Di dalam lift menuju lantai tiga puluh dua, Aurel membaca ulang balasan Wilhelmina yang sudah lima hari bertengger di ponselnya.
Sudah, Tante, tulisnya waktu itu.
Bagus, balas Wilhelmina. Tante tidak akan bertanya siapa.
"Kamu membaca pesan yang sama," kata Aditya, tanpa menoleh dari pantulan pintu lift.
"Lo ngintip."
"Layarnya menghadap saya."
"Itu bukan alasan."
"Itu fakta." Pintu terbuka. "Blazer kamu bagus."
"Lo bilang tadi pagi."
"Saya bilang lagi. Tidak ada pasal yang melarang."
Aurel mengangkat dagu dan melangkah keluar, berusaha tidak tersenyum, dan gagal dengan sempurna.
Ruang rapat desain sudah penuh. Di dinding kaca terpajang maket Resor Jogja dalam skala besar: bangunan-bangunan rendah berbentuk limasan, kolam yang mengalir ke arah hamparan sawah, jalan setapak yang meliuk di antara pohon-pohon kelapa kecil dari plastik. Sekitar dua belas orang duduk mengelilingi meja panjang. Maya mengangguk pada Aurel dari ujung ruangan dan menyorongkan satu kursi kosong di sisinya.
"Aditya!"
Seorang perempuan berdiri dari kursi paling dekat maket. Rambutnya dipotong sebahu, kemejanya digulung sampai siku, dan ada pensil terselip di telinganya yang jelas ia lupa. Ia berlari kecil, bukan berjalan, dan memukul lengan Aditya dengan gulungan kertas.
"Empat tahun! Empat tahun kamu nggak balas emailku!"
"Rin," kata Aditya.
Satu suku kata. Tapi Aurel mendengar sesuatu di dalamnya yang belum pernah ia dengar dipakai untuk siapa pun: nada orang yang pulang.
"Karina Wulandari," kata perempuan itu pada Aurel, menyodorkan tangan dengan senyum lebar. "Arsitek proyek ini. Dan sahabat Adit sejak kami masih berebut shuttlecock di halaman rumahnya. Kamu pasti Aurel."
"Iya. Salam kenal."
"Salam kenal! Mama Wilhelmina cerita banyak."
Mama Wilhelmina. Bukan Tante. Bukan Ibu Wilhelmina. Aurel menyimpan kata itu tanpa tahu kenapa.
"Adit," kata Karina, menoleh lagi, "kamu menikah. Dan aku harus tahu dari undangan, bukan dari kamu."
"Saya sibuk."
"Kamu selalu sibuk. Aku maafkan, karena dia kelihatannya jauh lebih sabar dari kamu."
Rapat dimulai. Karina berdiri di depan layar dan bicara tentang atap limasan, sirkulasi udara, kolam yang dibuat bertingkat supaya air terdengar dari kamar. Ia bicara cepat dan penuh gerak, dan tiap kali menunjuk gambar, ia melirik Aditya seperti sedang memeriksa apakah laki-laki itu masih mengikuti. Aditya selalu mengikuti. Itu bagian yang aneh.
"Anggaran?" tanya seorang pria dari bagian keuangan, mengangkat tangan.
"Tahap satu, tiga ratus empat puluh miliar. Pemasaran dua persen dari proyeksi pendapatan tahun pertama."
Aurel menggoreskan angka itu di buku catatan biru tuanya. Lalu menggoreskan satu tanda tanya.
Ia mengangkat tangan sebelum sempat meragukan diri.
"Maaf, saya mau tanya."
Semua kepala menoleh. Aditya tidak. Ia tetap menatap layar, tapi Aurel melihat sudut bibirnya bergerak.
"Silakan," kata Karina.
"Proyeksi di slide tujuh bilang enam puluh persen tamu berasal dari pasar domestik, yang memesan lewat media sosial dan pemandu wisata digital. Dua persen untuk pemasaran itu cukup untuk iklan. Tapi tidak cukup untuk konten, kreator, dan pengelola akun yang bekerja sepanjang tahun." Aurel menarik napas. "Berapa dari angka dua persen itu yang sudah dialokasikan untuk konten? Kalau belum ada, apakah ada ruang di anggaran desain untuk menyiapkan titik-titik foto sejak sekarang?"
Hening dua detik.
"Titik foto," ulang Karina.
"Sudut yang secara sengaja dirancang supaya tamu mau memotret dan mengunggahnya sendiri. Murah kalau dibangun bersama gedungnya. Mahal kalau ditambahkan sesudah buka."
Karina menatap Aurel. Lalu ia menaruh pensil dari telinganya ke meja, sangat pelan, seolah baru ingat benda itu ada di sana.
"Itu pertanyaan bagus," katanya. "Kami belum memikirkannya. Aku belum memikirkannya."
"Maya, catat," kata Aditya, masih tanpa menoleh. "Tambahkan ke agenda minggu depan. Aurel akan menyusun usulan anggaran konten bersama tim desain."
"Saya?" bisik Aurel, hanya untuk Maya.
"Beliau percaya Mbak Aurel," bisik Maya balik, sambil menulis.
Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Dan sesuatu yang lain, di sebelahnya, yang tidak sehangat itu, tapi ikut hadir.
---
Rapat bubar menjelang pukul dua belas. Aurel membereskan catatannya, dan dari ambang pintu terdengar tawa Karina, nyaring dan lepas, sementara Aditya, yang jarang sekali tertawa di depan orang, sedang mengangkat tangan membela diri.
"Aku bilang lima belas menit, kamu datang dua jam," kata Karina.
"Ada kejuaraan."
"Ada pizza! Kamu datang demi pizza!"
"Pizza juga bagian dari kejuaraan."
Aurel tidak sadar sudah menghentikan gerakan memasukkan pulpen ke tas.
"Mbak Aurel," kata Maya, merendahkan suara. Ia berdiri di sampingnya dengan map di dada. "Boleh saya bilang sesuatu? Hanya supaya Mbak tidak kaget nanti."
"Boleh."
"Mbak Karina itu dulu yang diharapkan Nyonya Wilhelmina jadi menantu."
Pulpen Aurel menyentuh dasar tas.
"Tapi mereka sudah seperti kakak-adik, Mbak. Semua orang kantor tahu itu. Mbak Karina bahkan..." Maya berhenti, menimbang. "Ya. Hanya supaya Mbak tahu."
"Makasih, May."
Dari lorong, Rian muncul dengan langkah cepat, berhenti di sisi Aditya, dan berbicara pelan. Aurel tidak bisa mendengar. Tapi ia melihat Aditya mendengarkan, mengangguk sekali, lalu menoleh padanya melalui kaca.
Aditya menyeberangi ruangan.
"Pak Kevin mengonfirmasi hadir di resepsi," katanya. "Sebagai mitra proyek ini."
"Kevin yang di Jogja itu?"
"Ya."
"Yang lo bilang: dia bersama saya."
"Itu saya." Rahangnya menegang sedikit. "Tidak ada alasan untuk menolak. Dia mitra. Tapi saya ingin kamu tahu lebih dulu."
Itu bagus. Itu persis hal yang seharusnya ia lakukan. Aurel tahu itu. Tetapi yang terasa di dadanya tidak ada hubungannya dengan Kevin. Yang terasa adalah pemandangan Karina yang menunggu di ujung lorong dengan gulungan kertas di bahu, menunggu Aditya, dengan senyum yang tidak minta izin kepada siapa pun.
"Rin mengajak makan siang bertiga," kata Aditya. "Ada tempat di dekat sini, soto."
"Gue ada janji."
"Dengan siapa?"
"Dengan... Eva."
Itu bohong. Eva sedang pemotretan di luar kota seharian. Aurel tahu itu. Aditya, kalau sempat mengecek, juga akan tahu.
Tapi laki-laki itu hanya menatapnya sebentar, mungkin satu detik lebih lama dari yang diperlukan.
"Baik," katanya. "Salam untuk Eva."
Ia berbalik. Aurel berdiri di ambang pintu ruang rapat, dengan buku catatan di dada, menyaksikan Karina menyikut lengan Aditya sambil bicara, dan Aditya menunduk mendengarkan, dan keduanya berjalan menuju lift dengan irama langkah yang persis sama.
Lalu ia berjalan ke pantry, membuka laci, dan memakan dua bungkus keripik singkong berdiri, sendirian, dengan marah yang tidak tahu harus ditujukan ke siapa.
Bungkus ketiga baru sobek separuh ketika pintu pantry terbuka.
"Mbak Aurel." Maya masuk membawa kantong kertas cokelat, ekspresinya sangat profesional dan sama sekali tidak bisa dipercaya. "Ini titipan."
"Dari siapa?"
"Dari Pak Aditya. Saya diminta mengantar sendiri, jangan lewat Rian."
Aurel membuka kantong itu. Sekotak soto ayam masih mengepul, dua bungkus kerupuk, dan sambal dalam wadah kecil yang tutupnya diikat karet gelang. Di atas kotak, tertempel kertas kuning kecil dengan tulisan tegak yang hanya bisa milik satu orang.
Salam dari Eva. Pedasnya saya tambah. Tidak perlu berterima kasih.
"Lo sudah tahu," gumam Aurel.
"Sejak Mbak menyebut nama Eva, kata beliau," kata Maya. "Beliau berkata Mbak Aurel selalu menoleh ke kiri kalau berbohong. Saya tidak berani menyimpulkan apa-apa."
"Dia nggak makan soto bareng Karina?"
"Beliau membungkus dua. Satu untuk beliau, satu untuk Mbak. Mbak Karina akhirnya makan dengan tim desain, karena Pak Aditya bilang istrinya tidak jadi ikut."
Aurel menatap kertas kuning itu. Kemudian kotak soto. Kemudian keripik singkong di tangannya.
"Gue harus minta maaf?"
"Menurut saya, Mbak cukup makan sotonya selagi panas." Maya tersenyum tipis, lalu berbalik ke pintu. "Oh, dan Mbak. Mbak Karina titip salam. Katanya pertanyaan soal titik foto tadi bagus sekali, dan dia akan menunggu usulan anggaran dari Mbak."
Pintu menutup pelan.
Aurel duduk di kursi tinggi pantry, membuka tutup soto, dan menghirup uap kaldu yang wangi serai. Sambalnya benar-benar ditambah. Matanya langsung pedas.
Ia menyalahkan sambal untuk itu.