Eva dan Lira sudah menunggu di lobi butik ketika mobil Pak Budi berhenti. Mereka berdiri bersisian di balik pintu kaca, tangan terlipat. Menunggu.
"Gaun apa, Rel?" kata Eva, tanpa salam.
"Halo juga, Va."
"Halo. Gaun apa?"
"Gaun pengantin."
Lira menjatuhkan tasnya. Itu tas mahal, tapi ia tidak menunduk untuk memungutnya.
"Pengantin siapa?"
"Gue."
"Lo kan sudah nikah," kata Lira pelan, seperti menjelaskan pada anak kecil. "Lima minggu lalu. Kami tahunya dari satu pesan: gue udah nikah, jangan tanya dulu. Satu. Pesan."
"Itu akadnya. Ini resepsinya."
"Dan kami baru diberi tahu sekarang bahwa ada resepsi?"
"Kalian diberi tahu hari Minggu."
"Tiga hari lalu! Lewat empat kalimat pendek!"
Aurel mengangkat bahu dan mendorong pintu butik. Bel kecil berdenting. Di dalam, perempuan berkacamata dengan pita ukur di leher sudah menunggu, dengan dua asisten yang membawa bantalan jarum.
"Nyonya Aurel," katanya hangat. "Ibunda Pak Aditya sudah cerita banyak."
"Aurel saja, Bu."
"Kalau begitu Aurel. Silakan ke ruang ganti. Dua teman Anda boleh duduk di sofa."
Eva dan Lira duduk. Eva sempat melirik Aurel sekali lagi dari kepala sampai kaki, seolah mencari tanda-tanda penculikan.
Gaun pertama tidak cocok. Terlalu mengembang. Aurel berputar di depan cermin dan kelihatan seperti kue tart yang berjalan.
"Tidak," kata Lira.
"Tidak," kata Eva.
"Saya juga tidak," kata sang desainer, lalu tertawa. "Bagus, kalian jujur. Yang kedua."
Gaun ketiga terlalu berkilau. Gaun keempat membuat bahunya terlihat seperti rak. Eva mulai menghitung berapa gaun lagi yang akan ia tonton sebelum perutnya minta makan siang, dan Lira diam-diam memotret tiap gaun dengan ponsel yang disembunyikan di balik bantal sofa.
"Hapus fotonya," kata Aurel dari balik tirai.
"Belum ada foto."
"Lira."
"Sudah dihapus. Tinggal tiga."
Gaun kelima lebih lurus, berpotongan sederhana, dengan lengan renda tipis yang jatuh sampai pergelangan. Ketika Aurel keluar dari ruang ganti, tidak ada yang bicara sampai lima detik.
"Wah," kata Eva akhirnya, pelan sekali. Untuk Eva, itu sama dengan berteriak.
Aurel menatap bayangannya. Perempuan di cermin itu terlihat seperti orang yang akan menikah sungguhan. Wajahnya, entah kenapa, tidak sinkron dengan gaunnya.
"Saya ambil pita dan jarum pengunci dulu," kata desainer. "Sepuluh menit."
Pintu ruang pas tertutup di belakang dua asisten.
Hening.
Eva menyipitkan mata. "Rel. Lo pucat."
"Gue nggak pucat."
"Lo pucat dan lo bohong. Dua-duanya kelihatan."
Aurel menarik napas. Ia turun dari podium kecil, mengangkat ujung gaun, lalu duduk di lantai beludru begitu saja di depan sofa. Bisikan Wilhelmina masih berputar sejak Minggu: soal rasa takut, dan seseorang yang harus diberi tahu sebelum hari resepsi.
"Kalian janji nggak menjerit."
"Janji," kata Lira.
"Eva."
"Janji. Mungkin."
"Gue nikah kontrak."
Tidak ada yang menjerit. Itu lebih menakutkan.
"Satu tahun. Lima miliar. Ibu Aditya pengin cucu, Aditya diancam kehilangan perusahaan, dan skandal gue dihapus sebagai bonus." Aurel bicara cepat, seperti orang yang takut berhenti di tengah jalan. "Ada empat aturan. Nomor satu: nggak boleh jatuh cinta. Orang tua gue nggak tahu. Mereka nyangka gue ketemu dia di acara amal dan nikah cepat karena, ya, kasmaran."
"Rel..."
"Dan tadi pagi Mama kirim foto gaun pengantinnya dulu, nanya apa gue mau pinjam buat resepsi. Gue nggak sanggup balas."
Eva membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.
"Lima miliar," katanya.
"Eva."
"Gue cuma mau memastikan angkanya."
"Itu yang lo tanya dari semua yang gue bilang?"
"Karena yang lain terlalu besar buat ditanyain!"
Lira beringsut dari sofa dan duduk di lantai di sisi Aurel, tanpa peduli rok plisirnya. Eva menyusul, dengan gerutu.
"Kenapa lo nggak bilang dari awal?" tanya Lira.
"Karena gue pikir itu cuma satu tahun. Gue pikir gue bisa kerjain sendiri."
"Dan sekarang?"
"Sekarang Mama terharu cuma karena Aditya manggil dia Tante. Papa ngajak Aditya main bulu tangkis seperti ngajak anak sendiri." Suara Aurel mengecil. "Satu tahun lagi, semua itu hilang. Mereka bakal kehilangan menantu. Dan gue nggak tahu bagaimana ngomongnya."
Hanya itu yang keluar. Bukan semua yang ia takutkan. Tapi Eva dan Lira mendengar bagian yang tersisa di antara kalimat-kalimat itu.
"Oke," kata Eva.
"Oke apa?"
"Oke, gue marah, tapi nanti. Sekarang kita pikirin dulu gaun lo." Eva menyeka sudut matanya dengan punggung tangan, cepat, seolah itu debu. "Dan kami tidak bilang siapa-siapa. Nggak ke akun gosip, nggak ke nyokap gue, nggak ke mimpi."
"Lira?"
"Gue nyimpen soal lo ngompol di kemah Pramuka sejak SD, dan nggak pernah bocor." Lira menepuk lutut Aurel. "Soal kontrak, jangan khawatir. Soal lo, gue khawatir."
"Kenapa soal gue?"
Lira memiringkan kepala.
"Lo nyebut namanya sebelas kali sejak kita masuk butik."
"Nggak."
"Aditya nggak suka bunga. Aditya bilang gaun nggak penting. Aditya takut petir..."
"Itu informasi yang relevan buat..."
"Buat apa, Rel?"
Aurel membuka mulut. Tidak ada kalimat yang cukup meyakinkan.
"Lo mulai suka dia," kata Lira.
"Nggak."
"Lo pakai kata nggak terlalu cepat."
"Gue cuma... terbiasa. Dia ada terus. Dia nahan diri terus. Itu aja."
"Itu aja," ulang Eva datar. "Ya sudah. Itu aja."
Pintu ruang pas berderit. Desainer masuk lagi dengan nampan jarum, dan semua orang bangkit dari lantai dengan kecepatan yang mencurigakan.
Desainer kembali, dan menyematkan jarum tanpa bertanya kenapa dua teman Aurel matanya sembap. Orang yang sudah dua puluh tahun menjahit gaun pengantin rupanya tahu kapan sebaiknya tidak bertanya.
"Pinggang dikecilkan dua sentimeter," katanya, dengan jarum di sudut bibir. "Dan renda ini dipertahankan. Calon suamimu akan suka."
Aurel hampir menjawab "dia bukan calon", lalu ingat bahwa bagi semua orang di ruangan ini, bahkan bagi ibunya sendiri, laki-laki itu memang suaminya.
"Dia nggak peduli gaun," kata Aurel.
"Semua laki-laki bilang begitu," kata sang desainer. "Sampai mereka melihatnya."
Lira terbatuk keras. Eva memandangi langit-langit.
---
Pukul tujuh malam, lampu ruang tengah penthouse hanya menyala sebagian. Aditya duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan, tapi layarnya sudah redup sendiri. Itu tanda ia sudah lama tidak mengetik.
"Kamu pulang," katanya.
"Pesan lo bilang kabari kalau pulang malam. Gue nggak kabari. Maaf."
"Tidak apa-apa. Mbak Sari membungkus makan malammu." Ia menutup laptop. "Bagaimana fitting-nya?"
"Gaunnya jadi."
"Bagus."
"Lo nggak tanya modelnya?"
"Kata Mama, laki-laki yang melihat gaun sebelum hari H akan bernasib buruk."
"Itu tahayul."
"Saya mantan atlet. Saya percaya tahayul. Saya tidak pernah mengganti kaus kaki sebelum final."
Aurel hampir tertawa. Lalu tawa itu surut, karena ada satu hal yang harus ia katakan sebelum lupa keberanian.
"Dit. Tadi gue cerita ke Eva dan Lira. Soal kontrak. Semuanya."
Aditya tidak langsung menjawab. Aurel menunggu ia berdiri, atau mengeraskan rahang, atau menyebut pasal. Ia tidak melakukan apa pun. Ia hanya menatap Aurel dengan alis sedikit terangkat.
"Mereka bisa dipercaya?"
"Bisa. Sangat."
"Kamu yakin?"
"Gue yakin."
"Kalau begitu, baik." Ia menunduk, mengambil gelas dari meja, lalu menaruhnya lagi tanpa minum. "Terima kasih sudah memberi tahu saya."
"Lo nggak marah?"
"Kamu butuh orang untuk bicara, dan itu bukan saya. Wajar." Bahunya naik, lalu turun. "Saya hanya ingin tahu siapa yang tahu. Oh, dan Senin ada rapat desain Resor Jogja jam sepuluh. Kamu ikut. Maya sudah kirim jadwalnya. Pakai blazer, bukan kaos."
"Gue nggak pernah pakai kaos ke kantor."
"Kemarin lusa."
"Itu kaus kerah."
Ponsel di tangannya bergetar. Nama di layar: Tante Wilhelmina.
Satu kata saja, tanpa salam.
Sudah?
Aurel menatap layar itu. Aditya menatap Aurel.
"Mama?" tanyanya.
"Iya."
"Bilang apa?"
"Cuma... nanya soal gaun."
Itu bohong. Aditya menatapnya sedetik lebih lama dari perlu, lalu mengangguk, mengambil laptopnya, dan pergi ke ruang kerja, meninggalkan Aurel sendirian dengan pertanyaan satu kata yang rupanya sudah menunggu seluruh hari.