"Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga. Dit, itu kaki gue."
"Saya tahu."
"Kalau tahu, kenapa diinjak?"
"Karena kaki kamu ada di tempat yang saya tuju."
"Lo bilang tujuannya ke kanan!"
"Ke kanan menurut hitungan. Kaki kamu ke kanan menurut ruang."
Aurel memejamkan mata dan menghitung sampai lima. Di ruang tengah penthouse, sofa-sofa sudah digeser ke dinding, karpet digulung, dan dari speaker kecil di atas meja mengalun lagu pelan yang sudah diputar sebelas kali sejak pukul dua siang. Soto itu sudah hampir seminggu berlalu, dan tidak seorang pun dari mereka yang menyebutnya. Aurel meninggalkan wadah kosongnya di meja kerja Aditya Senin sore, bersama kertas kuning yang ia tulisi satu kata: Enak. Aditya membuangnya tanpa komentar, atau begitu yang Aurel kira, sampai ia melihat kertas itu terselip di sisi laptopnya.
"Lo itu menghitung, bukan merasakan," kata Aurel. "Dengar lagunya. Bukan angkanya."
"Angka lebih jelas."
"Lagu itu nggak punya angka."
"Semua lagu punya angka. Empat per empat, tiga per empat."
"Dit. Lo mau jadi pemimpin atau jadi mesin penghitung?"
"Pemimpin harus menghitung."
"Pemimpin yang baik dengar pasangannya."
Aditya diam. Itu diam yang berbeda dari diam biasanya. Aurel baru tahu bedanya sekarang: diam orang yang menyimpan kalimat Aurel di suatu tempat, untuk dibuka lagi nanti.
"Oke," kata Aurel, menepuk tangan. "Cara baru. Lo atlet, kan?"
"Mantan."
"Kerjakan sama kayak footwork. Waktu lo siap menerima smash, kaki lo ngapain?"
"Split step."
"Berarti lo punya ritme. Dansa itu cuma split step yang pelan dan nggak ada raket."
Aditya terdiam, menimbang. Kemudian bahunya turun sedikit, seperti saat ia melihat papan catur.
"Coba lagi."
"Boleh?" Ia menengadahkan tangan.
Aurel menaruh tangan kirinya di bahu Aditya, tangan kanannya di tangan laki-laki itu. Aditya menaruh tangan satunya di pinggang Aurel, ragu, terlalu hati-hati, seolah menyentuh benda yang bisa pecah.
"Santai, Dit. Gue nggak gigit."
"Saya tidak berpikir begitu."
"Lalu kenapa tangan lo kaku?"
"Karena kalau saya lemas, saya akan menginjak kamu lagi."
Aurel tertawa. Aditya, di luar dugaan, tertawa juga. Kemudian mereka melangkah.
Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga.
Langkah pertama kaku. Langkah kedua sedikit lebih lentur. Pada langkah kelima, bahu Aditya akhirnya menyerah pada irama, dan Aurel merasakan perubahan kecil di telapak tangannya: tekanan yang tadinya seperti menahan pintu berubah menjadi ajakan.
Ia tidak menginjaknya. Satu putaran. Dua. Tiga.
"Dit! Lo bisa!"
"Saya bisa?"
"Lo bisa!"
"Saya..." Ia menunduk, melihat kakinya sendiri dengan tatapan orang yang tidak percaya pada sepatunya. Dan pada saat itulah tumitnya jatuh di atas jari kaki Aurel.
"Aduh!"
"Maaf!"
"Gue baru mau memuji lo!"
Dari balik pintu dapur terdengar suara tertahan yang jelas bukan suara tikus. Aurel menoleh. Dua kepala menyembul dari celah pintu: kepala Mbak Sari dengan kerudung miring, dan kepala Pak Budi dengan wajah penuh kegembiraan seorang penonton final.
"Kami cuma lewat, Nona!" kata Mbak Sari.
"Kalian lewat sudah empat puluh menit."
"Jalannya panjang!" Pak Budi membela. "Tuan, tahan ritme! Operannya kanan, bukan kiri!"
"Pak Budi," kata Aditya, tanpa berpaling, "ini bukan sepak bola."
"Siap, Bos! Tapi kalau kalah, tetap bukan salah wasit!"
Aurel menunduk di bahu Aditya, tertawa sampai perutnya sakit. Ia bisa merasakan dada laki-laki itu ikut bergetar. Jarang sekali Aurel merasakannya begini dekat: tawa Aditya yang bukan setengah tawa, bukan senyum tipis, tapi benar-benar lepas, mengalir ke bahu dan lengannya.
Lalu lagu berganti.
Nadanya lebih lambat, dan pemain biola mengisi tempat ketukan. Tawa mereka melambat, kemudian berhenti. Aurel mengangkat kepala.
Mereka berdiri terlalu dekat. Tangan Aditya masih di pinggangnya. Jemari Aurel masih di bahunya. Dari jarak sedekat itu ia bisa melihat bintik cokelat kecil di iris mata Aditya, yang tidak pernah ia sadari ada.
Tidak ada yang melangkah.
Pintu dapur tiba-tiba sepi sekali.
"Rel," kata Aditya, pelan.
"Hm."
"Kamu masih bernapas?"
"Lo yang ditanya."
"Saya bernapas."
"Bagus."
"Kamu juga."
"Dit."
"Ya?"
Aurel tidak tahu apa yang hendak ia katakan. Ia hanya tahu telapak tangannya hangat di bahu laki-laki itu, dan jantungnya mengetuk dengan irama yang tidak cocok dengan lagu apa pun.
Di dapur, sesuatu jatuh dengan bunyi nyaring. Panci, atau kepala Pak Budi.
Mereka terlepas serentak, seperti dua magnet yang tiba-tiba berbalik kutub.
---
Satu jam kemudian, Aurel duduk di kursi bar dapur dengan kaki kanan di atas bangku kecil, sementara Aditya berlutut membawa kantong es yang dibungkus handuk.
"Boleh saya lihat?"
"Cuma memar."
"Boleh?"
"Boleh, Dit."
Ia menaruh es di punggung kaki Aurel dengan kehati-hatian orang yang membetulkan kabel. Sentuhan jarinya hampir tidak terasa. Aurel menatap bagian atas kepala laki-laki itu, rambutnya yang masih basah keringat dan sedikit berantakan, dan merasakan lagi sesuatu yang belum punya nama, dan yang Senin lalu ia salahkan pada sambal.
"Maaf," kata Aditya. "Saya injak lima kali."
"Tujuh."
"Kamu hitung."
"Gue model. Kaki adalah aset."
"Saya ganti rugi."
"Dengan apa?"
"Dengan..." Ia berpikir sebentar. "Satu putaran tanpa menginjak, di depan dua ratus lima puluh orang."
"Itu bukan ganti rugi. Itu hukuman."
"Itu tujuannya."
Aurel menahan senyum. Mbak Sari masuk membawa nampan teh, meletakkannya pelan di meja, dan buru-buru menyembunyikan ponsel di balik celemek.
"Mbak Sari," kata Aurel.
"Ya, Nona?"
"Ponsel Mbak dari tadi nyala."
Mbak Sari menunduk. Pak Budi, yang berdiri di pintu, mundur satu langkah.
"Nyonya besar minta video, Nona," kata Mbak Sari akhirnya, dengan suara sangat kecil. "Beberapa hari lalu beliau telepon, bilang tolong rekam kalian latihan. Supaya beliau tahu Tuan sudah bisa atau belum."
"Terus Mbak rekam sampai kapan?"
"Sampai selesai, Nona."
"Dan sudah dikirim?"
Mbak Sari menelan ludah.
"Sudah, Nona. Barusan. Semuanya. Termasuk bagian lagu yang kedua."
Aditya menunduk perlahan, menatap handuk es di tangannya, lalu menatap Aurel, dan Aurel melihat wajah Aditya Mahendra persis seperti anak sembilan tahun yang ketahuan membolos.
Ponsel Aurel bergetar di meja. Satu pesan.
Wilhelmina: Bagian yang kedua bagus sekali. Tante tunggu hari Sabtu.
---
Pukul sebelas malam, Aurel keluar kamar untuk mengambil air dan melihat cahaya samar dari ruang tengah.
Lagu itu masih ada, tapi dengan volume sangat kecil, hampir seperti bisikan. Di tengah ruangan yang gelap, tanpa pasangan, Aditya melangkah sendirian. Satu, dua, tiga. Putar. Satu, dua, tiga. Ia menunduk, memeriksa kakinya, lalu mengulang dari awal.
Aurel berdiri di ambang lorong, satu tangan masih memegang gelas kosong.
"Tujuh kali," Aditya bergumam pada dirinya sendiri, dengan nada orang yang memarahi diri. "Tujuh kali. Sekali lagi."
Ia tidak tahu ada yang menonton. Itu yang membuatnya sulit dilihat. Orang yang selama ini mengetuk jari di taplak untuk menghitung angka perusahaan kini mengetuk lantai untuk menghitung langkah, hanya supaya perempuan yang diinjaknya tidak merasa sakit lagi.
Aurel mundur selangkah. Lantai kayu berderit di bawah tumitnya, sangat pelan, tapi cukup.
Langkah di ruang tengah berhenti.
"Rel."
Ia tidak menoleh. Ia hanya tahu.
"Gue... ambil air," kata Aurel, mengangkat gelas kosong seperti barang bukti.
"Gelasmu kosong."
"Gue belum sampai dapur."
"Dapur di arah sebaliknya."
Aurel menatap gelas di tangannya. Aditya, di tengah gelap, berdiri dengan tangan di sisi tubuh seperti anak yang ketahuan belajar diam-diam.
"Kamu mau bantu menghitung?" tanyanya akhirnya. "Hanya sepuluh menit. Saya masih sering salah di putaran kedua."
"Lo ngajak gue latihan jam sebelas malam."
"Kaki kamu sudah saya injak tujuh kali. Saya berutang tujuh putaran bersih."
Aurel meletakkan gelas di rak lorong. Kemudian ia melangkah ke ruang tengah yang remang, melepas sandalnya, dan mengulurkan tangan.
"Satu," katanya. "Dua. Tiga."