"Dua."
"Dua?"
"Gue sama Aditya."
Mbak Sari memandang rendang yang sudah matang, ayam lada hitam, perkedel kentang, tumis kangkung, sambal terasi, sambal matah, sambal bawang, dan sepanci sayur asem yang cukup untuk memberi makan satu kelurahan.
"Maaf, Nona. Itu untuk berapa orang... kalau dua belas?"
"Gue lagi eksperimen porsi."
"Eksperimen."
"Iya."
"Baik, Nona." Mbak Sari berjalan mundur ke pintu dengan senyum yang belum selesai menahan diri. "Pak Budi," katanya, tidak terlalu pelan, "tolong panggil Pak Darto. Kita butuh orang tambahan untuk makan."
Dari halaman belakang terdengar seruan "Siap!" yang terlalu bersemangat.
Aurel mengiris cabai rawit dengan ketukan pisau yang agak lebih keras dari yang diperlukan. Ia tidak sedang kesal. Ia hanya sedang memasak. Orang berhak memasak banyak ketika kemarin ia hampir kalah dalam pertandingan bulu tangkis yang bahkan tidak ia ikuti.
"Nona," kata Pak Budi dari belakang.
Aurel hampir menjatuhkan ulekan. Pak Budi berdiri di pintu dapur dengan topi di tangan dan wajah sangat hati-hati.
"Tadi pagi saya antar Tuan ke kantor," katanya. "Tuan bertanya tiga kali."
"Bertanya apa?"
"Apakah Nona lebih suka pedas atau tidak. Tiga kali. Saya jawab: 'Nona suka pedas, Tuan.' Tapi beliau tanya lagi. Sampai tiga kali."
"Mungkin dia lupa."
"Tuan Aditya tidak pernah lupa, Nona. Beliau hanya sedang tidak yakin soal sesuatu."
"Soal apa?"
"Soal Nona." Pak Budi memakai topinya, melepasnya lagi. "Maaf, Nona. Saya cuma sopir."
"Pak Budi sopir yang sangat berbahaya," gumam Aurel.
"Terima kasih, Nona."
Menjelang pukul tujuh, bunyi lift terdengar. Aurel buru-buru melepas celemek dan memasukkannya ke laci, seolah itu bukti kejahatan. Ketika Aditya masuk, ia sedang duduk di meja makan dengan wajah sangat tenang dan tangan terlipat di pangkuan.
Meja itu penuh. Dua belas piring, lima mangkuk, tiga sambal, dan satu panci sayur asem yang uapnya masih naik.
Aditya berhenti di ambang. Matanya menyisir meja dari ujung ke ujung, kemudian ke Aurel, kemudian ke meja lagi.
"Ada tamu?"
"Nggak."
"Siapa yang akan makan?"
"Kita."
"Berdua."
"Lo bisa makan banyak. Lo habis olahraga kemarin."
"Itu kemarin."
"Metabolisme panjang."
"Saya tidak tahu metabolisme saya sepanjang itu."
Ia menarik kursi dan duduk. Mbak Sari, yang berdiri di dekat pintu dapur bersama Pak Budi, Pak Darto, dan seorang pelayan lain, bertukar pandang yang bisa dibaca dari ruang angkasa.
Aditya mengambil nasi. Ia mengambil rendang, dan memakannya dengan khidmat. Ia mengambil ayam lada hitam. Ia mencoba sambal terasi dengan ujung sendok, mengerjap sekali, lalu mengambil air.
"Enak," katanya.
"Biasa aja."
"Rendangnya lembut."
"Itu dagingnya yang bagus."
"Ayamnya tepat."
"Itu lada hitamnya."
"Sambalnya agresif."
"Itu cabainya, Dit."
"Saya tahu." Ia meletakkan sendok. Wajahnya masih datar, tapi satu sudut bibir sudah naik. "Saya cuma ingin tahu satu hal."
"Apa?"
"Kamu cemburu?"
Garpu Aurel jatuh dari tangannya dan mendarat di piring dengan denting seperti lonceng sekolah.
Hening. Di dapur, seseorang menahan tawa dengan suara yang jelas bukan tawa.
"Hah?"
"Kamu memasak untuk dua belas orang. Kamu bilang untuk dua. Dan itu terjadi sehari setelah saya bermain bulu tangkis dengan Rin."
"Jijik sekali!" Suara Aurel naik setengah oktaf. "Mana mungkin! Cemburu? Sama lo? Sama Karina? Lo pikir gue sempat? Gue punya jadwal! Gue punya laporan biaya! Gue punya rapat dengan tim desain besok!"
"Gue cuma... lagi pengen masak! Banyak! Boleh nggak? Ini rumah gue juga kan?"
"Tentu saja boleh."
"Ya sudah!"
"Ya sudah."
"Ya sudah!"
Wajah Aurel memanas sampai telinga, dan ia tahu betul bagaimana warnanya, karena Pak Budi di ambang dapur sengaja mengalihkan pandang dengan sikap seorang laki-laki yang terpaksa menonton drama.
Aurel berdiri, hampir menjatuhkan kursi.
"Gue ke kamar."
"Kamu belum makan."
"Gue... kenyang!"
Ia berjalan secepat yang bisa tanpa terlihat berlari. Di belakangnya, ia mendengar suara Aditya, tenang sekali, berkata pada siapa pun yang mendengar:
"Mbak Sari. Tolong tambah nasi. Saya akan menghabiskan semuanya."
"Semuanya, Tuan?"
"Dia memasaknya."
---
Di meja makan, Aditya menghabiskan piring kelima.
"Tuan," kata Mbak Sari pelan sambil membereskan mangkuk kosong, "Nona sejak sore tidak berhenti memasak. Saya tidak berani bertanya."
"Dan tidak perlu."
"Tuan benar-benar akan habiskan semuanya?"
"Pak Darto sudah membantu rendangnya. Pak Budi menghabiskan perkedel." Ia mengusap sudut bibir dengan serbet. "Sisanya saya."
"Kalau Tuan sakit perut?"
"Itu risikonya."
Mbak Sari menatap majikannya dengan tatapan yang hanya dimiliki orang yang sudah lama bekerja di satu rumah. "Tuan, boleh saya bicara tidak sopan sebentar?"
"Silakan."
"Tuan bertanya begitu karena Tuan sendiri tidak tahu jawabannya, ya?"
Aditya menaruh serbet. Ia menatap meja yang hampir bersih, dan pintu kamar di ujung lorong yang tertutup.
"Saya bertanya karena saya ingin tahu," katanya akhirnya. "Dan karena kalau jawabannya ya, saya tidak tahu harus bagaimana."
Mbak Sari tidak menjawab. Ia hanya meletakkan sepotong kecil perkedel di piring Aditya, tanda solidaritas yang tidak perlu penjelasan.
---
Di kamar, Aurel menutup pintu dan bersandar padanya sampai napasnya tenang.
Ia berjalan ke meja rias, membuka laci, mengeluarkan buku catatan biru tua, dan membukanya dari belakang, di halaman yang belum pernah ia tulisi, yang sengaja ia biarkan kosong sejak buku itu dibeli. Halaman depan berisi pelajaran. Ia belum pernah membuka halaman belakang sebelumnya karena tidak ada yang perlu ditulis di sana.
Pulpen emasnya menggantung di atas kertas.
Aurel menulis: Hari ini aku kesal tanpa alasan.
Ia membaca kalimat itu. Mencoretnya. Menulis lagi di bawahnya, lebih kecil, seperti takut ada yang membaca: Mungkin ada alasannya. Tapi aku belum mau tahu.
Ponselnya bergetar di ranjang. Mama.
Sabtu sore pulang ya, Nak. Papa ada kabar baik, belum mau cerita lewat telepon. Ajak Aditya kalau sempat.
Aurel membaca pesan itu dua kali. Kabar baik. Setelah semua yang ia tahu tentang tenggat bank dan amplop bertuliskan Peringatan, kata itu terasa asing, tetapi juga hangat.
Ia mengetik: Iya, Ma.
Lalu mengetik lagi: Kabar baik apa?
Titik tiga muncul di layar. Hilang. Muncul lagi. Hilang.
Akhirnya hanya satu balasan masuk: Nanti Papa yang cerita. Jangan kaget ya.