"Soal yang dulu itu," kata Aurel di mobil, menatap jalan, bukan Aditya. "Apa?"
"Saya belum tahu. Karina tidak mau cerita lewat telepon." Aditya mengetuk lututnya dua kali dan diam beberapa detik. "Maaf speakernya kepencet. Dia mengajak main ganda sore ini, dan dia minta kamu ikut melihat."
"Kenapa gue?"
"Dia yang minta. Saya tidak berani menebak alasannya."
Aurel menjawab setuju sebelum sempat berpikir, dan baru sadar apa yang ia setujui ketika mobil sudah berbelok ke parkiran klub.
Klub bulu tangkis itu berbau lantai kayu, keringat, dan semprotan otot, bau yang Aurel kenali dari taman belakang penthouse tapi dikalikan dua puluh.
"Duduk di sini aja," kata Karina, menepuk bangku panjang di tepi lapangan. "Dari sini kelihatan semua sudut. Kalau ada yang kamu nggak ngerti, tanya."
"Aku ngerti bulu tangkis."
"Oh iya. Adit cerita, kamu hampir menang."
"Dua puluh satu lawan sembilan belas. Itu bukan hampir menang. Itu hampir kalah dengan gaya."
Karina tertawa keras, dan Aurel mendapati dirinya ikut tersenyum, sebal karena perempuan ini susah dibenci.
Di lapangan, Aditya sedang memutar bahu, menarik napas, mengganti sepatu. Ia memakai kaus abu-abu tipis dan celana pendek hitam, kombinasi yang belum pernah Aurel lihat di kantor. Dua teman lama ikut menunggu giliran: seorang pria berkaus merah dengan perut yang bergelayut santai, dan seorang perempuan bertopi yang memegang raket seperti tongkat sulap. Mereka mengobrol dengan bahasa yang tidak perlu penjelasan, seperti orang yang pernah menghabiskan banyak sore di tempat yang sama.
"Sudah lima tahun kami nggak main berempat," kata perempuan bertopi pada Aurel, dari seberang net. "Tadi pagi Rin telepon, 'siapa mau main?', dan kami semua bilang iya."
"Ganda campuran," kata si pria berkaus merah. "Rin sama Adit. Aku sama dia."
"Kenapa selalu Rin sama Adit?" tanya si perempuan bertopi.
"Karena mereka satu-satunya yang nggak ngomong waktu main."
Karina mengambil kok dari ember, memukulnya sekali ke lantai, dan mengangkat dagu ke arah Aditya.
"Siap, Dit?"
"Siap."
"Hitungan lama?"
"Hitungan lama."
Aurel tidak tahu apa hitungan lama itu. Ia hanya melihat dua orang menjadi satu gerak.
Permainan dimulai pelan, lalu semakin cepat. Karina menjaga bagian depan, Aditya di belakang, dan keduanya berpindah tempat tanpa ucapan. Satu kali shuttlecock melambung terlalu rendah, dan Karina tidak menoleh, hanya bergeser ke kiri, seakan tahu Aditya akan datang dari kanan. Smash datang. Aditya menyambar. Kok bertukar tiga kali sebelum jatuh di sudut yang hanya dipahami para pemain.
"Poin!" seru Karina, dan menepuk telapak tangan Aditya tinggi-tinggi.
Telapak mereka bertemu dengan bunyi yang terlalu akrab.
Aurel membuka buku catatan di pangkuan dan menunduk. Ia menulis kata-kata di halaman itu tanpa melihatnya.
Pada set kedua, Aditya tersenyum. Bukan senyum tipis yang ia kenal dari meja sarapan, tapi senyum lebar, hampir kekanak-kanakan, senyum yang tidak berlaku untuk kamera. Karina memukul kok dengan tenaga lebih dari perlu, hanya untuk memamerkan kecepatan, dan Aditya memasang wajah geleng-geleng seperti guru yang bangga.
Lalu skor dua puluh sama.
Smash terakhir milik Aditya. Bola menghantam lantai di sisi lawan dan memantul keluar garis, dan seisi lapangan bersorak. Karina melompat. Aditya mengangkat raket. Mereka bertabrakan bahu dengan bahu, tertawa, dan Karina, yang rambutnya basah dan wajahnya merah, mengambil handuk kecil yang tergantung di leher Aditya dan menyeka dahinya tanpa berpikir.
Satu gerakan. Dua detik. Tidak ada artinya. Itu terlihat dari betapa cepat Aditya menerimanya, dan betapa Karina langsung melanjutkan bicara tentang pukulan terakhir.
Tapi sesuatu menancap di bawah tulang rusuk Aurel.
Ia menarik napas. Menghitung sampai tiga. Kembali menatap bukunya.
Tidak sakit. Hanya terasa seperti ada paku kecil yang sedang berdiskusi dengan dagingnya.
"Aurel?"
Ia mendongak. Karina berdiri di depannya dengan botol air dan napas yang masih memburu.
"Kamu kelihatan pucat. Kamu sakit?"
"Nggak. Aku... lapar."
"Lapar?"
"Aku belum makan siang."
"Aduh, maaf! Padahal ini lewat jam makan." Karina duduk di sebelahnya, dan tanpa sungkan bersandar di dinding. "Kami main terlalu lama. Biasanya setiap mau main selalu begini, lupa waktu."
"Seru."
"Dulu lebih seru. Waktu kuliah kami pernah kalah di final, dan Adit marah tiga hari. Bukan marah ke aku. Marah ke raketnya."
"Raketnya salah apa?"
"Senarnya nggak sesuai."
"Alasan bagus."
Karina tersenyum, lalu senyumnya redup, dan ia menatap Aditya yang sedang minum di seberang lapangan.
"Soal yang dulu," katanya pelan. "Waktu aku telepon tadi malam, aku bilang kita perlu bicara soal yang dulu. Maaf kalau terdengar aneh. Aku tahu kamu ikut mendengar."
Aurel mengerjap. "Aku... nggak."
"Adit bilang speaker-nya kepencet. Dia minta maaf, katanya takut kamu salah paham."
"Dia bilang begitu?"
"Dua kali."
Pipi Aurel terasa panas, dan dari semua yang bisa dimarahi, ia memilih bangku.
"Maksudnya cara kami dulu bekerja," lanjut Karina, tidak peduli pipi Aurel yang memerah. "Tiap aku selesai menggambar, Adit orang pertama yang kuperlihatkan, dan dia selalu tega. Sebentar lagi aku presentasi pavilion utama, dan aku butuh kritik sejujur itu sebelum klien melihatnya. Cuma itu. Final yang kalah itu bonus kenangan."
"Terus kenapa tengah malam?"
"Karena aku arsitek. Kami punya jam tubuh yang buruk."
Aurel menahan tawa. Dan tepat saat itu Aditya datang, membawa tas olahraga di bahu dan handuk di tengkuk, wajahnya masih memerah oleh permainan.
"Kamu bosan?" tanyanya pada Aurel.
"Nggak."
"Mau main satu set? Rin bilang dia ingin melihat servis kamu."
"Besok."
"Besok?"
"Gue lapar."
Ia berdiri, menyelipkan buku ke tas, dan berjalan menuju kantin klub tanpa menoleh. Di belakangnya, Karina bertanya sesuatu, dan Aditya menjawab dengan satu suku kata, "Hm", yang Aurel kenal baik, yang sekarang entah kenapa terdengar lebih lama dari biasanya.
---
Di kantin, ibu penjual menatapnya bertanya.
"Mau pesan apa, Neng?"
"Nasi goreng, Bu. Tiga porsi."
"Tiga?"
"Pedas semuanya."
"Buat siapa?"
"Buat gue." Aurel menjatuhkan diri di kursi plastik. "Gue lapar banget."
Piring pertama datang dalam sepuluh menit dan habis dalam lima. Piring kedua sudah separuh ketika bayangan seseorang jatuh di atas meja.
"Boleh duduk?"
Aurel tidak mendongak. "Kursinya bukan punya gue."
"Saya bertanya karena sopan."
"Silakan."
Aditya menarik kursi di seberang. Ia sudah mengganti kaus, tapi rambutnya masih lembap. Ia menatap piring kedua, lalu piring ketiga yang masih utuh.
"Tiga porsi."
"Gue lapar."
"Saya tahu. Kamu bilang tadi."
"Berarti jangan tanya."
"Saya tidak tanya." Ia mengambil sendok bersih dari gelas di tengah meja. "Saya hanya heran piring ketiga belum disentuh."
"Itu cadangan."
"Boleh saya ambil?"
"Itu pedas."
"Saya bisa makan pedas."
"Lo makan salad dan dada ayam rebus."
"Itu menu hari kerja."
Aurel akhirnya mendongak. Aditya sudah mengambil satu sendok besar nasi goreng dari piring ketiga dan memasukkannya ke mulut dengan tampang percaya diri seorang CEO yang menandatangani kontrak tanpa membaca.
Tiga detik pertama tidak terjadi apa-apa.
Detik keempat, wajahnya berubah. Detik kelima, matanya berair. Detik keenam, ia meraih gelas teh Aurel dan menghabiskannya sampai tandas.
"Pedas," katanya serak.
"Gue bilang."
"Itu... bukan pedas. Itu agresi."
Aurel tertawa. Tertawa sungguhan, sampai punggungnya bergetar, sampai ibu penjual menoleh dari balik wajan dengan senyum yang tahu semuanya. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, tapi tawanya tetap lolos.
"Jangan ketawa," kata Aditya, dengan air mata di sudut mata dan hidung memerah. "Ini serius."
"Lo nangis."
"Itu cabai."
"Itu cabai," Aurel mengakui. Tawanya perlahan mereda, dan paku kecil di bawah tulang rusuknya, anehnya, ikut mengecil.
"Rel."
"Hm."
"Rin akan presentasi pavilion utama. Saya akan membantunya menilai rancangan selama beberapa hari." Ia meletakkan sendok. "Kalau itu mengganggu kamu, katakan. Saya tidak akan mengubah apa-apa tanpa bertanya, tapi saya ingin kamu tahu."
Belum pernah ada orang yang meminta izin untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa Aurel larang.
"Itu urusan kerja," katanya. "Gue nggak ngatur kerjaan lo."
"Baik."
"Dan nggak ngatur siapa yang lo ajak main bulu tangkis."
"Baik."
"Dan nggak... apa pun."
Aditya menatapnya sebentar, matanya masih berair karena cabai.
"Baik," ulangnya. Lalu ia menoleh ke arah wajan. "Bu, tolong satu porsi nasi goreng lagi. Tidak pedas."
"Tidak pedas?" Aurel mengangkat alis. "Lo nggak bisa bilang gitu setelah..."
"Saya mau makan bersama kamu," kata Aditya, tanpa memandangnya. "Kamu masih punya satu piring cadangan. Saya tidak mau mengambilnya."