Makan siang hari Minggu digelar di teras samping, di bawah kanopi putih yang sengaja dipasang pagi tadi.
Meja bundar. Tujuh hidangan. Bunga potong di tengah yang tingginya persis tidak menghalangi pandangan siapa pun, sehingga siapa pun bisa melihat siapa pun. Aurel menduga itu bukan kebetulan.
"Duduk di sebelah Tante," kata Wilhelmina.
Aurel duduk. Aditya mengambil kursi di seberang, wajahnya datar dan bahunya kaku. Ia terlihat seperti orang yang sedang menunggu hasil ujian.
Sabtu sore, sesudah ruang kerja itu, berlalu tanpa sepatah kata pun soal uang. Aditya hanya muncul di pintu kebun dan bertanya apakah Aurel mau ikut ke serambi. Aurel ikut, dan duduk bersila di kursi rotan sementara Aditya dan Pak Handoko memasang bidak catur.
"Skak mat," kata Pak Handoko, dua puluh menit kemudian.
Aditya menatap papan lama sekali. Bahunya turun sedikit.
"Satu lagi," katanya.
Hanya itu. Tapi Aurel belum pernah melihat laki-laki itu kalah lalu minta main lagi, dan kelihatan senang.
Sejak itu sikapnya lain. Ia menyapa pelayan dengan nama, dan tadi pagi, di dapur, ia membuat teh untuk ibunya sendiri tanpa disuruh.
Wilhelmina sepertinya juga menyadarinya. Sebab sejak tadi ia tidak berhenti memperhatikan putranya, dan caranya memperhatikan lain dari malam Jumat.
"Sekarang soal resepsi," kata Wilhelmina, membuka map kulit di sisi piringnya.
Aditya mengerang pelan. "Ma, masih tiga pekan."
"Tiga pekan itu cepat. Gaun saja butuh dua kali fitting."
"Gaun?"
"Aurel."
"Iya, Tante?"
"Desainernya sudah Tante pilih. Perempuan yang membuat gaun pernikahan Tante dulu, sekarang anaknya yang meneruskan. Hari Rabu fitting pertama. Kamu bisa ajak seseorang."
Aurel mengerjap.
"Boleh ajak teman, Tante?"
"Siapa saja yang kamu mau. Tante tidak ikut."
"Tante tidak ikut?"
"Tante terlalu cerewet. Gaunmu harus dipilih oleh orang-orang yang kamu percaya."
Ia mengatakannya dengan nada ringan, seperti membahas jenis kain. Tapi Aurel menangkap sesuatu di baliknya. Seolah Wilhelmina sengaja memberinya ruang untuk memilih orang yang ia percaya, dan mengamati siapa yang akan ia pilih.
"Saya mau ajak Eva dan Lira."
"Sahabatmu?"
"Iya, Tante. Dua-duanya."
"Bagus." Wilhelmina mencatat di map. "Tamu dua ratus lima puluh orang. Dari pihak Aditya, kolega, mitra, keluarga jauh. Dari pihak kamu, berapa?"
Aurel menelan ludah. "Mungkin tiga puluh, Tante."
"Tiga puluh? Tante usulkan lima puluh."
"Mama saya..."
"Orang tuamu akan tersinggung kalau kamu tidak mengundang separuh kampung."
"Mereka bukan dari kampung, Tante."
"Hanya perumpamaan."
Aditya menahan senyum di balik gelas.
"Lalu first dance."
Senyum itu hilang.
"Ma. Tidak."
"Ya."
"Saya tidak bisa menari."
"Kamu bisa belajar. Kamu mantan atlet, koordinasi tubuhmu bagus."
"Atlet bulu tangkis bukan penari."
"Tidak ada bedanya selain musiknya."
Aurel menutup mulut dengan punggung tangan. Tapi bahunya sudah bergetar.
"Kamu tertawa, Aurel."
"Tidak, Tante. Saya batuk."
"Kamu akan mengajarinya."
"Saya?"
"Kamu model. Kamu tahu cara membawa badan."
"Saya tahu cara berjalan di panggung, Tante. Menari lain."
"Maka kalian akan belajar bersama."
Aditya menatap Aurel. Aurel menatap Aditya. Ada kesepakatan diam-diam yang lahir di antara mereka: sama-sama celaka.
---
Pukul tiga sore, koper sudah di bagasi, dan Pak Budi sudah memanaskan mobil. Para pelayan berbaris lagi di anak tangga, kali ini lebih santai.
Wilhelmina mengantar sampai depan pintu.
"Aditya."
"Ma."
Wilhelmina memeluknya. Pelukan singkat, tapi kuat, dengan tepukan di punggung yang hanya dilakukan ibu pada anak laki-laki yang masih ia lihat berumur sembilan tahun.
"Mama bangga."
"Saya belum melakukan apa-apa."
"Itu yang membuat Mama bangga."
Aditya tidak menjawab. Hanya mengangguk, lalu masuk ke mobil lebih dulu untuk memberi mereka ruang.
Wilhelmina menoleh pada Aurel.
"Kemarilah."
Aurel mendekat. Wilhelmina memeluknya, tidak sekencang pada putranya, tapi lebih lama. Parfumnya wangi bunga melati. Dan di dekat telinga Aurel, begitu pelan sampai nyaris tidak terdengar, ia berbisik.
"Tante tahu kamu belum cerita semuanya."
Aurel kaku.
"Sebelum resepsi, ceritakan pada seseorang apa yang paling kamu takutkan."
Pelukan itu terlepas. Wilhelmina tersenyum seperti ibu mertua mana pun, melambai, lalu berbalik masuk bersama Pak Handoko.
Aurel berdiri sendirian di anak tangga, memegang bungkusan anggrek.
---
Mobil melaju pelan keluar gerbang. Pohon palem berlalu satu per satu di jendela.
Aditya memandang lurus ke depan. Aurel memandang ke samping. Selama sepuluh menit pertama, hanya suara mesin dan hembusan AC.
"Rel."
"Hm."
"Terima kasih."
Aurel menoleh. Aditya masih tidak menatapnya.
"Untuk apa?"
"Untuk tidak mengejek kamar saya."
"Kamar lo bagus kok."
"Ada foto saya umur lima tahun memakai kostum dinosaurus."
"Itu justru highlight-nya."
"Saya tahu kamu akan bilang begitu. Tapi kamu tidak bilang. Dua malam."
"Gue simpan buat nanti."
Sudut bibir Aditya naik sedikit. Lalu ia menarik sesuatu dari sisi kursinya: jaket hitam tipis, jaket yang dipakainya Jumat sore. Tanpa berkata apa-apa, ia meletakkannya di pangkuan Aurel.
"AC-nya dingin," katanya, padahal Aurel tidak berkata apa-apa tentang dingin.
Aurel menatap jaket itu. Lalu menatap tangan Aditya yang sudah kembali memegang lutut sendiri. Lalu menatap ke luar jendela supaya ia tidak perlu memperlihatkan wajahnya.
Jaket itu wangi sabun dan sedikit kayu. Ia memakainya, pelan-pelan, lengan yang kepanjangan menutupi separuh jarinya.
Dari sudut mata, Aditya melihatnya. Hanya sedetik. Lalu ia kembali menatap jalan dengan telinga yang tiba-tiba terasa panas.
"Dit," kata Aurel, setelah dua kilometer.
"Hm."
"Karina itu."
Aditya tidak langsung menjawab.
"Rin."
"Iya. Rin. Yang disebut ibu lo malam Jumat."
"Teman kecil."
"Dan pasangan ganda lo."
"Dulu."
"Dan yang dulu dijodoh-jodohin."
"Itu candaan orang tua kami."
"Candaan Tante nggak kedengaran kayak candaan."
"Rin menganggap saya kakak. Saya menganggapnya adik yang kalau kalah main selalu menyalahkan raket."
"Lo kangen?"
Aditya menimbang pertanyaan itu terlalu lama untuk jawaban yang dianggap sederhana.
"Saya belum bertemu dia empat tahun."
"Oke."
"Kenapa tanya?"
"Nggak ada. Gue cuma pengin tahu nama-nama yang bakal muncul di resepsi."
Itu bohong yang rapi. Tapi Aurel sendiri tidak yakin kenapa ia merasa perlu bohong.
Ia menyandarkan kepala ke jendela, memeluk jaket yang bukan miliknya, dan membiarkan bisikan Wilhelmina berputar pelan di kepalanya.
Tante tahu kamu belum cerita semuanya.
Ceritakan pada seseorang apa yang paling kamu takutkan.
Aurel memejamkan mata. Di pangkuannya, bungkusan anggrek bergoyang mengikuti jalan.
Dua nama langsung muncul di benaknya: Eva dan Lira.
Ia membuka ponsel dan mengetik di grup bertiga dengan jari yang tidak sepenuhnya stabil: Rabu. Fitting gaun. Kalian ikut. Jangan tanya dulu.
Balasan Eva masuk sebelum ia sempat meletakkan ponsel.
GAUN APA REL???