Aditya menggelar selimut di lantai kayu sebelum Aurel selesai mencuci muka.
Ketika ia keluar dari kamar mandi dengan piyama bermotif kelinci dan rambut yang dicepol asal, ia menemukan laki-laki berumur dua puluh delapan tahun itu duduk bersila di atas tumpukan selimut tebal, dengan satu bantal dan ekspresi orang yang sudah memutuskan.
"Lo ngapain?"
"Tidur."
"Di lantai?"
"Ya."
"Lantainya dingin."
"Saya pernah tidur di lantai gudang proyek di Surabaya."
"Itu gudang. Ini kamar masa kecil lo."
"Sama saja."
"Dit." Aurel berkacak pinggang. "Kasurnya segede lapangan badminton."
"Itu tidak relevan."
"Relevan banget."
"Aturan kedua. Kamar terpisah. Ini darurat. Saya mengambil jalan yang tidak melanggar apa pun."
"Dan besok pagi punggung lo bunyi dan lo jadi nyebelin ke semua orang."
"Saya tidak nyebelin."
"Hm."
"Itu kata saya."
"Sekarang kata gue."
Aditya menghela napas. Aurel mengambil dua bantal dari tempat tidur, lalu dua lagi, lalu satu guling. Ia menyusunnya satu per satu di tengah kasur, memanjang dari kepala sampai kaki, hingga membentuk dinding tebal yang bahkan tidak bisa dilompati kucing.
"Nih."
"Apa?"
"Tembok bantal. Sisi kanan punya lo. Sisi kiri punya gue. Yang melewati garis harus bayar denda."
"Denda apa?"
"Es krim cokelat."
Aditya menatapnya.
"Itu utang kamu."
"Utang gue bisa dicicil."
Ia hampir tersenyum. Aurel melihatnya, dan itu cukup untuk membuat ia menepuk kasur dengan puas.
"Naik. Gue nggak mau jadi alasan lo cedera tulang belakang."
Aditya berdiri, pelan-pelan, seperti orang yang masih ragu. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur kecil di meja, lalu naik ke sisi kanan tembok bantal dengan jarak yang jelas terukur.
"Kalau ada yang tidak nyaman, bilang."
"Lo juga."
"Saya tidak akan menyentuh bantal."
"Percaya."
Aurel menarik selimut sampai dagu. Matanya jatuh pada rak buku di dinding seberang, dan satu buku tipis bersampul hitam yang terselip di antara buku-buku tebal.
"Itu buku apa?"
"Yang mana?"
"Yang hitam. Yang kelihatan sering dibuka."
Aditya menoleh sedikit. Dalam gelap, wajahnya hanya siluet.
"Buku skor."
"Skor apa?"
"Setiap pertandingan. Menang, kalah, lawan siapa, kesalahan saya apa."
"Lo nulis kesalahan?"
"Di halaman kanan. Halaman kiri untuk yang saya pelajari."
Aurel tersenyum di balik selimut.
"Gue juga nulis."
"Saya tahu. Buku biru."
"Lo tahu isinya?"
"Tidak. Hanya warnanya."
"Bagus."
Mereka sama-sama diam sebentar.
Lampu mati. Hening.
Hujan mulai turun dengan suara halus di jendela. Tidak lama kemudian, terdengar petir jauh di ujung langit.
Tidak ada gerakan di sisi kanan tembok bantal.
Napasnya pun tak berubah.
Tapi Aurel, yang masih terjaga, sadar bahwa tidak ada satu pun bunyi di sebelahnya sejak petir itu datang. Bukan tidur. Orang tidur bernapas.
"Dit."
"Hm."
"Lo takut petir."
"Saya tidak takut petir."
"Terus kenapa lo nahan napas?"
Hening.
"Saya sudah tidak takut," kata Aditya akhirnya. "Hanya ingat."
"Ingat apa?"
"Waktu itu."
Petir kedua. Lebih dekat. Jendela bergetar sedikit.
Aurel memiringkan badan ke arah tembok bantal.
"Gue boleh lihat sesuatu?"
"Apa?"
"Piala di lemari itu. Yang paling besar di tengah."
"Piala apa yang kamu maksud?"
"Yang ada fotonya laki-laki setengah baya di sebelahnya."
Lama sekali tak ada jawaban.
"Itu Papa," kata Aditya.
---
Lampu tidur kecil menyala redup ketika Aurel akhirnya bangkit, membuka lemari kaca, dan mengambil bingkai itu. Seorang pria dengan jas, rambut disisir ke belakang, tersenyum miring. Di sampingnya, remaja berseragam olahraga memegang piala yang hampir sebesar badannya.
"Mirip lo," kata Aurel.
"Banyak yang bilang begitu."
"Senyumnya yang beda. Lo nggak punya senyum miring."
"Saya tidak punya senyum apa pun."
"Itu sombong dan lo tahu itu."
Aditya mendengus pelan. Itu hampir tawa.
Aurel kembali ke sisinya dari tembok bantal, membawa bingkai itu, dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
"Beliau sudah nggak ada, ya?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Dari rumah ini. Fotonya di mana-mana, tapi nggak ada yang nyebut beliau sekali pun. Termasuk ibu lo, tadi di meja makan."
Hening lagi. Kali ini lebih lama. Aurel menyesal sempat membuka mulut.
"Maaf, gue nggak..."
"Tidak apa-apa."
Suara Aditya rendah, hampir tidak terdengar di atas hujan.
"Saya berhenti jadi atlet di semester enam. Kejuaraan terakhir saya, Papa tidak datang."
"Kenapa?"
"Dia sudah tidak ada."
Aurel diam.
"Saya tidak ada di rumah ketika itu," lanjut Aditya. "Saya sedang bertanding. Pulang dengan medali perak, dan rumah sudah penuh orang berbaju hitam."
"Dit..."
"Seminggu kemudian saya sudah duduk di ruang rapat. Perusahaan butuh pemimpin. Mama tidak sanggup, dan saya anak satu-satunya."
"Lo baru dua puluh berapa?"
"Dua puluh dua."
"Ya Tuhan."
"Saya tidak minta dikasihani."
"Gue nggak kasihan." Aurel meletakkan bingkai itu di pangkuannya. "Gue kagum. Itu beda."
Aditya tidak menjawab. Napasnya, akhirnya, terdengar. Pelan, panjang, seperti orang yang baru saja melepas sesuatu yang ia tahan bertahun-tahun.
"Boleh saya minta sesuatu?" katanya tiba-tiba.
"Apa?"
"Tangan saya di atas bantal itu. Hanya di atas bantal. Tidak lebih."
Aurel memandang tembok bantal yang tadi ia bangun, sekarang terasa jauh lebih rapuh dari yang dibayangkan.
"Boleh."
Ada gerakan pelan di sisi seberang. Telapak tangan besar terletak di atas puncak bantal terakhir, telentang, terbuka. Tidak mencari apa pun.
Aurel menaruh tangannya sendiri di sebelah tangan itu. Berjarak dua jari. Tidak menyentuh.
Petir ketiga datang, dan tidak seorang pun dari mereka bergerak.
---
Pagi tiba dengan suara ketukan pelan di pintu.
Aurel membuka mata. Tembok bantal masih berdiri, tapi kepala Aditya sudah tidak ada di baliknya. Ia melihat selimut rapi di kursi dan sepasang sepatu olahraga di dekat pintu. Ia sendiri tertidur dengan bingkai foto masih di dadanya.
Di puncak bantal terakhir, tepat di tempat tangan itu semalam, terlipat secarik kertas dari buku catatan hitam. Tulisannya tegak dan kaku, huruf demi huruf seperti laporan keuangan.
Saya tidak melewati garis. Dendanya batal. Utang es krim tetap berlaku. Terima kasih sudah tidak bertanya lebih jauh.
Aurel membacanya dua kali. Lalu ia teringat tatapan Wilhelmina dan Pak Handoko di sela pintu semalam, dua orang yang berhenti bicara tepat saat ia lewat, dan ia melipat kertas itu kecil-kecil, menyelipkannya di halaman bukunya sendiri.
Ia belum tahu apakah ia akan menceritakan pada Aditya apa yang ia lihat semalam.
Yang ia tahu, laki-laki yang menulis catatan sekaku ini baru saja menunjukkan padanya satu-satunya hal yang tidak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
Pintu terbuka sedikit. Seorang pelayan berdiri dengan baki.
"Maaf, Nona. Nyonya Wilhelmina meminta Nona ke rumah kaca sebelum sarapan."
"Sendirian?"
"Sendirian, Nona. Beliau yang menekankan."