Aditya menunggu sampai lampu rumah orang tua Aurel hilang di kaca spion.
Baru setelah itu ia bicara.
"Berapa?"
Aurel yang sedang menatap jendela tidak menoleh.
"Berapa apa?"
"Utang Papa kamu."
"Gue nggak tahu."
"Perkiraan."
"Gue bilang gue nggak tahu, Dit."
Mobil melewati lampu merah. Aditya menginjak rem lebih keras dari biasanya.
"Garasinya kosong. Mobil Om tidak ada. Surat-surat bank ditumpuk di laci. Om bilang soal uang bukan urusan saya, dan itu justru menjelaskan semuanya."
"Itu urusan keluarga gue."
"Saya suami kamu."
"Di atas kertas."
Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang Aurel niatkan. Ia menggigit bibir.
Aditya diam sebentar. Tangannya mengencang di setir.
"Saya bisa menyelesaikan ini malam ini juga," katanya akhirnya, nadanya datar dan rendah. "Telepon Rian. Dalam satu jam, utang Om terlunasi. Selesai."
Aurel akhirnya menoleh.
Ada hening yang lebih tajam dari bentakan.
"Berhenti di depan," katanya.
"Di mana?"
"Mana saja. Pinggir jalan."
Aditya menepi di bawah pohon yang lampunya mati. Mesin masih menyala. Aurel menurunkan sandaran kursinya sedikit, menarik napas, lalu bicara pelan.
"Lo nawarin ini baik-baik, gue tahu. Lo mau nolong. Tapi dengerin gue sekali aja."
"Saya mendengarkan."
"Lima miliar itu bayaran gue. Gue tanda tangan, gue setuju, gue nyaris dibeli. Tapi itu bayaran dari kontrak yang gue pilih sendiri. Itu hak gue."
"Saya tahu."
"Melunasi utang Papa lewat lo itu beda. Itu belas kasihan."
Aditya mengerutkan kening.
"Bukan belas kasihan."
"Dari sisi gue, iya. Gue bakal berutang budi. Setiap kali Papa tersenyum ke lo, gue bakal ingat bahwa senyum itu dibayar. Setiap kali lo kesal sama gue, gue bakal mikir, 'dia boleh kesal, aku kan makan dari uangnya.' Dan gue nggak mau."
"Aurel..."
"Aturan ketiga, Dit. Lo yang tulis. Jangan ikut campur kehidupan pribadi masing-masing."
"Ada pengecualian."
"Pengecualiannya soal pria lain di depan keluarga. Bukan soal utang Papa gue."
Aditya menutup mulutnya.
Aurel melihat rahangnya mengeras. Ia melihat ibu jarinya mengetuk setir sekali, dua kali, lalu berhenti.
"Kamu keras kepala."
"Lo juga."
"Saya sedang berusaha membantu."
"Dan gue sedang berusaha tetap jadi gue."
Lama sekali mereka berdua tidak bicara.
Di luar, motor lewat. Lampunya menyapu wajah Aditya sekilas, lalu hilang.
"Oke," katanya.
Aurel menatapnya.
"Oke apa?"
"Oke. Saya tidak akan membayarnya."
"Dit..."
"Kecuali kamu yang meminta."
Aurel membuka mulut, lalu menutupnya. Dadanya terasa aneh. Ada rasa lega, ada rasa bersalah, dan ada sesuatu yang lain yang ia tidak berani beri nama.
"Makasih," katanya akhirnya.
"Jangan berterima kasih untuk hal yang membuat saya kesal."
"Tapi lo ngalah."
"Saya tidak mengalah. Saya menahan diri."
"Bedanya apa?"
"Mengalah itu kalah. Menahan diri itu masih berpikir."
Aurel tertawa kecil, lemah, tapi tertawa.
Aditya menyalakan lampu sein, dan mobil kembali masuk ke jalan.
---
Di penthouse, lampu ruang tengah sudah menyala. Mbak Sari meninggalkan sepoci teh hangat dan sepiring kue lapis di meja, lengkap dengan catatan kecil: Untuk Nona dan Tuan. Jangan lupa tidur.
Aditya langsung ke ruang kerja dan menutup pintunya.
Ia membuka laptop. Kotak email kosong menunggu, kursor berkedip di kolom penerima.
Rian, ketik jarinya. Lalu di kolom isi: Tolong cari tahu perusahaan pemasok kemasan milik Pak
Ia berhenti.
Nama ayah Aurel belum pernah ia tanyakan. Ia bahkan tidak tahu nama belakangnya.
Itu saja sudah cukup menjelaskan jarak mereka. Ia tahu sistem pembayaran proyek tiga puluh vendor, tapi tidak tahu nama lengkap laki-laki yang malam ini menyodorkan raket padanya dengan tangan gemetar.
Aditya menghapus kalimat itu satu huruf demi satu huruf.
Aturan ketiga. Ia sendiri yang menulisnya. Ia sendiri yang mengecualikannya untuk keperluannya sendiri.
Laptop ditutup. Ia berdiri, mengusap wajah, dan menyadari tangannya masih mengetuk meja, kebiasaan yang ia benci karena membuatnya tampak sedang menghitung orang.
Di luar, ia mendengar suara Aurel berbicara di telepon dengan suara yang makin kecil.
Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana dan berdiri diam, mendengarkan, sampai suara di luar itu berhenti.
---
Aurel duduk sendirian di sofa dan membuka aplikasi bank di ponselnya.
Ia hampir tidak pernah melihat angka itu sejak minggu pertama.
Lima miliar rupiah.
Utuh. Tidak kurang satu rupiah pun. Tidak bergerak, tidak disentuh, tidak dibelanjakan untuk tas, sepatu, atau apa pun. Seolah uang itu hanya numpang lewat di rekeningnya dan menunggu pemilik yang sebenarnya datang.
Ia menatap deretan nol itu lama sekali.
Satu telepon ke bank. Satu transfer. Utang Papa bisa selesai besok pagi dan ia tidak perlu bohong pada siapa pun.
Tapi uang itu bukan miliknya untuk dipakai begitu saja. Uang itu hasil dari satu tahun yang harus ia habiskan dengan berpura-pura. Satu tahun yang mulai tidak terasa seperti pura-pura.
Ponselnya bergetar. Mamanya.
"Halo, Ma?"
"Aurel."
Suara itu lebih rendah dari tadi sore.
"Iya, Ma."
"Papa sudah tidur. Mama cuma mau bilang, kamu jangan khawatir."
"Aku nggak khawatir."
"Jujur sama Mama."
Aurel memejamkan mata.
"Aku khawatir."
Jeda.
"Pihak bank datang tadi pagi. Kamu nggak perlu tahu semuanya. Mama cuma ingin kamu tahu, batas waktunya sepuluh hari lagi."
"Sepuluh hari untuk apa, Ma?"
"Untuk menyelesaikan tunggakan."
"Berapa?"
"Aurel."
"Berapa, Ma?"
Mama Aurel menyebutkan angka. Angka itu tidak sampai satu persen dari lima miliar di layar ponsel yang masih menyala di tangannya.
Aurel membuka mata. Menatap saldonya. Menatap nol-nol itu.
"Aku akan urus, Ma."
"Kamu tidak perlu..."
"Aku akan urus."
Ia memutus sambungan sebelum suaranya pecah.
Ponselnya bergetar lagi, kali ini bukan telepon. Pesan dari nomor yang disimpan dengan nama WILHELMINA MAHENDRA.
Besok Jumat sore Pak Budi jemput kalian. Kamar sudah Tante siapkan. Satu saja.
Aurel membaca kalimat itu tiga kali.
Lalu ia mendongak. Di ambang ruang kerja, Aditya berdiri bersandar di pintu, rupanya sudah ada di sana sejak tadi.
Matanya menatap ponsel di tangan Aurel, lalu saldo yang masih terbuka, lalu wajahnya.
"Satu saja apa?" tanya Aditya.