"Jangan bergerak," kata penata rias. "Sekali lagi. Jangan berkedip."
"Saya model, Bu. Berkedip itu tugas saya."
"Bukan malam ini."
Aurel menatap langit-langit ruang rias di lantai dua hotel dan berusaha tidak berkedip. Lewat dinding tipis ia bisa mendengar bunyi ballroom mulai hidup: piring ditata, kursi digeser, seseorang menguji mikrofon dengan kata "satu, dua" yang diulang tiga belas kali. Gaun renda itu sudah dipasang sejak jam tiga. Pinggangnya pas persis di dua sentimeter yang dikecilkan, dan kakinya, yang memarnya sudah memudar, sedikit nyeri di dalam sepatu.
Pintu terbuka tanpa diketuk.
"Rel."
Mama berdiri di ambang pintu dengan kebaya biru tua, rambut disanggul rapi, dan mata yang sudah merah sebelum acara dimulai. Di belakangnya, Papa memegang topi dan kelihatan seperti anak SD yang dikirim ke ruang kepala sekolah.
"Ma. Jangan nangis dulu. Maskaranya baru selesai."
"Mama nggak nangis."
"Mata Mama bocor."
"Itu alergi." Mama menyeka mata, lalu menatap Aurel dari ujung rambut sampai ujung gaun, dan alerginya langsung kambuh lagi. "Cantik sekali kamu, Nak."
"Papa mau bilang apa?"
Papa membersihkan tenggorokan dua kali. Ia berniat berbicara, jelas sekali, tetapi kalimat yang keluar hanya: "Nak Aditya itu orang baik."
"Pa."
"Papa cuma mau bilang itu."
"Iya, Pa."
"Dan raket yang Papa kasih itu, kalau dia sampai nggak dipakai..."
"Dia pakai, Pa."
"Bagus."
Aurel menahan napas. Ia ingin sekali berbalik dan menceritakan semuanya sekarang, sebelum pintu ballroom dibuka. Tetapi wajah Papa begitu cerah, dan Mama begitu lega, sampai rahasia itu terasa seperti benda tajam yang terlalu berat diangkat.
"Permisi."
Wilhelmina berdiri di belakang Papa dan Mama, dalam gaun malam abu-abu perak, sanggulnya setinggi biasa tetapi wajahnya berbeda. Pelan-pelan, Papa dan Mama menyingkir.
"Tante," kata Aurel.
"Tante ingin minta sesuatu."
"Silakan, Tante."
"Mulai malam ini, jangan panggil Tante. Terlalu jauh." Wilhelmina memegang bahu Aurel. "Dan jangan panggil Mama. Itu sudah ada yang punya, dan Tante tidak mau merebutnya dari ibumu."
Mama tersenyum di sudut ruangan, sambil menyeka alerginya lagi.
"Panggil Mami."
Aurel membuka mulut. Menutupnya. Kata itu terasa asing di lidah, tetapi tidak berat.
"Mami."
Wilhelmina memejamkan mata sebentar, seperti orang yang menerima hadiah yang tidak berani ia minta. Kemudian ia memeluk Aurel, cepat dan erat, dan berbisik di dekat telinganya: "Sudah cerita?"
"Sudah, Mami."
"Bagus."
---
Ballroom penuh cahaya. Dua ratus lima puluh wajah menoleh ketika pintu terbuka, dan kamera mulai berkilat di sisi kanan ruangan. Aurel, yang sudah menghadapi flash sejak remaja, merasakan lututnya melemas.
Tangan Aditya muncul di sampingnya. Ia mengenakan jas hitam dengan dasi hijau zamrud yang sama dengan warna batik pasangan di Malioboro. Wajahnya datar, tapi tangannya hangat dan agak basah.
"Kamu gugup," bisik Aurel.
"Saya tidak gugup."
"Telapak tangan lo basah."
"Itu keringat dingin. Beda."
Mereka berjalan menyusuri karpet merah. Di sisi kiri, Eva dan Lira berdiri bersebelahan, Eva sudah menangis dengan make-up yang tidak tahan air, Lira melambai dengan dua tangan seperti pemandu bandara. Papa berdiri paling depan sambil merekam dengan ponsel yang dipegang terbalik. Di meja ketiga ada Karina dalam gaun hijau tua, tersenyum dan mengangkat jempol. Di dekat panggung kecil berdiri Pak Hardi dengan kacamata dan tangan di saku, menunduk sopan seperti orang yang berusaha lupa bahwa ia pernah menyindir.
Dan di ujung barisan tamu, seorang pria dengan jas biru malam menunggu giliran memberi selamat.
"Selamat, Nona Aurel," kata Kevin, saat mereka lewat. "Pernikahan yang indah."
Hanya itu. Satu kalimat, nada sopan, tanpa senyum yang berlebihan. Aurel membalas dengan senyum tipis dan terus berjalan. Tetapi di langkah ketiga ia sadar bahwa ia baru saja ditatap dengan cara yang sama seperti pelukis menatap kanvas kosong, dan ia tidak tahu kenapa.
Musik berhenti. Pembawa acara mengumumkan first dance.
Lampu meredup. Aditya menarik napas yang terdengar sampai ke telinga Aurel.
"Satu, dua, tiga," bisik Aurel.
"Jangan hitung keras-keras."
"Lo yang menghitung di kepala."
"Tahu dari mana?"
"Rahang lo bergerak."
Ia meletakkan tangan di pinggang Aurel. Tidak terlalu ragu kali ini. Mereka melangkah.
Satu putaran. Dua. Tiga. Empat.
Tidak ada kaki yang diinjak. Aurel merasakan Aditya berdansa dengan ketelitian orang yang sudah berlatih sendirian di gelap, dan hampir tersandung karena ingat itu. Tepuk tangan meledak di sekeliling. Ia tersenyum, kali ini bukan senyum yang dilatih.
Lagu terakhir mengalun. Wilhelmina naik ke panggung kecil bersama Papa dan Mama dan memegang mikrofon dengan dua tangan.
"Terima kasih sudah datang," katanya. Suaranya tenang, tetapi Aurel melihat jemarinya sedikit gemetar. "Saya tidak pandai berpidato. Jadi saya hanya mau bilang: bertahun-tahun saya menunggu anak saya membawa pulang seseorang yang bisa membuatnya tertawa sampai lupa melihat jam."
Aditya menunduk. Telinganya memerah.
"Malam ini saya melihatnya," lanjut Wilhelmina. "Dan saya sangat berterima kasih pada ibu dan ayah Aurel, yang membesarkan perempuan hebat ini. Terima kasih sudah mengizinkan saya ikut menjadi bagian keluarga kalian."
Mama menutup mulut dengan sapu tangan. Papa menggeleng-geleng pelan tanpa suara, seperti orang yang sedang membenarkan ucapan sendiri.
Separuh ruangan mengambil tisu. Lalu seorang tamu laki-laki di barisan tengah berseru:
"Cium! Cium!"
Satu suara menjadi sepuluh. Sepuluh menjadi seratus. Seisi ballroom menyahut, setengah tertawa, setengah bersorak.
Aurel membeku. Aditya juga.
Ini tidak ada di skenario. Mereka sudah berlatih tanya-jawab, kisah lelang lukisan, cara berpegangan tangan. Tapi tidak ada satu pun latihan tentang ini.
Aditya menunduk sedikit. Suaranya hanya selapis napas, tidak terdengar mikrofon.
"Boleh?"
Aurel menatap matanya. Ia mencari paksaan dan tidak menemukan. Yang ia temukan hanya pertanyaan, dan di belakang pertanyaan itu ketakutan yang sama dengan miliknya.
Ia mengangguk.
Aditya mencondongkan tubuh dan mengecup keningnya. Singkat. Hangat. Terasa seperti tanda baca di ujung kalimat yang panjang.
Ballroom meledak. Lampu kamera menyambar seperti petir. Di sisi panggung, Papa menutup mulut dengan topi dan bahunya bergetar, dan Mama memeluk lengannya.
"Terima kasih," bisik Aditya.
"Untuk apa?"
"Karena menjawab."
Papa turun dari panggung lebih dulu dari siapa pun. Ia berjalan menembus kerumunan dengan langkah laki-laki yang sudah lama tidak berlari, dan berhenti persis di depan Aditya.
"Nak Aditya."
"Om."
"Papa cuma minta satu." Suaranya serak. "Kalau anak Papa ini menangis, kamu kasih tahu Papa duluan. Jangan Papa tahu dari orang lain."
Aditya tidak langsung menjawab. Aurel merasakan tangan laki-laki itu mengeras di pinggangnya, sesaat, seperti orang yang diminta menandatangani sesuatu yang tidak seharusnya ia setujui.
"Baik, Om," katanya akhirnya. "Saya yang akan memberi tahu Om. Itu janji saya."
Papa memandangnya sebentar, lalu menepuk bahu Aditya dua kali, dan itu kelihatannya lebih berarti daripada pidato mana pun.
"Papa," bisik Aurel, matanya basah. "Jangan nangis. Kamera ada di mana-mana."
"Papa nggak nangis. Papa kelilipan."
"Mama bilang alergi."
"Kami sekeluarga alergi gaun."
Eva dan Lira menyerbu dari arah meja, nyaris menabrak sepasang pelayan yang membawa nampan. Eva langsung memeluk Aurel tanpa kata-kata, sementara Lira menjitak lengan Aditya dengan akrab, seperti ia sudah mengenalnya dua puluh tahun.
"Itu untuk apa?" tanya Aditya, mengusap lengannya.
"Untuk Rel yang pucat sebulan ini. Sisanya nanti."
"Baik."
"Dia sopan banget," bisik Lira ke telinga Aurel.
"Dia emang gitu."
"Nggak. Dia khusus sopan buat lo."
Aurel hendak membalas ketika dua perempuan berpakaian pesta lewat tepat di belakang mereka, berbisik cukup keras untuk dibawa angin AC.
"Itu kan istrinya? Yang dulu digosipkan sama Bram Satria?"
"Yang aktor itu? Katanya sudah putus."
"Bukan putus. Katanya malah nggak pernah..."
Suara itu menghilang di antara tepuk tangan.
Aurel tetap tersenyum. Tangannya bahkan tidak gemetar. Tapi di sudut matanya ia menangkap Kevin di sisi lain ruangan, sedang mengangkat gelas sampanye ke arahnya, setinggi dada, tanpa tersenyum, seperti orang yang bersulang atas sesuatu yang baru ia ingat.