Gelas sampanye Kevin masih terbayang waktu Aurel membuka mata, dan ia memutuskan untuk tidak memikirkannya sebelum sarapan.
Keputusan itu bertahan sampai Mbak Sari mengetuk pintu kamar dengan tablet di tangan dan senyum yang terlalu lebar untuk pukul tujuh pagi.
"Nona. Mohon dilihat."
"Kalau ini gosip, Mbak, tolong simpan sampai gue ngopi."
"Bukan gosip, Nona."
Aurel mengambil tablet itu dengan satu mata masih terpejam. Judulnya hitam tebal, huruf kapital.
AUREL ARASYA, ISTRI CEO MAHENDRA: RESEPSI MEGAH, KECUPAN DI KENING YANG DITUNGGU SEMUA ORANG
Ia menggulir. Berita kedua: foto first dance, lengkap dengan Aditya yang sedang menunduk melihat kakinya. Berita ketiga: Wilhelmina di panggung. Berita keempat: Papa, dengan topi terbalik di tangan, dan keterangan foto yang berbunyi "Ayah mempelai wanita tak kuasa menahan haru."
Nama Bram Satria tidak ada di mana pun.
"Sudah turun ke halaman tujuh," bisik Aurel. "Berita lama gue."
"Betul, Nona. Pak Budi bilang akun-akun yang dulu itu sudah berganti topik semua."
Aurel memeluk tablet itu seperti memeluk bantal.
Di ruang makan, Aditya sudah duduk dengan kopi hitam dan koran digital, tampak sama seperti hari-hari biasa. Hanya bedanya, telinganya.
"Pagi."
"Pagi."
"Lo baca?"
"Sudah."
"Lo senyum?"
"Saya tidak senyum."
"Lo senyum."
"Itu otot wajah. Refleks."
Ponsel Aurel berdering sebelum ia sempat membalas. Nama di layar: Mas Dimas. Ia menekan pengeras suara dan menaruhnya di tengah meja.
"Aurel!" suara Mas Dimas terdengar seperti orang yang berlari menaiki tangga. "Kamu lihat berita? Telepon saya sudah tidak berhenti sejak subuh."
"Pagi, Mas."
"Pagi, pagi. Saya mau cepat. Ada tiga tawaran. Pertama, iklan minuman isotonik. Bayarannya bagus, tapi kamu harus berenang dengan baju lengkap."
"Tolak."
"Kedua, acara kuis keluarga di televisi. Kamu dan suami kamu sebagai bintang tamu."
Aurel melirik Aditya. Aditya menatap korannya dengan tekun yang tidak meyakinkan.
"Tolak."
"Kamu belum dengar yang ketiga."
"Mas, kalau yang ketiga lebih aneh dari berenang pakai baju, tolak juga."
"Lunara."
Hening. Sendok Aurel berhenti di mangkuk.
"Lunara," ulang Mas Dimas, lebih pelan. "Perhiasan itu. Yang dulu batal."
"Gue tahu."
"Mereka kirim karangan bunga ke kantor saya pagi ini. Direktur kreatifnya sendiri yang menelepon. Dia bilang, dan saya kutip, 'ada kesalahpahaman yang harus kami perbaiki.' Mereka mau Aurel sebagai wajah koleksi baru."
Aurel menaruh sendoknya. Dulu, kontrak itu seperti pintu kaca yang ditutup di depan mukanya. Sekarang pintunya terbuka lebar, dan orang di baliknya tersenyum.
"Mas," katanya. "Simpan dulu."
"Simpan?"
"Gue lagi belajar bisnis. Belum bisa putuskan hari ini."
"Rel, itu Lunara!"
"Mas Dimas. Simpan."
Ada jeda panjang di ujung telepon. Aurel membayangkan manajernya duduk di mobil, memegang ponsel dengan wajah tidak percaya.
"Baiklah," kata Mas Dimas. "Tapi jangan terlalu lama. Orang kaya yang minta maaf biasanya tidak sabaran."
Telepon mati. Aurel menoleh. Aditya masih menatap korannya. Tapi halaman yang terbuka belum berganti sejak lima menit lalu.
"Lo nggak komentar?"
"Tidak."
"Biasanya lo punya pendapat soal semua."
"Saya punya." Ia melipat koran dengan hati-hati. "Tapi itu keputusanmu."
Aurel menatapnya lama.
"Lo lagi berlatih ya?"
"Setiap hari."
"Bagus."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian, itu ejekan."
"Saya tahu. Saya terima juga."
---
Di ruang kerja, siang itu, Aditya menutup pintu dan duduk dengan ponsel menempel di telinga.
"Katakan lagi," ujarnya.
"Akunnya tetap menolak, Pak." Suara Rian terdengar letih dan sangat sopan. "Pengacara kita sudah mengirim dua somasi. Mereka membalas bahwa sumber mereka rahasia. Pembayarnya masuk lewat tiga perantara, dan perantara ketiga sudah menutup rekening."
"Tiga."
"Ya, Pak. Kelihatannya bukan orang yang baru belajar."
"Teruskan. Jangan hubungi agensi Aurel. Jangan hubungi keluarga Aurel. Kalau ada kabar, laporkan ke saya, bukan ke siapa-siapa."
"Baik, Pak."
Telepon mati. Aditya mengetuk meja tiga kali dengan telunjuk. Di layar laptopnya, masih terbuka foto dari semalam: dirinya menunduk, Aurel mendongak, bibirnya di kening perempuan itu. Foto yang dipilih setengah jam kemudian oleh tiga portal berita sebagai gambar utama.
Ia menatap foto itu lebih lama dari yang diperlukan.
Lalu ia membuka kolom email kosong dan mengetik: Rel, janji tujuh hari saya meleset. Dua kalimat berikutnya terdengar seperti pembelaan, jadi ia menghapusnya. Tiga kalimat pengganti terdengar seperti laporan, dan ia menghapusnya juga. Akhirnya layar kosong lagi.
Ia menutup laptop. Kalau harus mengatakannya, ia akan mengatakannya langsung. Itu lebih sulit, tapi email bisa dihapus dan wajah tidak.
---
Malam itu angin di balkon penthouse terasa sejuk, dan lampu kota di bawah mereka berkedip seperti layar komputer yang lupa dimatikan. Aurel duduk bersila di lantai dengan sepatu hak tingginya tergeletak di sebelah, sementara Aditya duduk di kursi rotan dengan sepatu kulitnya di tangan, seperti orang yang belum memutuskan akan melemparnya atau memegangnya selamanya.
"Dua ratus lima puluh orang," kata Aurel, "dan kaki gue masih ngilu. Orang tua gue sudah sepuluh kali kirim foto dari resepsi. Mama pasang di status. Papa pasang di status. Papa bahkan nggak tahu cara pasang status."
"Mereka bersaing?"
"Banget."
"Siapa yang menang?"
"Mama. Fotonya punya lebih banyak bunga."
"Kalau begitu Om perlu belajar dari Mama."
Aurel hampir menjawab bahwa itu terdengar seperti kalimat orang yang sudah menjadi bagian keluarga. Tapi ia menelan jawaban itu tepat waktu.
"Dua ratus lima puluh orang," ulangnya, "dan gue masih ngilu."
"Saya nyaris menginjakmu tiga kali di lantai dansa."
"Nyaris itu bukan menginjak."
"Nyaris lebih menegangkan."
"Nyaris lebih sopan."
Mereka tertawa kecil. Lalu angin berhenti, dan Aurel mengatakan sesuatu yang sejak pagi menunggu giliran.
"Dit. Soal tujuh hari."
"Tujuh hari?"
"Janji lo waktu itu. Skandal gue dihapus dalam tujuh hari. Sekarang sudah lebih dari sebulan."
Aditya tidak bergerak. Sepatu di tangannya diletakkan perlahan di lantai.
"Kamu benar. Saya meleset."
"Berita turun karena resepsi, bukan karena lo."
"Saya tahu."
"Lo bisa ngomong itu dari awal."
"Saya belum tahu cara mengatakannya tanpa terdengar seperti alasan." Ia memandang lampu kota. "Berita itu bisa diturunkan. Tim saya sudah menghubungi hampir semua media. Tapi akun yang menyebarkannya dari awal tidak mau menyebut siapa yang membayar. Mereka bahkan memblokir pengacara."
"Lo cari tahu?"
"Masih."
"Dan lo nggak bilang."
"Saya takut kamu menganggap saya gagal."
Itu bukan kalimat yang Aurel duga akan keluar dari mulut Aditya Mahendra. Ia menatap profil laki-laki itu dari samping: rahang yang tegas, mata yang lelah, dan satu tangan yang terkepal tanpa sadar di lutut.
"Dit."
"Hm."
"Lo hebat."
Aditya menoleh.
"Maksud saya?"
"Gue yang bilang, kok. Lo yang bilang 'saya meleset'. Banyak orang tidak bisa bilang itu dengan muka lurus." Aurel menaruh dagu di lutut. "Lo hebat. Titik."
Ia ingin mengatakan sesuatu yang lain sesudahnya. Tetapi yang keluar justru sebuah pertanyaan.
"Tadi malam. Di panggung."
"Ya."
"Kecupan itu. Itu bagian dari kontrak?"
Aditya menatapnya lama. Lampu kota memantul di matanya, dan untuk sesaat Aurel tidak bisa menebak apakah ia sedang berpikir atau berusaha tidak berpikir.
"Itu bagian dari kontrak," katanya.
Jawaban yang tepat. Jawaban yang aman. Namun tangannya yang bersandar di lengan kursi bergetar sedikit, hanya sedikit, hanya cukup untuk dilihat orang yang memperhatikan.
Aurel memperhatikan.
Ponsel di meja rotan di antara mereka bergetar, dan layarnya menyala. Nama itu muncul dengan huruf besar: RIN.
Aditya menyambar ponsel itu dengan tangan yang masih memegang sepatu, menjatuhkan sepatunya, dan tanpa sengaja menyentuh tombol pengeras suara.
"Dit." Suara Karina, jernih di malam yang sunyi. "Maaf mengganggu malam-malam. Kita perlu bicara soal yang dulu."
Aditya membeku. Aurel tidak bergerak. Angin mulai bertiup lagi.
"Besok," katanya, dan matanya melirik Aurel sekali, cepat sekali, sebelum ia menutup telepon.