Mereka tidak sempat membahas kamar itu. Pelayan sudah mengetuk untuk mengantar mereka ke ruang makan, jadi Aurel hanya sempat berbisik di lorong.
"Kita pura-pura percaya?"
"Pura-pura percaya," bisik Aditya. "Sampai kita tahu untuk apa."
"Dan kalau Tante mau lihat kita kikuk?"
"Kita kikuk dengan rapi."
Aurel mengangguk. Itu rencana paling buruk yang pernah ia setujui, dan ia menyetujuinya tanpa berpikir.
Meja makan keluarga Mahendra panjangnya cukup untuk dua puluh orang. Malam itu hanya empat kursi yang terisi, dan jaraknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada yang bisa menyembunyikan wajah.
Wilhelmina di ujung. Pak Handoko di sisi kiri. Aurel dan Aditya berhadapan dengannya di sisi kanan, bahu mereka nyaris bersentuhan.
Lampu gantung kristal menyalakan sup krim jagung dengan cahaya hangat. Pelayan menuang air. Piring-piring porselen menunggu seperti saksi.
"Silakan," kata Wilhelmina.
Mereka makan. Beberapa menit pertama hanya ada bunyi sendok dan garpu, dan Aurel menghitung dalam hati berapa detik lagi sampai pertanyaan itu datang.
Empat belas detik.
"Jadi," kata Wilhelmina, mengusap bibir dengan serbet, "ceritakan pada Tante. Dari awal."
Aurel menaruh sendoknya. Di bawah meja, kaki Aditya menyentuh kakinya sekilas. Isyarat: giliran kamu.
"Di acara lelang amal, Tante."
"Lelang apa?"
"Lukisan."
"Lukisan siapa?"
"Pemandangan sawah, Tante. Pelukisnya orang Magelang, saya lupa namanya."
"Aditya membeli?"
"Dia membeli, Tante. Tapi saya baru tahu dia pembelinya waktu palunya sudah diketuk. Dari tadi saya kira dia petugas lelang, soalnya jasnya paling rapi dan mukanya paling serius."
Pak Handoko tiba-tiba sibuk dengan serbetnya. Bahunya bergetar.
"Saya memang tidak banyak bicara," kata Aditya tanpa menoleh dari piringnya.
Wilhelmina memandang putranya lama sekali.
"Dan kalimat pertamamu pada perempuan ini?"
"Soal lukisannya, Ma."
"Ia tidak tersinggung?"
"Saya tersinggung banget, Tante," kata Aurel riang. "Tapi saya penasaran sama orang yang seyakin itu."
"Lalu?"
"Lalu kami ngobrol sampai acaranya bubar. Sampai penjaganya mematikan lampu."
"Dan Aditya bilang suka?"
"Ma," kata Aditya.
"Tante bertanya pada Aurel."
Aurel mengangkat bahu, memasang senyum yang paling tulus dari kumpulan senyumnya.
"Dia nggak bilang, Tante. Dia cuma bawain tas saya sampai mobil, terus lupa melepas pegangannya."
Hening sebentar.
Wilhelmina meletakkan garpunya.
Mata Pak Handoko menyusul mata Wilhelmina. Mereka bertukar pandang. Hanya sekilas, tanpa kata. Seperti dua orang yang baru saja memeriksa jawaban dan menemukan sesuatu yang cocok dan sesuatu yang tidak.
Aurel melihatnya. Ia tidak tahu apa artinya.
"Menarik," kata Wilhelmina.
---
Hidangan utama datang: ayam panggang dengan saus lemon dan kentang tumbuk. Wilhelmina membiarkan beberapa suap lewat dalam kedamaian palsu.
Lalu ia berkata, seringan membicarakan cuaca.
"Kalian sudah merencanakan anak?"
Sendok Aurel berhenti di tengah jalan.
"Ma," kata Aditya.
"Pertanyaan biasa."
"Belum waktunya."
"Kapan waktunya?"
"Saya akan bilang kalau waktunya."
"Aditya, umur Mama..."
"Mama baik-baik saja. Dokter bilang begitu."
"Mama tidak bicara soal dokter."
"Aditya tidak mau dipaksa, Tante," sela Aurel, lembut, sebelum ketegangan memuncak. "Kami berdua sedang belajar. Saya masih belajar jadi istri yang bisa diandalkan. Dia masih belajar mengucapkan satu kalimat panjang tanpa 'Hm.'"
Pak Handoko terbatuk.
"Kalimat panjangnya sudah ada kemajuan, Tante. Kemarin dia bilang 'ya, setuju, silakan' dalam satu napas."
"Itu tiga kata," kata Wilhelmina.
"Tapi tiga kata yang berurutan, Tante."
Sudut bibir Wilhelmina melengkung, dan itu bukan senyum yang bisa dipalsukan. Aditya, yang melihatnya lebih dulu, ikut terdiam.
"Kalian cocok," kata Wilhelmina.
Itu hampir terdengar seperti pengakuan.
"Dulu waktu kecil," lanjutnya, memotong sepotong ayam, "Aditya takut petir."
"Ma."
"Setiap malam hujan, ia masuk ke lemari bajunya dan menutup pintu dari dalam. Bibi mencari-cari di seluruh rumah."
"Ma, tolong."
"Umurnya sembilan tahun. Dia bilang lemari itu tempat petir tidak bisa masuk."
Aurel menunduk. Bahunya sudah bergetar.
"Dan di umur tujuh belas, ia mengira kalau ia memenangkan Piala Pelajar, ia tidak lagi takut apa pun."
"Kamu menang?" bisik Aurel.
"Saya menang," bisik Aditya, mukanya terbakar. "Tapi petirnya tetap ada."
Aurel tertawa. Bukan tawa yang tertahan, tapi tawa yang keluar begitu saja, sampai matanya basah dan ia harus menutup mulut dengan serbet. Pak Handoko ikut tertawa tanpa suara. Wilhelmina, di ujung meja, menyaksikan semuanya seperti orang yang menunggu sesuatu selama bertahun-tahun.
Aditya mengusap wajahnya dengan dua tangan.
"Ini pembunuhan karakter."
"Ini sejarah keluarga," kata Wilhelmina tenang.
---
Menjelang penutup, pelayan membawa puding vanila dengan saus karamel. Wilhelmina tidak menyentuh pudingnya. Ia justru menatap piring kosong di depannya sambil menyebut satu nama.
"Karina akan hadir di resepsi."
Aditya mengangkat kepala.
"Karina?"
"Karina Wulandari. Anak sahabat Mama. Kamu ingat?"
"Rin?" Nada Aditya berubah, hangat dan sedikit terkejut. "Dia di Surabaya terakhir kali."
"Ia sekarang arsitek untuk resor Jogja kalian. Mama bertemu ibunya minggu lalu."
"Rin yang itu."
"Rin yang itu. Pasanganmu di turnamen ganda, dulu."
"Saya tidak tahu dia ikut proyek."
"Sekarang kamu tahu."
Aurel mengambil sendok pudingnya sangat perlahan.
"Teman lama Aditya?" tanyanya ringan.
"Sahabat kecil," jawab Wilhelmina. "Rumah mereka dulu berhadapan. Mereka tumbuh bersama. Ibunya dan Tante dulu sering bercanda."
"Bercanda apa, Tante?"
"Bahwa suatu hari anak-anak mereka akan..."
Ia berhenti. Seolah baru sadar ada orang lain di meja itu.
"Sudah. Itu masa lalu. Kamu sedang mencicip pudingnya, Aurel."
"Iya, Tante."
Pudingnya manis. Tapi Aurel merasakan sesuatu yang sedikit pahit di balik karamel itu, dan ia tidak tahu dari mana asalnya.
Di bawah meja, kaki Aditya menyentuh kakinya lagi. Kali ini bukan isyarat. Hanya sentuhan, dan ia membiarkannya.
---
Setelah makan malam, Aurel pamit ke kamar kecil. Lorong menuju ke sana melewati ruang kerja Wilhelmina, dan pintunya terbuka sejengkal.
Ia tidak berniat mengintip. Tapi di sela pintu itu ia melihat Wilhelmina berdiri di dekat jendela bersama Pak Handoko. Keduanya diam, dan keduanya menoleh bersamaan begitu bayangan Aurel jatuh di lantai.
Tidak ada yang bicara. Wilhelmina hanya mengangguk kecil, ramah, seperti mengantar tamu lewat. Pak Handoko membetulkan letak kacamatanya dan kembali menatap taman gelap di luar.
"Kamar kecil di sebelah kiri, Aurel," kata Wilhelmina akhirnya.
"Terima kasih, Tante."
Aurel melangkah lagi. Selangkah. Dua langkah. Telapak tangannya dingin, entah kenapa.
Ia masuk ke kamar kecil dan menutup pintu. Dari balik daun pintu itu, ia mendengar pintu ruang kerja akhirnya ditutup juga. Pelan sekali, seperti orang yang tidak ingin terdengar.