Rumah kaca itu berdiri di ujung kebun belakang, di balik rumpun bambu. Dindingnya berembun. Udara pagi masih dingin.
Aurel masuk dengan sweter tipis dan rambut diikat seadanya. Udara di dalam lembap dan wangi tanah. Anggrek berderet di rak-rak panjang, ungu, putih, kuning pucat. Di tengah, di antara selang air dan gunting stek, berdiri Wilhelmina dengan celemek kebun dan sarung tangan.
Sulit mengenalinya tanpa sanggul kaku dan blus krem. Rambutnya hanya dijepit asal. Wajahnya lebih tua, lebih letih, dan jauh lebih manusiawi.
"Pagi, Tante."
"Kamu bangun pagi."
"Biasanya lebih pagi, Tante. Tadi saya kesiangan."
"Karena hujan semalam?"
"Mungkin."
Wilhelmina menyodorkan gunting stek.
"Pegang. Potong dua ruas di bawah bunga yang layu itu."
Aurel mengambilnya. Ia menatap tangkai anggrek, menghitung dua ruas dengan jari, lalu memotong dengan hati-hati.
"Bagus. Kamu tidak ragu."
"Saya takut, Tante. Cuma takutnya saya sembunyikan."
Wilhelmina tertawa kecil. Pendek, dan tanpa nada menguji.
"Kamu mengingatkan Tante pada diri sendiri, waktu muda."
"Waktu muda Tante pasti galak."
"Lebih galak dari sekarang."
Ia melepas sarung tangan dan berjalan ke ujung rumah kaca. Di sana, di antara dua rak anggrek putih, ada meja kecil dengan satu foto berbingkai kayu.
Seorang pria dengan jas, tersenyum miring.
Aurel mengenalinya. Foto yang sama seperti di lemari kaca kamar Aditya, tapi pria itu lebih muda dan sedang tertawa lepas.
"Ini suami Tante," kata Wilhelmina. "Ayah Aditya."
"Saya sudah lihat fotonya, Tante. Semalam."
"Aditya yang menunjukkan?"
"Saya yang menemukan. Tapi dia yang bercerita."
Wilhelmina menoleh tajam.
"Aditya bercerita?"
"Sedikit."
Hening. Anggrek di rak bergoyang oleh kipas kecil di langit-langit.
"Selama enam tahun," kata Wilhelmina pelan, "anak itu tidak bercerita apa-apa pada siapa pun. Tidak pada Tante. Tidak pada pacar-pacarnya yang dulu. Tidak pada sahabat-sahabatnya."
"Mungkin karena belum ada yang bertanya dengan benar."
"Dan kamu bertanya dengan benar?"
"Saya tidak bertanya, Tante. Saya cuma mengambil fotonya."
Wilhelmina tersenyum. Matanya basah, tapi tidak jatuh.
"Dia selalu sendirian setelah kejadian itu. Bukan karena tidak punya teman. Teman banyak. Tapi sendirian di tempat yang paling berat."
"Saya paham."
"Belum," kata Wilhelmina lembut. "Tapi kamu akan."
Ia menyentuh bingkai foto itu dengan ujung jari.
"Aurel."
"Iya, Tante."
"Jangan biarkan Aditya merasa sendirian lagi."
Aurel membuka mulut untuk menjawab sesuatu yang aman, sesuatu yang cocok untuk menantu kontrak. Tapi yang keluar justru kalimat lain.
"Saya janji, Tante."
Ia tidak tahu seberapa berat janji yang baru ia ucapkan.
Wilhelmina memotong satu stek anggrek putih, membungkusnya dengan lumut basah dan kantong plastik, lalu menyerahkannya.
"Bawa pulang."
"Saya, Tante? Saya biasanya bunuh tanaman."
"Siram seminggu sekali. Jangan terlalu sayang, nanti membusuk."
"Kalau mati?"
"Berarti itu bukan salah anggreknya."
Aurel menerima bungkusan itu dengan dua tangan, seperti membawa sesuatu yang bisa pecah.
---
Siang hari, ponsel Aurel bergetar di tengah acara menyiram kebun. Ia hampir menjatuhkan selang.
Mamanya.
Aurel menyingkir ke bawah pohon mangga, menjauh dari pelayan dan dari Pak Budi yang sedang mengelap mobil.
"Ma?"
"Aurel."
Suaranya tertahan. Seperti orang yang bicara sambil menutup mulut dengan tangan.
"Ada apa, Ma?"
"Maaf. Mama tidak mau mengganggu. Tapi tadi pagi bank menelepon. Mereka bilang tenggatnya dimajukan."
"Dimajukan? Kamis malam Mama bilang sepuluh hari."
"Sekarang mereka bilang hari Senin. Kalau tunggakan bulan ini tidak masuk, Papa akan..."
"Mama."
"Mama tidak mau Papa tahu Mama menelepon. Dia sedang di bengkel. Dia pikir semua baik-baik saja."
"Berapa, Ma?"
Mamanya menyebut angka. Empat puluh enam juta rupiah.
Angka itu kecil di layar rekening Aurel. Tapi di suara ibunya, angka itu terdengar sebesar rumah.
"Aku transfer sekarang."
"Rel, Mama tidak..."
"Tolong kirimkan nomor rekeningnya, Ma."
"Dari mana kamu punya uang?"
Aurel menatap pohon mangga di depannya. Lalu mendengar dirinya sendiri berbohong pada ibunya, dan suaranya terdengar jauh lebih lancar dari yang ia kira.
"Bonus iklan, Ma. Yang besar. Baru cair kemarin."
Hening.
"Kamu tidak berbohong, kan, Nak?"
"Tidak, Ma."
---
Ruang kerja lama Aditya terletak di lantai satu, di ujung koridor yang jarang dilewati. Aurel menemukannya terbuka dan kosong. Meja jati besar, rak buku, komputer tua. Di meja ada kursi kulit yang sudah retak di sandarannya.
Ia membuka ponsel dan masuk ke aplikasi bank.
Dua kali ia menekan jumlah. Dua kali ia hapus. Tangannya dingin.
Ini bukan hadiah dari Aditya. Ini uang kontrak yang menjadi haknya. Tapi tetap saja, ia merasa seperti menggadaikan sesuatu yang belum ia pahami harganya.
Ia menekan kirim.
Layar menampilkan: BERHASIL.
Hanya itu. Satu kata, dan empat puluh enam juta rupiah terbang dari rekeningnya ke rekening ibunya, menyisakan lima miliar kurang empat puluh enam juta.
Ia mengirim bukti transfer ke mamanya dengan satu emoji hati. Lalu duduk di kursi kulit retak itu dan menutup mata.
Langkah kaki terdengar di ambang pintu.
Aditya berdiri di sana dengan kaus putih dan celana olahraga, habis berolahraga di halaman belakang, rambutnya masih basah. Ia melihat wajah Aurel, melihat ponsel di tangannya, melihat bahunya yang kaku.
Ia tidak bertanya.
Hanya diam. Matanya turun ke tangan Aurel, lalu naik lagi ke wajahnya. Rahangnya bergerak sekali, seperti orang yang menelan sesuatu yang ingin keluar.
Lalu ia masuk, mengambil cangkir dari meja, mengisinya dengan air dari dispenser di sudut, dan meletakkannya di dekat siku Aurel.
"Minum," katanya.
"Dit..."
"Saya tidak bertanya."
"Gue tahu."
"Kalau kamu butuh bicara, ruang kerja ini tidak pernah punya pendengar selain saya."
Aurel menunduk. Air di cangkir itu bergetar halus karena tangannya.
Baru kali ini Aditya menunggu tanpa memutuskan apa pun.
Ia berdiri di sana, tangan terkepal di saku celana, dan menghitung dalam hati sampai seratus. Karena kalau ia berhenti menghitung, ia akan membuka mulut dan menawarkan lagi. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri sejak di mobil malam Kamis bahwa ia tidak akan menawarkan.
Aurel mengangkat cangkir itu dengan dua tangan.
"Jangan cerita ke siapa-siapa," katanya. "Terutama ibu lo."
"Cerita apa?" kata Aditya. "Saya tidak melihat apa-apa."
Itu kebohongan paling kikuk yang pernah Aurel dengar dari mulutnya, dan entah kenapa matanya langsung panas.