Aurel menyodorkan ponselnya tanpa berkata apa-apa.
Aditya membaca pesan itu dua kali, lalu mengembalikan ponselnya.
"Satu saja," ulangnya.
"Satu apa?"
"Kamar."
"Hah?"
"Mama saya tidak pernah menulis kata tanpa alasan. 'Kamar sudah Tante siapkan. Satu saja.' Artinya satu kamar. Untuk kita berdua."
Aurel menatap layar ponselnya yang sudah gelap.
"Tapi ada kamar tamu, kan? Rumah lo segede itu."
"Ada tiga belas."
"Tiga belas!"
"Tapi Mama bilang satu."
"Terus gimana?"
"Besok kita lihat."
"Lo kok tenang banget?"
"Saya tidak tenang. Saya sedang menyusun daftar kemungkinan."
Aurel menutup wajah dengan ponselnya.
"Daftar kemungkinan terburuk gue: bantal pembatas."
"Daftar saya: sofa."
"Sofa lo yang tidur."
"Setuju."
Ia baru menyadari bahwa kata setuju itu terlalu cepat, dan Aditya menyadarinya juga, karena ia berdeham lalu pamit ke ruang kerja.
---
Jumat sore, Pak Budi menjemput mereka tepat pukul empat.
Mobil keluarga Mahendra yang hitam panjang itu melaju pelan melewati jalan kompleks yang rindang. Aurel duduk di kursi belakang dengan tas kecil di pangkuan dan dua koper besar di bagasi. Dua koper, untuk dua malam. Ia tidak mau ditanya kenapa.
Di sampingnya, Aditya mengenakan kemeja putih lengan digulung dan wajah yang jarang ia pakai: wajah anak laki-laki yang pulang ke rumah ibunya.
"Pak Budi," kata Aurel, "rumahnya masih jauh?"
"Tinggal lima menit, Nona."
"Dit biasanya diam begini kalau mau ke sana?"
"Bukan biasanya, Nona. Selalu."
"Pak," tegur Aditya tanpa menoleh.
"Siap, Bos."
Aurel menahan senyum. Tangannya merambat ke tas dan menarik keluar buku catatan biru. Ia menulis cepat, hampir tanpa suara: Jumat. Rumah Mahendra. Tersenyum. Jangan salah panggil. Tante.
"Kamu menulis apa?" tanya Aditya.
"Catatan buat selamat."
"Selamat dari apa?"
"Dari lo."
"Dari saya?"
"Dari tatapan lo ke gue kalau gue salah nyebut sesuatu."
Aditya mengalihkan wajah ke jendela. Sudut bibirnya bergerak.
Gerbang hitam terbuka otomatis. Mobil melaju di jalan berbatu putih yang diapit pohon palem, melewati kolam pantul, taman tertata, patung batu, dan akhirnya berhenti di depan rumah yang membuat Aurel berhenti bernapas.
Rumah itu tidak berlebihan. Hanya terlalu besar untuk dikatakan rumah. Dinding putih, tiang tinggi, jendela lebar dengan tirai krem, tangga marmer di muka pintu utama. Dua belas orang berseragam berbaris menyambut.
"Mewah bak istana," bisik Aurel.
"Mama membenci kata itu."
"Tapi akurat."
"Saya tahu."
---
Mereka disambut berurutan, seperti tamu negara.
Kepala rumah tangga, seorang pria tua yang membungkuk sedikit. Dua juru masak. Tukang kebun. Tiga pelayan yang tersenyum tanpa mengeluarkan suara. Aurel menyalami semuanya, bahkan yang hanya mengulurkan tangan setengah jalan karena takut.
"Nyonya menunggu di ruang tamu, Tuan," kata kepala rumah tangga.
"Terima kasih, Pak."
Wilhelmina duduk di kursi berlengan, sinar sore membingkai sanggulnya. Di sebelahnya, seorang pria enam puluhan dengan rambut perak dan jas abu-abu berdiri sopan begitu melihat mereka masuk.
"Aditya."
"Ma."
"Aurel."
"Selamat sore, Tante."
"Kamu datang tepat waktu. Itu bagus."
"Pak Budi yang tepat waktu, Tante. Saya cuma ikut."
Pria berambut perak itu tersenyum, tipis, tenang.
"Perkenalkan," kata Wilhelmina. "Pak Handoko. Pengacara keluarga kami, dan sahabat lama Tante sejak sebelum Aditya lahir."
"Senang bertemu, Nyonya Aurel."
"Aurel saja, Pak."
"Kalau begitu Aurel." Pak Handoko menjabat tangannya dengan kedua tangan. Jabatannya hangat. "Saya sudah lama ingin bertemu perempuan yang berhasil membuat Aditya menunda rapat."
Aditya menatap lantai. Aurel menoleh.
"Menunda rapat?"
"Rabu kemarin. Anda yang membuat ia terlambat membalas pesan Nyonya."
"Pak Handoko," kata Wilhelmina datar.
"Maaf, Nyonya."
Aurel mencatat dalam hati: orang ini tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan.
Pak Handoko mengangguk sopan, lalu mundur ke jendela. Ia tidak ikut duduk. Seolah tugasnya hanya hadir dan melihat.
"Duduklah," kata Wilhelmina. "Teh dulu. Kamar sudah siap."
Mereka duduk. Teh melati dituang dari poci perak oleh pelayan yang tangannya tidak bergetar sedikit pun. Aurel menyesapnya dan nyaris tersedak karena rasanya persis seperti teh yang selalu diminum Aditya di penthouse.
"Sudah dirapikan ceritanya?" tanya Wilhelmina sambil menyodorkan gula.
"Sudah, Tante."
"Nanti malam saja, di meja makan. Tante ingin mendengarnya dengan perut kenyang."
"Baik, Tante."
"Dan Aditya, jangan menjawab 'Hm' ketika ditanya. Mama tahu itu bukan kata."
"Itu kata, Ma."
"Itu bunyi."
Pak Handoko mendadak batuk kecil di dekat jendela. Aurel yakin ia sedang menahan tawa.
Wilhelmina menyentuh sudut matanya dengan ujung jari, lalu menatap Aurel lagi.
"Tante senang kamu datang. Sungguh."
Kalimat itu sederhana. Tapi nadanya sama sekali tidak seperti kalimat basa-basi. Aurel sempat lupa membalas.
"Terima kasih, Tante. Saya akan lihat..."
"Kamar kalian di lantai dua. Ujung kanan."
"Kamar tamu yang mana, Ma?" tanya Aditya.
"Kamar tamu sedang dicat."
Hening.
"Semuanya?" tanya Aditya.
"Semuanya."
"Tiga belas kamar?"
"Tiga belas, Aditya. Dicat bersamaan. Pekerja datang Rabu."
Aurel melirik Pak Handoko, yang sedang menatap tanaman di luar jendela dengan wajah terlalu serius untuk orang yang hanya melihat tanaman.
---
Pintu kamar itu terbuka pelan.
Tempat tidur besar berkelambu tipis. Lemari kayu jati. Rak buku penuh buku tebal. Meja belajar dengan lampu tua. Di dinding, beberapa foto lama anak laki-laki berseragam olahraga dengan raket lebih tinggi dari tubuhnya.
"Kamar masa kecil saya," kata Aditya pelan.
"Imut banget."
"Jangan lihat fotonya."
"Gue lihat fotonya."
Aurel melangkah masuk dan menghirup udara. Sabun cuci. Kayu manis. Kain bersih.
Tidak ada aroma cat.
Ia mundur satu langkah ke lorong, menarik napas dalam-dalam. Tangga, pegangan, dinding, tirai. Tidak ada cat. Satu aroma pun tidak.
"Dit."
"Hm."
"Lo nyium sesuatu?"
"Apa?"
"Cat."
Aditya menarik napas, lama.
Ia berdiri di ambang pintu kamar masa kecilnya, menatap kelambu putih di atas tempat tidur yang hanya satu itu.
"Tidak ada," katanya pelan.
"Tiga belas kamar, dicat bersamaan."
"Terakhir rumah ini dicat itu tahun lalu. Dan Mama tidak pernah mengecat tiga belas kamar sekaligus."
"Jadi?"
Aditya menoleh. Untuk pertama kalinya Aurel melihat ia tampak benar-benar kalah.
"Jadi satu-satunya yang sedang dicat di rumah ini adalah alasannya."